
" Iya tuh mom, Anzel mau mendaki gunung gak bilang sama Mommy, coba mommy bayangkan lagi musim hujan begini kalau mendaki gunung terus Anzel terpeleset masuk jurang gimana? belum lagi kalau hilang ditengah hutan. " Kya terpaksa berbohong pada sang Mommy karena ia sudah sepakat untuk membantu sang adik, tapi kebohongannya justru membuat mommy nya tetep saja mengoceh pada Anzel,
Tapi biarlah menurut Anzel, yang terpenting sang Mommy tidak mengamuk dengan brutal seperti Kya dan yang terpenting juniornya masih aman.
" Ya ampun, Zel. kalau kamu sampai hilang kaya di berita-berita itu gimana? kan banyak pendaki yang suka hilang di gunung, Zel. " oceh sang Mommy.
Kimmy mungkin percaya dengan omongan kedua anaknya tapi tidak dengan sang suami. Sejak tadi Razel memicingkan matanya menatap Anzel, tau akan arti tatapan sang Daddy membuat Anzel susah payah menelan salivanya.
" Iya kok Mom, Zel janji gak akan naik gunung. " Anzel berbicara sambil berusaha tersenyum pada sang mommy walaupun sebenarnya jantungnya berdebar kencang karena tatapan sang Daddy yang sangat tajam.
" Yaudah Mommy mau ke dapur dulu. "
" Kyara mandi, sudah sore. Giliran kita mau makan malam nanti kamu baru mandi. " lanjut Kimmy mengomeli anak gadisnya yang sering sekali mandi saat jam makan malam tiba, alhasil semua orang yang sudah kelaparan terpaksa harus menunggunya selesai mandi dulu. Sebab makan malam bersama adalah hal wajib di rumah mereka terkecuali apabila ada yang sakit tak bisa turun untuk makan malam bersama.
" Siap, Mom. "
Kimmy dan Kyara melangkah kan kaki mereka ke tujuan masing-masing. Anzel yang juga ingin melangkah kan kakinya menunju lantai dua kamarnya langsung di cegah oleh sang Daddy.
" Anzel, duduk! " titah Razel, ia merasa harus berbicara berdua bersama sang putra sebagai sesama lelaki.
Anzel menghela napas pelan mendengar perintah sang Daddy, ia yang baru mau melangkah langsung membalikkan kembali tubuhnya dan duduk berhadapan dengan Daddy Razel.
" Mendaki gunung yang mana, Zel? tanya sang Daddy tanpa basa basi.
bagaimana bisa Daddy nya bertanya seperti itu, pikirnya. Anzel bertanya-tanya dalam hati apakah Daddy nya tau apa yang ia lakukan.
" Gunung Semeru atau gunung rinjani, Dad. "
" Masa? "
glek
Anzel menelan salivanya mendengar pertanyaan sang daddy yang seperti nya masih curiga padanya.
" iya bener Daddy. " ia masih berusaha bersikap tenang agar daddynya tak semakin curiga.
" jangan merusak anak gadis orang Anzel, jangan mengecewakan keluarganya dan juga keluarga kita. " nasihat daddy Razel.
" Siap, Dad. Zel ke kamar dulu ya. " ucap Anzel yang sambil bangkit dari duduknya.
" Heemm. "
Akhirnya Anzel bisa bernapas lega saat sang Daddy mengijinkannya kembali ke kamar dan tak terus menginterogasinya.
.
.
********
keesokkan harinya
" Mommy sama Daddy kemana kak? " tanya Anzel pada Kyara yang sedang makan siang di meja makan sendirian.
" Lagi jenguk tante sherlin yang lagi sakit. " jawab Kya singkat.
" Oooooohhhh.... " Anzel memang sudah mendengar dari Kalan bahwa, ibu dari sahabatnya itu sedang kurang sehat dan ia berniat menjenguk tante sherlin bersama kekasihnya nanti.
" Kalo Tiana kemana, kok dari kemarin gue pulang gak keliatan? " tanya Anzel lagi.
" Dia nginep dirumah temannya. Tumben loe peduli banget, bukan nya loe risih sama dia kalau ada di rumah?"
" katanya sih temennya anak baik-baik, soalnya dia anak dari temen Mommy juga. "
" Loe tumben kok, hari sabtu gini gak kerumah Vio?" tanya Kyara penasaran, pasalnya setiap hari libur Anzel selalu menghabiskan waktu dengan kekasihnya itu. Maka dari itu agak aneh menurutnya melihat sang adik masih bersantai di rumah saat ini.
" Vio mau kesini nanti sore jadi mau pacaran di rumah aja. "
" Bagus kalau gitu, gue mau ajak Vio nonton drama Korea terbaru. " ucap Kyara antusias.
Sepertinya Anzel akan menyesal mengajak Violetta kerumahnya , ia berharap bisa berduaan dengan gadis itu tapi nyatanya sang kakak mempunyai niat ingin menguasai kekasihnya.
tok. tok. tok
Anzel yang sedang memainkan ponsel nya tersentak kala mendengar suara ketukan pintu.
ceklek
" Na, Loe udah pulang? ada apa? " tanya Anzel yang tak menyangka bahwa yang berdiri didepan pintu kamarnya saat ini adalah Tiana.
" Aku boleh masuk, ada yang ingin ku bicarakan. " ucap lembut Tiana. Karena tak ada yang aneh tanpa pikir panjang Anzel membiarkan Tiana masuk ke kamarnya, apalagi dengan pakaian Tiana yang cukup sopan sehingga tak membuat ia terlalu risih berdua dengan gadis itu.
" Aku minta maaf soal sikap ku, Aku cuma bingung Zel." Tiana menghela napas sebelum ia melanjutkan kata-katanya. ia menceritakan saat pertama kali bertemu dengan mark mantan kekasihnya yang membuat ia berubah menjadi seperti ini.
" Aku pikir setelah menyerahkan kehormatan ku ia akan bertanggung jawab dan tak akan pernah meninggalkan ku, Zel. " lirih Tiana yang sebenarnya juga sangat menyesali keputusannya.
Anzel masih menyimak apa yang Tiana bicarakan tanpa mau menyela sedikitpun ucapan Tiana.
" Setelah dia pergi, aku berpikir hanya kamu lah satu-satu nya pria yang selalu mencintai ku dengan tulus, mungkin saat aku kembali kau mau memulai kisah kita seperti yang sering kamu minta dulu dan kamu akan menerima aku apa adanya, tapi aku salah saat kembali kesini tanpa ku tau ada wanita lain yang sudah mencuri hatimu dengan begitu cepat. "
" Aku marah, sedih, kecewa dan menyesal kenapa dulu aku tak menerima uluran tanganmu. Aku malah menepisnya dengan keyakinan kita akan bersama suatu saat nanti . lanjut Tiana.
" Maafkan aku, Zel. "
" Berubah lah menjadi Tiana yang dulu, jangan buat papa mu marah dan mama mu bersedih, Na. mereka sangat menyayangimu. " tutur Anzel dengan lembut.
" Aku akan pindah dari sini, tapi bisakah kita tetap berteman? " tanya Tiana ragu-ragu. Ia takut kalau Anzel akan menolak berteman dengannya lagi.
Anzel menganggukkan kepalanya tanda setuju, dan berharap Tiana akan berubah seperti yang ia katakan.
" Boleh aku memeluk mu?"
Anzel tersenyum merentangkan tangannya, mempersilahkan Tiana masuk kedalam dekapannya. ia merasa kalau kali ini Tiana benar-benar tulus dan mulai kembali ke Tiana yang dulu. tak ada yang istimewa untuk Anzel, ia hanya memberi pelukan persahabatan tanpa ada rasa lain sedikit pun.
.
.
.
brak
.
.
...****************...
.
. Hayo di gerebek siapa itu? kebiasaan sih ngajak anak gadis orang kamar mulu... ðŸ¤