My enemy My husband

My enemy My husband
S2 Perubahan Tiana



Bak senjata makan tuan, Anzel yang keceplosan pun kini harus mendengar teriakan Kyara yang mengadu pada Mommy dan Daddynya, Beruntung Anzel segera membekap mulut lancip sang kakak sebelum Mommy dan Daddynya mendengar.


" Tuh mulut ya, lemes banget sih! maksud gue tuh gunung beneran, kan gue suka mendaki. " elak Anzel yang langsung membuat sang kakak memicingkan matanya.


" Loe kira gue gak tau hubungan loe sama Vio. Cewek bar-bar yang di restoran waktu itu kan? "


" Lemes, pasti si Kalan kan yang ngeghibahin gue. Emang loe udah baikkan sama Kalan ? "


" Udah dari enam bulan yang lalu, Kalan tuh gak pernah nutupin apapun sama gue. Jadi apapun yang terjadi sama loe ya gue tau lah. " sahut Kyara bangga. Karena memang sejak dulu Kalan selalu berada di pihaknya.


" Udah lama pacaran kenapa gak dikenalin sama Daddy dan Mommy? " lanjut Kyara lagi.


" Rencananya gue mau kenalin sama Mommy dan Daddy nanti selepas gue pesta kelulusan bareng temen-temen sekelas gue. Kalau gue kenalin kemarin-kemarin yang ada gue diceramahin mulu kaya gini nih. " Anzel, jangan pacaran mulu. Kamu tuh udah kelas 12 belajar yang bener, mau ujian jangan keluyuran terus.ingat kamu harus fokus sama sekolah dulu. " ucap Anzel menirukan cara bicara sang Mommy yang membuat tawa Kyara pecah.


" Loe sama Kalan gimana? " tanya Anzel penasaran tentang hubungan Kalan dan Kakaknya sekarang.


" Gak gimana-gimana, sahabatan aja! Gue gak mau merusak hubungannya dengan Dean. Biar lah untuk sekarang seperti ini aja , kalau jodoh juga nanti akan ada caranya tersendiri buat bisa bersama."


" widihh udah dewasa juga loe akhirnya, gak egois lagi maksain keinginan loe tanpa mikirin perasaan orang lain ." ledek Anzel. " Gak sia-sia Daddy sama Mommy kuliahin loe ke luar negeri. " kekeh Anzel.


" Dasar ade sialan! " umpat kasar Kyara.


" Loe kapan balik ke negara A? " tanya Anzel dengan serius.


" Gue kayanya mau pindah kesini aja deh, lebih baik ngadepin ade rese kaya loe, dari pada denger ocehan grandma tiap hari. panas kuping gue, Zel." keluh Kyara.


" Yah, ada temen ribut lagi dong gue sekarang. Mana mulutnya makin lemes banget lagi sekarang! " gerutu Anzel yang malah mendapat cubitan panas di perutnya dari sang kakak.


Keduanya terus saja berbincang sambil sesekali bercanda, kadang juga berdebat bahkan saling lempar atau memukul. begitulah kalau tom and Jerry bertemu. Bagaikan Razel dan Kimmy bertemu dulu. Ternyata permusuhan orang tuanya dulu menurun kepada kedua anaknya.


.


.


.


" Mom, Zel mau tanya boleh. " ucap Anzel sambil duduk di sofa kamar sang Mommy.


Selepas makan malam Anzel tak banyak bertanya perihal Tiana, yang Anzel tau saat sang Mommy menjelaskan di saat makan malam tadi, Tiana akan tinggal sementara di rumah ini karena ia akan kuliah di Indonesia, yang Anzel penasaran kenapa Tiana yang pindah ke negara A bersama orang tuanya malah ingin kuliah di Indo sementara orang tuanya berada di negara A bersama sang nenek.


" Ada apa sayang. " ucap Mommy sambil berjalan mendekati sang putra dan duduk di sebelahnya.


Wajah Anzel berubah menjadi serius tak seperti biasa." Tiana kenapa kuliah di sini ? gak di negara A?"


Sang Mommy mengambil napas dalam sebelum menceritakan pada Anzel apa yang terjadi pada Tiana sebenarnya.


Sang Mommy mulai bercerita saat sahabatnya Tia, mama dari Tiana mulai menghubunginya sambil menangis. Ia menceritakan tentang perubahan sang putri yang tadinya baik dan selalu menurut padanya sekarang menjadi gadis liar yang suka keluar masuk club malam, terkadang mabuk, hingga pulang larut malam dan berpakaian sangat terbuka seperti seorang ja*lang.


Setiap kali Juna dan Tia menegurnya ia akan marah dan berhari-hari melarikan diri dari rumah. Entah kemana ia menginap Tia dan Juna pun tak tahu. karena mereka sibuk mengurus pengobatan nenek Tiana di sana. Sementara Juna sibuk dengan pekerjaannya.


Tiana berubah semenjak ia berkencan dengan salah satu temannya bernama mark. Sejak saat itu lah Tiana menjadi seperti sekarang. Oleh sebab itu Tia dan Juna memutuskan bahwa Tiana akan tinggal di Indo, mungkin dengan lingkungan yang baik ia berharap anaknya bisa seperti dulu lagi, mereka menyesal membawa Tiana pindah ke negara A yang pergaulannya sangat bebas, dan Tiana dengan sangat mudah terbawa arus.


" Jadi gitu sayang ceritanya. Kamu bantu Tiana ya biar bisa kaya dulu, kalian kan bersahabat dekat. Mungkin Tiana mau mendengarkanmu, Zel. Ia bahkan mau kuliah di sini karena kamu, kalau tidak ia pasti menolak dan kabur entah kemana."


" Gak bisa sayang, nanti dia semakin bebas.Bukan merubahnya yang ada dia semakin liar kalau dibiarkan sendiri tanpa pengawasan. "


Anzel menghela napas mendengar penuturan sang Mommy. Disatu sisi ada kekasih yang harus ia jaga perasaannya tapi di sisi lain apa yang dikatakan sang Mommy ada benarnya, apalagi Tiana juga sahabatnya sejak dulu membiarkan Tiana hidup sendiri akan membuatnya semakin bebas nantinya. Ia juga tak ingin sahabat alias gadis yang pernah ada di hatinya itu berubah semakin jauh dan merusak hidupnya sendiri.


" Mom, hari minggu Zel minta waktu mommy dan Daddy ya, ada yang zel ingin bicarakan. " ucap Anzel tiba-tiba, Karena ia ingin secepatnya memperkenalkan Vio pada orangtuanya.


Mommy Kimmy menautkan kedua alisnya mendengar perkataan Anzel " Mau bicarakan apa sayang, kenapa gak sekarang aja? "


" Nanti aja, Zel mau kasih kejutan. " Kata Anzel dengan senyum mengembang di bibirnya. Tak sabar rasanya ia ingin memperkenalkan gadis yang sangat ia cintai itu pada Mommy dan Daddynya.


Kimmy yang gemas dengan putranya yang merahasiakan sesuatu darinya, langsung mencubit hidung mancung sang putra. " Bikin Mommy penasaran aja kamu tuh. "


Anzel yang sudah keluar dari kamar sang Mommy hendak melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai 2 , ia menapaki tangga satu persatu. sampai akhirnya ia melihat seorang gadis yang ia hindari sedari tadi ada di depan kamarnya sedang menunggunya dengan pakaian yang cukup menguji imannya yang setipis kulit bawang.


" Loe ngapain di depan kamar gue, Na? " ketus Anzel yang tak suka dengan sikap Tiana yang sedari tadi terlihat agresif padanya tak seperti dulu yang selalu malu tiap kali Anzel menatap matanya, tapi sekarang semua itu sudah berubah.


Tiana menyentuh tangan Anzel dengan lembut sambil mengatakan " Aku merindukanmu, Zel. "


Dengan cepat Anzel menepis tangan Tiana .


" Sorry ya, Na. gue capek dan ngantuk. "


" Kamu bersikap dingin sejak aku datang, Zel. kamu berubah. " kesal Tiana yang matanya mulai berkaca-kaca karena sikap Anzel yang cuek padanya tak seperti dulu.


" Loe yang berubah, Na. Apa loe gak sadar dengan diri loe yang sekarang? " kesal Anzel.


" Itu karena aku hanya menyesuaikan diri di negara A, Zel. Apa itu salah? "


" Ya, itu salah karena loe sudah terbawa arus terlalu jauh! Mana Tiana yang pemalu dan tak banyak bicara, Tiana yang lembut dan selalu menurut, Tiana yang selalu bisa menjaga diri, Tiana yang selalu sempurna di mataku sampai aku rasa tak ada perempuan lain yang bisa seperti mu, Na!"


" Aku akan berubah, jadilah kekasihku Zel, dulu kamu sangat ingin kita bersama bukan? " kata Tiana memohon.


" Ya, itu dulu tidak dengan sekarang, Na. Aku mencintai wanita lain yang hampir satu tahun ini menetap di hatiku."


Tiana menggeleng kepala nya pelan. " gak mungkin. Aku tau kamu berbohong. bertahun-tahun kamu mencintaiku, Zel. Tak secepat itu bukan ia menggantikanku apalagi kamu bilang hampir setahun? tak lama setelah kepergianku?" lirih Tiana.


Anzel menganggukkan kepalanya. " Tak butuh waktu lama untukku bisa jatuh cinta padanya. Dengan cepat dia bisa menggantikanmu di sini." tunjuk Anzel pada dadanya sendiri. "


" Aku mohon jangan berharap lebih padaku, karena aku gak bisa lagi mencintai kamu setelah dengan mudahnya kamu menolak genggaman tanganku. "


.


.


.


siapapun itu, sekalipun kamu, tetap gak akan bisa menggantikan dia yang sekarang sudah menetap di hatiku dan tak pernah ku ijinkan dia keluar dari sini.


...****************...