MAHENDRA

MAHENDRA
Perpisahan



POV Mahendra


Sejak kejadian itu aku tak pernah mendengar berita atau pun bertemu Atika, bagiku biarlah kalau memang jodoh pasti Allah akan pertemukan.


Aku membawa nama Atika dalam do'a bahkan dalam hatiku tak ada nama siapa-siapa selain nama Atika.


Aku memang manusia tak sempurna bahkan banyak kekurangan jika di bandingkan Atika dan Aditya.


Walau hati ini sangat sedih tapi mau gimana lagi, ini sudah jalanNya. Allah yang mempertemukan dan Allah juga yang bisa memisahkan asal percaya takdir semua bakal indah pada waktunya.


Dalam perjalanan menuju tempat kerja, aku hanya bisa merenungi kehidupanku. Aku bagaikan punguk unta merindukan bulan. Atika orang kaya dan terpandang, sedangkan aku hanya anak seorang buruh bahkan tak ada apa-apanya di bandingkan Aditya.


Tak terasa aku sudah sampai di tempat kerjaku.Teman-temanku pun menyapaku dan aku pun bebalik menyapa mereka.


Untung saja mereka ramah kepadaku, tidak pernah membedakan antara aku yang miskin dan mereka orang yang punya. Walau tak sekaya Atika Atau Aditya.


Aku melangkah masuk ke dalam toko y untuk berganti pakaian kerja. Aku pun berpapasan dengan Steve.


"Bro, gimna tadi lancar mendaftar Di UI?" tanya Steve.


"Syukurlah lancar" jawabku.


"Kamu mengambil jurusan kedokteran ya?"


"Iya benar, cita-cita gue sedari dulu menjadi dokter"


"Oh, gitu. Semoga cita-citamu tercapai"


"Aamiin, trima kasih ya"


"Sama-sama"


Setelah aku berganti baju, kami melangkah ke depan untuk bekerja kembali.


***


POV Atika


Hari Itu setelah pulang dari kampus UI aku pun langsung pulang ke rumah karena malas berdebat atau bahkan untuk pergi jalan-jalan dengan Aditya, aku sudah tak berminat.


Aditya seperti anak kecil, selalu mencari gara-gara kepada Mahendra. Entah ada dendam apa sampai mereka tak pernah akur bahkan berteman saja. Selalu ada saja yang dia buat jika bertemu Mahendra.


Keputusan aku untuk kuliah di FMI terpaksa harus di setujui walau berpisah dengan Mahendra tak masalah, asal aku bisa tenang belajar dan tanpa memikirkan menikah atau yang lainnya.


Besok perpisahan sekolahan itu artinya tinggal besok saja aku bisa melihat Mahendra. Cukup berat tapi mau baagaimana lagi, ini Permintaan Mahendra dan aku pun menyetujuinya.


Aku percaya janji Mahendra untuk meminangku setelah dia sukses itu nakal di sanggupi dan akan di lakukan. Kata hatiku tak akan salah.


Aku berpikir besok perpisahan aku ingin bertemu walau hanya 5 menit tak masalah. Aku hjanya ingin salam perpisahan saja tak lebih.


Aku berdo'a semoga Allah mengabulkan permohonanku.


Di tengah kegalauanku aku hanya mengingat moment-moment indah pada saat bertamu di rumah Mahendra. Aku ingin itu terjadi lagi walau hanya satu kali saja.


Aku berpikir bagaimana caranya aku bisa bertemu dengan Mahendra. Tapi semakin di pikirkan hanya semakin rumit.


Apalagi besok ada keluarga besarku dan ada Aditya tak mungkin aku bisa berbicara dengan Mahendra. Aku pun hanya menghela nafasku dengan kasar karena pemikiran buntuku untuk bertemu dengan Mahendra.


****


POV Author...


Setelah seharian Mahendra bekerja. Seperti biasa Mahendra akan pulang bareng Steve.


Sesampai di rumah Mahendra langsung memberi salam dan di jawab oleh Ayah dan Ibunya.


"Istrahatlah Nak, besok kamu harus ikut perpisahaan di sekolah kan?" ucap Ibu Nanda


"Iya Bu. Ayah dan Ibu akan ikut hadir kan?" tanya Mahendra.


"Pasti Nak, walau hanya Ibu yang datang tak masalah kan? Ayah harus kerja, sudah di pesan Juragan Yamin" ucap Pak Tohar.


"Tidak masalah Yah, Mahendra sudah senang walau hanya Ibu yang datang" ucap Mahendra tersenyum pada Ayah dan Ibunya.


"Syukurlah"


"Mahendra ke dalam kamar dulu Bu" jawab Mahendra.


Mahendra pun segera masuk ke dalam kamar untuk mengistrahatkan badannya. Tak lama dia mendengkur sempurna.


****


Terlihat semua panitia sudah bersiap-siap mendekor bahkan ada siswa-siswa yang akan menampilkan bakat-bakat anak kelas 10 dan kelas 11 untuk mengisi perpisahan kelas 12 kali Ini.


Mahendra dan Tejo pun tampak bercengkrama bersama kedua orang tua mereka. Terlihat Atika baru saja masuk ke dalam aula.


Atika pun tersenyum kepada Mahendra dan dia berpamitan kepada kedua orang tuanya untuk menyapa teman-temannya.


"Mah, Atika ke sana dulu ya?" pamit Atika.


Kedua orang tuanya pun hanya mengaggukkan kepala.


"Tante" sapa Atika kepada Ibu Nanda.


"Eh, Nak Atika lama tak pernah bertemu dengan Tante"


Atika hanya melirik Mahendra meminta untuk membantunya menjawab pertanyaan Ibunya Mahedra.


"Atika sibuk mempersiapkan ujiannya Bu" ucap Mahendra menimpali.


"Iya Tante, maaf. Tika belum sempat belajar memasak bersama Tante" ujar Atika memasang wajah cemberut.


"nggak apa-apa Nak, bisa lain kali saja jika kamu tak sibuk"


Tak lama Aditya memasuki Aula,dia terlihat kesal karena melihat Atika bercengkrama dengan keluarga Mahendra.


"Atika aku mau bicara" panggil Aditya menghampiri Atika.


"Aku lagi bicara dengan Ibunya Mahendra" jawab Atika.


"Pergilah Atika" ujar Mahendra menimpali.


"Baiklah" Atika memasang wajah sedih tapi jika Mahendra sudah menyuruhnya terpaksa dia harus mendengarkannya.


Mereka berdua menjauhi kerumunan. Ketika sampai di depan aula Aditya langsung memarahi Atika.


"Atika, aku tak suka kalau kamu dekat dengan mereka"


"Emang ada masalah apa, aku hanya menyapa mereka" jawab Atika.


"Pokoknya aku tak mau kamu dekat-dekat dengan mereka"


Karena terlalu kesal akhirnya Atika juga sudah tak tahan dengan kelakuan Aditya.


"Aditya, kamu hanya tunanganku bukan suamiku. Jika sifatmu seperti ini melarangku untuk bergaul dengan teman-temanku mending aku minta kita akhiri saja pertunangan kita" ucap Atika dengan tegas.


"Kamu tidak boleh seperti ini Atika, kamu sudah berjanji kepada kedua orang tuaku, hanya gara-gara aku melarang kamu bergaul dengan keluarga Mahendra, kamu sudah minta kita tak berhubungan? Apa sih kelebihan orang miskin seperi mereka" bentak Aditya.


"Pokoknya aku tak suka"


"Atika tunggu, Atika... Atika"


Atika tetap Blberlalu di hadapan Aditya tanpa menghiraukan panggilan Aditya. Dia tetap melangkah masuk ke dalam aula dan menemui kedua orang tuanya.


Aditya terlihat kesal dengan tingkah Atika, dia berjanji tidak akan pernah melepaskan Atika.


Acara demi acara sudah di tampilkan di acara perpisahan. Semua menikmati acaranya hanya Mahendra, Atika dan Aditya yang tampak murung.


Disisi lain Mahendra bersyukur bisa lulus, disisi lain perpisahaan ini membuat mereka terpisah,entah kapan bisa bertemu lagi.


Tak terasa acara sudah berakhir dan mereka semua berlalu kembali ke rumah masing-masing.


Aditya Dan Atika kembali bersama karena ajakan kedua orang tua Atika akhirnya mereka bisa berjalan bersama.


Mahendra dan Ibunya hanya berjalan kaki kembali ke rumahnya. Sedangkan Tejo pun kembali ke rumahnya juga bersama kedua orang tuanya.


Perpisahan kali ini tanpa sepatah kata antara Atika dan Mahendra, padahal kenyataannya Atika ingin sekali berbicara berdua saja dengan Mahendra tapi karena di awasi Aditya terpaksa Atika menahan diri.


Atika berencana akan datang ke rumahnya Mahendra, walau tanpa sepengetahuan Aditya nanti.


****Jangan lupa komentar, kritik, saran, like, vote, dan beri hadiah untuk author recehan ini ya... ****