
Setelah mereka menanda tangani berkas persetujuan kerja sama, Mahendra pun pamit untuk segera pergi.
"Terima kasih Bu Mutia, senang bisa bekerja sama dengan anda"
Mahendra pun segera meninggalkan Mutia, Ibu Mutia penasaran seperti apa wajah istrinya Mahendra.
"Aku udah modis begini malah tak di gubris juga, aku penasaran bagaimana sosok Ibu Atika" gumamnya yang hanya di dengar olehnya sendiri.
"Romy, kamu lanjutkan saja pekerjaan kantor ya, aku ingin menemui istriku"
"Iya Bos"
'Bos ini, perasaan baru pulang honeymoon tapi masih serasa kurang aja' batin Romy sambil menatap jalanan di depan.
Setelah menempuh perjalanan ke kantor, Mahendra segera turun dan mengambil mobilnya.
Dia ingin segera pulang untuk menyantap masakan istrinya.
Mahendra sebelum pulang ke rumahnya, dia pun singgah di toko bunga langganannya.
Seperti biasa, Atika sangat menyukai bunga lily putih. Setelah membeli bunga lily putih, dia pun segera melajukan mobilnya.
Jarak yang memakan waktu tiga kilometer tak lantas membuat Mahendra capek.
Ketika sampai di rumahnya, satpam pun membukakan pintu dan Mahendra segera memasukan mobilnya ke garasi.
"Hmmm.. seperti biasa. Aroma makanan istrimu sangat harum." ucapnya ketika memasuki rumah.
"Assalamu'alaikum" ujar Mahendra lantang.
"Waalaikum salam" balas Atika.
"Kok, tumben cepat pulang Aby" tanya Atika.
"Katanya Ummy lagi masak, makanya setelah ketemu klien Aby langsung pulang ke rumah"
"Ini bunga untukmu" Mahendra menyerahkan bunga yang telah di belinya tadi di jalan.
'Hmm, pasti ada maunya' batin Atika namun di tepisnya.
"Ayah dan ibu sudah selesai makan?" tanya Mahendra.
"Ayah dan ibu sudah selesai makan, sekarang lagi di kamar. Ayo kita sama-sama makan siang" ajak Atika.
"Iya sayang." Mahendra pun berjalan sambil menggandeng Atika.
Mereka pun ke makan siang berdua, setelah selesai. Atika mulai membersihkan piring bekas makan mereka berdua.
"Aby, kamu belum jawab pertanyaanku." ucap Atika sambil mengambil piring kotor.
"Pertanyaan yang mana sayang?" tanya balik Mahendra.
"Tumben Aby pulang cepat, masa' hanya karena ummy masak Aby pulang cepat, padahal Ummy masaknya setiap hari"
"Aby lagi kangen sama Ummy,hehehe" kekeh Mahendra sambil menaik turunkan alisnya sambil menatap Atika.
"Aby, ini." Atika mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, udah seminggu Aby belum makan Ummy"
"Aby, tau ummy lagi kedukaan apalgi di rumahnya Ummy sana, tak seperti di sini yang ada peredamnya, kagen ******* ummy" lanjut Mahendra tapi memang benar, Mahendra akan tambah semangat jika mendengar suara mendayu Atika.
Atika yang mendengar perkataan Mahendra membuatnya malu, wajahnya merona dan dari dulu Mahendra sangat menyukai melihat wajah istrinya merona.
Perlahan-lahan Mahendra mendekati Atika yang sedang memcuci piring. "Aku ingin memakanmu, apa boleh" tanya Mahendra sambil memeluk Atika dari belakang.
"Aby, aku siap kapan pun, apa tidak apa-apa melakukan di sini" heran Atika di saat Mahendra sibuk mengerjai Atika dengan sentuhann lembutnya.
"Di mana saja pun aku siap memakanmu" tangan Mahendra segera meremass bukit kesukaannya.
Ahh....
"Tapi jika kamu keberatan, ayo kita ke atas"
"Ay... Ahh Aby!!!!"
Refleks Atika menjerit karena Mahendra segera menggendong Atika ala bridal style.
Atika pun mengalungkan kedua tangannya di leher Mahendra, agar tubuhnya menjadi terasa ringan.
Walau Mahendra yang sudah berumur hampir 50'an namun tenaga dan ketampanannya masih dapat di perhitungkan, apalagi Atika yang tidak pernah berubah bentuk tubuhnya.
Mahendra segera menaiki lift dan segera membawa Atika ke kamar mereka.
Kedua orang tuanya Mahendra yang melihat tingkah anak dan menantunya tersenyum.
"Alhamdulillah ya Ayah, pernikahan anak kita sangat bahagia"
"Iya Bu, semoga cucu kita juga mendapat pasangan seperti anak kita, agar kehidupan mereka bahagia terus nantinya"
"Aamiin"
Setelah sampai di kamar Mereka, Mahendra menjatuhkan Atika perlahan-lahan di ranjangg empuk milik mereka.
Bagi Mahendra seminggu tak memanjakan Atika itu seperti ada yang kurang di dalam hidupnya.
Mahendra tersenyum, sambil menyatukan bibir mereka. Ia melumatt bibir Atika dengan brutal serta tangannya mengobrak ngabrik barang kesukaannya di bawah sana.
Hmmphhtt...
Nghhh...
Mahendra menarik sedikit bibirnya dari Atika agar mereka bisa menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Mahendra mulai melepas yang menghalangi langkahnya ke depan, Atika pun melakukan hal yang sama.
Sekarang sepasang suami istri itu bak bayi yang baru lahir.
Menggemaskan.
Mahendra pun kembali melumattt bibir Atika, Ia ***** hingga Atika tidak dapat bernafas.
Mahendra terlihat Agresif, bak anak bayi yang lagi menyussuu dan salah satu tangannya segera meremass salah satu bukit kesukaannya.
Ahhhhhh!!!!
Mahendra tersenyum bahagia melihat Atika yang merintihhh.
"Kau suka?" bisik Mahendra dengan lembut.
Atika hanya mengangguk. Ia memang sangat menyukai gaya permainan yang lembut namun berkesan.
Atika tidak mau hanya menjadi istri yang egois untuk itu dia pun memegang alih peran permainan. Atika yang semula berbaring, mendorong lembut Suaminya. Dia ingin bukan hanya dia yang merasa di buai dan di puasskan namun mereka sama-sama menikkmati permainannya.
Atika yang lihai mengambil barang milik Mahendra mengulumm lembut barang kesukaannya itu.
"Ahh!! Atika sa- ahhh" Mahendra tidak melanjutkan perkataannya.
Atika tersenyum senang. Ia mulai menekan kembali barang kesayangannya hingga memenuhi muluttnya. Membuat Mahendra.berteriak entah sudah keberapa kalinya.
"Ahhh.. Sayang!! Lakukan dengan perlah- ahhh"
"Nikmati saja sayang, kau hanya perlu nikmati saja saat ini" ujar Atika sambil semakin agresif memainkan barang kesukaannya.
Mahendra menekan lembut kepala Atika agar memasuki lebih dalam lagi.
Mahendra segera mengambil perannya lagi.
Atika hanya pasrahh. Sentuhann dan belaiann Mahendra membuat dirinya seperti melayang merasakan surga dunia. Tatkala menikmati, kesadarannya Atika kembali di saat Paku Mahendra sudah memenuhi miliknya.
Mahendra menaikk tturunkan pinggullnya dengan perlahan.
Ahh.....
Mendengar rintihann Atika, Dia mulai kembali menekan paku kesayangannya untuk memasuki lebih dalam lagi. Membuat Atika berteriakk menikmatinya.
Mereka saling menyyelami, menikkmati, Mahendra tidak membiarkan tangannya menganggur begitu saja, dia kembali meremas dan memilin bukit kesukaannya itu.
Hanya rintihann dan teriakann terdengar di kamar itu. Kini Mahendra menaikkan ritme permainannya. Ia mulai menggguncang tubuh Atika dengan cepat hingga wanita itu berteriak sejadi-jadinya.
"Aby, aku ingin pelepasannn" ujar Atika sembari merintih kenikkmatan.
"Bareng-bareng ya sayang, aku akan melakukan sebentar lagi, Ahh.....!!!"
Mahendra segera mempercepat tempo permainannya
Arghhhhh....!!!!
Kedua pasangan suami istri itu akhirnya mencapai pelepasan masing-masing. Mahendra segera mencabut pakunya.
Ia terkulai lemas di samping Atika yang tampak keringat mengucur seluruh tubuhnya.
"I love u sayang" ucap Mahendra dengan nafas yang tidak teratur.
"Mee too" ucap Atika tidak ada bedanya dengan Mahendra. Dia juga masih mengatur nafasnya agar tetap teratur.
Mereka akhirnya saling berpelukan satu sama lain.
'Gara-gara ulat keket, makanya aku mengambil makan malamku di siang hari' gerutu Mahendra di dalam hati.
Sebagai lelaki normal pasti Mahendra terbuai dengan bodi mulus Mutia.
Namun hawa nafsunya bisa di tahannya.
Untuk itu dia segera pulang ke rumahnya agar dia bisa menuntaskan apa yang di tahannya dari tadi.
Yang halal itu nikmat tak terlukiskan, itu prinsip Mahendra.
Akhirnya mereka tertidur sambil berpelukan.
TBC....