MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 49



Sebelum keluar dari rumah, Aditya menyuruh anak buahnya membawa seseorang yang telah di tutup wajahnya. Aditya pun membawa seseorang yang di tutup wajahnya dan memakai baju yang sama. mereka memasuki mobil yang berbeda.


"Mahen, kira-kira yang mana Atika?," tanya Tejo.


"Kamu ikuti yang bersama Aditya, sepertinya itu bukan Atika. Aku akan mengikuti yang bersama anak buahnya"


"Kok, kamu yakin yang itu Atika sedangkan mereka menggunakan baju yang sama dan penutup wajah yang sama"


"Aku sangat yakin, yang itu Atika. Kata hatiku pasti tidak bakalan salah"


"Oke, ayo kita pergi. jangan sampai malah kita akan ketinggalan dengan mereka." ajak Tejo.


Mereka pun mengikuti mobil yang berisi 2 sandra. Tejo mengikuti mobil yang di tumpangi Aditya dan Mahendra mengikuti mobil yang di bawa Fredi.


Mereka pun menyalip mobil satu persatu dengan kecepatan tinggi agar mobil yang di tumpangi Fredi dan Aditya tidak tertingal.


"Bos, sepertinya Mahendra mengikuti kami"


"Usahakan kamu bisa mengelabui penjual roti itu dan cepatlah menghindar,"


"Baiklah Bos"


"Mahendra, insting kamu memang sangat luar biasa, tapi kelicikanku tak akan sebanding dengan instingmu. ha... ha..ha... ha.. ha," tawa Aditya menggelegar.


Tejo pun mengikuti Aditya dari belakang.


"Bung, beri kecepatan maksimal!" ujar Aditya pada sopirnya.


Sopirnya pun mengikuti arahannya Aditya, di tengah perjalanan mobil yang di tumpangi Aditya berhenti Mendadak dan mengakibatkan Tejo tak bisa menyeimbangkan motor yang di bawanya sehingga menabrak bagian belakang mobil Aditya.


Tejo pun terjatuh, beruntung tak ada yang lecet dengannya, hanya ban motornya agak peot karena menabrak bagian belakang mobil yang di tumpangi Aditya.


"Haha.. haha. haha, mam*pus kau Tejo. Jalankan lagi mobil, antar ke dekat danau, kami akan bertemu di sana nanti"


Fely pun membuka penutup wajahnya.


"Gerah banget bos, kok lama sekali menangani cecunguk satu itu bos"


"Diam!! kamu saja di suruh mengurus Mahendra waktu di desa saja tak becus"


Fely pun menelan ludahnya perlahan-lahan karena dia mengira tak akan di marah bosnya.


"Sory bos, waktu di desa ada tanteku dan kakek Rangga pengacaunya. Tapi sekarang aku janji akan menyelesaikan perintah bos tanpa ada celah dan kesalahan sedikit pun"


"Yakin?,"


"Yakin bos, tenang saja"


Mereka pun berjalan kembali ke rumah dekat danau yang sudah di rencanakan pernikahan Atika dan Aditya. Setelah sampai di rumah dekat danau, mereka menunggu kedatangan Atika dan Fredi.


30 menit berselang, mobil yang di tumpangi Fredy datang dan membawa Atika ke dalam rumah.


"Aku kira kalian tak akan berhasil datang"


"Jangan sepelekan sopir saya bos, dia sudah ahlinya dalam mengelabui seseorang."


"Kita bawa ke villa di tengah danau. Hari sudah sore. Cepat bawakan penghulu, sekarang juga!,"


"Brengsek kamu Aditya!! Aku tak sudi menikah denganmu!!." Teriak Atika.


"Perse*tan dengan keinginanmu, persiapkan dirimu sekarang"


"Sampai mati pun aku tak ingin menikah denganmu!!" Teriak Atika sambil meronta.


"Fredi Jangan lupa yang aku pesan, suruh anak buahmu membawa Atika di villa di tengah danau sekarang"


Fredy pun menyuruh anak buahnya di villa tengah danau, di ikuti Aditya dan Fely di belakangnya. Sedangkan Fredi di tinggalkan di rumah dekat danau, agar bisa membawa penghulu ke hadapan Aditya dan Atika.


15 menit kemudian Fely, Aditya dan Atika sampai di villa di tengah danau.


"Fely, siapkan Atika dengan pakaian pengantinnya"


"Aku sudah bilang, Aku tak sudi menikah denganmu!," Teriak Atika lagi, tampaknya dia putus asa.


"Tuhan, tolonglah hambamu ini tak ingin jadi orang ketiga" Batin Atika di dalam hati sambil menangis.


"Baiklah bos"


Sedangkan Mahendra motornya terperosok ke selokan karena mobil yang di tumpangi Atika menyenggolnya hingga masuk ke dalam Selokan.


"Tejo, aku posisinya di jalan dekat Jalan Sudirman."


"Aku kehilangan jejaknya Aditya juga, motorku rusak. Kamu juga kehilangan jejak mereka ya?" tanya Tejo.


"Syukurlah, baiklah aku tunggu"


Mahendra pun menelpon Kakek Joni, 1 jam kemudian datanglah Para Polisi, Tejo, Kakek Joni dan kedua orang tuanya Atika.


"Bagaimana Mahendra?," Tanya Kakek Joni dan Kedua Orang Tuanya Atika bersamaan.


"Syukurlah, Berjalan sesuai keinginan kita, saya sudah memasang alat pelacak di mobil yang di tumpangi Atika. Silahkan Pak. Mohon untuk segera di lacak"


"Atika... Atika.. hiks... Semoga Atika baik-baik saja Pak," ucap Ibu Tantri dengan lesu dan menangis tersedu-sedu.


"Kita hanya bisa berdo'a bu, semoga anak kita baik-baik saja"


Polisi pun segera melacak keberadaannya Atika dengan Alat pelacak pasangannya. Sekitar 1 jam baru bisa terlacak keberadaannya.


"Alhamdulillah, ternyata mobil mereka hanya di villa yang ada di dekat danau"


Mereka semua pun segera menuju ke lokasi.


Sementara Sonia dan kedua orang tuanya Aditya sedang menuju ke rumahnya Atika.


Tapi ternyata Orang tuanya Atika sedang bersama polisi, Mahendra, Tejo, dan Kakek Joni.


Pak Saputra pun menghubungi Pak Tri.


"Assalamu alaikum"


"Waalaikum salam pak Sapurta, apa kalian sudah sampai di Indonesia?"


"Sudah, kami sekarang ada di rumahmu"


"Kamu sekarang ke lokasi yang saya akan sharelock, datanglah secepatnya"


"Baiklah"


"Aw... "


Tiba-tiba perutnya Sonia sakit. Dia merintih kesakitan.


"Ada apa nak, apa kamu baik-baik saja?,"


"Iya Bu, aku baik-baik saja"


"Ayo kita ke rumah sakit saja"


"Tak perlu Bu, aku beneran baik-baik saja"


"Tapi Nak, ini perjalanan jauh"


"Tidak masalah bu, percayalah... Aku baik-baik saja"


"Baiklah, Ayo kita ke lokasi yang sudah di tunjukkan Pak Tri. Rumah kita yang ada di dekat danau. Sepertinya Atika ada di villa di tengah danau" ucap Pak Saputra mengingat rumah yang dulu mereka beli.


"Oh, iya Ayah. Ibu ingat kita belum menjual rumah itu"


"Ayo nak, kita akan lewat tol saja. jika kita lewat jalan pintas, jalanannya sedikit berbatu-batu dan itu akan berbahaya dengan kandunganmu"


"Tapi Ayah, jika kita ikut jalan tol maka kita akan nyampe lebih lama"


"Tapi Nak.... Ibu khawatir dengan,"


"Percayalah bu..., kandunganku baik-baik saja"


"Kalau itu memang kemauanmu maka Ayah dan ibu tidak bisa membantahnya. ayo kita segera pergi"


Mereka pun segera menuju ke rumah di villa di tengah danau. mereka melewati jalan pintas seperti yang di lalui Mahendra.


***


"Aku sudah bilang, aku tak ingin menikah dengan si breng*sek Aditya!!, Pokoknya aku tak mau mengganti bajuku"


"Kamu memang wanita keras kepala, kamu itu akan bahagia jika menikah dengan bos kami" ucap Fely.


"Aku tak sudi, dan aku tak ingin menjadi istri kedua Aditya!!." Terika Atika lagi.


"Sttt.. berisik"


Tiba-tiba Fely menempelkan sapu tangan di hidung Atika, seketika Atika pingsan tak berdaya.


Setelah Atika pingsan, Fely segera mengganti bajunya dengan pakaian pengantin walau susah payah tapi tetap dia lakukan agar semua rencananya berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan. Senyum mereka di bibir Fely, sebentar lagi dia akan kaya raya.


TBC...