
Setelah menempuh perjalanan selama 15 menit, sampailah mereka di sebuah danau yang indah. Rembulan tampak bersinar terang menambah kesyahduan perjalanan Mahendra dan Atika.
"Hati-hati, perhatikan langkahmu. Ayo! kita duduk di bangku itu" ajak Mahendra pada Atika.
"Masya Allah, pemandangannya bagus banget. Kok kamu tau tempat ini?" Tanya Atika sambil menatap kagum pantulan rembulan di atas air seolah-olah bulan berada di langit dan bumi.
"Tau dong, Mahendra gitu loh" jawab Mahendra dengan membusungkan dadanya sehingga membuat Atika tertawa.
"ih, pede amat sih" jawab Atika sambil menepuk lengan Mahendra.
"iya dong, harus pede kalo bawa orang cantik"
Atika tersipu malu, langkahnya ke bangku di pinggiran danau menjadi salah dan menyebabkan dia hampir terjatuh.
Beruntung Mahendra dengan Sigap meraih pinggang Atika dan sekejap mereka saling pandang.
Deru nafas dan debaran jantung mereka berdua menari-nari dan meronta membuat sedetik saja seakan dunia berhenti.
Tak lama Mahendra dan Atika tersadar dengan suara kodok berbunyi.
"Maaf" ucap Mahendra dan segera membantu Atika berdiri dengan baik.
"Tak perlu ada yang di maafkan, aku yang salah tak berjalan dengan baik"
"Untung jatuhnya ke aku, kalo jatuhnya ke danau gimana?"
"Kan ada kamu yang nolong aku" ucap Atika sambil menduduki bangku yang berada di sekitar danau.
"iya, pasti aku menolongmu. asal jangan kamu jatuh di pelukan laki-laki lain, jika itu terjadi aku tak bisa berbuat apa-apa"
"Ya, tidaklah. Mahen, dari dulu kamu tau isi hatiku seperti apa. Asal ada kamu di sisiku, aku pasti merasa aman" jawab Atika lembut.
"Iya aku tau, aku saja yang pengecut tidak mau memperjuangkanmu. Kamu tau sendiri aku orang tak punya, percuma mau berusaha bagaimanapun aku bakal kalah sama Aditya. Kecuali aku sudah sukses, itu lain ceritanya"
"Aku hanya ingin kau memperjuangkan aku, kamu mau sukses atau tidak itu tidak masalah buatku Mahen"
Mahendra menatap Atika dengan penuh cinta, andai dia punya segalanya pasti Mahendra akan membuat Atika orang yang paling bahagia di dunia ini.
"Maaf, aku hanya bisa mengajak kamu di tempat seperti ini"
"ini tempat paling romantis dan indah yang pernah aku datangi selama ini. Tak perlu mewah jika ingin membahagiakanku, asal dengan kamu, aku cukup bahagia"
"Aku sangat bahagia mendengarnya" ucap Mahendra sambil memegang tangan Atika.
Tiba-tiba saja bintang jatuh tepat dihadapan mereka.
"Ada bintang jatuh, ayo! kita buat permohonan bersama-sama"
Atika dan Mahendra menutup matanya sambil tangannya mereka berdua saling menggenggam.
"Ya Allah, semoga Aku dan Mahendra bisa berjodoh, Aamiin" batin Atika dalam hati
"Ya Allah persatukan kami dalam ikatan suci di pernikahan nanti, Aamiin" Gumam Mahendra dalam hati juga.
Atika dan Mahendra saling mencurahkan isi hati mereka. Saling Bercanda dan tertawa bersama.
Dalam hati Mahendra, Mahendra harus berusaha bagaimana pun caranya harus memperjuangkan Atika. Dia harus sukses. Tekadnya semakin besar setelah mendengar Atika sangat mencintai Mahendra, begitu juga dengan Mahendra.
****
Sementara di tempat lain, fely sedang kesal. Bagaimana kakaknya menelponnya dan berkata jika rencananya gagal.
"Menghalangi satu orang saja tak bisa,dasar kakak sepupu tak becus. Aku harus segera melaksanakan niatku" Gumam Feli tapi masih terdengar olehnya.
Bi Asih yang melihat Fely sedang kesal menatapnya heran. Apa yang terjadi sampai Fely begitu marah dan kesal. Bi Asih pun mendekati Fely.
"Ada Apa nduk?" tanya Bi Asih.
Fely yang di tanya malah terkejut, tak menyangka Bi Asih memperhatikannya.
"Tidak ada apa-apa bi, Fely masuk ke kamar dulu"
"Malam-malam kok kesal sama orang" batin Bi Asih pada Fely.
*****
Setelah mencurahkan isi hati masing-masing mereka beranjak pulang. Tak baik dua insan berduaan ntar yang ketiganya setan lagi😃.
"Ayo, kita pulang" ajak Atika karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.
"Iya bener.ini sudah terlalu malam. Tak enak sama pak RT, anak gadis pulang terlalu larut malam juga"
Mahendra pun segera menyalakan motornya. Mereka berboncengan seperti biasa dalam perjalanan mereka menikmati kebersamaan malam ini.
Malam begitu Indah tanpa ada gangguan dari siapapun. Bagi Atika ini malam yang berkesan, mungkin tidak akan terulang lagi.
Karena setelah ini mereka akan sibuk dengan kegiatan mereka di Puskesmas. Sebulan lagi KKN mereka akan selesai.
Tak lama motor mereka telah sampai di rumah Pak RT. Mahendra menghentikan motornya dan Atika turun dari motor Mahendra.
"Besok jangan lupa ya, acara di aula puskes" ucap Mahendra mengingatkan.
"Iya, jangan lupa menjemputku nanti"
"Assyiaap Boss" ucap Mahendra sambil memberi hormat layaknya seorang polisi pada atasan.
Atika yang melihatnya pun tersenyum dan melambaikan tangan sebagai salam perpisahaan.
Mahendra pun membalas lambaian tangan Atika lalu menyalakan motornya dan segera menuju ke rumah Kakek Rangga.
Setelah sampai di rumahnya Kakek Rangga Mahendra segera membunyikan bel. Tak lama Bi Asih membukakan pintu dan Mahendra menyalim Bi Asih dengan takjim seperti yang selalu di lakukannya.
Sebelum tidur tak lupa Mahendra datang ke kamar Kakek Rangga untuk memeriksa keadaannya. Ternyata Kakek Rangga belum tidur juga.
"Kakek, kok belum tidur?" tanya Mahendra.
"Kakek baru saja bangun tidur nak, karena sudah tak ngantuk lagi makanya kakek membaca buku ini saja" ucap kakek sambil menunjukkan buku yang di pegangnya kepada Mahendra.
"Kakek, jangan tidur terlalu larut. Tak baik untuk kesehatan kakek sendiri" ucap Mahendra dengan lembut pada Kakek Rangga.
"Nggak papa, nak. Bagaimana kencanmu hari ini?" ucap Kakek Rangga dengan senyum di wajahnya.
"Alhamdulillah lancar Kek, hanya pada saat pergi. Mahendra sempat ada insiden yang nggak enak banget"
"Insiden?, Insiden apa nak?" tanya Kakek Rangga.
"Ada beberapa orang yang menghadang Mahen Kek, tapi Kakek tenang saja semua Mahen libas tanpa ampun sampai kalah telak"
"Itu baru cucu Kakek, tapi kok bisa ada preman di kampung kita ini. seumur-umur tak pernah ada insiden seperti ini loh nak"
"Itu Kek, orang itu tak suka saya jalan sama Atika"
"Oh, jadi pujaan hatinya namanya Atika ya. cantik namanya"
"Bukan hanya cantik namanya kek, orangnya dan kepribadiannya juga cantik" jawab Mahendra sambil membayangkan sosok Atika.
"hmm.. orang lagi jatuh cinta begini deh, iya deh Kakek percaya"
Mahendra pun tersenyum malu pada Kakek Rangga.
"Kakek sekarang istirahat ya, jangan terlalu larut tidurnya" ujar Mahendra untuk menghindari ledekan Kakek Rangga pada Mahendra.
"Baiklah nak"
Kakek pun menutup buku yang di bacanya dan meletakkannya di atas nakas. Setelah itu Mahendra menyelimuti Kakek Rangga dan mematikan lampu dan menggantinya dengan lampu tidur.
Setelah Itu Mahendra segera melangkahkan kakinya ke kamar tidurnya. Mahendra membersihkan dirinya terlebih dahulu. Setelah itu, dia membaringkan tubuhnya di atas kasur dan Mahendra membayangkan kejadian di danau tadi bersama Atika.
Ternyata Atika pun sedang melakukan hal yang sama sambil senyum-senyum sendiri. Akhirnya mereka tertidur dengan hati yang bahagia.
TBC...