
Hari ini hari paling bahagia bagi Atika dan Mahendra.
"Bu, aku gugup, takutnya salah ngucapin akad"
ucap manja Mahendra.
"Anak Ibu, sudah besar dan sudah mau nikah malah manja" ucap Ibu Nanda sambil tersenyum.
"Ucapkan basmalah dan tarik nafas dalam-dalam dan lepaskan perlahan-lahan seperti biasanya, kalau kamu lagi mendapat pasien yang gawat darurat"
"Bener bu, aku terus ingat nasehatnya ibu"
"Ayo nak, semuanya sudah menunggu di ruangan depan"
"Apa Atika sudah ada di kamar tamu?"
"Sudah nak, pak Ustad juga sudah ada di ruang depan dan yang dari KUA sudah datang juga"
"Baiklah bu, ayo kita ke depan"
Semua orang telah berkumpul di depan ruang tamu di mansion Kakek Joni.
Mahendra tampak gugup tapi dia berusaha menghilangkan rasa gugupnya dengan mengucapkan do'a dan ayat-ayat pendek agar di berikan ketenangan.
Dia pun duduk di bangku yang telah di sediakan.
Tak lama Atika calon pengantinnya pun di giring duduk bersama-sama di sebelah tempat duduk Mahendra.
Mahendra begitu kagum dengan kecantikan Atika yang lain dari biasanya.
Setelah Atika duduk, Mahendra pun berbisik.
"Cantik sekali calon istriku ini"
Atika tak membalasnya, dia hanya tersipu malu bahkan pipinya langsung tambah merah merona.
Sebelum diadakan proses akad nikah terlebih dahulu, ayahny Atika menyerahkan kepada pak Ustad agar memberi akad kepada anaknya.
"Saya Pak Tri Hasanah memberi hak saya, kepada Pak Ustad agar memberi hak saya untuk menikahkan putri saya"
"Saya selaku pak ustad, menerima hak itu sebaik-baiknya untuk menikahkan putri anda yang bernama Atika Binti Tri Hasanah."
Pak Ustad pun membaca doa sebelum akad nikah, dilanjutkan pembacaan surat Al'imran dan tibalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh semuanya.
Pak Ustad memegang tangan Mahendra seperti orang yang sedang berjabat tangan.
Mahendra menarik nafasnya dengan perlahan-lahan.
"Saudara Mahendra, aku nikahkan dan aku kawinkan saudara, dengan anakda Atika binti Tri Hasanah dengan mas kawin seperangkat alat solat dengan emas 100 gram dan uang tunai 3 milliar di bayar tunai"
"Saya terima nikah dan kawinnya Atika binti Tri Hasanah dengan mas kawin tersebut di bayar tunai"
"Bagaimana para saksi?"
"Sah"
Alhamdulillah
Ucapan itu menggema di ruangan, semua begitu hidmat mengikuti setiap prosesi ijab kabul.
Setelah selesai mengucap ijab kabul, Mahendra memegang ubun-ubun Atika sambil membaca doa setelah akad "Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih". Artinya: " ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya".
Setelah itu Mahendra dan Atika menandatangani kelengkapan surat nikah, setelah itu Mahendra membaca sighat Ta'lik untuk suami.
Mahendra mulai membacanya.
BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM
WA AUFUU BIL ‘AHDI INNAL ‘AHDA KAANA MAS’UULAA
وَأَوْفُواْ بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْؤُولاً
“ Tepatilah janjimu, sesungguhnya janji itu kelak akan dituntut.”
Sesudah akad nikah, saya : Mahendra bin Tohar berjanji dengan sesungguh hati bahwa saya akan mempergauli istri saya yang bernama Atika binti Tri Hasanah dengan baik (mu’asyarah bil ma’ruf) menurut ajaran Islam.
Kepada istri saya tersebut saya menyatakan sighat ta’lik sebagai berikut :
Apabila saya :
Meninggalkan istri saya selama 2 (dua) tahun berturut-turut;
Tidak memberi nafkah wajib kepadanya 3 (tiga) bulan lamanya;
Menyakiti badan atau jasmani istri saya;
Membiarkan (tidak memperdulikan) istri saya selama 6 (enam) bulan atau lebih,
Dan karena perbuatan saya tersebut, istri saya tidak ridho dan mengajukan gugatan kepada Pengadilan Agama, maka apabila gugatannya diterima oleh Pengadilan tersebut kemudian istri sayamembayar uang sebesar Rp. 10,000,- (sepuluh ribu rupiah) sebagai ‘iwadl (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya.
Kepada Pengadilan Agama saya memberikan kuasa untuk menerima uang ‘iwadl (pengganti) tersebut dan menyerahkannya kepada Badan Amil Zakat Nasional setempat untuk keperluan ibadah sosial.
Jakarta, 24 Febriari 2022
Suami, Mahendra.
Setelah selesai membacanya kemudian Mahendra dan Atika melakukan foto dengan memegang buku nikah.
Setelah itu mereka mendengarkan wejangan dari Pak Ustad Maulana setelah nikah.
Assalaamu’alaykum wr.wb.
Alhamdulillahirabbil alamin. Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan karunia dan rahmatNya kita dapat berada di sini dalam rangka memberikan do’a restu dan menghadiri undangan pernikahan Ananda Mahendra dan Ananda Atika. Tak lupa sholawat serta salam kita haturkan untuk Rasulullah Muhammad SAW yang dengan segala pengorbanannya sehingga saat ini kita dapat merasakan nikmat iman dan Islam dalam keadaan tenang dan damai.
Hadirin yang saya hormati, terkhusus untuk kedua mempelai yang berbahagia. Disini saya akan sedikit menyampaikan beberapa nasehat pernikahan yang semoga bermanfaat untuk kedua mempelai berbahagia dalam menjalani pernikahannya nanti.
Yang pertama adalah karena nikah adalah sunnah Rasulullah SAW maka bagi siapapun yang masih bujang dan telah mampu menikah, menikahlah! Sebab mereka yang tak menjalankan sunnaH Rasul berarti bukan ummat beliau.
Seperti sabda Rasulullah, “Menikah adalah sunnahku, barangsiapa yang tak mengamalkan sunnahku maka dia bukanlah ummatku. Menikahlah karena aku sangat bangga dengan banyaknya jumlah kalian.” (HR Ibnu Majah).
Yang kedua, Allah menolong hamba-hambaNya yang menikah dengan kehormatannya. Seperti sabda Rasulullah SAW tentang tiga golongan orang yang ditolong oleh Allah, mereka adalah orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin menebus dirinya untuk merdeka, dan orang yang menikah karena menjaga kehormatannya. Hadis ini diriwayatkan oleh An-Nasai.
Yang ketiga, bahwa dengan menikah dan membentuk keluarga maka akan terbentuk masyarakat yang baik, tentunya dari segi nasab juga jelas dan bisa di pertanggung jawabkan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam QS Ali Imran 110, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruh dan mencegah kepada yang munkar serta beriman kepada Allah.”.
Semua mendengarkan dengan hikmat,di tengah ceramah ustad, Kakek Joni pamit pada semua orang karena dia tak kuat duduk terlalu lama.
Kakek Rangga membawa kursi roda kakek joni ke kamarnya. Semua acara berjalan dengan lancar tanpa hambatan.
Tinggal malam ini persiapan resepsi nanti, karena resepsi di adakan di halaman belakang mansion.
Pak Ustad Maulana melanjutkan ceramah yang di bawakannya dengan hikmat.
Atika dan Mahendra mendengarkan sambil sesekali mereka berpengangan tangan.
Ini awal mula mereka saling bersentuhan sudab dalam keadaan halal, memang sangat menyenangkan tanpa takut akan dosa dan khilaf.
TBC...