
" Mama tidak mau tau ya Kean, cepat bawa calon istrimu kesini. Atau mama kebiri kamu kalau masih bermain-main." ucap sang mama saat Kean berpamitan ingin pulang ke apartemen.
" Mama itu sebenarnya ibu tiri atau bagaimana? aku seperti cinderella tiap hari selalu di marahi terus, ada saja salahnya. " keluh Kean.
" Kamu tidak sadar salah mu banyak. Sudah jangan menjawab terus. " sentak sang Mama yang darah tinggi nya mulai kumat karena kedatangan Kean.
" Pah, sepertinya papa harus cari istri baru. Mama terlalu cerewet, nanti papa bisa kena serangan jantung karena ocehan mama. " bisik Kean pada papanya yang masih terdengar di telinga sang Mama.
Kean berlari masuk ke dalam mobil setelah mengucapkan kalimat itu, sebelum terkena lemparan sendal oleh Mama nya.
" Anak itu, benar-benar kurang ajar. untung saja anak semata wayang, kalau tidak sudah Mama masukin lagi ke dalam perut." kesal Hera.
*************
"zel bisa datang ke apartemen ku? sepertinya aku gak enak badan."
Tiana mengirimkan pesan teks kepada Anzel yang saat ini sedang berada di rumah.
"Mba Rina kemana?" balas Anzel
"dia pulang kampung, zel. aku udah minta rara untuk datang kesini, tapi dia masih ada kelas. mungkin sebentar lagi kesini." jawab Tiana.
lama berpikir sebelum akhirnya ia membalas pesan Tiana ." oke nanti aku kesana. "
Kyara sedang kuliah, Daddy dan Mommy nya pun sedang keluar kota selama tiga hari, Anzel bimbang ingin menghampiri apartemen Tiana sendirian, apalagi mba rina asisten rumah tangganya sedang pulang kampung. Anzel tak ingin vio salah paham, tapi mengajak Vio pun tak bisa karena gadis itu masih ada kelas.
Ia mengirim chat pada kyara dan juga Vio tentang dirinya yang akan ke apartemen Tiana karena gadis itu sakit. Anzel berharap Kyara dan Vio bisa cepat menyusulnya karena jujur saja ia masih tak nyaman berdua saja dengan Tiana.
" Kak... " sapa Vio saat menghampiri Kyara yang sedang celingak-celinguk.
Kyara terperanjat dengan kehadiran Vio yang tiba-tiba ada di belakangnya. " Eh, Vi kebetulan gue nyariin loe."
" Anzel ngechat gue katanya dia ke apartemen Tiana. " jelas Kyara yang entah kenapa ada perasaan khawatir menghampirinya. " Gue mau nyusul ke sana, loe mau ikut gak? "
" Sama aku juga kak, firasat aku gak enak. " Ucap Vio dengan wajah cemas. " kita ke sana sekarang, yuuk. "
Sementara Vio dan Kyara sedang dalam perjalanan Anzel sudah sampai di apartemen Tiana.
" Makasih ya, Zel. udah mau ke sini nemenin aku. "
" hhmmm. " Anzel hanya menjawab dengan gumaman sambil sesekali melihat layar ponselnya, tak ada balasan dari kakaknya atau pun kekasihnya. Karena Kyara dan Vio terburu-buru sehingga mereka berdua lupa membalas pesan Anzel, padahal mereka sudah menuju ke apartemen Tiana tanpa Anzel tau.
" Aku ambil minum dulu ya, Zel. " ucap Tiana sambil tersenyum.
" Gak usah, Na. Loe kan lagi sakit, nanti gue bisa ambil sendiri kok. " Anzel bertanya-tanya dalam hati Tiana nampak seperti orang sehat hanya saja wajahnya yang terlihat sedikit pucat, Ah mungkin hanya dugaannya saja, pikir Anzel.
" Ini zel minum dulu. "
" Makasih ya, Na. " Anzel langsung menenggak minuman itu hampir setengah nya karena memang saat ini ia merasa haus, atau lebih tepatnya gugup sehingga tanpa sadar ia hampir menghabiskan satu gelas penuh. Tanpa Anzel sadari Tiana telah mencampur obat ke dalam minumannya.
" Loe ngasih apa ke dalam minuman itu. " sentak Anzel dengan kepala yang sedikit berat.
Anzel berlari ke arah pintu keluar tapi Tiana mencoba menahan tangannya, dengan sisa tenaga yang masih ia miliki, Anzel mendorong tubuh Tiana dengan cukup kencang dan membuat Tiana langsung jatuh tersungkur ke lantai.
" Dasar cewek gila. " umpat Anzel sebelum meninggalkan apartemen Tiana.
Ia berlari menuju lift dengan kesadaran yang hampir menghilang, pandangan matanya mulai kabur, tapi beruntung ia bisa masuk ke dalam lift .
dua orang yang berada di dalam lift yang melihat kondisi Anzel pun di kejutkan dengan Anzel yang tiba-tiba jatuh pingsan.
" Hei sadar, hei. " ucap Kean menepuk-nepuk pipi Anzel.
" Kita bawa saja ke rumah sakit Chris." ucap Kean "bantu aku mengangkatnya." kemudian Christian membantu Kean membopong tubuh Anzel saat pintu lift sudah terbuka.
Sampai di parkiran ia langsung memasukkan Anzel ke kursi belakang, sementara Kean berada di depan bersama Christian.
" Chris, wajahnya tak asing sepertinya aku pernah bertemu dengannya, tapi dimana ya." Kean mencoba mengingat kapan ia bertemu dengan Anzel tapi sayang otaknya tak bisa berpikir saat ini.
" Mungkin perasaan kamu aja, Ke." ucap Christian tanpa menoleh, pandangan nya tetap lurus ke depan karena ia sedang mengendarai mobil.
Sesampainya di rumah sakit Anzel langsung di bawa ke IGD. " Bagaimana dok, apa yang terjadi. " tanya Kean pada seorang pria berjas putih yang menangani Anzel.
" Dia baik-baik saja pak, ini hanya pengaruh obat. nanti setelah sadar, sudah boleh pulang. " ucap dokter itu.
" Baik, Terima kasih dok. " Ucap Kean sambil tersenyum.
" Bagaimana kita hubungi keluarganya, Chris. Tak ada dompet hanya ada ponsel, kita juga gak tau berapa pin nya. " Kean bingung melihat Anzel yang tak membawa dompet, apa yang terjadi pada bocah ini, pikir Kean.
Anzel mengendarai motornya saat menuju apartemen Tiana, dompetnya berada di dalam jaket yang ia lepas saat berada di apartemen Tiana, hanya ponsel yang ia taruh di kantong celananya.
Beruntung Vio menghubungi Anzel, Kean yang mendengar ponsel Anzel berdering pun langsung mengangkatnya.
.
.
...****************...