
Hari ini merupakan hari yang bersejarah buat Mahendra dan Atika, tepatnya 4 tahun sudah mereka selesai menuntut ilmu menjadi seorang dokter.
Perjalanan yang tak mudah untuk Mahendra, tanpa ada bantuan dari siapapun juga, karena orang tuanya yang serba kekurangan membuatnya semangat untuk terus merubah keadaan.
Mereka sudah dua minggu tinggal di mansion Kakek Joni, keadaan kakek Joni yang terus membaik membuat Mahendra bersyukur ternyata apa yang di lakukannya tidak sia-sia.
Mahendra pun begitu, walau hanya dengan satu ginjal keadaannya tampak baik-baik saja.
Hari ini di kampusnya akan di adakan wisuda perguruan tinggi UI. Mahendra meminta semuanya harus hadir. Kedua orang tua Mahendra dan Kakek Joni orang yang paling di tunggu untuk hadir.
Rangkaian acara wisuda t'lah di mulai.
Mahendra mendapat peringkat cumlaude, dengan angka rata-rata hampir mencapai sempurna.
Semua sesi acara telah di lewati dan semua mengucapkan selamat untuk Mahendra.
"Alhamdulillah nak, hari ini impianmu menjadi seorang dokter sudah tercapai"
"Ini berkat do'a ibu dan ayah, trima kasih ibu, ayah" ucap Mahendra dengan rasa haru sambil memeluk Ibunya.
Tes...
Seketika air mata Mahendra menetes, ayahnya pun hanya menepuk pundaknya agar Mahendra menjadi anak yang tegar.
Tapi Mahendra mengingat perjuangannya bukanlah hal yang mudah, bekerja sambil kuliah harus susah payah di lalui dan di lakukannya.
Perjalanan itu sudah di bayar lunas dengan hasil kelulusan Mahendra sekarang ini.
"Selamat hari ini gelar doktermu sudah kamu raih" ucap Kakek Joni sambil memeluk Mahendra.
"Trima kasih kek"
"Mahendra, Karena kamu lulus dengan hasil yang memuaskan, Hari ini Kakek akan kasih hadiah untukmu,"
"Hadiah apa itu kek,"
"Nanti kamu akan tau juga, hari ini kita akan berjalan-jalan sebentar"
Mereka pun keluar dari kampus, Mahendra dan kedua orang tuanya mengikuti mobil Kakek Joni dari belakang.
Saat ini Mahendra sudah bisa mengemudikan mobil sendiri, dia hanya berlatih selama 2 minggu saja dengan mobil yang di berikan Kakek Joni padanya.
Setelah di perusahaan Kakek Joni, kedua orang tua dan Mahendra memasuki lift khusus. Mereka menuju ke ruangan Kakek Joni.
"Mahendra, sengaja Kakek mengajak kamu dan kedua orang tuamu. Kakek merasa ini sudah saatnya kamu yang harus menggantikan posisi Kakek" ujar Kakek Joni menjeda kata-katanya, Kakek Joni menarik nafas sebelum mengucap apa yang di inginkan.
"Bismillahirrohmannirrohim"
"Selamat Mahendra kamu sekarang memimpin perusahaan kakek"
"Kakek memberi tanggung jawab untuk mengelola semua aset kakek"
"Tapi kek, aku tak pantas untuk semua ini,"
"Kamu itu sangat pantas. Aku sudah saatnya harus pensiun. Selama ini kakek sudah mencari-cari penggantiku, dan siapa yang pantas menggantikan aku"
Kakek Joni melihat keraguan di mata Mahendra.
"Kamu jangan khawatir, kamu bisa belajar sambil bertugas menjadi dokter. Kakek yakin kamu bisa cepat belajar"
"Sudah saatnya kamu harus membahagiakan kedua orang tuamu nak," lanjut Kakek Joni sambil menepuk punggung Mahendra.
Kedua orang tuanya Mahendra terharu, semua perjuanganyang selama ini di alami Mahendra di bayar lunas oleh Allah SWT.
"Trima kasih kek, kakek mempercayakan semua aset kakek kepada anak kami" ucap Ayahnya Mahendra sambil meneteskan air mata.
"Kami tak bisa membalas budi baiknya kakek" ucap Ibunya Mahendra.
"Jika kalian ingin membalas budi kepadaku, terima ini semua dan anggap ini bukan pemberian dariku, tapi rezeki dari Allah yang sudah saatnya kalian terima"
"Aku sudah merasa lega, karena tugasku telah selesai"
"Mulai besok kamu bisa belajar pada kepadaku"
"Aku akan mengajarimu secara langsung"
"Baiklah Kek,"
Akhirnya Mahendra Menjadi kaya mendadak. Perubahaan nasib yang di terima Mahendra tak lantas membuatnya lupa diri, untuk merayakan atas gelar dokter dan dia menjadi kaya mendadak, Mahendra mengadakan tasyakuran dengan anak yatim piatu dan panti jompo.
Tak lupa Mahendra mengundang Kakek Rangga dengan Bi Asih.
****
Sementara di rumah Kakek Rangga.
"Alhamdulillah kek, kita mendapat undangan tasyakuran kelulusan Mahendra"
"Iya Bi, dia tak melupakan kebaikan kita di sini"
"Iya tuan, saya akan mempersiapkan apa saja yang harus kita bawa."
"Iya, bi."
***
Sementara di rumahnya Atika pun sedang di adakan tasyakuran bersama keluarganya. Sebenarnya Atika akan mengundang keluarga Mahendra, tapi karena kebetulan Mahendra dan Kakek Rangga sangat sibuk dengan mempersiapkan Tasyakuran mereka juga.
"Jadi kamu tak bisa datang?," Tanya Atika kepada Mahendra.
"Akan aku usahakan datang, aku akan datang dengan kedua orang tuaku dan Kakek Joni"
"Sebenarnya aku lagi sibuk juga mempersiapkan segalanya."
"Coba tanya dulu kepada kedua orang tuamu, sepertinya aku juga akan melamarmu"
"Sepertinya aku sudah siap dan bersedia menerima lamaranmu,"
"Baiklah, aku akan mempersiapkan segalanya. coba bicarakan dengan kedua orang tuamu dahulu"
"oke, aku tutup dulu teleponnya, nanti setelah aku bertanya kepada kedua orang tuaku, kita akan membicarakannya lagi"
"Okelah kalau begitu. Assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Sambungan teleponnya mereka pun terputus. ada rasa bahagia di dalam hati mereka. Mereka sebentar lagi akan bertunangan.
Restu kedua orang tuanya dari Atika sudah di dapatkan Mahendra. Untuk sekarang ini hanya meyakinkan hatinya Atika untuk mereka bisa ke jenjang pernikahan nanti.
Apa pun keputusan Atika harus di turuti Mahendra.
Atika ingin setelah dia menjadi dokter seutuhnya, setelah itu dia akan memikirkan pernikahan nanti.
Atika pun ingin merasakan jerih payahnya menjadi seorang dokter sebelum dia menikah nanti.
Dan Mahendra pun sangat menghargai keputusan Atika.
Bagi Mahendra tak masalah jika Atika bekerja terlebih dahulu.
Jika mereka menikah, Mahendra pun tak ingin mengekang Atika. Mahendra ingin dia dan Atika sama-sama bekerja sebelum Atika menjadi seorang Ibu.
***
Di acara tasyakuran Atika.
"Papah, Mahendra akan datang dengan kedua orang tuanya, rencananya dia akan melamar Atika"
"Apa kamu sudah siap nak?" tanya Ayahnya Atika.
"Iya pah, Atika sudah siap, seperti yang sudah Atika katakan, jika sudah selesai wisuda aku tak akan menolak pertunangannya,"
"Baiklah papah juga sudah siap jika kedua orang tua Mahendra akan datang ke sini, papah akan menyiapkannya segalanya juga"
"Trima kasih pah,"
"Untuk kebahagian Anaknya papah, apa pun akan papah lakukan," ucap Ayahnya Atika sambil merangkul Atika.
"Baiklah pah, aku akan mengabarkan Mahendra lagi,"
"Iya nak"
Atika pun segera menghubungi Mahendra.
Drrettt... dreett
Mahendra pun melihat nama Atika tertera di depan layar hpnya.
"Assalamu 'alaikum"
"Waalaikum salam, bagaimana?," tanya Mahendra setelah sambungan teleponnya tersambung.
"Iya, Ayah sudah setuju,"
"Alhamdulillah, baiklah. Aku akan ke sana dengan kedua orang tuaku"
"Iya, aku menunggumu kedatanganmu"
"In Syaa Allah akan di lancarkan, Aamiin"
"Aamiin"
"oke, aku juga akan mempersiapkan diri dulu, kalau begitu aku tutup teleponnya dulu, assalamu'alaikum," ucap Atika lagi.
"Waalaikum salam"
TBC....