My enemy My husband

My enemy My husband
S2 takut jatuh cinta



Wali kelas Anzel datang memasuki kelas, Anzel hanya sibuk menggambar sosok gadis yang ia rindukan, sampai ia tak mendengar apa yang dikatakan gurunya.


Sampai pada akhirnya wali kelas Anzel mempersilahkan Vio duduk di sebelah Anzel, dan wali kelas mereka pun pamit dan keluar dari kelas karena memang saat ini bukan jam mengajarnya di kelas Anzel.


" Hai." Sapa seorang gadis yang kini telah duduk disamping Anzel.


" Elo.....! "


Gadis cantik itu langsung mengulurkan tangannya pada Anzel. " Gue harap kita bisa akur."


Seketika Anzel langsung menepis tangan gadis itu.


" Ngapain loe di sini?"


" Kebiasaan, makanya kalau guru lagi ngomong di dengerin, gue kira mata loe doang yang gak ada ternyata kuping loe juga." kekeh gadis itu." Gue ini anak baru di kelas ini, jadi ya gue duduk di sini karena gak ada bangku kosong lagi."


" Sial banget sih hidup gue akhir-akhir ini. Kenapa juga mesti duduk sama cewek bar-bar kaya loe."


Violetta mendekatkan wajahnya pada Anzel.


" Jangan terlalu benci, Hati-hati nanti jatuh cinta sama gue." Bisik Vio tepat di telinga Anzel, membuat ia tersentak kaget sebab napas hangat gadis cantik itu seolah menyapu bagian samping wajahnya.


Violetta terkekeh melihat wajah Anzel yang memerah bagai kepiting rebus. " Baru gitu aja udah merah muka loe."


" Apaan sih loe gak jelas, muka gue merah karena panas ini, gerah tau gak." sangkal Anzel.


" Ah, lucu juga. sayang gak punya akhlak." gumam Vio saat Anzel beranjak dari duduknya dan bergegas pergi ke toilet.


Sesampainya di toilet Anzel menarik napas dalam dan mengeluarkannya perlahan lewat mulut. Ia mencoba menetralisir detak jantungnya dengan apa yang dilakukan Vio tadi padanya.


Suaranya yang sexy masih terdengar jelas di telinga Anzel, wajahnya yang cantik tanpa polesan makeup seperti pertama kali mereka bertemu pun menambah kesan alami dan justru membuat Vio terlihat lebih muda.


" Engga Anzel, jangan dia bukan tipe loe. Sial kenapa jadi deg-degan, kok dia beda banget dari pas kita ketemu pertama kali ya. Ah bukan urusan gue. " Ucap Anzel yang berbicara pada dirinya sendiri.


Jam istirahat pun tiba, seperti biasa Anzel akan berkumpul dengan para sahabatnya yang kini hanya tersisa Kalan dan Dean yang masih bersamanya di sekolah yang sama.


" Muka loe kenapa Zel, bahagia banget." ledek Kalan.


" Bahagia dari mana bambang, muka gue lagi kesel ini." sahut Anzel.


" Ada apa emang kak?" timpal Dean.


Bukannya menjawab pertanyaan Dean, Anzel malah balik bertanya. " Loe udah baik-baik aja De?"


" Gue baik-baik aja ko kak." jawab Dean singkat.


Kalan memicingkan matanya menatap Anzel


" Cewek atau cowok Zel?"


" Cewek rese."


Kalan dan Dean saling pandang, seolah tau apa yang ada dipikiran dua sahabatnya, Anzel pun menceritakan awal mula pertemuannya dengan Violetta.


" Hahahaha, mungkin itu penggantinya Tiana yang di kirim Author buat loe, jodoh loe tuh Zel." celetuk Kalan.


" Ogah, gue sama cewek kaya dia." kesal Anzel.


Tiba-tiba Violetta datang menghampiri Anzel dan langsung mendudukan bokongnya di kursi sebelah Anzel " Cewek kaya gimana maksud loe?" tanya Violetta yang sedari tadi tak sengaja mendengar percakapan Anzel dan para sahabatnya.


" Ngapain loe duduk di sini? " tanya Anzel ketus.


" Gue belum punya temen, Satu-satunya orang yang gue kenal di sekolah ini, ya cuma loe. Jadi boleh ya gue gabung." tanya Violetta dengan tatapan memohon.


" Udah Zel biarin aja dia gabung sama kita, lagi juga keliatannya baik dan lembut kok, gak bar-bar." ucap Kalan yang tau apa yang ingin Anzel ucapkan.


" Loe kan belum kenal sama dia Kal." kata Anzel sambil menatap sinis ke arah Violetta.


" Gue ngeselin dan bar-bar gitu ya untuk pertahanan diri, biar orang kaya loe itu gak seenaknya menginjak-injak harga diri gue. Kemarin kan jelas loe yang salah bukan gue. Jadi wajar kalau gue bersikap begitu, karena sekarang kita satu kelas dan kita juga gak punya masalah lagi, gue rasa kita bisa berteman." Ucap Vio sambil menaik turunkan alisnya.


" Oh No, gue gak mau berteman sama loe ya Vio! jadi berhenti sok kenal sama gue. Lagian aneh banget masa pelayan restoran bisa sekolah di sini." sinis Anzel.


" Emang kalau pelayan gak boleh sekolah di sekolah elite ini?" lirih Violetta.


" Kak, jangan gitu! kasian kak Vio, semua orang berhak kak untuk sekolah di sini, apapun pekerjaan nya. " sahut Dean yang sedari tadi menatap kagum dengan kecantikkan Violetta yang tak kalah dengan Kyara.


" Gak apa-apa kok kak, siapapun punya hak untuk sekolah di sini." ucap Kalan yang juga membela Violetta. Ia juga heran dengan sikap Anzel yang biasanya ramah, jahil dan suka bercanda kini berubah menjadi sinis dan ketus pada seorang gadis.


" Ya maksud gue, justru karena ini sekolah mahal jadi ya emang loe gak terbebani dengan biayanya apalagi kerjaan loe hanya sebagai pelayan restoran." jelas Anzel dengan lembut. Tak ada lagi nada sinis dan tatapan tajam dari Anzel untuk Vio, ia sadar perkataannya barusan mungkin keterlaluan dan menyakiti hati Vio.


Bukannya menjawab Vio malah terkekeh mendengar nada bicara Anzel padanya.


" Jangan sering-sering bicara lembut sama gue kaya gini yaa Zel."


" Emang kenapa?"


gue takut jatuh cinta sama loe......


...****************...