
" Loe ngapain sih Kal, lari-larian gitu." Kata Anzel saat melihat Kalan berlari menghampirinya yang sedang berjalan menuju kantin.
Kalan yang masih terengah-engah langsung menyodorkan ponsel miliknya ke hadapan Anzel.
" Ini siapa?"
" Ya, Kyara lah. Liat aja itu kan instagramnya Kya." jawab Anzel.
" Gue juga tau itu Kyara, ciripa! yang gue maksud cowok yang ada di foto sebelah Kyara itu siapa?" kesal Kalan.
" Ya mana gue tau, loe cari tau lah sendiri. Loe tanya langsung sama kakak gue." saran Anzel.
" Loe cemburu Kya dekat sama cowok lain? Makanya kalau suka tuh ngomong nanti Kya di rebut bule baru tau rasa loe." lanjutnya.
" Siapa yang cemburu? "
Kalan dan Anzel tersentak melihat kedatangan Dean. Mereka hanya bisa saling lirik sambil berpikir apa yang harus dijelaskan pada Dean. Mereka takut kalau Dean mendengar pembicaraan mereka.
" Itu loh, Anzel cemburu lihat Tiana lagi dekat sama cowok lain." bohong Kalan.
" Loe ngapain di sini De?" tanya Anzel yang mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Ah iya itu, gue mau nanya ini siapa? pacar Kyara?" Dean menanyakan pertanyaan yang sama seperti yang Kalan tanyakan pada Anzel.
" kenapa pada nanya sama gue sih, loe pikir gue asistennya Kyara, mana gue tau urusan pribadinya. Dah ah laper gue, mending ke kantin." Anzel berjalan lebih dulu meninggalkan Kalan dan Dean yang masih sama-sama terdiam.
" Loe nanya soal Kyara juga kak? Emang loe gak tau itu siapa nya Kya?" tanya Dean penuh selidik.
" Gue gak tau." jawab Kalan singkat.
" Tumben gak tau, loe kan selalu tau apa yang terjadi sama Kya."
" Hubungan gue lagi gak baik, semenjak kepergian Kya ke negara A. "
" Jangan-jangan kepergiaan Kyara kuliah ke luar negeri karena loe lagi?"
" Bukan itu, jangan sok tau! udah mending ke kantin. Loe mau ikut gak? tanya Kalan yang langsung mendapat gelengan kepala dari sang adik.
" Gimana udah beres sama Dean? " tanya Anzel saat Kalan sudah berada di kantin.
" hem.... " Kalan hanya menjawab dengan deheman, entah apa yang sedang dipikirkannya. Hatinya mendadak sesak melihat foto Kyara bersama pria lain. Melihat Kyara bersama pria lain ia tak mampu, tapi mengatakan perasaannya pun ia tak bisa.
" Hai Zel. " sapa seorang gadis yang langsung duduk di sebelah Anzel.
" Gue udah bilang ya Vio, gue gak bisa jadi temen loe dan jangan dekat-dekat sama gue lagi." ketus Anzel.
" Loe kenapa sih, kan kita gak ada masalah lagi. Apa loe masih kesel sama kejadian di restoran tempo hari?" tanya Vio yang sedari tadi bingung dengan sikap Anzel yang seolah menghindarinya.
" Pokoknya gue gak bisa!" Anzel beranjak dari duduknya hendak meninggalkan Vio, tapi Vio dengan cepat mencekal tangan Anzel dan malah ikut berdiri, sekarang posisi mereka berhadapan dengan mata yang saling menatap satu sama lain.
" Kasih gue satu alasan kenapa loe gak mau berteman sama gue?"
Bukannya menjawab Anzel malah maju selangkah, mendekatkan wajahnya pada Vio.
" Karena gue gak mau berteman sama cewek bar-bar kaya loe."
Kalan bangkit dari duduk nya dan menghampiri Vio. " Sabar ya Vio, mungkin Anzel lagi badmood aja." ucap Kalan sambil menepuk bahu Violetta dan berjalan meninggalkan gadis itu menyusul Anzel yang berjalan lebih dulu.
" Zel, tunggu. Loe kenapa sih? masih dendam karena masalah di restoran itu?" tanya Kalan penasaran.
Anzel menghentikan langkahnya, ia menghembuskan napas kasar, ia tak mungkin bercerita tentang mimpinya yang begitu panas bersama Violetta, Bisa -bisa Kalan meledeknya dan tentu itu membuatnya sangat malu.
" Gue cuma mau jaga jarak aja sama cewek lain, gue kan mau nunggu Tiana. Nanti dia pikir gue ga serius sama perasaan gue ke dia masa baru ditinggal sebentar gue bisa deket sama cewek lain, ya walau cuma berteman gue tetep gak mau." bohong Anzel.
Kalan memicingkan matanya menatap Anzel
" Bukan karena loe takut jatuh cinta kan sama Vio?"
" Gue jatuh cinta sama itu cewek? Gak mungkin lah, bukan tipe gue."
" Tapi loe sadar gak sih, itu cewek cantik bener kata Dean, tapi ya tetap cantikkan Kya lah."
" Dunia loe kan cuma ada Kya doang, Kal. jadi ya menurut loe gak ada yang lebih cantik dari Kya."
Kalan hanya terkekeh mendengar perkataan sang sahabat yang lebih tua setahun darinya.
*********
Sepulang sekolah
" Zel, tunggu. kita harus bicarakan tugas kelompok kita dulu. " ucap Vio yang menghampiri Anzel di parkiran sekolah.
" Gue aja yang ngerjain, loe tinggal duduk manis terima beres." sahut Anzel sambil memakai helmnya.
" Loe kenapa sih pengen banget menghindar dari gue? pasti bukan hanya karena gue cewek bar-bar yang bukan tipe loe kan?"
" Karena ada hati yang ingin gue jaga, gue gak mau apa yang selama ini lagi gue perjuangkan itu berakhir sia-sia." sahut Anzel.
Vio terkekeh mendengar perkataan Anzel yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
" Apakah dengan berteman dengan gue bisa menghancurkan perasaannya?"
" Mungkin aja, kalau dia cemburu gimana?"
" Takut cewek itu cemburu atau loe takut jatuh cinta sama gue?" tanya Vio bersedekap dada.
" Gak usah terlalu percaya diri, sekalipun kita dekat gue gak akan semudah itu jatuh cinta sama loe apalagi loe bukan tipe gue. Sudah ada cewek lain yg bertahun-tahun berada disini. " kata Anzel sambil menunjuk ke arah dadanya sendiri.
" Kalau loe seyakin itu sama perasaan loe, harusnya gak masalah kalau kita berteman, itu pun kalau loe yakin sama hati loe ya." sindir Vio.
" kalau menghindar terus kaya gini, itu sama aja loe takut menghadapi perasaan loe sendiri, bahwa sebenarnya ada kemungkinan bahwa loe bisa jatuh cinta sama gue."
Anzel yang merasa tertantang pun menerima permintaan Vio " Oke, kita berteman. Gue akan buktiin sama loe bahwa loe gak akan mempengaruhi perasaan gue."
Vio mendekatkan wajahnya ke arah Anzel kemudian berbisik di telinga laki-laki tampan itu.
Hati-hati di jalan **ya** calon pacar
...****************...