My enemy My husband

My enemy My husband
S2 I love you



Si junior, loe mau kenalan gak?


Violetta yang tau arah pembicaraan Anzel langsung bangun dari pangkuan Anzel dan duduk di sebelah laki-laki tampan yang sudah merebut hatinya sejak hari pertama bertemu disekolah.


" Dasar mesum."


Anzel terkekeh melihat Violetta yang kesal padanya.


" Gue temenin ya di sini? Masa loe sakit gini sendirian, nanti kalau ada apa-apa gimana? "


" Gue udah lebih baik kok, gak masalah gue sendirian di sini. "


" gue nginep aja ya, kan besok libur sekolah. biar loe gue temenin sampai benar-benar sembuh, gue khawatir sama loe Vi." ucap Anzel dengan tatapan memohon.


" Kenapa loe peduli banget sama gue? "


" Karena kan kita temen, jadi gue peduli sama loe, Vio."


" Oke, boleh lagi juga kan kita cuma temen dan loe juga gak punya perasaan apa-apa sama gue,jadi gak mungkin loe macem-macem kan. " sahut Vio dengar percaya diri.


" Nah, itu loe tau. Tapi kalau loe nya mau sih boleh juga." kekeh Anzel.


" Dasar gila ! "


Mereka menghabiskan waktu dengan menonton film dan sesekali bercanda bahkan kali ini Anzel lah yang lebih sering menggoda Vio.


Tak terasa malam hari pun tiba, mereka makan malam bersama, bahkan Anzel benar-benar mengurus Vio sampai gadis itu tak ia ijinkan untuk mengerjakan apapun, air minum pun Anzel lah yang mengambilkannya bahkan piring kotor bekas makan malam pun Anzel lah yang mencucinya.


" Dah selesai semua, sekarang loe minum obat ya, biar besok bangun udah lebih baik." ucap Anzel setelah ia selesai membereskan bekas makan malam mereka.


" loe mau ganti baju, Zel ? pasti gak enak pake seragam seharian, itu juga pasti udah keringetan. "


" Emang ada baju nya? gue pake ini juga gak apa kok, masih nyaman."


" Gua ambil kaos Om gue dulu ya. Loe bisa pinjem nanti biar gue yang bilang sama Om. Ukuran nya kayanya sama kaya loe."


Setelah mengambil kaos dan celana pendek milik om nya, Vio langsung menyerahkan nya pada Anzel. " yuuk keatas gue tunjukin kamar loe. "


" Ini kamar loe, kalau mau mandi ada handuk di lemari loe ambil aja, Gue juga mau ke kamar dulu ya mau istirahat. " ucap Vio.


Anzel menganggukan kepalanya sambil tersenyum. " Loe istirahat ya, jangan lupa minum obatnya sebelum tidur. "


" Siap, Boss. " ucap Vio yang kemudian membuat keduanya terkekeh bersamaan.


*******


jam 2 pagi, Anzel tak kunjung bisa memejamkan matanya, ia hanya merebahkan diri dan berguling kesana kemari.


" Apa karena di rumah orang kali ya, gue jadi gak bisa tidur. Vio udah tidur belum ya."


Anzel bangun dari tidurnya, ia beranjak dari ranjang langsung menuju pintu kamarnya, ia berjalan ke arah kamar Vio. Dengan nekat ia perlahan membuka pintu kamar gadis yang seharian ini memenuhi pikirannya.


ceklek


Anzel tersenyum saat melihat pemandangan didepannya. Violetta yang sedang tertidur pulas terlihat sangat cantik di mata Anzel saat ini. perlahan Anzel duduk di tepi ranjang. ia mulai merapikan selimut Violetta sampai sebatas dada nya.


Tangannya terulur menyentuh rambut hitam dan panjang Violetta, ia mengusap kepala gadis cantik itu dengan lembut, agar tidur gadis itu tidak terganggu oleh kehadirannya.


" Apa aku mulai menyukaimu Vi? Semenjak kehadiran kamu, pikiran dan hati ku tak lagi berpusat pada dia. Kamu perlahan mulai mengusik hati ku, Vi. Seperti hari ini dimana aku begitu panik saat tak melihatmu di sekolah, aku takut sesuatu terjadi sama kamu." Anzel terus menceritakan semua yang ia rasakan saat ini pada gadis cantik yang sedang tertidur pulas.


" Jangan dekat dengan siapapun, karena aku tak suka melihatnya. " Kesal Anzel ketika ia teringat dengan Kalan yang terang-terangan sengaja mendekati Violetta di depannya.


Tiba-tiba Vio membuka matanya " Loe ngapain disini Anzel? "


Anzel yang melihat Vio terbangun pun langsung terkejut. Ia malu karena sedari tadi mencurahkan semua perasaan nya pada gadis yang ia kira sedang terlelap, tapi ternyata gadis itu malah bangun dari tidur nyenyaknya.


" Kamu dari kapan bangunnya, Vi? tanya Anzel penasaran karena sedari tadi Vio terlihat amat nyenyak tidurnya .


" Dari pas loe mengusap kepala gue, gue denger semuanya Zel, semua yang loe ucapin." jawab Vio dengan senyum mengembang di bibirnya.


" Vio bangun dari posisi tidur nya yang sekarang berubah menjadi duduk berhadapan dengan Anzel di atas ranjang.


" Tapi gue belum sepenuhnya melupakan Dia, Vi. Sesekali gue masih suka mengingatnya dan merindukan kebersamaan dengannya. Walaupun gak gue pungkiri kehadiran loe juga udah berpengaruh besar buat hidup gue. "


" Gue bisa bantu loe buat lupain dia sepenuhnya. "


Anzel mengerutkan keningnya mendengar ucapan Vio " Gimana caranya?" tanya Anzel penasaran


bukannya menjawab Vio langsung menarik tengkuk Anzel dan menempelkan bibirnya ke bibir Anzel, Sementara Anzel yang kaget dengan serangan mendadak itu langsung membelalakan matanya. Vio hanya menciumnya sekilas lalu langsung melepaskan bibirnya yang menempel pada bibir Anzel.


Anzel yang sudah bisa menguasai dirinya dari keterkejutan langsung balik menyerang Vio, ia menarik tengkuk gadis itu, menciumnya dengan sangat lembut, melu*matnya secara bergantian pada bibir atas dan bawah gadis itu, lidah mereka beradu di dalam sana, sampai mereka terbuai.


Anzel perlahan merebahkan tubuh Vio ke ranjang, ia yang pernah memimpikan adegan panas bersama Vio, tentu langsung teringat kembali dengan mimpi itu dan ingin merasakannya di dunia nyata secara langsung.


Ciuman yang lembut perlahan menjadi ciuman yang cukup panas, setelah puas merasakan bibir gadis itu, perlahan bibir Anzel turun ke leher jenjang Violetta yang putih mulus. Ia seakan lupa diri saat ini, ia terus menelusuri leher Vio sambil memberi tanda kemerahan di sana membuat Vio melenguh merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, hingga tanpa ia sadari tangan Anzel mulai membuka satu kancing piyama Violetta dan...


" Stop ! seketika Vio yang sadar dengan apa yang dilakukan Anzel langsung menahan tangan pria itu. Cukup, Zel nanti keterusan bahaya. "


Anzel mengusap kasar wajahnya "Maaf Vi, gue kelepasan. " Anzel benar-benar lupa diri ia hampir saja melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan.


" Udah, loe tidur lagi ya." ucap Anzel yang kemudian mencium kening Violetta.


Saat Anzel ingin beranjak dari duduknya, tiba-tiba Vio menahan tangan Anzel. " Hubungan kita apa sekarang? "


" Emmmm , apa ya?"


mendengar perkataan Anzel, seketika Vio langsung mengerucutkan bibirnya " ihhh nyebelin, udah main nyosor aja ! gak perawan lagi nih bibir aku. "


" kan kamu yang mulai duluan, pake mancing - mancing. Jangan salahin aku lah. Bibir aku juga udah gak perawan nih di sosor sama kamu. "


plak


Vio memukul lengan Anzel dengan kencang karena sudah membuatnya malu hingga wajahnya berubah bak kepiting rebus.


" Sakit, pacar. " keluh Anzel yang merasakan panas di lengan nya akibat pukulan Vio.


" Apa? "


" Apa?" Anzel malah balik bertanya pada Vio, ia senang sekali melihat ekspresi gadis tersebut, wajah kesal gadis yang mulai mengusik hatinya itu sangat menggemaskan menurutnya.


" Kok malah balik nanya sih, tadi ngomong apa? cepet di jawab! "


" Ngomong apa? "


" Itu tadi, pacar kamu bilang. "


" Aku bilang Acar. Salah denger tuh kamu."


" nyebelin tau gak, tau gitu mending aku ditemenin sama Kalan aja." Ucap Vio sambil berpura-pura mengambil ponselnya diatas nakas samping tempat tidurnya untuk menghubungi Kalan.


" Eh jangan. Kamu mau aku hukum yang lebih dari tadi? " ucap Anzel sambil menaik turunkan alisnya.


" Dasar rese. " ucap Vio sambil meletakkan ponselnya kembali.


Anzel beranjak dari duduknya dan hendak keluar dari kamar Violetta, tapi saat tangannya sudah memegang gagang pintu kamar Vio, Anzel menolah ke arah gadis yang sekarang statusnya ia naikkan dari teman menjadi pacar, menurut dirinya sendiri.


" Vi...... "


" Kenapa? " ketus Vio


Anzel tersenyum sambil mengatakan I love you tanpa suara dan hanya menggerakan bibir nya saja.


Vio yang kesal dengan kelakuannya pun langsung melempar bantal ke arah Anzel, beruntung laki-laki itu dengan cepat keluar dari kamar dan langsung menutup pintu nya sehingga bantal itu tak mengenai dirinya melainkan mengenai pintu kamar.


Anzel terkekeh dari balik pintu kamar Violetta.


tapi tidak dengan vio yang malah merengut kesal karena tingkah Anzel. " ngomong apa sih tuh orang, bikin penasaran aja. nyebelin banget! "


...****************...