
Sesampainya di rumah, Anzel langsung memarkirkan motornya, Vio turun dari motor dan melepaskan helmnya, ia meletakkan helm itu diatas motor Anzel,tetapi mata Vio tak lepas menatap bangunan mewah tersebut.
" Rumah loe bagus banget, Zel." ucap Vio dengan kagum.
" hem.. yuuk masuk. " ajak Anzel pada Vio
" Tunggu bentar di sini, gue ganti baju dulu. Loe mau minum apa?" tanya Anzel sambil menaruh tas ranselnya di meja ruang tengah.
" Apa aja, yang penting dingin ya soalnya panas banget cuacanya, pengennya minum yang dingin-dingin" jawab Vio
" Oke. " Anzel langsung berjalan menuju dapur menemui asisten rumah tangganya agar membawa minuman dingin ke ruang tengah untuk Violetta. Setelah itu ia berjalan ke lantai 2 menuju kamarnya. Anzel hanya mengganti pakaiannya karena tak ingin Vio menunggu terlalu lama kalau ia mandi lebih dulu.
"Cepet amat, kirain lama. Udah gak sabar ya pengen ketemu gue." ucap Vio saat melihat Anzel sudah berdiri di hadapannya.
" Gak usah kepedean, gue cuma takut loe kelamaan nunggu gue. nanti loe jamuran lagi nungguin gue kalau gue mandi dulu, makanya gue cuma ganti baju doang."
Vio mengerucutkan bibirnya mendengar penjelasan Anzel. " Gak ada romantisnya banget, sekali-kali kek bikin gue seneng."
" Emang loe siapa gue?"
" Calon pacar. "
" Gak usah halu mending kerjain tuh tugas."
" Rumah loe sepi banget, Zel. Orang tua loe kemana?" tanya Vio sambil mengedarkan pandangannya.
" Masih di negara A nemenin kakak gue Kyara, lusa baru pulang." jelas Anzel.
" pantes aja loe ngajak gue ngerjain tugas di sini, karena gak ada orang ya?" ucap Vio sambil menaik turunkan alisnya.
pletak
Anzel yang tau kemana arah pembicaraan Vio pun menyentil kening gadis itu, sampai Vio meringis kesakitan sambil mengusap keningnya yang sedikit memerah.
" Sakit Anzel ! "
" Makanya jangan mikir yang macem-macem. Dasar mesum! "
" Ya kalau loe mau gue sih hayo." Vio sengaja menggoda Anzel, entah kenapa ia sangat suka dengan ekspresi Anzel yang sangat menggemaskan setiap kali ia goda.
" Zel, gadis yang loe temui di restoran waktu itu siapa? " Vio yang penasaran dengan Anzel pun terus bertanya pada laki-laki tampan yang sedang fokus menatap layar laptop miliknya.
Anzel menghela napas sebelum menjawab pertanyaan Vio. " Yang rambut panjang itu Kyara kakak gue, kalau yang rambut pendek, cewek yang lagi gue perjuangin."
" Ooohhh, kalau gue ikut berjuang boleh gak? " tanya Vio serius sambil menatap mata Anzel.
" Loe mau perjuangin apaan? " Anzel yang bingung malah balik bertanya pada Vio.
" Perjuangin loe."
Anzel terdiam sejenak, mereka saling menatap dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.
" Tadi loe ngomongin apa di depan kelas sama Kalan." tanya Anzel mencoba mengalihkan pembicaraan.
" Oh itu, tadi gue cerita sama Kalan kenapa gue bisa pindah dan sekolah di sini."
" Coba cerita, gue mau denger tentang loe." sahut Anzel.
" Ibu gue meninggal dua tahun yang lalu, bapak meninggal 2 bulan yang lalu, dulu gue tinggal di kota M, karena bapak meninggal jadi gue pindah ke kota ini sama tante dan om gue. Nah resto yang kemarin itu punya mereka, karena dua pegawai nya gak masuk hari itu, makanya gue bantu-bantu mereka di resto." jelas Vio panjang lebar.
" Oh gitu, terus kenapa sampai ketawa-tawa tadi ceritanya, kayanya gak ada yang lucu deh dari cerita loe." ketus Anzel
" Wait, loe cemburu gue ngobrol sama Kalan? " Tanya Vio penuh selidik.
" Of course No! " tegas Anzel.
Vio hanya tersenyum walaupun hatinya merasa terluka saat Anzel mengatakan tidak cemburu dengannya. ia mencoba untuk bersikap biasa di depan Anzel " Bisa loe ceritain tentang cewek yang lagi loe perjuangkan?"
" Loe masih nungguin dia? kalau di sana dia punya pacar nantinya gimana? sia-sia dong loe nungguin dia."
" Yang penting dia tau, bahwa gue serius sama perasaan gue, gue akan nunggu dia sampai gue yakin untuk melepas dia, di saat sudah ada orang lain yang dia pilih nantinya."
**********
Kalan datang menghampiri Vio yang sedang duduk sendiri melamun di kantin sekolah.
" Hai, Vi. " sapa Kalan dengan senyum manis di wajah tampannya.
" Hai, juga Kalan."
" Anzel mana ya? loe liat gak?" tanya Kalan yang sedari tadi mencari Anzel, karena biasanya mereka akan berkumpul di kantin saat jam istirahat.
" Lagi di perpustakaan, Kal."
" Ooo.. loe kenapa galau amat mukanya. Cerita lah sama gue."
" Salah gak kalau gue perjuangkan cowok yang gue tau hatinya jelas untuk orang lain?"
" Enggak lah, asal loe siap patah hati aja. " jawab Kalan.
" Gue kira loe cuma bercanda aja sama Anzel, cuma sekedar seneng godain dia."
" Kalau gue perjuangkan dia nanti gue di cap pelakor gimana?"
" Ya enggak lah, kan mereka gak ada hubungan apapun, Anzel suka tapi Tiana nya belum tau gimana, Jadi loe gak ngerusak hubungan siapa pun lah. "
" Bukannya Tiana juga sahabat loe? "
" Gue bersahabat tapi untuk masalah hubungan mereka ya itu urusan mereka juga. gue gak mau ikut campur atau memihak salah satunya."
Anzel berjalan menuju ke kantin, tapi langkah nya terhenti saat melihat pemandangan di depannya. Dua orang temannya sedang berbincang, Lagi. seperti sebelumnya mereka terlihat akrab dan nyaman satu sama lain, padahal Kalan bukanlah laki-laki yang mudah dekat dengan perempuan lain.
" Ehem..... " suara deheman Anzel membuat dua orang yang sedang asik berbicara itu langsung menoleh kearahnya.
" Loe ngapain di perpus, Zel." tanya Kalan penasaran.
" Pacaran. " ketus Anzel .
" Sama siapa? " sambung Violetta
" Sama buku." jawab Anzel singkat. Entah kenapa suasana hatinya mendadak sangat buruk. Ia pun tak mengerti mengapa suasana hatinya mendadak berubah setiap melihat Kalan bersama Vio.
" Suasana mulai gak enak, gue balik ke kelas duluan ya Vi." ucap Kalan sambil mengelus rambut panjang gadis itu.
Kalan yang tau Anzel tengah cemburu sengaja ingin menggoda sahabatnya itu agar menyadari perasaan nya yang mulai tumbuh untuk Vio dan perlahan menggeser nama Tiana di hatinya.
Anzel yang melihat itu pun merasa sangat kesal.
" Sejak kapan si Kalan jadi playboy gitu, dia kan suka sama Kya, apa sekarang dia udah lupain Kya dan beralih sama loe?" Ucap Anzel dengan nada kesal.
Vio hanya menaikkan kedua bahunya mendengar pertanyaan Anzel.
" Loe kenapa sih. " ucap Anzel mencekal tangan Vio saat ia akan beranjak dari duduknya.
" Gue mau berhenti?" Kata Vio tanpa tersenyum seperti biasa.
" Berhenti ngapain?"
berhenti mengharapkan hati loe yang udah jelas gak akan pernah jadi milik gue.
...****************...