MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 39



Preman itu berusaha menyakiti Mahendra, tendangan demi tendangan berhasil di tangkis oleh Mahendra.


"Apa hanya segitu kemampuan kalian? Hah?" Mahendra membalas dengan tendangan yang menitik tumpu pada kelemahan lawan.


Ciat...


Ciat...


Salah satu preman tersungkur karena Mahendra menyerang di bagian tulang kakinya.


Bukkk.


Bunyi preman tersungkur cukup nyaring terdengar, masih ada 4 preman yang masih bertahan.


Bukkk... bukkkk.... bukkkk


Tendangan Mahendra yang melingkar menyebabkan semuanya jatuh tertelungkup ke depan.


Salah satu preman berlari ke arah mobil yang di palaknya. Dan menusuk Kakek Joni.


"Akhh.... "


Suara jeritan kesakitan sang Kakek menyebabkan seluruh preman cepat-cepat bangun dari tanah yang mereka jatuhi dan segera berlari ke arah sebrang jalan.


Sang sopir yang terluka akibat di keroyok segera melihat ke belakang kemudinya.


Kakek begitu kesakitan akibat tusukan barang tajam.


"Kakek, bertahanlah kek"


Walau sakit badannya Pak sopir tak memusingkan karena melihat Kakek yang terluka.


Mahendra berlari ke arah mobil dan membiarkan para preman kabur.


"Cepat Pak, kita harus membawanya ke Rumah Sakit"


"Baik, Den"


Sang sopir segera melajukan mobilnya dan membiarkan motor Mahendra terparkir di trotoar jalan raya.


Mahendra menahan beban sang Kakek dan menekan lukanya agar tak mengeluarkan darah makin banyak.


"Bertahanlah Kek"


Sekitar 30 menit berselang sampailah mereka di Rumah Sakit Harapan Bangsa.


Kakek sudah di tangani sang dokter dan perawat.


"Sebaiknya bapak juga di rawat lukanya"


"Saya baik-baik saja Den"


"Sebaiknya kita lapor Polisi saja"


"Tidak Den, kejadian seperti ini sudah sering terjadi. Apalagi kami tak tau siapa yang menyerang kami di jalan raya"


"Kok bisa seperti itu.Perkenalkan saya Mahendra Pak"


"Saya sopirnya Kakek Joni, nama saya Bang Sapri"


"Oh, jadi kakek yang sakit namanya Kakek Joni?"


"Bener, Den Mahen"


"Kasian, kok bisa preman itu mau menyakiti Kakek Joni?, tapi tadi saya mendengar bahwa ini sering terjadi"


"Iya Den, sepertinya hanya saingan bisnis saja. Saingan bisnis yang iri dengan kesuksesan Kakek Joni dan ingin menguasai proyek yang sering Kakek kerjakan"


"Jika begitu mengapa tak melaporkan ke Kantor Polisi saja?!"


"Kakek tak mau berurusan dengan Polisi Den, kalau saya sih mau saja"


"Oh, begitu?, apa Kakek tidak punya sanak saudara yang akan di hubungi biar datang mengurus Kakek?!"


"Tidak ada Den, hanya saya saja yang merawat Kakek di mana pun itu"


"Oh, semoga Kakek baik-baik saja"


Tak lama Dokter keluar dari ruang UGD, dan bertanya keluarga Kakek Joni


"Saya saja sopirnya Dokter, Kakek Joni hanya punya adiknya tapi sudah lama adiknya menghilang"


"Begini, kami sudah menghentikan pendarahannya tapi tusukan pisau itu mengenai ginjalnya. Harus segera di operasi pencangkokan ginjalnya"


"Ambil ginjal saya saja Dokter" ucap Pak Sapri sopir Kakek Joni.


"Baiklah, langsung ke ruangan laboratorium nanti ada suster yang akan mengetes apa ginjalnya cocok atau tidak"


"Baik, Dokter. Trima kasih"


"Sama-sama, Pak"


Setelah Dokter pergi, Pak Sapri menyuruh Mahendra untuk menjaga Kakek Joni.


"Baik Pak"


Pak Sapri segera menuju ke ruang laboratorium untuk menjalankan beberapa tes. Suster pun membantunya dengan sangat baik.


Setelah menunggu sekitar 1 jam hasilnya sudah bisa di ketahui. Suster menyerahkan selembar kertas dan menyuruh Pak Sapri untuk membawanya ke Dokter yang menangani Kakek Joni.


Di depan pintu tertulis Dr. Raditya. Pak Sapri pun mengetuk pintunya


Tok.. tok.. tok


"Masuk" teriak Dr. Raditya dari dalam ruangan.


"Ini Dokter saya mau memberikan hasil tes dari Laboratorium"


"Oh, iya. Mari kita lihat apa hasilnya"


Dokter pun membuka amplop dan mempelajari isinya. Hasilnya cukup membuat Dokter sangat prihatin.


"Maaf, Pak. Ginjal anda tidak bisa untuk mendonor karena sepertinya bapak ada riwayat tekanan darah tinggi"


"Iya benar Dokter" ucap Pak Sapri dengan lesu.


"Kita harus secepatnya memukan pendonornya karena ginjalnya Kakek sudah bocor akibat terkena tusukan pisau"


"Baik Dokter. Saya akan secepatnya mencarikan pendonornya, saya permisi dulu Dokter"


Kakek Joni ternyata sudah sadar tapi belum bisa bergerak banyak.


Mahendra menemani Kakek Joni. Harusnya dalam situasi seperti ini Adiknya Kakek Joni yang harus memberikan ginjalnya. Tapi entah di mana keberadaannya.


Pak Sapri masuk ke dalam ruangan UGD dan mengatakan jika ginjalnya tidak cocok dengan Kakek.


"Saya aja Pak Sapri"


"Kamu golongan darahnya apa"


"Saya golongan darahnya B"


"Sepertinya sesuai dengan Kakek Joni" batin Pak Sapri.


"Jangan Nak, kamu masih muda dan masih panjang perjalananmu" ucap Kakek Joni dengan suara lemahnya.


"Tidak kek, kata dokter harus secepatnya sedangkan jika kita mencari pendonor lain pasti tidak ada waktu lagi"


"Aku akan memberikan semua hartaku jika memang kamu akan melakukannya" Gumam Kakek Joni dalam hati.


"Kakek tunggu di sini dulu dan Pak Sapri jagalah Kakek Joni"


"Baiklah"


Mahendra pun segera ke ruangan Laboratorium. Mahendra mengambil inisiatif sendiri tanpa bertanya kepada kedua orang tuanya. Baginya nyawa Kakek Joni harus segera di selamatkan.


Toh banyak yang masih hidup dengan satu ginjal. Itulah pemikiran Mahendra. Mahendra pun segera menjalani beberapa tes dan sama seperti Pak Sapri butuh satu jam baru hasilnya bisa di ketahui.


Mahendra pun segera ke ruangan Dokter Raditya, dan mendengarkan hasil dari Laboratorium.


"Ginjal kamu cocok untuk mendonorkannya. Jika kamu bersedia kami akan menyiapkan semuanya"


"Baiklah Dokter, lakukan yang terbaik saja"


"Pasti Nak"


Dokter pun menelpon suster dari intelkom dan menyuruh menyiapkan pasien yang menjadi pendonor.


Mahendra melaksanakan apapun yang di perintahkan suster padanya setelah tangannya di infus.


Kakek Joni yang mengetahui jika Mahendra akan mendonorkan segera menyuruh sopirnya untuk memanggil pengacaranya.


"Telpon pengacara ya Sapri, lakukan apa yang aku katakan jangan ada yang terlewatkan"


"Baik, tuan"


Pak Sapri segera menelpon pengacara Kakek Joni agar menyiapkan semua keinginan Kakek Joni untuk bertemu sebelum di lakukan pencangkokan ginjalnya.


Sekitar 30 menit berselang Kakek Joni dan pengacaranya bertemu. Mereka membicarakan keinginan dan kemauan Kakek Joni. Semua Wasiatnya sudah di buatkan dan Kakek Joni berupaya merubah surat wasiatnya.


Di Saksikan oleh sang sopir, Kakek Joni pun segera menyuruh agar sebelum dia di operasi dia akan menandatangani surat wasiatnya. Kakek Joni takut jika oprasinya berjalan tidak baik dan bisa-bisa dia akan kehilangan nyawanya, surat wasiatnya belum di ubah sama sekali.


Pengacaranya pun segera melaksanakan apapun yang di perintahkan Kakek Joni. Dan segera mengeprint surat wasiat yang baru buat Kakek Joni.


Tak lama kertas yang di inginkan Kakek Joni sudah di buat dan segera Kakek Joni menandatangani surat wasiat itu.


Kakek Joni lega sekaligus bersyukur bisa melaksanakan hajatnya tanpa ada kendala apapun.


Satu jam kemudian oprasi pencangkokan ginjalnya pun di lakukan di ruang oprasi.


Pak Sapri menunggu dengan was-was dan berdo'a semuanya akan lancar di lakukan.


TBC....