MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 94



Atika masih menangis di dalam pelukannya Mahendra. Dia tak menyangka ayahnya bisa jatuh dari kamar mandi.


Ketika pesawat mendarat sempurna, akhirnya mereka bergegas ke rumah sakit.


Ketika sampai di Rumah Sakit, ternyata Anak dan Kedua Orang Tua Mahendra sudah berada di sana.


Akhirnya Dokter mengatakan jika Ayahnya Atika mengalami pecah pembuluh darah di otaknya, yang membuatnya mengalami koma.


Mereka pun menunggu hasil dengan perasaan takut, cemas.


Mahendra menyuruh Aarash membeli makanan untuk mereka semua, ternyata Arsyla juga ingin ikut.


Setelah beberapa jam, akhirnya kami semua di izinkan untuk ke dalam ruangan Ayahnya Atika yang terbaring lemah.


Nafasnya tersengal-sengal.


Kami pun membacakan surat Yasin dan Atika menuntun Ayahnya untuk mengucapkan LAA ILLAHA ILLAH, Hingga Ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Papah,.... hiks"


Atika tak dapat membendung tangisnya.


Mahendra segera mengurus kepulangan jenazah Ayahnya.


Mahendra menguatkan istrinya agar sabar dan mengiklaskan kepergian Ayahnya.


Banyak yang menghadiri pemakaman ayahnya, mulai dari kerabat jauh bahkan Aditya turut hadir.


Penampilan Aditya berubah drastis.


Ingin rasanya Mahendra menanyakan pekerjaan atau seputar kehidupan Aditya, namun di urungkan.


Mahendra cukup terhenyak ketika Aditya datang dengan membawa sepeda motor yang tak layak di pakai.


Mahendra seperti melihat kehidupan yang dulu sebelum mengenal kakek Joni dan Kakek Angga di sosok Aditya.


Untuk itu, dia tak berani bertanya bahkan mengobrol lebih jauh lagi.


Setelah jenazah Pak Tri di mandikan, kafani dan di solatkan. Akhirnya jenazah di bawa di tempat pemakaman kamboja.


Betapa berat rasanya Atika melepaskan Ayahnya, namun apa daya memang sudah beginilah takdir yang harus di jalankannya.


Atika di beri kekuatan oleh Anaknya.


Apalagi anak yang pertama Atika, Aarash siap menggantikan posisi Ayahnya nanti.


Saat ini Atika dan Mahendra sementara tinggal di rumah Atika, sedangkan anak-anaknya tinggal di rumah Mahendra bersama kedua Orang Tua Mahendra, karena jarak antar sekolah dan rumahnya Atika sangat jauh, mau tak mau Atika menyuruh anaknya untuk tinggal di rumah mereka saja, biar Atika dan Mahendra saja yang menemani Ibu Tantri ibunya Atika.


Setiap malam juga di adakan pengajian untuk arwah Ayahnya Atika.


"Sayang, bagaimana kalau kita tinggal di sini saja" ungkap Atika ketika pengajian telah selesai.


"Bukannya Aby tak setuju, kasian anak-anak kita. Mmmm, bagaimana kita tinggal di sini seminggu, tinggal di rumah Kit seminggu, untuk anak-anak terserah mereka mau tinggal di mana" usul Mahendra.


"Baiklah By, aku setuju dengan usulmu" imbuh Atika.


"Anak-anak sudah istirahat" tanya Mahendra.


"Sudah, mereka tidur di lantai atas" jawab Atika.


"Ya udah, kita istirahat juga ya. Ummy pasti kecapean dari Bali belum istrahat sama sekali." ajak Mahendra sambil menggandeng Istrinya di sampingnya.


Akhirnya Atika dan Mahendra masuk ke dalam kamar mereka dan tak lama tertidur lelap.


*****


Hari ini anak-anaknya Atika ingin bertafakur alam sehingga mau tak mau Atika dan Mahendra menginap di rumah mereka.


"Mamah, Atika pergi ke rumah dulu ya, ibu jangan banyak pikiran" pamit Atika.


"Iya nak, mamah di sini baik-baik saja, urus dulu anak-anakmu kasian jika mereka akan terlantar jika kalian tidak mengurusnya"


"Sebenarnya tidak akan terlantar mah, lagian kan ada oma dan opanya juga"


"Oh, iya mamah sampai lupa"


Atika tersenyum dan meraih tangan ibunya dan menyalim dengan ta'jim.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Akhirnya mereka ke rumahnya lagi untuk membantu mempersiapkan anaknya ke acara sekolah.


"Ummy, nanti Aby singgah lagi ya, kita akan bermalam di rumahmu. kasian mamah hanya sendirian." ucap Mahendra sambil berdiri di dekat mobilnya.


"Aby tidak singgah dulu" tanya Atika.


"Aby udah telat my, nanti pulang saya jemput, aby akan ke sini lagi"


"Oke baiklah, by. Hati-hati"


"Iya Sayang"


Mahendra pun masuk ke dalam mobilnya dan langsung menuju kantornya.


Hari ini jadwal Mahendra cukup padat. Dia akan bertemu klien yang ingin bekerja sama dengannya lagi.


Setelah menempuh jarak 3 kilometer akhirnya dia sampai di perusahaan CV JAMCourporation.


Mereka berdua pun masuk ke dalam perusahaan.


"Berkasnya sudah siap"


"Sudah, Bos"


"Bagus, jam berapa kita janjian Bertemu"


"Jam 10 nanti Bos"


"Oke baiklah"


Setelah Mahendra ke ruangannya dia pun menduduk bokongnya ke kursi kebanggaannya. Lalu dia mengambil Handphone dan menelpon istrinya.


Sambungannya pun terhubung.


"Assalamu'alaikum sayang"


"Waalaikum salam Ummy, Aku baru saja sampai kantor, bagaimana anak-anak sudah berangkat" tanya Mahendra.


"Hanya tinggal Aariz" jawab Atika dari seberang.


"Emang sekolahnya Aariz tidak ada tafakur alam" tanya lagi Mahendra.


"Sepertinya tidak ada," ujar Talita sambil mengaduk-ngaduk sayur untuk di makan bersama keluarga Mahendra.


"Ummy sedang apa"


"Biasa mas, aku masak sendiri" ucap Atika bangga.


"Baiklah, jangan lupa untukku juga"


"Iya sayang"


"Baiklah My, Aby tutup teleponnya dulu, mas mau siap-siap bertemu klien.


"Baiklah mas, assalamualaikum"


"Waalailum salam"


Mahendra pun mengakhiri obrolannya. Tak lama Romy masuk ke dalam ruangannya Mahendra.


"Tuan ini berkas yang akan kita presentasikan"


"Oke! baiklah"


Mahendra mengambil berkas yang di sodorkan Romy, lalu dia membacanya dengan teliti sambil mengafalkannya.


Ketika jam sembilan pagi akhirnya mereka ke tempat yang sudah di janjikan.


Ketika sampai di tujuan, Mahendra mengedarkan pandangannya agar tak terlihat tegang.


Akhirnya mereka menemukan orang yang ingin bekerja sama di perusahaan Mahendra.


"Senang bisa bertemu langsung dengan Pak Mahendra"


"Sama-sama, dengan... "


"Perkenalkan nama saya Ibu Mutia, dari PT. Hadikarya Pratama" ucapnya lirih sambil memberikan tangan kanannya. Mahendra pun membalas menyalim tangan Ibu Mutia.


Mata Ibu Mutia menatap intens wajah tampan Mahendra, walau sudah usia hampir kepala 5 namun Mahendra masih terlihat gagah dan tampan.


Ibu Mutia tersenyum menggoda.


"Apa boleh saya lepas tangannya"


Refleks Ibu Mutia melepas saliman mereka.


"Oh, maaf Pak Mahendra, aku terpana dengan ketampanan Pak Mahendra"


"Trima kasih atas pujian anda, saya seperti ini tak lepas dari peran istri saya yang selalu merawat saya dengan baik. Jadi kangen istriku itu."


'


Mahendra tersenyum membayangkan wajah cantik Atika.


"Wow.. pasti istri anda sangat cantik"


"Tentu saja, walau ada yang lebih cantik, bagi saya istri saya yang paling cantik"


Mutia tersenyum kecut.


"Baiklah Pak, kita mulai saja pembahasan proyek kita, karena kemarin anda tak sempat hadir"


"Benar sekali bu, ayo kita lanjutkan dan maaf kemarin saya tak sempat hadir karena memang saya lagi honey moon bersama istriku dan di saat yang sama istriku kehilangan sosok ayahnya. jadi saya mohon Pengertiannya.


"It's okey, tidak masalah" ucap Ibu Mutia dengan perasaan sakit hati.


"Baiklah kita mulai saja Sekarang" ucap Mahendra.


"Oke Fine" ucap wanita itu dengan tersenyum.


TBC...


Mohon sedekah Vote dan jangan lupa tinggalkan jejak komentar agar saya UP tambah semangat.