MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 89. Di sini Kehidupan Mahendra dan Atika ya..



Namanya hidup berrumah tangga pasti ada saja yang bisa terjadi begitu juga yang dialami oleh Mahendra dan Atika.


Fase cobaan awal, mereka telah lalui dari sebelum mempunyai keturunan hingga mereka berusaha bersedekah sehingga Mahendra dan Atika akhirnya dikaruniai 3 malaikat kecil sekaligus.


Hingga kini Mahendra dan Atika selalu mengajarkan 3 buah hatinya untuk selalu bersyukur terlebih ketika kedua kakeknya telah meninggal dunia.


Mahendra selalu mengajarkan anak-anaknya berbisnis seperti apa yang diinginkan kedua kakeknya.


"Nak, saat ini tanggung jawab kalian untuk besarkan perusahaan milik kedua Kakek kalian, apa kalian sanggup?"


"Aarash akan belajar Aby"


"Aariz juga"


"Arsyla juga siap Aby"


"Bagus anak-anakku kalian anakku yang paling baik dan penurut"


Walau mereka bertiga masih sekolah tapi tetap belajar bisnis dengan Ayah mereka.


Bahkan karena Aarash paling lincah dari kedua saudaranya, Aarash lebih paling cepat mengerti.


Hari ini Mahendra bertemu klien yang dari Jepang untuk membicarakan kerjasama agar perusahaan bisa melesat menjadi perusahaan nomor satu.


Pertemuan itu diadakan di cafe X yang berada di mall.


"Senang bertemu dengan anda, Saya rasa saya sepakat dengan kerjasama dengan perusahaan anda"


"Baiklah, Asisten sudah membawa dokumen yang harus anda tanda tangani, jika memang Anda sepakat silakan tanda tangan di atas nama anda"


"Baiklah Tuan Mahendra aku tak perlu membacanya aku percaya kamu orang jujur, mana dokumen yang harus saya tandatangani"


"Romi, Tolong berikan dokumen yang sudah kita buat"


Romi pun memberikan Dokumen itu kepada uncle Jo setelah itu uncle Jo menandatangani dokumen tersebut.


"Waktu baru jam Jam 9 malam bagaimana kita bersenang-senang dulu"


"Baiklah Anda ingin kita pergi ke mana"


" Biasanya aku pergi ke cafe atau bar, bagaimana kalau kita ke bar dulu" ucap uncle Jo.


"Baiklah"


Mereka pun langsung menuju bar yang ditunjukkan angka Jo, sebenarnya Mahendra mau saja menolaknya, tapi dia tidak enak hati karena baru saja menyepakati kerjasama bersama dengan uncle Jo.


Bagi Mahendra dia hanya mau menyenangkan uncle Jo, walaupun seumur hidupnya barusan menginjakkan kakinya di bar.


Setelah sampai di bar, uncle Jo memesan minuman yang mengandung alkohol.


" Maaf uncle Jo, aku pesan minuman bersoda saja"


"Mengapa kamu tidak minum yang saya sudah pesankan"


"Dalam agamaku aku di larang meminum minuman yang beralkohol jika aku minum khamar atau minuman beralkohol maka shalatku aku selama 40 hari tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa ta'ala"


"Baiklah Aku hargai keputusanmu, aku bertambah salut dengan keteguhan hatimu yang tak ingin meminum minuman yang beralkohol"


"Trimakasih Uncle Jo"


Pelayan pun membawakan pesanan mereka.


Uncle Jo telah mabuk berat, mau tak mau Mahendra harus membawa Uncle Jo ke hotel yang di tempatinya.


"Romi, bantu aku membawa Uncle Jo. Kamu tau kan tempat nginanya kan"


"Iya Bos,"


Kami berdua pun membawa Uncle Jo di Hotel yang tak jauh dari Cafe X.


Setelah mengantarkan Uncle Jo.


"Romi, kamu menginaplah di sini, awasi Uncle Jo. Aku tak ingin terjadi sesuatu dengannya"


"Baiklah Bos"


"Aku pulang dulu, Pasti istriku sudah khawatir denganku. Biasanya aku pergi dengan klien hanya butuh 2 atau 3 jam."


"Baik Bos, aku akan menjaga Uncle Jo di sini"


Setelah memesan kamar untuk Romi, Mahendra pun segera menjalankan mobilnya menuju ke rumahnya.


Setelah 30 menit kemudian Mahendra sampai di depan rumahnya.


Satpam pun membuka gerbang dan Mahendra segera masuk ke dalam halaman rumahnya.


"Pasti Atika telah tidur," batin Mahendra di dalam hati.


Dia melihat jam tangan, jam sudah menunjukkan pukul 1 malam hari.


Mahendra membuka pintu dengan kunci cadangan yang di bawanya.


"Astagfirullah" Mahendra kaget dengan Atika yang menyalakan lampu yang ada di ruang tamu.


"Aby, kok pulangnya malam banget"


"Iya Ummy sayang, Kliennya Aby minta di antar ke Bar"


Mahendra pun menceritakan apa yang di alaminya.


"Astagfirullah, mana bau banget alkohol nih. Segera mandi dan langsung sholat. Pasti Aby belum sholat Isya."


"Maafkan Aby, Baiklah"


Mahendra pun mengecup singkat pipi Atika agar dia tak marah.


"Bau alkohol kok mau dekat ummy" gerutu Atika.


"Maaf, Aby mandi dulu kalau begitu, kalau udah bersih Aby berarti boleh nyium ya"


"Ish, kalau itu tak janji"


"Jangan marah sayang, Aby hanya minum-minuman bersoda. Tak sedikitpun menyentuh minuman haram"


"Ummy percaya sama Aby, Ya sudah. Ummy siapkan air hangat untuk Aby mandi nanti"


Atika pun menyiapkan air untuk Mahendra mandi, setelah itu dia menyiapkan baju tidur dan di letakkan di ranjang tempat tidurnya.


Setelah Mahendra mandi, dia pun mengganti pakaiannya. Mahendra melaksanakan sholat isya terlebih dahulu setelah itu dia menghampiri Atika di ranjang tempat tidurnya.


Mahendra melihat Atika yang wajahnya masih menandakan dia marah terhadap Mahendra.


"Ummy sayang, kok mukanya seperti itu, Ada apa" ucap Mahendra sambil mendekati Atika.


"Pasti Aby melihat cewek-cewek cantik dan bodynya Aduhai di bar"


"Ummy, bagi Aby, hanya Ummy wanita yang paling cantik dan paling seksi" Ucap Mahendra dengan tatapan sayang.


"Kita sudah berumah tangga bukan setahun atau dua tahun, tapi sudah 18 tahun lamanya"


"Bagi Aby, Ummy lebih baik dari wanita-wanita yang ada di luaran sana, percayalah"


Mahendra pun memeluk Atika, di l***tnya singkat bibir Atika.


Akhirnya malam itu mereka memadu kasih, hingga Mahendra terkulai lemah di samping Atika.


"Aku percaya padamu Aby, aku dari awal yakin menikah denganmu karena kamu laki-laki yang setia" gumam Atika.


Dia pun turun dari tempat tidurnya untuk membersihkan diri dari sisa-sisa memadu kasih.


Setelah selesai, Atika menyusul membaringkan tubuhnya di samping Mahendra.


"Kasian, pasti Aby seharian kecapean" ucap Atika sambil mengelus rambut Mahendra.


Mahendra pun langsung mendekap Atika, mereka tidur dalam pelukan satu sama lain.


Walau sudah 18 tahun kehidupan rumah tangga Atika tak pernah ada pertengkaran atau berselisih paham sampai bertengkar hebat.


Mereka selalu menyelesaikan permsalahan dengan kepala yang dingin. Bagi mereka berdua, mereka harus memberi contoh kepada ketiga buah hatinya.


Jika mereka berdua bertengkar, tempat yang paling nyaman adalah tempat tidur.


Jika mereka ada di luar kamar, mereka seolah-olah tak bertengkar bahkan bersikap seperti biasa.


Untuk itu, jarang sekali mereka akan berselisih paham sampai berhari-hari lamanya.


Dalam membangun rumah tangga, pasti banyak perbedaan yang di rasakan. Namun dengan perbedaan itu, mereka harus berusaha untuk saling mengerti dan saling menghargai agar Rumah Tangga mereka menjadi sakinah mawaddah warahmah sampai akhir hayat. Itulah keinginan mereka.


TBC...