My enemy My husband

My enemy My husband
S2 Bertemu cewek bar bar



" Na, loe udah bilang sama Anzel kalau loe akan pindah pas kenaikan kelas nanti?" tanya Kyara saat mereka sedang berada di cafe milik keluarga Kalan.


" Loe tau kan gimana perasaan ade gue sama loe." lanjut Kyara.


" Nanti gue akan ngomong sama Anzel Ky. gue ga mau ganggu fokus belajarnya kalau gue ngomong sekarang." jelas Tiana


" Anzel pasti bakal patah hati hebat kalau tau loe bakal pindah ke luar negeri sama om Juna dan tante Tia. Loe kan bisa Na jalanin hubungan sama Anzel, gue tau loe berdua saling sayang kan?"


"Gue cuma gak mau Anzel nunggu gue tanpa kepastian, dan gue gak bisa ngasih kepastian itu. Apalagi harus menjalani LDR, gue gak yakin hubungan itu akan berhasil. Lebih baik untuk kita sekarang ya seperti ini, kalaupun suatu saat nanti ketemu lagi dan kita berdua masih sendiri dan perasaan itu masih ada, mungkin saat itu gue baru bisa memulai hubungan yang lebih dari sahabat. Kalau gue sama Anzel jodoh pasti kita akan bersama suatu saat nanti Ky." ucap Tiana panjang lebar.


Tiana dan keluarganya akan melakukan pengobatan untuk sang nenek yang sedang sakit parah maka dari itu mereka memutuskan pindah dan menetap di negara A entah sampai kapan. Tiana juga akan kuliah di sana, maka dari itu ia tak ingin memberikan harapan apapun untuk Anzel yang memang sejak lama menyukai Tiana, menurut Anzel, Tiana adalah gadis yang lembut pintar, pengertian, dewasa dan selalu membuatnya nyaman.


Tiana bahkan selalu menolak Anzel dengan cara halus saat Anzel mulai membicarakan hubungan mereka.


********


keesokkan harinya


Tiana memutuskan untuk bertemu dengan Anzel di sebuah restoran, ia ingin membicarakan kepergiaannya pada Anzel secepatnya, Tiana tak ingin Anzel semakin kecewa saat ia tahu dari orang lain, apalagi diantara mereka semua hanya Anzel lah yang belum tau perihal kepindahan Tiana bulan depan.


Anzel memarkirkan mobilnya, ia sangat gugup padahal ini bukan kali pertamanya makan bersama Tiana berdua mengingat mereka memang bersahabat sejak lama, tapi perasaannya kali ini sangat berbeda ia rasakan.


Anzel mengambil napas panjang dan membuangnya secara perlahan untuk menetralkan detak jantungnya yang terus saja berdebar kencang. Entah mengapa ada perasaan gelisah yang terselip disana.


buukkk


" Heh, loe kalau jalan lihat-lihat dong. " kesal seorang gadis yang sedang memegang gagang pel.


" Kalau ngepel yang bener dong, liat nih gue jadi jatuh gara-gara loe taro ember sembarangan." sentak Anzel. " Handphone gue." lirih Anzel.


Gadis itu tersenyum mengejek ke arah Anzel.


" Ember sebesar itu aja loe gak liat? mata loe kemana? pake bilang gue yang salah naro ember sembarangan, makanya jangan layar handphone aja yang loe tatap terus, jadi kesandung kan loe." Ucap gadis itu yang tampak sewot karena di salahkan oleh Anzel.


" Harusnya itu loe yang minta maaf, karena loe handphone gue jadi ikut jatuh." Kata Anzel tak kalah tegas.


" Loe yang harusnya minta maaf dan bantuin gue ngepel nih lantai lagi, lihat tuh airnya tumpah semua jadi basah lantainya." balas gadis itu dengan berapi-api.


" Gue engga mau, sebelum loe ganti rugi handphone gue." Sahut Anzel yang juga tak ingin mengalah.


" ganteng-ganteng gak punya otak, mana akhlak nya juga minus, Makanya kalau lagi pembagian otak itu dateng." cibir sang gadis.


" Jangan sembarang ya kalau ngomong. Apa mau gue kuncir tuh mulut loe." ketus Anzel.


Kyara mencipratkan air pel yang tadi tumpah ke lantai ke wajah Anzel menggunakan kain pel yang berada di tangannya.


membuat Anzel semakin kesal dengan kelakuan gadis itu yang menurutnya sangat bar bar.


" Kaya gue kenal suaranya deh, Na. Ade gue bukan sih?" tanya Kyara.


Kyara dan Tiana yang duduk di pojok pun, akhirnya beranjak dari duduknya untuk menghampiri sang adik yang sedang bertengkar di tempat yang cukup jauh dari tempat mereka duduk.


Bayangkan dari tempat yang cukup jauh saja suara Anzel terdengar jelas karena nada bicaranya yang cukup tinggi membuat suaranya menggema ke seisi restoran, bahkan kini keduanya sedang menjadi pusat perhatian pengunjung lainnya.


" Vio, ada apa ini? " tanya sang manajer restoran pada Violetta, gadis yang sedang bertengkar dengan Anzel.


" Zel, loe ngapain? " tanya sang kakak.


" Sepertinya lebih baik kita bicarakan baik-baik deh gimana kalau sambil duduk, gak enak di lihatin sama pengunjung yang lain." Saran Tiana .


" Boleh, kita bicarakan saja di ruangan saya." Tawar sang manajer.


Akhirnya mereka semua berada di ruangan sang manajer, Violetta menjelaskan lebih dulu apa yang sebenarnya terjadi, kemudian Anzel pun menjelaskan yang terjadi versi dirinya.


Perdebatan pun terjadi lagi di ruangan sang manajer, mereka berdua sama-sama bersikeras bahwa mereka tidak bersalah, Vio tak Terima dengan tudingan Anzel yang mengatakan bahwa dirinya lah yang membuat Anzel terjatuh.


" Kita lihat CCTV saja, bagaimana?" saran sang manajer. " Kalau ternyata kamu salah, kamu harus minta maaf dan ganti rugi pada mas Anzel, tapi kalau sebaliknya saya harap mas Anzel mau meminta maaf pada Vio dan bertanggung jawab atas kesalahan mas Anzel.


" Oke. " Sahut mereka berbarengan.


Anzel hanya mampu terdiam saat melihat rekaman CCTV tersebut, ia menyadari bahwa dirinya lah yang salah dalam hal ini, mau tidak mau ia meminta maaf pada Violetta dan membantu gadis itu membereskan kekacauan yang ia buat.


" Kok loe ada disini sih Ky, kan gue janjian berdua doang sama Tiana." tanya Anzel menghampiri meja dimana sang kakak dan Tiana sedang duduk, setelah ia bertanggung jawab membantu Violetta membersihkan lantai .


" Suka-suka gue dong, Tiana yang ngajak gue kesini. weeekkk." ucap Kyara setelah itu menjulurkan lidahnya pada sang adik.


" Lagian loe masih sewot aja sih, kan udah kelar masalahnya lagi juga itu kan emang salah loe." cibir sang kakak.


" Iya gue tau itu salah gue, tapi gue gak suka sama cara bicaranya, gak ada lembutnya sama sekali. Bar-bar banget tau gak kelakuannya, mana muka gue dicipratin air pel, mana gue dibilang gak punya otak dan akhlak minus." keluh Anzel.


" Hahahahaha, gue setuju sama tuh cewek bener banget apa yang dia bilang." timpal Kyara.


" Rese banget sih loe jadi kakak, heran gue si Kalan betah banget jadi sahabat loe."


" Sirik aja loe, jangan-jangan cewe tadi jodoh loe zel?" Celetuk sang kakak.


" Ogah gue mah dapet jodoh kaya gitu, mending gue jomblo, gue sukanya sama cewek yang lembut dan tenang juga dewasa kalau menghadapi masalah bukan yang bar bar kaya dia."


" Udah, kenapa kalian jadi ribut sih. Gue mau ngomong hal penting Zel." ucap Tiana menengahi keduanya agar tak terus menerus berdebat lagi.


" Oh iya, loe mau ngomong apa, Na. " tanya Anzel.


gue mau pindah ke negara A zel


...****************...