
" Aku mau bicara." ucap Vio saat menghampiri Anzel yang sedang duduk di kantin bersama sahabatnya sean, Sudah 3 hari Vio mengabaikannya, mereka seperti orang asing saat bertemu di kampus, jangankan untuk duduk berdua seperti sekarang, telepon dan chat Anzel pun ia abaikan.
" Sudah cukup menata hatinya, hem? " tanya Anzel lembut. Sean yang tau masalah Anzel pun, langsung meninggalkan mereka berdua agar Anzel dan Vio bisa berbicara berdua saja supaya kesalahpahaman yang terjadi beberapa hari yang lalu cepat mereka selesaikan.
" Aku mau dengar penjelasan kamu. Kata kak Kya itu hanya salah paham, benarkah?" Kya sebenarnya sudah menghubungi Vio tanpa mengharap imbalan apapun, ia murni dengan hatinya yang sangat tulus (kadang-kadang) ingin membantu sang adik mesumnya itu. Kya meminta Vio untuk mau bertemu Anzel dan mendengar penjelasan Anzel terlebih dulu.
" Jangan sampai menyesal karena salah mengambil keputusan, Vio. Lebih baik loe dengerin dulu penjelasan Anzel, baru setelah itu loe berhak menentukan dia salah atau engga. " ucap Kyara pada saat itu, karena itulah ia sekarang di sini memberanikan diri dan siap mendengar penjelasan Anzel meskipun nantinya itu menyakitkan, pikirnya.
Anzel menarik napas dalam sebelum ia mulai menceritakan awal Tiana datang ke kamarnya sampai terjadilah adegan pelukan itu.
" Benar cuma sekedar peluk tanda persahabatan? terus jantung kamu gimana? sehat gak? atau berdebar-debar? " Vio sebenarnya bisa bernapas lega mendengar penjelasan Anzel tapi tetap saja ia masih penasaran dengan perasaan Anzel sekarang pada Tiana.
Anzel mencubit pelan hidung sang kekasih, sungguh ia sangat rindu walau hanya 3 hari tapi terlalu sulit yang ia rasakan tanpa kekasihnya itu.
" Cintanya kan sama kamu, masa masih gak bisa ngerasain, gimana sayangnya aku sama kamu sampai-sampai udah gak ada lagi tempat untuk wanita lain, sayang. Sampai seluruh hati aku adanya kamu doang. "Rayu Anzel pada Vio yang tersipu malu mendengar gombalan dari kekasihnya.
" Tiana, gimana sekarang? " tanya Vio penasaran
" Dia udah pindah dari rumah, sekarang tinggal di salah satu apartemen milik Daddy, ada asisten rumah tangga juga di sana untuk mengawasi Tiana."
Tanpa mereka sadari Tiana sedang mengepalkan tangannya di kejauhan, lantaran hubungan Anzel dan Vio nyatanya baik-baik saja.
" Apapun akan aku lakukan, supaya kamu bisa mencintai aku lagi seperti dulu, Zel. "gumam Tiana.
Kalau dengan cara menggoda secara langsung Anzel malah menjauhinya, maka dari itu kini Tiana akan mendekatinya dengan cara halus, memulai semua seperti dulu dengan cara menjadi sahabat Anzel lebih dulu, pikir Tiana.
Apalagi sekarang Tiana pikir sudah tinggal sendiri tanpa pengawasan ketat dari orang tua Anzel, Akan lebih mudah untuknya mendekati Anzel sekarang. Terlebih Kyara juga mulai percaya dengan perubahannya.
.
.
******
.
.
" Woy, lepasin cewek gue gak. Dasar om-om mesum." Kesal Anzel pada seorang pria dewasa yang memegang pinggang Violetta.
Sepulang dari kampus Anzel mengajak Vio makan siang di sebuah mall, Setelah selesai makan Anzel meninggalkan Vio sebentar untuk ke toilet tapi saat Anzel kembali ia melihat seorang pria yang ia sebut om-om mesum tengah memegang pinggang Violetta.
" Heh, bocah ingusan. Sembarangan aja kalau bicara, mana ada tampang ganteng gini dibilang mesum dan saya bukan om-om. Berani sekali ada yang berteriak padanya, pikirnya. Bocah ini sepertinya tidak tau bahwa dia lah pemilik mall ini.
" Iya, Zel. Om ini cuma bantu tadi aku mau terpeleset. " ucap Vio lembut sambil mengelus lengan Anzel agar pria posesif itu bisa mengendalikan emosinya.
Vio tak enak sebenarnya, ia tau om itu hanya membantunya , bukan seperti yang Anzel tuduhkan. Harus nya ia berterima kasih tapi kejadiannya malah seperti ini, pikir Vio.
" Tuh bocah, dengerin pacarnya! Aku itu hanya menolong seorang gadis yang hampir terjatuh, apa aku salah? "ucap pria itu membela diri.
" Tapi kan bisa pegang tangannya bukan pinggangnya, emang dasar aja om-om mesum, modus! "
" Itu namanya gerakan refleks bocah, masa iya mau nolong orang mikir dulu mana yang harus dipegang, yang ada keburu jatuh pacar mu. "
" Udah yuuk sayang, kita pergi gak enak kalau sampai jadi perhatian pengunjung lain. " Vio mengajak Anzel keluar dari restoran agar mereka tak lagi berdebat.
" Awas loe ya. " ucap Anzel sambil menunjuk wajah pria itu dengan tatapan permusuhan kemudian berlalu meninggalkan pria itu
" Kenapa boss? " tanya sang asisten saat baru kembali dari toilet, ia bingung melihat wajah kesal bossnya itu.
" Ya namanya juga cinta ya gitu lah boss, boss juga kalau sudah ketemu pawangnya pasti akan bucin seperti itu. " sahut sang asisten.
" cih, tidak mungkin. Ada juga para wanita itu yang bucin padaku nanti. " ucapnya bangga.
" Kita jadi makan di sini, boss? " tanya sang asisten yang sudah sangat lapar karena ini sudah lewat jam makan siang.
" Tidak, selera makan ku hilang karena ulah bocah ingusan tadi. Sejak Anzel menyebutnya om-om mesum , sungguh harga dirinya terasa di injak-injak, bagaimana mungkin pemilik sebuah mall, berbuat mesum di mall nya sendiri, pikirnya.
" Saya saja kalau gitu yang makan, boss. Perut saya sudah sangat lapar. Kalau boss tidak mau, boss bisa tunggu di mobil. " ucap asisten itu sekenanya, apa dia lupa siapa dirinya, jelas-jelas dia boss nya kenapa asistennya bertindak seenaknya saja, menurutnya.
" Aku ikut makan saja, enak aja kamu bilang tunggu di mobil, Apa kamu lupa, siapa kamu ? "
" Saya Christian, boss. " dengan santainya asisten gilanya itu menjawab seenaknya saja. Ia juga tahu bahwa namanya Christian tapi bukan itu yang ia maksud. Sepertinya ia salah bertanya kali ini, Sungguh mentalnya sedang di uji sekarang, menurutnya.
" Posisi mu sebagai apa maksud ku, Christian! "
sentak bossnya yang sudah sangat kesal dan lelah.
" Oh... itu "
" Sudah cukup, makan sekarang sebelum aku berubah pikiran. " menurutnya lebih baik memotong ucapan asistennya sebelum asisten gilanya itu menjawab dengan asal lagi dan makin membuatnya darah tinggi.
" Pasti wanita tadi cantik ya boss? " tanya sang asisten yang penasaran.
" cantik sih, tapi bukan tipe ku. Dia terlalu muda masih bocah. Aku malas mengajarinya kalau sampai berhubungan dengan seorang bocah yang belum berpengalaman.
Ya bossnya memang playboy, ia sering berhubungan dengan wanita cantik dan sexy, yang pasti semua di atas 25 tahun, agar ia tak susah payah mengajari wanitanya lagi, tanpa ia minta wanita-wanita itu tau cara memuaskannya.
.
.
" Kamu beneran gak di apa-apain om mesum tadi, hon? " tanya Anzel sudah yang kesekian kalinya dan Vio pun sudah berulang kali menjelaskannya.
Vio menghela napas kasar, memang pria posesif itu sulit sekali di beri penjelasan. " Kamu nanya sekali lagi, aku usir nih ya. "
" Aku gak rela honey, pinggang kamu dipegang gitu sama si om mesum. " Wajahnya tak akan pernah Anzel lupakan, ia adalah orang yang pendendam dan ingatannya juga sangat tajam. Om mesum itu akan menjadi musuhnya seumur hidup, pikir Anzel.
" Dia cuma nolong. titik gak lebih! Udah ya, kalau kamu bahas ini terus waktu kita terbuang percuma sayang. " tutur Vio dengan lembut.
Anzel hampir melupakan niatnya yang ingin bermesraan sebentar dengan sang kekasih tapi karena rasa kesalnya membuat ia lupa.Tanpa aba-aba Anzel langsung menyambar bibir kekasihnya dengan lembut, perlahan emosi nya menguap entah kemana karena terbuai oleh gairahnya saat ini.
.
.
.
...****************...
.
.
udah tau lah ya anak nya daddy Razel mau ngapain. mesum banget sih sumpah! nikahin juga nih ya!!! π€
Orang lain dipanggil mesum, sendirinya juga sama mesum juga π