
Malam tiba.
"Sayang, Tejo ingin menemuiku" pamit Mahendra.
"Apa aku bisa ikut?" tanya Atika.
"Boleh, ayo kita sama-sama bertemu Tejo"
Mereka pun bersiap-siap menemui Tejo.
Setelah menempuh perjalanan yang hanya memakan waktu 30 menit, akhirnya mereka sampai juga di tengah danau.
"Aby, bagus banget suasana di sini ya" ucap Atika ketika memasuki kawasan danau.
"Iya, nanti kapan-kapan kita ajak anak-anak ke sini juga"
Atika pun hanya menganggukkan kepalanya.
Mahendra menggandeng Atika dengan posesifnya.
Atika sangat paham, karena di sekelilingnya banyak anak muda yang lagi nongkrong.
Setelah masuk ke dalam kawasan danau indah, ternyata Tejo sudah menunggu mereka dengan wajah yang sangat murung.
"Assalamu'alaikum" ucap Atika dan Mahendra.
"Waalaikum salam. Eh, Atika ikut juga" tatapan Tejo menjadi sangat lain.
"Iya nih, istriku kebetulan nggak lagi kerja, kamu tak masalah kan"
Tejo hanya mengangguk.
Mahendra memicingkan matanya, sepertinya ada sesuatu yang terjadi dengan Tejo.
"Duduk Atika, Mahendra. Pesan aja yang kalian inginkan" basa-basi Tejo.
"Iya, trima kasih Tejo. Hmm... Ambar gimana kabarnya" ujar Atika.
Tejo hanya terdiam. Dia tak ingin menceritakan masalahnya.
"Ada apa Tejo, kamu kok seperti ada yang di pikirkan?" tanya Mahendra.
"Aku tidak apa-apa" sangkal Tejo.
"Katakan saja, jika kamu ada masalah jangan di pendam sendiri, berbagilah dengan kami. Siapa tau kami bisa membantumu"
Tejo tak menghiraukan, dia malah memanggil Pelayan.
"Mbak, sini!!" teriak Tejo.
Atika dan Mahendra saling tatap, mereka paham apa yang terjadi dengan Tejo.
Tak lama pelayan datang dan menyerahkan daftar menu kepada Atika dan Mahendra.
"Nasi goreng tiga dan Es teh manis tiga, mbak" ucap Mahendra.
Mahendra lebih tertarik ingin bertanya sesuatu kepada Tejo dari pada memilih menu yang pas untuk dia dan Atika.
Atika pun tak merespon, baginya pesanan suaminya itu juga udah cukup.
Setelah pelayan itu pergi, Mahendra segera mendekatkan kursinya dengan Tejo.
"Katakan, apa yang terjadi denganmu, biasanya kamu paling rame bahkan tak pernah sekali pun kamu murung. Ada apa?" cecar Mahendra.
Tiba-tiba air mata Tejo menetes. Dia pun mulai terisak.
"Menangislah jika memang bebanmu sudah sangat berat, aku tau kamu orang yang kuat sahabatku." Mahendra menepuk bahu Tejo, menguatkan sahabatnya.
Entah apa yang terjadi dengan sahabatnya ini, namun Mahendra sudah sangat mengenal sahabatnya dari semenjak mereka SMA.
"Ambar... ambar, Mahen!" ucapTejo di balik isak tangisnya.
"Ada apa dengan ambar, kalian bukankah lagi program kehamilan"
"Katanya dia sudah capek, dia memilih bercerai denganku"
Mahendra terperangah dengan perkataan Tejo, begitu pula dengan Atika.
"Apa kamu mendesaknya untuk segera punya momongan?" tanya Atika.
Tejo menggeleng.
"Aku sudah mengatakan, jika aku menerimanya apa pun kekurangan dan kelebihannya. Namun... " Tejo tak dapat meneruskan kata-katanya.
Air matanya semakin deras.
"Kalian di periksa sangat sehat, hanya Allah masih belum mempercayakan anak untuk kalian, jangan berputus asa"
"Aku juga berkata seperti itu, namun ambar tetap kekeh ingin berpisah denganku"
"Alasannya berpisah apa?" tanya Mahendra.
"Dia ingin aku menikah lagi, namun dia tak ingin di madu untuk itu dia memintaku menceraikannya sedangkan aku tak siap untuk bercerai dengannya"
"Aku sudah mengatakannya, namun kedua orang tuaku tak setuju"
"Jadi intinya kedua orang tuamu ingin kau menikah lagi dan ambar juga, namun ambar tak ingin di madu begitu?"
"Iya Mahen"
"Solusinya kalian program bayi tabung saja, aku rasa akan berhasil. kalian sudah mapan, untuk uang 80 juta sekali bayi tabung pasti tak masalah" ujar Atika.
Tejo pun mengangkat kepalanya, mengapa dia dan ambar tak berfikir seperti itu.
"Kalian minta izin kepada kedua orang tuamu untuk liburan, Aku akan mendampingi kalian" ujar Atika.
"Sayang, apa kamu keberatan aku berangkat bersama sahabatmu?"
"Kalau begitu aku juga ingin ikut, biar Romy saja yang menangani perusahaan, aku tak ingin jauh dari Ummyku sayang"
Atika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Tejo pun tersenyum dengan tingkah sahabatnya.
Sahabatnya itu memang dari dulu mencintai Atika dalam Do'anya.
"Baiklah, tiga hari lagi kita akan berangkat" ujar Tejo.
Tejo yang sudah memiliki pasport dan visa sudah yakin bisa berangkat dengan Ambar,begitu juga dengan Mahendra dan Atika.
"Oke, aku akan menyuruh romy memesan tiket empat orang ke Singapura, sekarang jangan bersedih lagi. Kamu harus yakin dan semangat pasti berhasil"
"Terima kasi Mahen, terima kasih Atika kalian memang sahabatku yang paling baik"
"Sama-sama, kalau ada masalah apa pun, jangan di pendam sendiri, berbagi dengan orang lain, biar nggak stress sendiri" ujar Mahendra mengingatkan
Tejo pun tersenyum, dia ingin mengabarkan kabar baik ini untuk ambar istrinya. Dia tak ingin terpisah dengan ambar. Baginya menikah sekali untuk seumur hidup.
Tejo berharap setelah kembali dari Singapura, dia dan ambar sudah ada kabar baik untuk kedua orang tuanya.
Tak lama pelayan memberikan pesanan mereka. Mereka pun makan dengan lahap, Tejo bersyukur bisa mengenal sosok Mahendra dan Atika.
Walau sudah jaya, namun mereka berdua tidak pernah berubah menjadi sombong.
Setelah selesai menyantap nasi goreng, mereka kembali ke rumah masing-masing.
Tejo sudah tak sabar bertemu dengan Ambar.
Ketika sampai di rumahnya, Tejo melihat ada mobil yang terparkir di depan rumahnya.
'Mobil siapa ini ya' batin Tejo di dalam hati.
Dia pun segera masuk ke dalam rumahnya.
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam," jawab mereka serempak.
Terlihat teman-teman orang tuanya dan anak gadisnya.
Tejo hanya tersenyum dan segera mencari Istrinya.
"Tejo, kamu dari mana, ini ada anak sahabatnya Ayah, kamu kenalan dulu"
"Maaf yah, aku sedang sibuk. aku mencari istriku. Tiga hari lagi aku akan pergi berlibur dengannya"
"Buat apa kamu buang-buang uang sama wanita mandul seperti itu!" teriak Ibunya Tejo.
"Bu!! ambar tidak mandul, aku akan buktikan jika ambar tak mandul" tegas Tejo.
"Sudah bertahun-tahun menikah tapi tak punya anak, mau di sebut apa seperti itu"
"Aku mohon Bu jangan berkata seperti itu, kami sudah tes kesehatan bu. Ibu juga sudah membacanya, hanya saja awal nikah kami sempat menunda kehamilan, untuk itu kami sangat sulit memiliki momongan lagi.Aku mohon Bu, kami tak ingin bercerai, aku juga tak ingin menikah lagi. Ayah dan Ibu temani tamu kalian saja. Aku ingin mencari istriku" ujar Tejo.
Tejo pun meninggalkan kedua orang tuanya dengan perasaan kecewa, bisa-bisanya mereka tak menghargai keberadaan istrinya.
Tejo membuka pintu kamarnya. Di lihatnya Ambar sedang duduk di pinggir tempat tidurnya dengan terisak.
"Sayang, jangan menangis lagi, aku punya kabar baik untukmu"
Ambar langsung melihat Tejo, matanya sudah sangat bengkak. Mungkin selama Tejo di luar, ambar mulai menangis.
"Tiga hari lagi kita akan ke Singapura dengan Mahendra dan Istrinya. Kita akan program bayi tabung. Kita berdo'a saja semua berjalan dengan lancar dan berhasil, hapus air matamu sayang" ujar Tejo sambil menghapus air mata Istrinya.
"Jadi nggak cantik kalau menangis" goda Tejo.
Ambar pun tersenyum dan memeluk suaminya.
"Terima kasih mas"
Tejo pun membalas pelukan Istrinya, dia tak rela berpisah dengan Ambar.
TBC...
Jangan lupa jejak Vote dan komentar ya 🙏