MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 34



Malam itu Mahendra bermimpi indah, mimpinya seperti kenyataan.


"mmmuach" Mahendra mulai mencium dan me*nyesap bibir Atika.


Tapi kok semakin lama seperti bibir yang menempel begitu nyata. Mahendra tersadar dari tidurnya.


Perlahan-lahan Mahendra membuka matanya, begitu kagetnya Mahendra ketika di buka matanya ternyata Felylah yang berada di bawahnya.


"Fely, apa yang kamu lakukan di kamarku?!!" Teriak Mahendra. Dan segera bangun tapi Fely menahannya.


Mahendra tetap bersikukuh untuk lepas dari cengkaraman Fely.


"Fely, Hentikan, Lepaskan!!"


Mahendra melepaskan diri dengan menarik badannya dengan sekuat tenaga.


"Mahendra, aku mohon teruskan"


"Kamu tidak wa*ras!! keluar !!"


"Mahen_ dra"


"Keluar!! aku bilang keluar!!"


"Tolooooonggg!!!" tiba-tiba saja Fely berteriak.


"Toloooonggg!!!"


Mahendra mau keluar dari kamarnya tapi Fely menahannya dan Mahendra terus menghindar.


Mahendra mendorong Fely dengan keras dan Fely tersungkur di kasur.


Mahendra mencoba berlari dan tiba-tiba saja Fely menarik kaos Mahendra sehingga kaosnya sobek begitu besar.


Fely dan Mahendra kaget, tapi Mahendra berusaha melepaskan diri.


"Toolooonnnggg!!!" Fely berteriak dengan keras dan berusaha menyobek baju yang di kenakannya.


"Tooolllooongg" Teriak Fely sambil mengacak-ngacak rambutnya.


Mahendra tetap berusaha membuka pintu kamarnya yang ternyata sudah di kunci Fely setelah dia masuk ke kamar Mahendra.


Bi Asih yang mendengar orang minta tolong segera menuju kearah suara yang minta tolong. Dan ternyata Kakek Rangga juga terbangun dari tidurnya.


Ceklek...


Mahendra membuka pintu, betapa kagetnya Mahendra ternyata sudah ada Bi Asih dan Kakek Rangga di depan pintunya.


"Kakek, Bi Asih, ini tak seperti yang kalian pikirkan" Mahendra tertunduk malu.


"Bude, Tooolloongg Fely. Mahendra... Mahendra... berusaha_ hiks" ucap Fely sambil terisak.


"Mahendra mohon, Bi Asih dan Kakek percaya kepada saya" Mahendra memohon sambil berlutut pada Bi Asih, karena Mahendra tau jika Bi Asih adalah tantenya Fely.


Bi Asih tak memperdulikan Mahendra, dia segera masuk ke dalam kamar Mahendra untuk melihat kondisi Fely.


Bi Asih segera menutupi tubuh Fely dengan sarungnya yang ada di tangannya.


"Kakek..., percaya pada Mahendra. Mahendra tak akan berani melakukan perbuatan keji seperti itu" ucap Mahendra sambil memegang tangan Kakek Rangga.


Kakek Rangga yang melihat baju Mahendra sobek, dia pun langsung berfikir.


"Bi, ajak Fely ke ruang depan" ucap Kakek Rangga meminta Fely dan Bi Asih ke ruang tengah, ruangan yang biasa untuk menonton TV.


"Hiks...hiks...hiks" isak Fely sambil berjalan.


Bi Asih melihat Mahendra dengan tatapan tajam dan ingin marah pada mahendra.


"Kamu harus bertanggung jawab,Mahendra!!" Tegas Bi Asih yang marah melihat kondisi keponakannya yang tampak amburadul. Bibirnya Fely bengkak dan berdarah.


"Bibi... Mahendra mohon. Dengarkan dulu penjelasan saya, Bi" ucap Mahendra dengan lesu. Dia begitu menyesal mengapa juga bisa bermimpi yang tidak-tidak.


"Bi, harus tenang. Kita harus mendengarkan mereka berdua, menjelaskan bagaimana sampai terjadi hal seperti ini" ucap Kakek Rangga.


"Tapi..."


"Saya tak ingin kita salah ambil keputusan, Bi" ucap Kakek Rangga memotong kata-kata Bi Asih.


"Baiklah, Tuan" ucap Bi Asih dengan pasrah


Sedangkan Fely dari tadi masih terisak bahkan air matanya deras mengalir di pipinya.


Mahendra yang mendengar ucapan Kakek Rangga merasa bersyukur. Setidaknya dia bisa menjelaskan secara detail apa yang terjadi sebenarnya, sedangkan Fely yang mendegar ucapannya Kakek Rangga makin terisak, bukan karena sedih tapi menjurus ke perasaan takut jika semua terbongkar.


"Hiks... Begini kek, barusan Mahendra meminta saya membuat teh katanya di suruh antar ke kamar. begitu di kamar, hiks... hu-hu-hu seperti yang kakek lihat keadaan saya" jelas Fely dengan isakan tangisnya.


Sengaja Mahendra tidak memotong pembicaraan Fely, dia tak ingin Fely akan berkata yang tidak-tidak lagi. Mahendra ingin mendengar apa yang Fely akan jelaskan.


Setelah mendengar penjelasan Fely, Bi Asih malah langsung mengerutkan dahinya, pasalnya dia tak melihat Mahendra keluar atau mendengar Mahendra minta di buatkan teh. Padahal sejak tadi Bi Asih belum tidur karena habis melaksanakan sholat tahajud.


"Sekarang Kakek mau dengar penjelasan kamu nak Mahendra"


"Bismillahirrahmanirrohiim, jauhkan hamba dari fitnah keji" batin Mahendra sebelum memulai berbicara.


"Begini kek. Saya sebenarnya malu mau menceritakan, tapi karena ini demi kebenaran saya akan menceritakan lebih detail. Barusan saya bermimpi sedang berciuman dengan Atika, makin lama kok semakin nyata saya rasakan. Karena saya tersadar saya membuka mata, ternyata sudah ada Fely di kamar saya. Saya berusaha menghindar tapi Fely memaksa saya dan inilah hasilnya_ baju saya robek dan dia mengacak-ngacak sendiri"


"Bohong!!Mahendra berusaha memperkosaku kek" potong Fely.


"Fely, biarkan Mahendra menjelaskan dulu semuanya. baru kamu mau mengelak atau membela diri boleh-boleh saja" ucap Kakek marah karena Fely memotong pembicaraan Mahendra.


"Ayo! jelaskan nak" ucap Bi Asih.


"Bude, bude tidak percaya sama Fely ya, hu... hu..hu.. " tangis pura-pura Fely.


"Baiklah, Bi... Kek. Saya lanjutkan lagi,setelah Fely mengacak-ngacak badan dan rambutnya. Fely berteriak minta tolong seolah-olah saya mau memperkosanya. Tapi demi Allah Kek, Bi. Mahendra tak akan setega bahkan berbuat nista seperti itu.Iya benar saya menciumnya tapi itu dalam mimpi saya sedang bersama kekasih saya bukan pada Fely".


"Kamu bohong, Mahen. Kamu tega banget sudah hampir membuat aku tidak punya harga diri sekarang kamu bilang kalau aku yang berusaha merayumu. KEJAM" teriak Fely ke Mahendra.


"Stop!!, Fely kamu jangan bohong. Bude tak melihat Mahendra keluar dari kamar dan memintamu di buatkan teh" tegas Bi Asih marah, karena dia sudah terprovokasi dengan keadaan Fely dan dia sempat meragukan Mahendra. Tapi ternyata penjelasan Mahendra sangat masuk akal.


"Bude, Fely tidak bohong"


"Baiklah Fely, kalau kamu tidak mau mengaku juga sekarang saya tanya. Mengapa kalau Mahendra yang memaksamu pasti yang robek baju Mahendra yang depan bukan yang bagian belakang?. Dan jika Mahendra yang memaksamu pasti yang robek bukan bajumu yang bagian depan tapi yang bagian belakang? sekarang jelaskan mengapa baju Mahendra yang bagian belakang bisa robek!!!!" bentak Kakek Rangga marah karena Fely berusaha memfitnah Mahendra.


Fely terdiam dan mencari jawaban apa yang pas untuk pertanyaan Kakek Rangga.


"Baiklah, jika kamu tidak mau mengaku juga!! saya akan mengeluarkan kamu dari sini dan saya tak akan menerimamu bekerja lagi"


"hu-hu-hu-hu" Fely hanya menangis saja karena dia bingung mau menjawab apa dan Fely tak ingin semuanya terbongkar secepat ini.


"AYO FELY KATAKAN!!" teriak Kakek Rangga dengan keras.


Karena begitu Takut akhirnya Fely mau berterus terang juga.


"Iya kek, apa yang di katakan Mahendra adalah benar,hu... hu... hu,,, " tangis Fely membenarkan kata-kata Mahendra.


"Alhamdulillah" batin Mahendra mensyukuri Fely mau berterus terang.


"Bude kecewa sama kamu Fely. Mahendra maafkan Bibi yang sempat tak percaya padamu" ucap Bi Asih sambil meninggalkan Fely yang masih menangis.


"Bude, maafin Fely, hiks" tangis keras Fely meledak karena dia tak ingin budenya kecewa.


"Katakan, apa yang kamu inginkan sampai kamu memfitnah Mahendra" ucap Kakek Rangga.


"Fely menyukai Mahendra Kek, tapi ternyata Mahendra sudah mempunyai kekasih dan itu membuat Fely tak terima, hiks" jelas Fely sambil terisak.


"Fely, kamu harus tau. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. coba kalo tak ada bukti Mahedra, pasti keinginanmu sudah terkabul dan Mahendra akan menanggung penyesalan yang tak pernah dia lakukan"


"Iya Kek, maafkan Fely"


"Bagaimana nak Mahendra, Fely sudah mengakui kesalahannya. Hukuman apa yang pantas untuknya" tanya Kakek Rangga pada Mahendra.


"Mahendra terserah Kakek saja, saya rasa Kakek lebih bijak dalam mengambil keputusan"


"Fely, Kakek ingin kamu besok cuti kerja dulu sampai Mahendra selesai tinggal disini. Jika Mahedra sudah tak ada, boleh kamu lanjut bekerja di sini. Besok Kakek akan kasih kamu uang pesangon untuk cuti dulu. Itu keputusan Kakek dan Kakek tidak mau di bantah"


"Baik Kek" ucap Fely sambil menghapus air matanya. Fely pasrah ternyata fitnahannya malah terbongkar sendiri.


"Trima kasih banyak kek, Kakek tau apa yang saya inginkan" ucap Mahendra sambil memeluk Kakek Rangga.


"Sama-sama nak, tidurlah. Besok kamu akan menghadiri acara kesuksesanmu kan"


"Iya Kek, benar. Kalo begitu Mahendra pamit dulu ke kamar mau tidur" ucap Mahendra sambil meninggalkan Fely dan Kakek Rangga.


"Fely kamu juga, jangan lupa beresin barang-barangmu. Nanti uangmu saya kasih sama Bi Asih"


"Iya kek"


Fely pun menyusul Mahendra pergi ke arah kamar masing-masing.


Kakek hanya menarik nafas dalam-dalam. Dia Bersyukur semua selesai hanya sekejap saja.


TBC.....