
Tanpa mereka sadari di sudut lain ada seorang gadis yang sangat jengkel melihat kedekatan mereka semua. " Harusnya aku yang di sana bukan Vio. " Tiana merasa Vio telah menggantikan posisinya sebagai orang yang Anzel cintai dan juga sebagai sahabat Kyara.
" Honey, udah dong jangan cemberut. Maaf sayang. " Rayu Vio pada Anzel yang sedang merajuk karena cemburu dengan para pacar halu Violetta yaitu oppa-oppa Korea.
" Masuk dulu yuuk, temani aku. Om sama tante mungkin pulang larut hari ini. Kamu makan malam di sini ya sayang. " kata Violetta yang masih berusaha membuat Anzel luluh.
Anzel sebenarnya juga sangat malas untuk pulang cepat-cepat kerumah terlebih lagi ini masih siang pikirnya, di rumah ada Tiana yang sangat membuatnya tak nyaman.
Tak ada salahnya sebenarnya menerima tawaran Violetta, ia bisa lebih lama berduaan dengan gadis itu, pikirannya mulai nakal sebenarnya sejak tadi. tapi ia masih kesal jadi sedikit jual mahal pada sang kekasih.
" Mau masuk gak? atau aku kunci nih pintunya. " ancam Vio yang sebenarnya sudah sangat lelah dan ingin istirahat, ia tau bahwa dirinya salah telah mengabaikan Anzel tadi, tapi ia seakan lupa diri ketika bertemu Kyara padahal ia tahu Anzel paling tidak suka diabaikan apalagi memuji pria lain didepannya walaupun itu hanya pacar halunya saja.
" Cih, aku yang marah dia yang mengancam. nyebelin banget" pikir Anzel.
Akhirny Anzel menuruti sang kekasih, ia akan menemani Vio sampai makan malam nanti.
Vio melangkahkan kakinya ke lantai dua menuju kamarnya dan Anzel berjalan di belakangnya.
" Kamu ngapain sih sayang, tunggu aja di ruang tengah. Aku tuh mau ganti baju ini keringetan. "
Tanpa banyak bicara Anzel malah menarik tangan Vio masuk ke dalam kamar gadis itu, Ia menyandarkan Vio ke dinding dan meraup bibir gadis itu dengan lembut. Tak dapat menolak, Vio malah melingkarkan tangannya ke leher Anzel, perlahan-lahan Anzel menggiring Vio ke ranjang tanpa melepaskan tautan bibir nya, merebahkan gadis itu perlahan ke atas ranjang dan menindih gadis itu, bibirnya terus turun menyusuri leher Violetta yang membuat gadis itu mengeluarkan suara merdunya.
Setelah puas memberi beberapa tanda kemerahan pada leher Vio, tangan laknat Anzel menyingkap kaos yang Vio kenakan, dadanya berdebar sangat kencang kala melihat dua gunung kembar yang menantangnya didepan mata.
" Zel, stop! cukup. "
" Gak mau, aku mau kasih hukuman buat kamu. "
ucap Anzel tegas tak ingin dibantah.
Bagaimana bisa disebut hukuman kalau caranya seperti ini, sepertinya ini hanya modus Anzel saja, pikir Vio.
Anzel mengecup gunung itu dan tak lupa memberi tanda kemerahan di sana, tanpa aba-aba Anzel mengeluarkan salah satunya, ia yang sudah tak sabar ingin menyesapnya pun harus bisa menahan diri saat bibir nya baru saja menempel di puncak gunung harus ia lepas begitu saja.
ponselnya sedari tadi berdering, ia ingin mengabaikannya tapi Vio yang sangat terganggu meminta Anzel mengangkatnya lebih dulu.
" Siapa sih, ganggu banget deh. " kesal Anzel sambil mengambil ponsel milik nya yang ia letakkan di atas nakas sebelum naik - naik ke puncak gunung.
" Kenapa? " sentak Anzel saat sambungan itu terhubung.
" Loe dimana? buruan pulang. katanya nganter Vio pulang doang." kata sang kakak dari seberang telepon.
" Gue lagi naik - naik ke puncak gunung. Loe lagi ganggu aktifitas gue tau gak! " ucap Anzel kesal karena sang kakak terus saja mengganggunya, rasa nya Anzel ingin sekali mengirim kakaknya balik ke negara A, ah tidak bukan ke negara A melainkan ia ingin sekali mengirim kakaknya ke planet mars agar tak terus mengusik kehidupannya yang kini sudah memiliki kekasih.
plak
satu pukulan mendarat di lengannya dari sang kekasih yang sedang menatap tajam padanya. Vio pikir bagaimana kalau Kyara paham maksud dari perkataan Anzel barusan, ia akan sangat malu bertemu kakak dari kekasihnya tersebut.
" Buruan pulang, gue bilang mommy nih yah. loe macem-macem! " ancam sang kakak.
" macem-macem apa sih, orang cuma satu macem. " sahut Anzel tak ingin kalah, ia selalu saja menimpali setiap perkataan kakaknya, nampak nya ia lebih senang berdebat dengan Kya dari pada harus mengalah lalu disalahkan padahal jelas-jelas ia memang salah.
" Gue susulin nih yah sama Mommy dan Daddy kesana, biar di gerebek langsung, mau? " ancam Kya lagi.
Mendengar ancaman sang kakak Anzel bergegas turun dari atas tubuh sang kekasih. Ia mengacak rambutnya kasar karena baru saja ingin menikmati yang enak-enak tapi ia harus segera pulang. Anzel menutup sambungan teleponnya begitu saja, tanpa peduli Kyara yang masih mengoceh padanya.
" Sayang, tanggung lanjutin aja ya. " rengek Anzel pada sang kekasih.
" No, honey ! Kya udah nunggu, kamu pulang aja ya. " ucap lembut Vio sambil mengelus lengan Anzel.
" Gak enak begini sayang, baru sampai puncak masa langsung disuruh turun lagi. " Anzel terus merengek, berharap Vio luluh dan membiarkan ia mendaki gunung lagi."
" Udah pulang aja ya, besok kita lanjutin lagi. " rayu Vio. Tak apalah pikirnya ia berjanji melanjutkan yang tadi esok hari yang penting sekarang Anzel mau menuruti permintaannya.
" Kamu makan malam sendirian dong, mau ikut makan malam di rumah aku aja gak? "
" Aku makan di rumah aja ya sayang, lagi juga aku capek kalau harus bolak balik. " Sangat malu sebenarnya ia saat ini kalau harus bertemu dengan Kyara, entah apa yang akan Kyara pikirkan tentang perkataan Anzel tadi.
" Maaf ya sayang, aku gak jadi nemenin kamu sampai makan malam. " tutur Anzel sambil memeluk erat tubuh Vio. Berat rasanya ia meninggalkan gadis itu sendirian di rumah, tapi ancaman kakaknya tak pernah main-main. Jadi Anzel pikir lebih baik ia pulang dari pada harus di gerebek orang tuanya di rumah sang kekasih, sudah pasti itu akan sangat memalukan untuknya.
.
.
**********
.
.
Anzel yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung dikejutkan oleh sang kakak. Bagaimana tidak, ia yang baru membuka pintu rumahnya langsung di pukul menggunakan sapu lidi oleh Kya.
" Berani ya loe macem-macem sama anak gadis orang. " oceh Kya sambil terus memukuli Anzel dengan sapu lidi.
Kyara tak peduli dengan pembelaan yang adik nya itu lontarkan, ia terus mengejar adiknya yang menghindar kesana kemari. Mereka bagai bocah 5 tahun yang berlari main kejar-kejaran di dalam rumah.
Sampai akhirnya Kya berhenti karena lelah terus menerus mengejar adiknya sambil mengoceh
" satu macem itu ngapain? "
" Mau tau aja loe, kepo banget! " ketus Anzel sambil mengelus bagian-bagian tubuhnya yang terkena sapu lidi Kyara, perih dan panas sekali rasanya.
" Gue bilang Daddy nih yah, biar loe di pindahin kuliah di negara A sama grandma "ancam Kya.
" Loe gak punya bukti, emangnya gue ngapain? " tantang Anzel.
Sebenarnya Kyara melihat banyak tanda merah di leher Vio, bahkan kemarin secara tak sengaja saat kancing kemeja Violetta terlepas ia melihat tanda merah di atas gunung kembar milik kekasih adiknya itu, tetapi ia memilih pura-pura tak melihatnya. Ia khawatir Vio akan malu kalau sampai ia tau.
" Bukti? heh bocah mesum, gue udah pernah sekali melihat tanda merah itu ya di dada cewek loe! " kesal Kyara pada adik mesumnya itu. " Gue akan aduin semua yang gue lihat sama Mommy dan Daddy.
Bukan takut pada ancaman Kya, Anzel malah terkekeh mendengarnya , Sementara Kya keheranan melihat ekspresi sang adik mesumnya itu.
" Gak apa paling juga di nikahin sama Mommy dan Daddy. " ucap Anzel sambil tersenyum senang padahal ia hanya asal bicara, sementara jantungnya berdegup kencang , yang ia lebih takutkan adalah amukan sang Mommy.
" Dasar bocah gila. " Kya kembali emosi dengan jawaban sang adik, pukulan kembali dilayangkan olehnya. betapa sial Anzel, ia tak sempat menghindar dari pukulan kakaknya.
Mendengar suara ribut-ribut Mommy kimmy dan Daddy Razel yang juga sedang menikmati surga dunia langsung bergegas keluar kamar, Kimmy yang melihat KDRT di dalam rumahnya pun langsung membelalakan matanya melihat betapa brutal anak gadisnya memukul sang adik.
" Kya... stop! hentikan. " pekik kimmy yang langsung membuat kedua anaknya menoleh ke arahnya.
" Kalian ada apa sih, ganggu banget deh Daddy lagi.... " Razel tak lagi meneruskan ucapannya saat mendapat tatapan tajam dari sang istri.
" emang tuh, Dad. Kya hobbynya gangguin orang mulu, maklum aja jomblo sih jadi gak tau betapa indahnya.... "Anzel langsung menutup mulutnya sendiri, hampir saja ia keceplosan. bukan lagi sapu lidi tapi mommy nya akan lebih brutal kalau tau apa yang ia lakukan, bisa-bisa si junior yang kena pukul dengan gagang sapu, pikir Anzel.
" Indah nya apa? " tanya Kimmy penasaran.
" Indah nya jatuh cinta mom. iya kan Dad? " ucap Anzel mencari pembelaan dari sang Daddy tapi justru Razel hanya mengangkat kedua bahunya tanpa menjawab apa yang dikatakan sang putra.
" Bohong bukan itu. Anzel itu... " mulut Kyara yang ingin mengadu pun langsung dibekap oleh sang adik.
" Diem, 30% uang jajan bulanan gue jadi milik loe. " Anzel mencoba bernegoisasi dengan kakaknya sambil berbisik agar mommy dan daddynya tak mendengar.
setelah berkata begitu Anzel melepas tangannya yang membekap mulut sang kakak.
" Kalian kenapa? Anzel kenapa Kya? " tanya kimmy penasaran.
" 50% atau gue bocorin rahasia loe. " Bisik Kya.
Bagaimana mungkin adik nya yang tadi dengan sangat percaya diri tak takut di adukan pada mommy dan daddy nya kini malah mengajaknya bernegoisasi, pikir Kya.
" deal. " jawab Anzel singkat, ia terpaksa kehilangan separuh uang jajannya demi membungkam mulut bocor sang kakak, agar tak kena amukan dari mommy dan daddy nya.lebih tepatnya ia melindungi junior agar tak terkena amukan Mommy Kimmy.
" Itu mah si Anzel punya hobby baru yang berbahaya. "
" Hobby apa, Kak ? " tanya Kimmy penasaran
.
.
.
.
.
.
mendaki gunung....
.
.
...****************...
.
.
Ya ampun Daddy Razel kenapa anak mu pada begini semua, yang satu mesum yang satu matre🤧🙄
lebih baik angkat aku aja jadi istri mu Daddy, eh salah maksudnya jadi anak ðŸ¤ðŸ¤