MAHENDRA

MAHENDRA
Melewatinya



Sepulang sekolah Mahendra menyusuri jalan raya kembali kerumahnya.


Jalanan siang ini begitu legang.


Mobil Atika pun hanya melewati Mahendra tanpa ada sapaan atau seperti biasa Atika akan membeli sisa roti jualannya Mahendra.


Mahendra pun tak mempermasalahkan karena itu memang kemauannya sendiri karena tidak ingin di ganggu Aditya.


Terbukti hari ini dia sanga senang, tenang berjualan tanpa ada gangguan dari Aditya lagi.


Dan Mahendra berharap ke depannya pun akan selalu seperti itu.


"Mahendra, apa jualamu habis?" Atika bergumam sambil melihat Mahendra pada saat mobil melewatinya.


Tampak raut kesedihan di wajah Atika, tapi mau bagaimana lagi permintaan Mahendra kepadanya dia harus penuhi asal janji Mahendra juga akan di tepati.


"Mahendra, kamu harus menepati janjimu. Aku akan selalu menunggumu." Gumam Atika lagi.


"Non, tidak beli roti lagi ya" tanya Sule, sopirnya Atika.


"Tidak Mang Sule, hari ini saya sudah makan dii kantin jadi tak lapar lagi" boong Atika.


Sang sopir pun hanya mengangguk tanda mengerti


Mang Sule sebenarnya merasa heran hari ini Atika hanya melewati Mahendra tanpa menyapa seperti biasanya.


Tapi Mang Sule membiarkannya karena itu urusan majikannya. Dia tak mau ambil pusing atau mengurusi kehidupan majikannya.


Jika di suru berhenti Mang Sule pun mau berhenti.


Mahendra pun berjalan sampai menuju rumahnya. Sebelum itu Mahendra singgah di warungnya Ibu Romlah untuk menyerahkan hasil jualannya hari Ini sudah habis terjual.


"Assalamu alaikum" salam Mahendra ketika sampai didepan warungnya Ibu Romlah.


"Waalaikum Salam" balas Ibu Romlah sambil membuka pintu warung.


"Eh, Nak Mahendra. Masuk" lnjut Ibu Romlah.


"Alhamdulillah Bu, dagangan saya hari ini terjual semua" ucap Mahendra sambil mengeluarkan uang hasil jualannya hari ini.


"Alhamdulillah," Ucap Syukur Ibu Romlah juga "Ini uang 80rb, Bu, udah saya potong hasil saya" benar setiap habis terjual pasti keuntungan Mahendra 20rb.


Harga roti dari Ibu Romlah 4rb dan Mahendra menjual 5 rb ke siswa - siswa jadi keuntungannya hanya dari satu roti 1000 dan setiap Hari dia membawa 20 bungkus roti.


"Ini ada uang 10 rb" lanjut Ibu Romlah.


Ibu Romlah kasihan dengan kehidupan Mahendra zaman sekarang mana Ada Anak Sekolah mau membantu orang Tua.


"Tidak usah, Bu. Nanti Ibu Romlah tekor loh," tolak Mahendra


"Tidak, nak, ini memang keuntunganmu" jelas Ibu Romlah


"Tapi Ibu sudah sering, memberikan saya kelebihan roti dan sekarang uang lagi" tolak Mahendra lagi.


"Tidak apa - apa, nak. Anggap ini uang sakumu saja," sarkas Ibu Romlah.


"simpan aja di tabungan atau celenganmu, saya tau kamu ingin menjadi Dokter" lanjut Ibu Romlah lagi.


"Baiklah, Bu. Ibu Romlah baik banget sama saya. Kalo begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum" Mahendra pun berdiri sambil salim dengan takjim kepada Ibu Romlah.


"Waalaikum Salam" balas Ibu Romlah.


"Anak yang baik dan berbakti pada kedua orang tua, semoga sukses ya nak Mahendra" do'a Ibu Romlah dalam hati setelah melihat Mahendra berjalan pulang menuju ke rumahnya.


"Assalamu alaikum" ucap Mahendra setelah sampai di rumahnya.


"Waalaikum Salam" balas Ibu Nanda.


"Nak, kok sudah beberapa hari Atika tidak pernah datang kensini. Apa kamu dan Atika lagi bertengkar?" Tanya Ibunya Mahendra.


"Tidak, Bu. Saya sama Atika baik - baik saja. Mungkin persiapan ujian nanti makanya Atika lagi sibuk mempersiapkan Juga," bohong Mahendra sebenarnya dialah yang membuat Atika menjauh dari keluarganya.


"Atau kamu yang nggak mau Atika datang ke sini seperti katanya Atika dulu." Ibu Nanda mencoba mencari tau kebenarannya.


Mahendra hanya bisa menghindar karena tak mau keadaan sebenarnya terungkap, jika mengatakan sejujurnya bisa melukai hati sang Ibu. Karena keadaan miskin harus berpisah antara Atika Dan Mahendra apalagi menyangkut pekerjaan ayahnya dan dia di pasar.


Mahendra belum mengetahui kalo sebenarnya Aditya Sudah Tidak Mempunyai apa - apa di Indonesia. Orang tua Aditya sudah menjual semua aset di sini untuk menutupi kerugian perusahaan di LA.


Keluarga Aditya menyembunyikan semuanya dari keluarga Atika bahkan ke koleganya. mereka mendatangi pembeli secara langsung dan meminta jangan pernah bocorkan kalo yang pegang saham di Indonesia sudah bukan keluarga saputra lagi.


"Mahen, mau tunggu ayah dulu bu untuk makan siang bersama" Mahen masih berusaha menghindar dengan mengubah topik pembicaraan mereka.


"Iya, Nak. Ibu juga mau menunggu bapakmu dulu biar kita sama - sama makan siang bersama.


Tak lama Pak Tohar sampai di depan rumahnya.


"Assalamu alaikum" salam Pak Tohar


" Waalaikum Salam" jawab Mahendra dan Ibunya.


"Kenapa belum makan siang?" tanya pak Tohar.


"Kami menunggu bapak dulu biar sama - sama kita makan bersama" jawab Mahendra.


"Ayo! kita makan bersama, ayah sudah sangat lapar nih bu," ucap Pak Tohar sambil menuju ke meja makan.


Mereka pun makan bersama tanpa ada yang berbicara, memang sudah di tekankan tak boleh makan sambil berbicara itu yang di ajarkan Pak Tohar untuk keluarga.


Mereka menikmati menu sederhana Oseng sayur kangkung dan gorengan tempe walau sederhana tetap akan terasa nikmat jika dinikmati bersama - sama.


Setelah makan siang, suara azan pun terdengar di telinga mereka meski masjid agak jauh dari tempat mereka tapi masih bisa terdengar.


"Kita sholat dzuhur dulu setelah itu kita pergi ke pasar, nak" ujar Pak Tohar.


"Iya Yah." jawab Mahendra.


Mereka pun sholat dzuhur berjamaah dengan khusuk terkecuali sholat ashar karena sholat ashar masih di pasar jadi tak pernah mereka sholat berjamaah.


Setelah selesai sholat, mereka berdo'a mohon kelancaran rezeki untuk hari Ini.


"Ayah dan Mahendra langsung ke pasar, bu. Ibu baik - baik di rumah sendiri," ucap Pak Tohar.


"Jangan khawatir yah, Ibu di rumah baik - baik saja kok, lagian tetangga kan dekat," jelas Ibu Nanda.


"Ayah hanya khawatirkan Ibu, takutnya Ibu kenapa - kenapa," lanjut Pak Tohar lagi.


"Iya, Ayah. Ibu langsung istrahat tidur siang kok" ucap Ibu Tohar.


"Mahen, berangkat dulu ya, Bu." salim Mahendra ke Ibu Nanda ibunya.


"Iya, nak, jangan capek - capek kerjanya kasian kamu belum istrahat tidur siang tapi langsung kerja, nak." ujar Ibu Nanda mengingat anaknya yang tak pernah ada waktu istrahat, hanya saat malam saja.


"Mahen, laki - laki bu. Kerja begini tak capek. Ayah saja yang sebenarnya harus banyak istrahat karena usia bapak tak muda lagi. Masa Mahen kalah sama Ayah yang lebih tua." senyum Mahendra menyakinkan ibunya.


"Iya, nak." jawab Ibu Nanda dengan leganya karena Mahendra tak keberatan dengan aktifitas kerjanya yang di lakukan selama ini.


" Assalamu Alaikum" salam Mahendra dan Pak Tohar


"Waalaikum Salam." jawab Ibu Nanda.


TBC....


***Jangan lupa komentar, kritik, saran, like, vote dan beri hadiah ya para readers buat author 🙏🙏