
Berhenti mengharapkan hati loe yang udah jelas gak akan pernah jadi milik gue.
Usai berkata begitu Vio langsung melepaskan tangan Anzel, dan kembali ke kelas lebih dulu.
" Gimana, ekspresi Anzel loe bilang begitu?" tanya Kalan pada Vio yang sedang lewat di depan kelasnya.
" Dia terkejut, Kal. kaya nya akting gue bagus deh. "
" Tuh orang emang harus di gituin dulu biar sadar sama perasaannya sendiri, gue yakin kok dia mulai suka sama loe. " ucap Kalan.
" Sekarang gue tinggal bersikap cuek aja sama dia, terus bikin dia cemburu dengan kedekatan kita, tapi kalau Anzel marah sama loe gimana?"
" Enggak akan, persahabatan kita gak selemah itu. lagi pula kan loe belum resmi jadi pacarnya, jadi gak masalah kalau gue pura-pura deketin. "
kedua nya tertawa puas setelah merencanakan mengerjai Anzel, Kalan masuk kembali ke kelasnya begitu pun Vio yang kembali ke kelasnya sendiri di lantai tiga.
" Vi, nanti pulang bareng mau gak?" tanya Anzel mencoba mencair kan suasana karena sedari tadi Vio hanya diam dan tidak menoleh sedikit pun kearahnya, tak ada lagi candaan dan godaan beserta senyum manis yang selalu Vio berikan pada Anzel.
" Sorry, gue pulang bareng Kalan, Zel. " Vio tak menoleh sedikit pun saat mengatakannya. Membuat Anzel semakin bingung dengan sikap Vio yang seperti itu.
" Gue harap loe gak terlalu dekat sama Kalan, kakak gue suka sama dia dan jangan bikin patah hati kakak gue karena loe ngerebut Kalan darinya. " tegas Anzel
Vio menoleh ke arah Anzel dengan tatapan tajam.
" Mereka gak ada hubungan apapun jadi gue berhak dekat sama Kalan, loe gak bisa maksa Kalan untuk terus suka sama kakak loe! " kata Violetta tak kalah tegas.
Setelah berkata begitu Vio langsung beranjak dari kursinya ia berpindah tempat duduk yang cukup jauh dari Anzel, ia bertukar tempat dengan teman nya yang lain.
" Loe kenapa Zel, kok si Vio minta tuker tempat."
tanya seorang teman sekelas Anzel yang kini duduk disampingnya.
" gak tau, lagi PMS kali."
kal, pulang sekolah kerumah gue!!
sebuah pesan ia kirimkan pada Kalan sebelum jam belajar kembali di mulai.
******
Setelah mengantar Vio, Kalan langsung menuju ke kediaman Anzel dengan mobilnya.
" Zel, kenapa loe nyuruh gue kesini?" tanya Kalan sambil mendudukan bokongnya di samping Anzel yang sedang duduk di sofa ruang tengah .
" Lama banget sih loe, dari mana aja?" ketus Anzel
" Abis anter Vio ke resto terus di ajak minum dulu, kebetulan gue haus yaa gue terima." Sahut Kalan.
" Loe ada hubungan apa sama Vio? " tanya Anzel blak-blakan.
" Cuma sahabat." jawab Kalan singkat.
" Sama Kyara gimana? loe tetap gak mau ungkapin perasaan loe?"
Kalan hanya menaikkan kedua bahunya.
" Loe suka Vio? " tanya Kalan balik.
" Biasa aja, gue gak ngerasain apa-apa."
" Boleh dong, kalau gue deketin Vio?" pancing Kalan.
" Ya, terserah loe. Bukan nya loe bucin Kya dari lahir?" cibir Anzel.
" Terserah loe ! " kesal Anzel yang malah membuat Kalan terkekeh melihatnya.
********
" Vio, kemana ya tumben gak masuk sekolah. " batin Anzel saat ia tak kunjung melihat kedatangan Vio sementara jam pelajaran sudah ingin di mulai.
" Mau kemana loe, Zel? Buru-buru amat " tanya Kalan saat melihat Anzel jalan tergesa-gesa menuju parkiran saat pulang sekolah.
" Gue ada urusan mendesak." jawab Anzel sambil berteriak.
Anzel melajukan motornya dengan kecepatan sedang menuju rumah Violetta, gadis yang sudah mengacaukan harinya. Membuat ia tak fokus melakukan apapun. Bahkan Anzel tak mengerti betapa Vio sangat mempengaruhi hidupnya yang sekarang.
tok. tok. tok
" kok sepi ya ni rumah, apa gue salah alamat ya?" gumam Anzel sambil mengeluarkan ponselnya untuk memastikan alamat rumah Violetta.
" Ah gak kok, bener ini rumah Vio. Tapi kaya gak ada orang gini ya. Apa Vio gak ada di rumah?" Anzel terus saja bermonolog sendiri.
Ia terus saja mengetuk rumah Vio yang memang tak memiliki pagar, karena Vio tinggal di perumahan cluster.
Setelah cukup lama menunggu akhirnya sang pemilik rumah pun membuka pintu
ceklek
" Anzel, loe ngapain di sini?" tanya Vio yang tampak kebingungan dengan kedatangannya.
" Loe pucat banget, loe sakit Vi. " Anzel bertanya dengan wajah panik melihat keadaan Violetta yang tampak kurang sehat.
Bukannya menjawab pertanyaan Anzel, Vio hanya tersenyum dan mempersilahkan Anzel masuk ke dalam rumahnya.
" Gue ambil minum dulu ya." ucap Vio setelah mempersilahkan Anzel duduk di ruang tamu rumahnya.
Dengan cepat Anzel langsung mencekal tangan Vio dan menariknya hingga akhirnya Vio terjatuh di pangkuannya.
" Gua tanya loe sakit? kenapa gak dijawab." tanya Anzel sambil mengelus pipi putih mulus Violetta.
" Iya gue lagi gak enak badan, Zel. Makanya gue gak masuk sekolah. " jawab Vio yang masih duduk dipangkuan Anzel.
" Loe lagi sakit gini tapi kenapa sepi rumah loe. "
" Om dan tante lagi di luar kota sejak kemarin, karena ada pembukaan restoran yang baru. Sementara asisten rumah tangga gue lagi ijin tadi siang karena anaknya sakit. Jadi gue sendirian deh dirumah."
" Gue ganggu istirahat loe dong? loe mau gue anter ke dokter?"
" Gak ganggu kok, gue udah cukup dari pagi istirahat terus di kamar, bosen. lagi juga gue udah agak enakkan kok, udah minum obat."
" Vi.... "
" hem, kenapa?"
" loe turun ya, duduk di sebelah gue aja."
" kenapa?" tanya Vio yang sulit mengartikan ekspresi Anzel saat ini.
" posisi kita bahaya. takut ada yang bangun. loe mau tanggung jawab?"
" siapa yang bangun"
si junior, loe mau kenalan gak?
...****************...