
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit...
Perlahan-lahan tanda itu mulai muncul.
"Alhamdulillah, garis dua"
Atika mengambil alat tespack itu dan menggenggamnya di dekapkan di dadanya sambil dia menangis haru.
Air matanya tumpah juga, setelah menunggu setahun lebih akhirnya garis dua pun muncul.
Sebulan lebih menjalankan sedekah dan sholat tahajud, ternyata do'anya di ijabah Allah SWT.
Tok tok tok..
"Ummy, bagaimana hasilnya" tanya Mahendra dengan tidak sabarnya.
Mahendra sudah dari tadi mondar mandir di depan pintu kamar mandi, tapi sang istri belum keluar juga hingga dia menanyakan apa sudah selesai.
Kreeekk.
Pintu kamar mandi terbuka, wajah Atika menandakan sesuatu yang membuat Mahendra ragu atas tebakannya
"Maaf Aby,"
"Berarti belum ya Ummy" ucap Mahendra dengan raut kecewa.
"Maaf,"
Mahendra langsung memeluk Atika dan mengusap pucuk kepalanya.
"Sudah tak mengapa, kita akan berusaha lagi"
"Maaf ya, Aby. Kalau sembilan bulan ke depan ummy pasti akan merepotkan Aby"
"Makasudnya Ummy"
"Ya Ummy pasti akan merepotkan Aby, jika ummy akan ngidam, periksa ke dokter, dan nungguin Ummy melahirkan"
"Berarti Ummy Hamil" ucap Mahendra dengan sumringah.
"ho.. oh" ucap Atika dengan menganggukkan kepalanya.
"Yeeyy...akhirnya aku akan menjadi seorang Ayah"
Mahendra tanpa sadar menggendong Atika dan berputar-putar.
"Aby, nnti Ummy jatuhhhhh. Aby turunkan Ummy" teriak Atika.
Kehebohan langsung terjadi di dalam kamar.
Kakek Joni yang tinggal di sebrang kamar Mahendra menjadi penasaran, apa yang terjadi di dalam sana.
Tok tok tok.
"Mahen, Atika"
Mahendra tersentak ketika mendengar pintu kamarnya di ketuk Kakek Joni.
Uppsss.
Mahendra menurunkan Atika dari gendongannya.
"Ummy, pasti kakek mendengar teriakan Aby" ucap Mahendra sambil menyengir.
"Aby, sih"
"Maaf, terbawa perasaan"
"Bukaain ngih, Ummy mau mandi dulu"
"Iya sayang, muaacch"
Kecupan singkat melabuh di bibir sang dokter cantik.
Krekkk..
"Kakek,"
"Ada apa kok heboh banget dari dalam"
"Ada kejutan buat Kakek, aku sama Atika nanti akan pergi sebentar. Setelah pulang baru aku akan memberitahu Kakek"
"Oh, begitu. Atika mana"
"Atika lagi mandi Kek, bilang padanya Kakek juga ingin berbicara"
"Ada apa kek?"
"Pokoknya kejutan juga"
"Ih, Kakek. Kok begitu sama cucu sendiri"
"Surprise saja"
"Oke deh Kek, Mahen bersiap dulu ya"
"Jangan lupa bilang istrimu"
"Iya kek"
Mahendra pun penasaran apa yang akan di bicarakan Kakek.
Kadang pikiran buruk bersarang di pikirannya.
Namun langsung di tepisnya, karena tak mungkin Kakek Joni seperti itu.
Mahendra pun segera menghampir Atika yang berada di walk in closet.
"Ummy sayang, kita ke Rumah Sakitmu dahulu. Sekalian antar surat cuti, untuk 4 bulan ke depan." ucap Mahendra dengan jiwa posesifnya.
"Aby, Ummy ini hamil. bukan punya penyakit yang harus istirahat total. Apalagi Ummy seorang dokter kandungan, pasti Ummy tau cara menjaga janin. Ini kan darah daging Ummy jadi jangan terlalu berlebihan By" jelas Atika.
"Tapi Aby takut sayang, jika terjadi sesuatu kepada ummy" ucap Mahendra sambil memeluknya dari belakamg dengan posisi posesif.
Mahendra meletakkan dagunya di bahu Atika sambil mengelus perut rata Atika yang tertutupi gamis Atika.
"Aby, lupa Ummy Dokter kandungan.Hmm"
"Iya Deh. Tapi ingat jangan abaikan kesehatan jika sedang bekerja"
"Iya Aby sayang, Ummy janji" ucap Atika sambil memegang punggung tangan Mahendra.
"Baiklah, Aby bersiap dahulu"
"Turunlah, sarapan duluan saja. Kasian calon dede bayi belum sarapan"
"Iya sayangku"
Mahendra pun segera bergegas ke kamar mandi untuk mendinginkan pikiran kotor yang tadi sempat terlindas.
Tapi karena dia takut akan terjadi sesuatu dengan calon dede bayinya. terpaksa di urungkannya.
Setelah beberapa menit, Mahendra keluar dari kamar mandi dan melihat bajunya sudah tersedia di atas kasur.
"Alhamdulillah ya Allah, engkau menganugrahkan aku istri seperti Atika"
Mahendra tampak keren dengan jas yang di pilihkan Atika.
"Rapi amat nih, ada acara apa?" tanya ibunya Mahendra.
"Tak ada acara spesial bu"
"Tapi kok rapi sekali"
"Berarti kemarin-kemarin aku tak rapi ya bu"
"Rapi kok, cuman raut wajahnya beda saja"
"Ya begitulah bu, kalau sedang bahagia"
Mahendra menyendokkan makanan di mulutnya agar tak ingin menjawab kata-kata Ibunya.
"Atika sayang, makan yang banyak ya. kamu sepertinya semalam sakit"
"Iya bunda, lagi ngak enak badan semalam"
"Jaga kondisimu Nak,"
"Trima kasih Bu"
"Astagfirullah aku lupa sayang, Kakek tadi memesanku agar kamu menemui Kakek"
"Nanti saja, setelah kalian pulang" ucap Kakek Joni"
"Baiklah Kek"
Atika pun menghabiskan makanannya sebanyak dua piring.
Semua membelalakkan matanya.
Tak menyangka tubuh kecil tapi makannya seperti itu.
"Nak, kamu baik-baik saja" tanya Kakek Rangga kepada Atika.
"Alhamdulillah baik kek, maaf semalam tal spat makan malam. makanya aku lapar sekali"
"Oh, syukurlah"
Setelah selesai sarapan paginya. Mereka pun berpamitan kepada semuanya.
Mahendra dan Atika perlahan-lahan menuju ke Rumah Sakit Ibu dan Anak.
Atika turun di depan loby Rumah Sakit, lalu Mahendra memarkirkan mobolnya.
"Pagi Dokter Atika" sapa Dokter Hendra.
"Pagi Juga Dokter Hendra"
"Bukannya hari ini Dokter Atika Off"
"Iya, kebetulan ingin ketemu Dokter Anita"
"Oh, ayo kita ke dalam sama-sama" ajak Dokter Hendra.
"Trima kasih Dokter, saya lagi tunggu suami saya"
"Itu suami saya lagi parkir mobil"
"Oh, bareng suami"
"Iya Dokter"
"Kalau begitu saya ke dalam duluan ya Dokter"
"Iya Dokter, silahkan"
Dokter Hendra pun berlalu.
"Makin cantik ya Dokter Atika" batin Dokter Hendra.
Mahendra pun datang menghampiri Dokter Atika.
"Ayo sayang"
Mereka pun berjalan ke poli kandungan, dan mereka juga sudah janjian dengan Dokter Anita yang kebetulan pengganti Dokter Atika jika sedang Off.
Suster Ana yang melihat Dokter Atika, langsung mempersilahkan Dokter Atika untuk masuk ke dalam ruangan Dokter ANita.
"Trima kasih Suster"
"Assalamu'alaikum Dokter"
"Waalaikum salam. Kita langsung USG saja ya."
"Baiklah Dokter"
Suster Ana pun mengoleskan gel ke atas perut bawah Dokter Atika.
Dokter Anita menempelkan probe. Terlihat jelas kantong kehamilan Dokter Atika.
"Masya Allah, ini beneran Dokter"
"Iya deh, tuh 3 kantong terlihat, tapi sepertinya satunya agak mengecil"
"Aby, kembar 3"
Bibir Atika bergetar menahan tangis bahagia.
"Alhamdulillah Ummy, kita di titipkan 3 malaikat kecil sekaligus"
Cup.
Mahendra mencium dahi istrinya yang terbaring di ranjang pasien.
Dokter Anita tersenyum melihat pasangan suami istri yang tampak romantis di depannya.
"Ehem"
Mahendra tersenyum kecut karena dia lupa masih ada orang lain bersama mereka.
"Dokter Atika, Dokter pasti tau gimana caranya untuk menjaga janin agar tetap sehat dan punya asupan yang cukup."
"Jadi tetap saya beri resep walaupun sebenarnya Dokter bisa membuatnya" ucap Dokter Anita tersenyum.
"Trima kasih Dokter"
Suster pun mengelap perut Atika dengan tisu. Setelah itu mereka menunggu resep dari Dokter Anita.
"Ini foto USGnya"
Mahendra pun mengambilnya dan memperhatikan calon buah hatinya.
Setelah resep di berikan, mereka pun pamit kepada Dokter Anita dan Suster Ana.
Dan mengantri untuk mengambil obat.
Mereka pun pulang dengan sangat bahagia.
"Ya Allah, trima kasih"
TBC...