
Di LA
Sejam kemudian tibalah mereka di rumah besannya, mereka ingin mengajak Sonia pergi bersama.
"Ayah, apa yang harus kita katakan kepada kedua orang tuanya Sonia"
"Ayah juga bingung, tapi sebaiknya kita bicarakan terlebih dahulu dengan Sonia. Biar Sonia yang menjelaskan dan meminta izin kepada kedua orang tuanya"
"Baiklah, Ibu hanya mengikuti kemauan Ayah saja. Semoga tidak ada masalah ke depannya"
Mereka pun bergegas masuk ke rumah Sonia.
Ting tong....
Tak lama Art di rumah itu membukakan pintu.
"Bi Lasmi, apa Bu Sonia ada di rumah"
"Ada Tuan, masuk dulu nyonya dan tuan, biar saya panggilkan dulu. Beliau ada di dalam kamarnya,"
"Oh, iya bi. Kami tunggu di ruang tamu ya"
"Iya Tuan"
Bi Lasmi pun masuk ke dalam rumah, tak lama Sonia datang menghampiri keduanya.
"Ayah, Ibu, kok datang tidak ngabarin dulu," ucap Sonia sambil mencium kedua pipi Ibu Sofia. dan salim sambil mencium punggung tangan pada Pak Saputra.
"Nak, ada masalah penting. Kami harap kamu jangan kaget atau khawatir. Pikirkan anak yang ada di dalam kandunganmu. Semua akan baik-baik saja asal kamu santai menanggapinya" ucap Bu Sofia perlahan-lahan agar Sonia tidak akan kaget jika di beritahukan perihal Aditya.
"Soal apa itu Bu,"
"Asal kamu janji dulu, setelah itu Ayah dan Ibu akan bercerita"
"Baiklah, Bu."
Mereka pun satu-satu menceritakan pada Sonia dan menyatakan rencana mereka. Tak ada yg terlewatkan, Bu Sofia ingin kandungannya Sonia baik-baik saja ketika naik pesawat.
"Bagaimana Nak, apa kamu sanggup untuk naik pesawat nantinya"
"Aku sanggup Bu, demi anak yang ada dalam kandunganku, apapun akan aku lakukan,"
"Baiklah, bawalah bajumu dan persiapkan segalanya. Ayah dan Ibu akan menunggumu, tapi apa yang harus kamu katakan pada kedua orang tuamu soal keberangkatanmu ini"
"Aku akan katakan yang sebenarnya Bu, pasti orang tuaku tidak keberatan, apalagi aku berangkat tidak sendiri pasti akan di ijinkan,"
"Kami minta maaf nak, kamu sudah baik kepada kami tapi malah di balas Aditya dengan kelakuan yang jahat"
"Itu bukan salah Ibu dan Ayah, Sonia tau, Aditya terobsesi kepada Atika selama ini. Dan itu Sonia sudah maklumi"
"Trima kasih Nak, kamu anak yang baik dan kami tidak salah memilihmu menjadi pendamping anak kami"
"Sama-sama bu, Sonia ke dalam dulu mempersiapkan segalanya"
"Baiklah 'Nak, kami tunggu di sini, nanti kita berangkat sama-sama."
Sonia pun masuk ke dalam kamarnya tak lupa dia menelpon kedua orang tuanya dan mengatakan sebenarnya. Sebenarnya orang tuanya tidak mau mengizinkan apalagi mengingat usia kandungan anaknya.
Tapi karena berangkat bersama kedua orang tua Aditya terpaksa mau tak mau mereka harus mengizinkan.
"Trima kasih Bu, sudah mengerti dengan Sonia. Sonia tutup dulu telponnya. Sonia lagi beres-beres sudah mau berangkat"
"Hati-hati Nak, jaga kesehatanmu"
"Iya, bu. Salam sama Ayah"
"Iya nanti ibu sampaikan"
Sedangkan Ibu Sofia dan Pak Saputra menyuruh Asistennya Aditya si Andika mengurus penyewaan pesawat pribadi. Mereka ingin hari ini juga sampai di Indonesia.
"Bagaimana pak, apa Andika bisa di percaya?," ucap Bu Sofia dengan perasaan gundah.
"Sementara di urus Bu, Ibu jangan khawatir"
"Syukurlah"
Tak lama Sonia datang dengan menyeret kopernya yang kecil.
"Mau langsung ke bandara ya, bu?." tanya Sonia.
"Kita tunggu Info dari Andika dulu, soalnya dia yang mengurus segalanya."
"Semoga hari ini kita dapat pesawat pribadinya" gumam Sonia dalam hati
**
Di bandara Aditya sudah naik pesawat menuju ke Indonesia, penerbangan memakan waktu 16 jam sangat menyita waktunya.
Dia ingin cepat sampai tapi apalah daya jaraknya memang begitu adanya.
"Atika, kamu harus jadi milikku saja." batin Aditya dengan seringai senyum menakutkan.
Dia pun mencoba memejamkan matanya terlebih dahulu untuk menikmati perjalanannya.
****
Di Indonesia.
"Ada apa Ayah, sepertinya ada yang membuat Ayah khawatir dan ayah sembunyikan dari Atika,"
"Tidak ada masalah Nak, hanya Ayah tidak tau mengapa hati ayah begitu khawatir"
"Ayah tenang saja, aku akan pergi bersama sahabatku Mahen"
"Hmm.. Ayah tau nih, pengen jalan berdua ya"
"Ih, Ayah. Sebenarnya itu salah satunya Yah" ucap Atika dengan tawa di bibirnya, dan Ayahnya pun tersenyum.
"Baiklah, jika berjalan dengan Mahendra, Ayah tidak akan khawatir"
"Baiklah Ayah, trima kasih" ucap Atika sambil mencium pipi kanan Ayahnya.
Ayahnya Atika hanya tersenyum melihat tingkah anaknya, seorang calon dokter tapi masih manja dengan kedua orang tuanya.
Atika pun menelpon Mahendra, dia ingin Mahendra menemaninya, bahkan dia ingin jalan-jalan bersamanya.
dreeett... drerrtt
Sambungan telponnya berbunyi tak lama ada seseorang yang memberi salam.
"Assalam'ualaikum"
"Waalaikum salam, Mahen, kira-kira kamu besok ada acara nggak"
"Besok?, sepertinya tak ada"
"Syukurlah, Mahen, besok temani aku dong ke butik, aku ke butik untuk mencoba apa sudah pas kebayanya denganku atau belum. Aku sudah di telepon katanya rancangan gaunku sudah selesai,"
"Mmm, Baiklah. Jam berapa aku jemput"
"Tak usah di jemput, aku tunggu di butik aura saja, sekitar jam 10 pagi. bagaimana"
"Baiklah, see you tomorrow"
"see you, bye-bye. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah sambungan teleponnya terputus, Atika pun tersenyum, dia tak sabar menunggu esok hari.
****
"Bagaimana Andika, apa tak bisa hari ini kita berangkat?,"
"Besok, Bu. kebetulan semua pesawat pribadi terpakai dan yang kosong hanya esok hari"
"Baiklah, booking saja. besok kita akan berangkat,"
Ayahnya Aditya memutuskan sambungan telponnya.
"Aduh, kita harus mencegah Aditya di bandara sebelum ke rumahnya Atika, tapi pesawatnya tidak ada"
"Yah, mau bagaimana lagi. Besok pagi saja kita berangkat"
"Ayah sama Ibu tidur saja di rumahku Bu, dekat kok bandara dari sini, biar kita cepat berangkat"
"Baiklah Nak, Ayah dan Ibu akan menginap di rumahmu"
Sonia pun memanggil Bi Lasmi untuk menyiapkan kamar tamu yang nanti akan di tempati kedua mertuanya.
Bi Lasmi pun segera bergegas menuruti perintah majikannya.
Setelah 15 menit, Bi Lasmi datang ke hadapan Sonia.
"Non, kamarnya sudah siap"
"Trima kasih Bi"
"Ayo Ayah, Ibu, Sonia antar di kamar"
"Trima kasih Nak, kamu memang menantu yang baik. Semoga Aditya tidak akan menyia-nyiakanmu"
"Aamiin, kita berdo'a saja bu. Semua Akan baik-baik saja"
"Aamiin"
Mereka bergegas ke dalam rumah Sonia. Kamar yang di tempati Ayah dan Ibu Aditya berada di lantai 2 di samping kamarnya Sonia.
"Ini kamarnya Bu, Ayah. Ayah dan Ibu Istrahat saja, nanti jika sudah makan siang nanti Bi Lasmi akan memanggil Ayah dan Ibu"
"Baiklah Nak, trima kasih"
"Jangan mengucapkan trima kasih Bu, ini sudah kewajibannya Sonia, selaku anak mantu Ayah dan Ibu"
Ibu Sofia pun memeluk Sonia, dia sedih harusnya di saat seperti ini anaknya selalu menemani Sonia, tapi kenyataannya di saat perutnya nampak besar dan sebentar lagi melahirkan malah di tinggalkan putranya.
Sonia pun balas memeluk Ibu Sofia yang sudah di anggap seperti Ibunya sendiri.
Setelah itu Pak Saputra dan Ibu Sofia masuk ke dalam kamar mengistirahatkan badan dan pikirannya sejenak.
TBC...