MAHENDRA

MAHENDRA
Bab.55. S2 Mahendra dan Atika



Setelah kehidupan Mahendra telah berubah, kini mereka sedang mempersiapkan pernikahan yang akan di selenggarakan 3 bulan lagi.


Semuanya di bantu WO tapi terkadang Mahendra dan Atika melihat persiapan yang di lakukan pihak WO.


"Dek, kamu ingin konsep yang bagaimana?"


"Mas, aku mau yang sederhana dan sakral, itu yang terpenting"


"Baiklah, aku juga setuju"


Mereka pun memilih konsep pernikahan yang sederhana, elegan tapi tetap mengandung arti pernikahan yang sesungguhnya.


Mahendra dan Atika tak ingin yang mewah-mewah.


Akad nikahnya, Atika memilih di dalam masjid dan setelah itu resepsinya mereka memilih di dekat pantai.


Bagi Mahendra juga itu sudah cukup,apa pun kemauan Atika akan di penuhi.


Setelah memilih konsepnya, sekarang tinggal memilih konsep baju pengantin yang akan di kenakan Atika.


Atika memilih pakaian adat jawa biasa saja, karena memang akadnya di mesjid dan jika di resepsi dia mengambil konsep gaun pernikahan hijab yang terlihat sederhana namun elegan.


Semua kemauannya di catat pihak WO dan untuk pemilihan undangan nanti mereka meminta di kirimkan contoh saja.


Setelah di sepakati antara Mahendra dan Atika menuju tempat kerjanya.


"Aku akan mengantarkanmu terlebih dahulu,"


"Kita singgah makan sebentar dulu, aku tadi belum sempat sarapan"


"Oke, kamu mau di tempat makan di mana"


"Di cafe x yang dahulu saja"


"oke, baiklah."


Mahendra dan Atika pun menuju ke mal matahati ke cafe x yang dahulu mereka bertemu.


Setelah sampai ke mal matahati, Atika dan Mahendra jalan berbarengan.


Mahendra pun membukakan pintu cafe dan Atika masuk ke dalam cafe.


Ternyata ada temannya Mahendra, siapa lagi kalau bukan Tejo.


"Tejo" sapa Mahendra.


"Mahendra, Atika, ayo bergabung denganku,"


Mahendra pun melirik Atika untuk bertanya, dia setuju atau tidak.


Atika menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Sepertinya kalian akan bekerja di rumah sakit nih?,"


"Iya, aku baru akan bertugas di rumah sakit harapan bangsa dan Atika akan bertugas di rumah sakit ibu dan anak"


"Syukurlah,"


"Kamu masih di apotik yang dulu?" tanya Mahendra.


"Iya, mau di mana lagi aku kerja, di sana aku sudah jadi karyawan tetap"


"Kamu tak berniat membuka apotik sendiri?," tanya Mehendra lagi.


"Aku belum cukup modal,"


"Bagaimana jika aku bukakan kamu apotik dahulu"


"Aku tak mau berhutang Mahen, kamu kan tau sifatku bagaimana,"


"Aku hanya bantu modal awalnya saja, jika kamu tak ingin berhutang, aku tak ingin kamu membayarnya,"


"Apa lagi jika aku di kasih percuma lagi, aku tak mau berhutang budi padamu"


"Tejo, kita telah bersahabat lama. Begini saja, jika kamu tak mau berhutang budi, bayarlah jika modalnya telah kembali"


"Aku akan memikirkannya lagi, aku tau kamu sekarang bukan Mahendra yang dahulu lagi. kamu sekarang sudah menjadi ceo perusahaan ternama di kota ini"


"Itu hanya titipan untukku, untuk itu aku ingin berbagi kebahagiaan denganmu, apa lagi kamu telah berjasa membantu Atika pada saat di culik Aditya, aku yang punya hutang budi padamu"


"Kita kan bersahabat, tak ada hutang budi dalam hal persahabatan"


"Oke aku setuju, jika begitu kamu tak akan menolak jika aku akan bukakan kamu sebuah apotik, anggap hutang budi kita impas dan lunas"


"Mahendra, aku beruntung punya sahabat seperti kalian, semoga kalian akan berjodoh nantinya"


"Kami berdua akan menikah, maaf lamaran kemarin aku tak sempat mengundangmu"


"Alhamdulillah, aku ikut bahagia, asalkan pernikahan jangan pernah lupa mengundangku"


"Itu sudah pasti, pesanlah apa yang kau mau"


"Aku sudah minum jus saja," tolak Tejo lagi.


"Ayolah, kami berdua mau makan siang, pesanlah yang kau mau"


"Baiklah."


Mereka pun memesan apa yang mereka sukai, sambil bercerita.


Kadang mereka bercanda mengingat masa-masa remaja masih sekolah di sekolah menengah atas.


Setelah selesai, Mahendra dan Atika pamit kepada Tejo.


"Trima kasih Mahendra, aku bawa motor sendiri, trima kasih juga atas traktirannya"


"Iya, sama-sama" jawab Atika.


"Selamat ya, atas pertunangan kalian, jangan lupa undang aku nanti. Jangan sampai lupa"


"Trima kasih atas ucapannya, itu sudah pasti kami akan mengundangmu"


"Kami berdua pergi dulu, assalamu'alaikum,"


"Waalaikum salam"


Atika dan Mahendra pun menuju ke rumah sakit ibu dan anak, tempat Atika bekerja.


Setelah sampai, ternyata di saat yang sama Aditya berjalan dengan istrinya Sonia.


"Sonia, Aditya,"


"Atika, Mahen, kalian bertugas di sini?," tanya Aditya.


"Atika yang bertugas di sini, aku bertugas di rumah sakit harapan bangsa"


"Oh, jadi kamu hanya mengantarkan Atika ya?," tanya Aditya.


"Iya, kebetulan kita tadi bertemu dahulu dengan pihak WO setelah itu, aku mengantarkan Atika di sini"


"Jadi kalian akan segera menikah?" tanya Sonia.


"In syaa Allah jika tak ada halangan, 3 bulan ke depan kami akan menyelenggarakan pernikahan"


"Aamiin, semoga acara kalian akan lancar sampai hari H nya"


"Aamiin" ucap mereka serempak.


"Kalian ke sini mau apa?," tanya Mahendra.


"Kami mau imunisasi jagoan kami nih"


"Wah, tak terasa kalian sudah menjadi ayah dan ibu,"


"Semoga kamu juga cepat menyusul,"


"Aamiin," ucap Atika.


"Siapa nama jagoan kalian,"


"Edward Saputra, Edward artinya penjaga yang baik,"


"Nama yang bagus"


"Baiklah, kalian masuklah di dalam bersama-sama, aku pergi dulu, sebentar lagi aku harus masuk kerja"


"Oke baiklah, hati-hati di jalan mas"


"Iya, assalamu'alaikum,"


"Waalaikum salam" jawab Atika, Sonia dan Aditya serempak.


Mereka pun masuk ke dalam rumah sakit setelah mobil Mahendra tak terlihat lagi.


***


Sementara Mahendra sampai di rumah sakit harapan bangsa, dia langsung menuju ke ruang administrasi.


"Suster, aku dokter Mahendra, tadi sudah janjian akan bertemu hari ini,"


"Oh, iya dokter. silahkan langsung menuju ke ruang kepala rumah sakit, nanti ada suster yang akan mengantarkan anda,"


"Trima kasih suster"


Mahendra pun di antar suster menuju ke ruang kepala rumah sakit.


Tok! Tok! Tok!


"Assalamu'alaikum Dokter"


"Waalaikum salam silahkan masuk"


"Trima kasih dokter"


Mahendra segera duduk di depan meja kepala rumah sakit.


"Perkenalkan Dokter, saya Mahendra. Saya kemarin mendapat panggilan dari rumah sakit ini"


"Iya benar, kami kebetulan banyak memerlukan dokter yang baru,makanya kami meminta dari fakultas kedokteran di UI dan ternyata ada nama kamu. dan beruntung kami melihat surat lamaran kamu kirim yang tempo hari,"


"Iya dokter, saya ingin belajar lebih jauh dalam hal pelayanan pasien, untuk itu saya mencoba mendaftar magang di sini"


"Baiklah kalau begitu, selamat bergabung, semoga kamu betah dan semoga kamu akan lebih sukses lagi di rumah sakit ini"


"Trima kasih dokter atas kepercayaan dokter kepada saya"


"Sama-sama, nanti ada suster yang akan mengantarkan dokter Mahendra di ruangannya"


"Kami permisi dulu, assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


TBC....