
" Hai Vi " sapa Anzel saat menghampiri Vio yang sedang berada di cafe milik orang tua Kalan. Atas nasehat Kyara Vio akhirnya mau bertemu dengan Anzel dan menyelesaikan masalah nya dengan pria posesif itu agar tak berlarut-larut.
" Hm... "
" Masih marah ya, Hon? " lirih Anzel. Wajahnya sudah sangat menyedihkan. ia benar-benar kacau melihat Vio bersikap dingin padanya.
" Aku udah bilang ya, Zel. Aku gak suka sama sikap kamu yang apa-apa di bawa emosi, apa-apa marah, posesif, tapi kamu selalu aja kaya gitu. Minta maaf nanti begitu lagi. Aku lelah menghadapi sikap kamu yang kaya gitu."
" Kali ini bener aku janji gak akan terlalu berlebihan dan akan coba mengendalikan emosi aku, tapi please jangan tinggalin aku, Hon. " ucap Anzel memohon. " Maafin aku ya. "
" Eeemmm gimana ya??" Vio berpura-pura berpikir sejenak padahal ia sudah memaafkan Anzel dan mencoba mengerti dengan sikap Anzel atas nasehat Kyara.
"Oke aku maafin tapi ada syaratnya. Pertama kalau kamu gak bisa berubah masih bersikap kaya gitu, kita udahan aja !! " ancam Violetta." Kedua aku mau kamu minta maaf sama Om Kean dan juga berterima kasih karena sudah sering menolong kita. Ketiga kamu harus bersikap sopan, dan menerima om Kean sebagai kekasih Kyara saat ini, jangan lagi ikut campur hubungannya. "
Anzel menggaruk kepalanya yang tidak gatal, pasti ini akal - akalan Kyara menambahkan syarat nomer tiga, pikir Anzel. Kyara seperti memanfaatkan Vio untuk membuat Anzel menuruti maunya, berniat membantu Anzel apanya kalau ujung-ujungnya ia memanfaatkan situasi ini agar Anzel merestui nya dengan Kean.
Anzel menghembuskan napas pelan, daripada ia kehilangan Vio lebih baik ia turuti semua syarat yang kekasihnya berikan.
" Baiklah aku akan melakukan semua permintaanmu, tapi berikan aku satu ciuman dulu, aku merindukanmu, Vi. Terlebih merindukan dua mainan ku. " Ucap Anzel sambil melirik ke arah dada Violetta.
" Ini di tempat umum, jangan ngaco deh. " ketus Vio, Anzel benar-benar mesum tak tau tempat bagaimana bisa ia berkencan dengan pria yang dulu ia pikir menyebalkan dan arogan ini, ternyata kemesumannya tingkat dewa, pikir Violetta.
.
.
**************
.
Beberapa hari kemudian
Betapa terkejutnya Anzel saat tau kakaknya akan di lamar oleh Kean dalam waktu dekat, di saat usia sang kakak baru menginjak 20 tahun.
" Kakak yakin? kan baru sebentar kenalnya? beneran kakak udah tau seperti apa calon suami kakak itu? " tanya Anzel yang tak habis pikir dengan orang tua dan juga kakaknya yang sepertinya sangat mempercayai Kean semudah itu. " Lagian kakak kan masih kuliah. "
" Habis nikah juga masih bisa kuliah, Anzel. Lagian kan loe udah janji gak akan ikut campur, mau gue aduin sama Vio? " Ancam Kyara.
Anzel berdecih, Bisa-bisa nya kakaknya mengancam seperti itu, sudah pasti ia akan kalah karena kemarahan Vio adalah kelemahannya. Lebih baik mencari aman dari pada kekasihnya merajuk lagi, pikir Anzel.
" Tapi loe gak bisa kaya gitu dong, masa mau melangkahi gue? " ketus Anzel yang tak Terima kakaknya akan menikah lebih dulu.
" Heh, bocah. Sejak kapan kakak melangkahi adik? Di mana-mana yang namanya melangkahi itu kalau adiknya mau nikah duluan sebelum kakaknya. Di sini gue kakaknya jadi gak ada judulnya melangkahi." jelas Kyara dengan nada kesal, karena Anzel mulai mencari gara-gara dengannya.
" Oohh jelas itu melangkahi karena yang pacaran duluan itu gue, loe kan baru pacarannya. " ucap Anzel tak kalah kesal. Iya iri kakaknya akan segera menikah sementara dia di minta harus menyelesaikan kuliah nya dulu baru boleh menikah. Sungguh malang nasib nya harus menahan diri selama beberapa tahun lagi.
" Loe gak hamil kan, kak? " celetuk Anzel dengan santai.
bugh
Kyara memukul Anzel dengan bantal yang berada di kamarnya, sungguh mulut Anzel ingin dia setrika rasanya, berani menuduhnya yang tidak-tidak.
" Jangan sembarangan ya kalau ngomong, Kean itu gak semesum loe. "sentak Kyara.
" Santai dong, kan gue cuma nanya. Ya kali bang Ke lebih mesum dari gue. " ucap Anzel sambil terkekeh.
.
.
**********
Di lain tempat
" Temui aku di Cafe Rainbow atau aku akan menemui kekasihmu. " sebuah pesan yang Kean terima dari Karin membuat moodnya rusak seketika, rencananya ingin berkencan dengan sang kekasih di hari Minggu harus ia batalkan dan terpaksa berbohong dengan Kyara bahwa ia ada meeting mendadak.
Sebelum hasil test DNA berada di tangannya, ia tak ingin Kyara mengetahui hal ini karena khawatir kekasihnya itu akan salah paham kalau ia tak punya bukti akurat untuk membela dirinya. Apalagi minggu depan akan diadakan acara lamaran, Kean sungguh tak ingin itu semua berantakan hanya karena Karin.
Tanpa basa basi Kean langsung duduk di hadapan Karin, saat ini mereka sudah berada di Cafe Rainbow sesuai permintaan Karin.
" Apa mau mu Karin? " tanya Kean dengan tatapan tajamnya. Bukannya takut Karin malah tersenyum senang bisa bertemu lagi dengan Kean. Kalau dulu dia tak bisa mengancam apapun karena tak ada yang Kean takuti tapi kali ini berbeda ada Kyara yang bisa ia jadikan alat untuk mengancam Kean.
" Bahkan dulu saat aku ingin memberitahu orang tua mu kau tidak peduli, karena kau yakin mereka tak akan mempercayaiku, tapi lihat sekarang? kau bahkan rela datang menemuiku saat aku menyebut nama wanita mu yang baru. " cibir Karin.
" Jangan pernah berani menemuinya atau kau akan berurusan langsung denganku. " Kean takut? ya seperti itulah adanya. Ia takut Kyara lebih mempercayai ucapan wanita licik itu, biar bagaimanapun ia dan Kyara belum lama saling mengenal bukan tidak mungkin Kyara akan cepat terhasut oleh ucapan Karin.
Terlebih yang paling ia takuti adalah tiga bocah tengik, kalau sampai mereka tau sudah di pastikan mereka akan berusaha keras memisahkannya dengan Kyara, Kean tak ingin memberi kesempatan pada Kalan atau Dean untuk merebut Kyara dari sisinya.
"Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Ke? Tak cukupkah setahun membuat mu jatuh cinta padaku, aku tau selama ini hanya menjadi pelarianmu dan pelampiasanmu, tapi aku menerimanya karena aku sangat mencintaimu Kean, apalagi ada buah cinta kita di sini. tak peduli kau tidak mencintaiku tapi tolong jangan tinggalkan aku, Ke. " ucap Karin dengan tatapan memohon sambil menggenggam tangan Kean.
Saat mereka tengah bicara dengan serius, di kejauhan ada sepasang mata menatap tajam pada mereka.
.
.
.
.
.
Bukannya itu Om kean, siapa wanita itu?
.
...****************...
.
Hayo loh, siapa itu? ketauan kan, nakal sih. Aduin nih ya gak jujur sama Kyara.
.
.