MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 42



Tak terasa Mahendra sudah 3 hari di rumah Kakek Jony. Kesehatannya sudah pulih, dia sering jalan kaki di sekitar rumah, anggap saja Mahendra sedang berolahraga. Itupun di lakukan bersama Kakek Jony. Tak lupa mereka minum air putih 2 liter setiap hari.


Pagi ini Mahendra akan kembali ke rumahnya. Dia tak ingin orang tuanya khawatir padanya. Mahendra bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya.


"Nak Mahendra, ini ada sedikit rezeki. Jangan lupa, sebulan ke depan bawalah orang tuamu ke sini. Kalian akan tinggal di rumah ini"


"Saya akan membicarakan dulu dengan orang tuaku Kek, aku tak ingin mereka akan kaget dengan keputusanku dan bisa-bisa mereka akan menolaknya"


"Baiklah, 3 minggu lagi kamu akan wisuda ya"


"Iya Kek, nanti aku akan kabari. Dan seminggu sekali pasti aku akan ke sini Kek"


"Baiklah Nak, jangan lupa beri kabar terus sama Kakek"


"Itu pasti Kek"


"Bawalah mobil ini, jika kamu ingin kembali"


"Kakek, ini berlebihan. Aku akan kembali dengan motorku Kek. Aku takut orang tuaku berfikir aneh, jika aku sudah membawa mobil"


"Baiklah Nak, simpan saja kuncinya"


"Aku simpan di laci sini saja Kek, setiap seminggu sekali kan aku akan datang memanaskan mesinnya"


"Trima kasih Nak, Kakek akan selalu merindukanmu"


"Sama-sama Kek, Kakek jangan lupa jaga pola makam, minum air harus 2 liter dan usahakan berjalan kaki walau hanya 10 menit saja ya Kek"


"Kamu juga harus begitu Nak, Kakek khawatir jika kamu tidak menjaga kondisimu"


"Kakek jangan khawatir, aku akan selalu menjaga kondisi tubuhku. Baiklah Kek, Mahendra pergi dulu"


"Baiklah Nak, hati-hati membawa motornya. Jangan ngebut-ngebut"


"Siap Kek, Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Mahendra segera menyalakan motornya dan segera melajukan motornya menuju ke rumahnya.


Tampak legang suasana di jalan raya. Mahendra berdo'a semoga orang tuanya tidak bertanya-tanya dengan keadaannya.


****


"Assalamu'alaikum"


" Waalaikum salam"


Bu Nanda membuka pintunya dan terkejut Mahendra yang berdiri di depan pintu. Bu Nanda langsung memeluk anaknya.


"Mahendra, Ibu khawatir padamu Nak"


"Mahendra baik-baik saja Bu"


"Syukur alhamdulillah Nak"


"Mahendra membawa sesuatu buat Ibu"


Mahendra mengeluarkan sebuah amplop coklat yang di beri Kakek Jony.


"Apa ini Nak?" tanya Ibu Nanda.


"Ibu buka saja, itu hasil kerja Mahendra"


"Tapi Nak, uang 10 juta yang ada,masih Ibu simpan untukmu"


"10 juta?" tanya Mahendra balik sambil mengeyitkan alisnya.


"Iya, uang 10 juta yang di titipkan Pak Sapri. Ibu belum menyentuhnya sama sekali, kamu simpan saja"


"Itu uang Ibu, pakailah untuk keperluan kita"


"Saya harus bertanya pada Kakek Jony nih" gumam Mahendra dalam hati, pasalnya dia tak mengetahui sama sekali perihal uang 10 juta.


"Simpanlah untuk modalmu nanti, siapa tau kamu mau bangun klinik sendiri"


"Ibu benar"


"Iya Nak, Raihlah cita-citamu"


"Trima kasih Bu, ini berkat do'a Ibu dan Ayah selama ini"


"Istrahatlah Nak, atau kamu mau makan dulu. Ibu kebetulan masak makanan kesukaanmu"


"Benarkah Bu, baiklah Mahendra bebersih dulu. Setelaj itu Mahendra akan makan masakannya Ibu. Kagen udah seminggu tak makan makanan buatan Ibu"


"Iya Nak, Ibu siapkan dulu"


Mahendra segera melangkah ke dalam kamarnya, sedangkan Ibu Nanda menyiapkan sarapannya Mahendra.


Mahendra sholat dhuha terlebih dahulu, dia bersyukur bisa mendapat rezeki begitu berlimpah. Tiga minggu lagi dia akan di wisuda. artinya gelar dokter akan tersemat di belakang namanya. Tinggal ujian lagi agar mendapat ijazah sertifikasi agar bisa menjadi dokter sepenuhnya.


Terkadang jika ujian datang dengan berbagai cara, dengan kemiskinan contohnya. Hanya makhluk yang pandai bersyukur saja yang bisa melewati semua ujian Allah.


Setelah Mahendra salam, dia melihat Ibunya berdiri di depan pintu kamarnya


"Masuklah Bu"


"Iya Nak, sarapan dulu"


Mahendra segera melipat sejadahnya dan melepaskan sarung yang di pakainya. Setelah itu berjalan mendekati Ibunya.


Ibunya telah sarapan dengan Ayahnya Mahendra. Ibunya hanya menemani anaknya sedang makan di meja makan.


"Kamu tidak mengajukan magang di rumah sakit terdekat Nak?" tanya Ibu Nanda setelah Mahendra selesai makan.


"Alhamdulillah, saya sudah mengajukan 2 minggu yang lalu bu. Tapi sepertinya belum rezekinya Mahendra, sehingga belum dapat panggilan"


"Oh, Ibu kira kamu belum mengajukannya"


"Sudah Bu, ini tinggal menunggu panggilan saja"


Ibu Nanda pun hanya mengangguk.


"Ayah masih kerja juga di pasar Bu" lanjut Mahendra bertanya pada Ibunya.


"Masih Nak, Ayahmu tak mau berhenti bekerja"


"Tapi kasian tenaganya Ayah. Ayah sudah tua Bu, nanti Mahendra yang bicara kepada Ayah"


"Baiklah Nak"


***


dreeettt... dreeettt...


Atika melihat panggilan Mahendra, dia tersenyum riang karena Mahendra menelponnya.


"Assalamu'alaikum" ucap Atika setelah menerima panggilan telepon Mahendra.


"Waalaikum salam, apa kabarnya"


"Baik, kamu bagaimana kabarnya juga"


"Alhamdulillah sehat terus, aku rencananya ingin bertemu denganmu lagi. Apa boleh aku ke rumahmu ini malam?"


"Boleh, siapa yang mau melarangmu datang ke sini"


"Aku takut kamu akan marah, jika aku datang ke sana. Makanya aku pamit dulu, jika tidak di ijinkan, maka aku tak akan datang"


"Aku malah senang kalau kamu datang"


"Baiklah, see you to nigth"


"Mee too"


"Bye, Assalamu'alaikum"


"Bye-bye, waalaikum salam" jawab Atika sambil memutuskan sambungan telponnya.


Mahendra meneguk air minum yang di bawa di kamarnya. Dia begitu senang bisa bertemu lagi dengan Atika.


Mahendra akan sering bertemu dengan Atika, sekarang dia tak ingin melepaskan Atika lagi. Apalagi dia dan Atika sama-sama saling mencintai.


Sebenarnya Mahendra ingin pergi ke pasar membantu Ayahnya, tapi mengingat operasi ginjalnya, dia mengurungkan niatnya untuk membantu Ayahnya.


Jalan satu-satunya untuk membantu Ayahnya, dengan menyuruh Ayahnya berhenti bekerja. Biar uang yang di terima dari Kakek Jony di gunakan untuk sehari-hari. Sambil menunggu panggilan magangnya dari rumah sakit.


Jika seminggu ini dia tak di panggil dari rumah sakit. Terpaksa dia akan ke desa suka maju dulu untuk bekerja sementara, karena dia tau di sana pasti tenaganya di butuhkan nanti.


Walau akan berjauhan dengan orang tuanya, tidak masalah untuk Mahendra. Mahendra mengingat orang tuanya belum ada handpone, untuk di hubungi jika dia ke desa suka maju.


"Astaghfirullah, aku lupa kalau Ibu dan Ayah belum mempunyai handpone, sebaiknya aku membeli handpone Ibu dan Ayah" gumam Mahendra.


Mahendra segera bangkit dari tempat tidurnya. Dan langsung mengambil jaketnya.


"Bu, Mahendra jalan-jalan ke toko y dulu ya bu. kagen anak-anak toko" pamit Mahendra kepada Ibunya.


Sebenarnya itu hanya alasan saja untuk ke mal matahati. Dia ingin memberikan kejutan buat Ayah dan Ibunya.


"Baiklah Nak" ucap Ibu Nanda.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Mahendra salim pada ibunya dan segera melajukan motornya menuju ke mal matahati.


TBC...