MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 93



Hari ini Atika dan Mahendra berencana pergi ke daerah Tanah Lot.


Di Tanah Lot Wisata Pura banyak di kunjungi orang-orang Indonesia bahkan turis asing.


Atika berencana mengunjungi Pura Ular Suci, Pura Air suci dan berfoto ria di samping pantai yang letaknya berdekatan dengan Pura Suci.


Mahendra pun demi kebahagiaan istrinya selalu mendampinginya dimanapun dia berada.


"Sayang, itu travelnya udah datang" teriak Mahendra.


"Iya, Aby, sebentar nih"


"Ngak usah cantik-cantik ah"


"Iya, ini hanya menyiapka. segala sesuatu di sana nanti"


Akhirnya mereka sampai di Tanah lot sekitar satu setengah jam. Mereka sengaja singgah dahulu di pasar kerobokan bali.


Akhirnya mereka sampai di Wisata pantai Tanah Lot.


Mulai dari awal masuk, tak hentinya Mahendra memotret Atika bahkan mereka berfoto ria bersama.


Hari ini mereka akan menghabiskan waktu di wisata pantai tanah lot seperti kemarin, kemarin di pantai Kuta.


Moment saat ini mereka gunakan sebaik-baiknya.


Mahendra memeluk Atika dari belakang, mereka berselfi ria.


Setelah puas, mereka menuju ke gua ular suci, di sana mereka memberikan hadiah kepada penjaganya dan mengabadikannya dengan berfoto, namun Atika dan Mahendra takut menyentuh ular suci itu.


Setelah itu mereka pergi ke gua air suci, di sana mereka melihat banyak orang-orang sedang berendam.


Atika hanya membasuh wajahnya, konon katanya jika membasuh wajahnya maka wajahnya akan tampak awet muda.


Setelah itu mereka mencari tempat yang cocok untuk mereka menunggu sunset datang lagi seperti berada di Pantai Kuta.


"Sayang, apa kamu bahagia?"


"Aby, Aku sangat bahagia, pilihanku yang dari dulu sampai sekarang. Aku tau kau adalah imamku yang aku impikan, aku bawa dalam do'a hingga kita dipertemukan kembali di waktu KKN, Trima kasih By, aku sangat mencintaimu"


Sunset pun terlihat sempurna, mereka larut dalam suasana romantis berdua.


Mahendra mencium dahi Atika dan Atika mencium tangan Mahendra.


Perlahan-lahan Mahendra mengesap bibir Atika, ketika sunset akan terbenam.


Mereka seolah larut dalam suasana, tak ada seorang pun yang dapat menahan gejolak pasangan romantis itu.


Atika yang terbuai dengan perlakuan Mahendra,mencengkaram kuat kemeja Mahendra.


Darah yang berdesir, ingin rasanya meluapkan kejolak yang anda.


Udara menjadi dingin, seolah membuat mereka hampir kehilangan nafas.


Hhhh..


"Maafkan aku sayang, aku terbawa suasana sampai aku tak melihat di sekelilingmu"


"Ayo, kita ke hotel terdekat di sini saja,"


"Baiklah, Aby"


Setelah sampai di hotel yang mereka cari, akhirnya tanpa menunggu lama Mahendra menuntaskan apa yang tadi di tahannya.


Di keccupnya bibir manis Atika, mereka saling bertukar saliva, hingga Mahendra mengessap rasa maniss yang tak terhingga.


Mereka tak sadar, tak ada satu benangpun menempel di badan mereka.


Mahendra segera meredakan rasa hauusnya dengan menyessapp habiss dua buahh gunung yang sudah lama tak menghasilkan asi itu.


"Ahhhh"


Tanpa sadar Atika mengggelinjang nikkmat hingga bunga yang semula kering kini menjadi bassah, gejolakk rasa terus mengobrak ngabrik rasa yang mereka rasakan, berkedut hingga titik-titik kenikkmatan bisa Atika capai.


Perlahan-lahan tombak yang semula lurus meminta di hhujamkan di tempat yang seharusnya. Anak panah yang kini membidik bunga yang mekar, kini tlah siap di arahkan.


Namun satu tangan menangkal dan mengambil alih panah yang harusnya sudah siap di lepaskan.


Semakin lama, tangan nakal semakin mempermainkan panah-panah hingga panah itu tak bisa menahan ssemburan lava yang semula di tahan Mahendra.


"Ahh.... semakin cepat yang"


Mahendra tak sadar mengatakan apa yang di inginkan. Atika semakin aggresif memainkan perangnya. Bibir yang mengu*lumn anak panah semakin cepat di naik turunkan hingga area anak panah menjadi danau liur.


Mahendra yang tak tinggal diam berusaha meraih lembah yang basah hingga menghirup udara di lembah nikkmat Atika.


"Ahhhh... "


nggelayar rasa aneh di rasakan Atika ketika sesuatu di bawah sana.


"byy.. aku ingin keluaarrr"


"Keluarkan saja sayang, aku akan membuatmu seperti dulu lagi"


Semakin cepat semakin tak bisa di tahannya.


Oghhuuh..


Akhirnya Atika mengambil perannya, paku di arahkan ke tempat lembah yang basah dan dingin.


Semakin cepat semakin rasa gejolak mereka tumpahkan hingga pelluh membanjiri dahi mereka.


Sudah sejam, namun Mahendra belum mengijinkan Atika menyudahinya.


Hingga.


Auhhhgggghhhh


lenggguhan panjang terdengar diantar keduanya. Paku yang senancap dalam tertanam di antara gesekan lembah.


Mereka pun segera membersihkan diri, tak lupa mengerjakan perintah Allah.


Setelah itu mereka istrahat sambil memeluk satu sama lain.


****


"Sayang, bangun dulu. Kamu belum makan malam nih"


Mahendra membangunkan Atika, setelah pertarungan panjang.


"Malas, by. Aku belum lapar"


"Kalau begitu aku makan kamu lagi nih"


"Abyy,,apa masih kurang ya tadiiiii, Ummy mau tidur sajaaa" rengeknya.


"Jangan sayang, tak baik tidur dalam keadaan laper. Abyy suapin yaa, mau?"


Mahendra mengambil makanan khas Bali yang penuh rempah-rempah.


Ruangan yang semula beraroma pandan sekarang telah terganti dengan aroma masakan khas Bali.


"Ya udah, suapin ya"


"Iya sayang"


Akhirnya mereka makan satu piring berdua. Walau mereka sudah berusia lanjut, bukan berarti keharmonisan rumah tangga akan berkurang.


Malah jika kita sudah berumur lebih baik mengintensitaskan rasa sayang dan harmonis kepada pasangan.


Banyak yang di luar sana, malah seiring berjalannya waktu dan umur udah tua, malah semakin tabu menunjukkan keharmonisannya.


Lain dengan Mahendra dan Atika, mereka ingin menghindarkan rasa bosan terhadap pasangan bahkan rasa sayangnya mereka semakin di pupuk hingga tak ada celah untuk orang ke tiga atau pun orang yang merusak rumah tangga mereka.


Setelah makan malam, mereka melaksanakan kewajiban mereka lagi, berdo'a kepada sang khalik, agar rumah tangga mereka akan sampai maut memisahkan seperti rumah tangga kedua orang tuanya.


Drrreett...


"Ummy, sepertinya handphonemu berdering"


"Aku angkat dulu ya By"


Mahendra hanya mengangguk.


"Assalamu'alaikum"


Atika mengaktifkan loudspekernya agar Mahendra bisa mendengarnya juga.


"Waalaikum salam nak,"


"Mamah, sepertinya suara mama sedikit serah, ada apa?" tanya Atika penasaran.


"Papahmu Nak, papahmu"


"Ada apa dengan Papah ma"


"Papahmu jatuh di kamar mandi, sekarang lagi ada di ruangan ICU, mamah bingung nak"


"Astagfirullah, mamah, mamah yang tenang ya, Atika akan segera ke sana, saat ini Atika ada di Bali, namun akan segera ke sana"


"Iya nak, maaf jika mamah menggangu bulan madumu" ucap Ibu Tantri yang tak enak hati kepada anaknya.


"Mamah jangan berkata seperti itu" hiba Atika.


"Mah, nanti Mahen akan menelpon Ibu, agar menemani mamah di sana" ujar Mahendra dari samping Atika.


"Trima kasih nak, nanti mamah tunggu di Rumah Sakit Harapan Bangsa"


"Iya Mah, mamah yang sabar dan tenang ya, Atika dan Mahen akan kesana secepatnya"


"Iya Nak, Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Setelah sambungan teleponnya terputus, Mahendra segera menelpon kedua orang tuanya agar menemani ibu mertuanya


Setelah itu mencari tiket pesawat yang saat ini bisa terbang ke Jakarta.


Atika yang terisak, di peluk Mahendra.


"Jangan menangis sayang, do'akan semoga Papah baik-baik saja"


Atika hanya mengangguk namun air matanya terus menetes.


TBC...