MAHENDRA

MAHENDRA
Ekstra part. 3



Pov. Atika


"Alhamdulillah ya Allah, hari ini aku telah menjadi ibu lengkap, perjuangan ingin mendapatkan buah hati telah di kabulkan Allah SWT"


Seketika aku menangis melihat 3 buah hatiku yang sangat tampan dan cantik.


Suamiku Mahendra juga telah selesai mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqomat di telinga kiri.


Setelah itu Mahendra memberikan salah satu kepadaku.


Aku sangat senang dan aku langsung mendekapnya memberikan air susu ibu yang pertama.


"Bismillahirrohmannirrohiim, Alladzi kholaqonii fahuwa yahdiin. Walladzi huwa yuth'imunii wa yasqiin. Wa idzaa maridhtu fahuwa yasyfiin"


"Dengan menyebut Allah yang maha Pengasih dan Maha Penyayang, (Yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku maka Dia-lah menunjukkan, dan Tuhanku. Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dia-lah yang menyembuhkan aku." (QA Asy-Syu'ara [26]: 78-80)


Aku membacanya di dalam hati.


Suamiku menghampiriku.


"Sayang, kamu sudah punya nama untuk anak-anak kita?" tanya suamiku.


"Aku sudah menyiapkan nama-nama mereka, tapi aku ingin tanya apa kamu setuju atau tidak"


"Coba kamu sebutkan, jika memang pas, aku juga setuju"


"Aarash Putra Mahendra & Aariz Putra Mahendra"


"Aarash artinya sinar matahari pertama, Aariz artinya seseorang yang dihargai"


"Untuk perempuan aku ingin namanya Arsyla Putri Mahendra"


"Arsyla artinya orang yang cerdik" jelasku kepada Suamiku.


"Sepertinya cocok, aku sangat menyukainya"


"Aarash, Aariz, Arsyla"


"Alhamdulillah, nanti kita akan adakan Akikah sekalian acara pemberian nama untuk mereka" ungkap suamiku.


"Ummy hanya terserah Aby saja" imbuhku.


"Nanti Aby bicarakan dengan keluarga kita lagi, agar segala persiapan tidak ada kekurangan satupun" ujar suamiku.


"Baiklah By" jawabku.


Aku bersyukur suamiku menyetujui nama yang aku berikan. Sejak lama telah aku siapkan nama untuk calon buah hatiku, setiap aku mengusap perutku aku memanggil nama mereka dan seketika perutku akan berdetak.


Aku rasa anakku sangat menyukai nama yang aku berikan.


Setelah Aarash puas menyusu, suamiku Menggendongnya dan meletakkan di box bayi. setelah itu menggendong Aariz lagi dan memberikan padaku untuk di susui.


Aku pun mengambilnya dan menyusuinya. Aariz begitu enteng dan langsung menyusui.


Tak lupa aku berdo'a seperti aku menyusui Aarash.


Setelah menyusui ketiganya, aku melihat perawat ingin memindahkanku di tempat rawat inap.


Ketiga buah hatiku juga akan di bawa, mereka tidak di masukkan di box inkubator karena kondisi mereka sangat sehat.


Aku bersyukur fase melahirkan telah aku lewati walau melalui ceasar. Bagiku sama saja, apalagi sekarang masih aku rasakan begitu perih perutku setelah obat anastesinya telah hilang.


"Bu Dokter, saya pindahkan ke ruang rawat inap ya"


"Iya suster, trima kasih"


Aku telah di pindahkan di ranjang pasien, mereka pun mendorong brankar tempat tidurku.


Aku melihat keluargaku sedang menunggu di depan kamar operasi dan mereka tersenyum bahagia melihat aku cukup sehat dengan kondisi habis melahirkan.


Suamiku pun setia mendampingiku.


Kulihat Ibuku menggendong satu bayi, Ibu mertuaku juga dan suamiku. Ketiga bayiku pun menyusul di belakangku.


Aku sangat bahagia dikelilingi orang-orang yang menyayangiku.


Setelah sampai di kamar VVIP yang berada di klinikku, aku melihat 3 box juga telah tersedia di kamar ini.


Suamiku, Ibuku dan Ibu mertuaku meletakkan buah hatiku dengan hati-hati di dalam box bayiku.


Mereka tertidur lelap setelah aku susui.


"Trima kasih suster" ucapku kepada suster yang mengantarkanku di kamar rawat inapku.


Mereka pun mengangguk dan pamit keluar dari ruanganku.


Setelah mereka perawat pergi, suamiku mendekatiku.


"Jangan dulu banyak bergerak sayang,"


Akupun tersenyum dengan perhatian suamiku.


Aku memejamkan mataku, perjuangan hari ini membuatku sadar. Pantas saja surga berada di telapak kaki ibu.


Walau aku tidak merasakan melahirkan secara langsung tapi perjuangan seorang Ibu yang ceasar juga begitu berat.


Sekarang saja masih terasa perih yang begitu menusuk di bagian perutku.


****


POV Mahendra.


Aku melihat istriku memejamkan matanya.


Ruangan rawat inap istriku memang spesial. hampir seluas satu rumah. Ada tersedia sofa bahkan semuanya lengkap.


Aku melihat keluargaku sangat bahagia dengan kelahiran ketiga buah hatiku.


Aku meminta Kakek Rangga dan Kakek Joni pulang ke rumah jika memang mereka merasa capek.


Namun mereka tak ingin pulang ke rumah, mereka ingin terus mendampingi ketiga buah hatiku.


Aku sangat bahagia melihat wajah cerah kedua orang tuaku, kedua orang tua istriku, Kakek Joni, dan Kakek Rangga.


Malam ini aku berjaga untuk kedua anakku. Siang tadi Kedua orang tuaku bergantian dengan kedua mertuaku.


Kakek Joni dan Kakek Rangga sudah kembali ke mansion. Aku tak ingin mereka sampai kecapean jika menjaga anakku.


Aku menggantikan popok anakku karena mereka habis pub.


"Aarash habis pub ya nak"


"Iya bu, sepertinya Aarash lebih aktif dari kedua adiknya"


"Ibu juga mempunyai firasat sepertimu karena sedari tadi hanya Aarash yang sering bangun dari pada Aariz dan Arsyla" imbuh Ibuku.


"Soalnya Aarash sering haus, sedangkan adiknya malah lebih nyaman tidur"


"Bener nak, Atika sudah ibu suapin"


Aku pun melihat istriku, Istriku lagi berbicara dengan kedua orang tuanya.


"Semoga Atika cepat pulih, aku kasian kepada Ibu dan Ayah apalagi melihat kedua mertuaku"


"Ibu dan Ayah senang membantumu nak, tak usah sungkan"


"Pasti Kakek Joni dan Kakek Rangga juga ingin Istriku cepat pulang agar semuanya cepat berkumpul di mansion"


"Iya, Kamu sudah menyiapkan hadiah buat Kakek Joni?" tanya Ibuku.


"Hadiah?" ujarku sambil mengingat-ngingat.


"Oh, iya aku sampai lupa. Aku telah berjanji jika tebakan siapa yang benar aki akan memberikan Hadiah"


"Nah, Kebetulan tebakan Kakek Joni yang bener nih. Kira-kira hadiah apa yang kamu akan berikan"


"Aku sudah menyiapkan hadiah yang spesial buat Kakek Joni."


"Ibu jadi penasaran nak"


"Bukan surprise dong kalo aku kasih tau bu" ujarku sambil meledek ibuku.


"Ya, ya, ya.. Ibu Paham kok"


"Semoga Kakek senang dengan hadiah yang aku berikan. Dan semoga bisa berjalan lancar ke depannya.


"Aamiin"


Oweek.. owek..


Aku melihat Aarash menangis,mungkin dia haus lagi. Tangisannya hampir membangunkan kedua adiknya.


Aku pun langsung menggendong Aarash dan memberikan kepada Atika.


"Ummy, Aarash sepertinya haus lagi"


"Sini By, letakkan di sampingku saja"


Aku pun langsung menidurkan Aarash di samping Atika. Dan Atika langsung memiringkan tubuhnya perlahan-lahan.


Aku tersenyum ketika Aarash langsung menyantap ****** susu Atika seolah sudah tau ini adalah bagiannya.


Aku langsung menyium pucuk kepala istriku. Aku sangat tahu pasti luka setelah ceacarnya pasti sangat perih.


Setelah itu aku pun langsung mendekati kedua anakku yang masih terlelap tidur.


Melihat mereka tidur nyenyak membuatku hatiku damai. Aku berdo'a ketiga anakku menjadi anak yang soleh dan sholeha menjadi kebanggaan untuk kita semua.


TBC