
Mereka semua selesai dari taman, mereka pergi ke restoran.
"Kali ini aku yang traktir ya," ucap Tejo.
"Iya, kali ini aku ngalah deh" balas Mahendra.
"Kita ke tempat biasa saja ya, di cafe x," saran Atika.
"Kalian juga biasa ke cafe x ya" tanya Amara.
"Kami kalo sempat ya, kesana. nggak sering kok" jawab Mahendra.
Mereka pun menuju ke cafe x.
"Sayang, kamu mau pesan apa?"
"Nasi pecel dan es teh tawar" ucap Atika
"Aku juga sama seperti Dokter Atika" ucap Ambar.
"Kalau aku nasi goreng saja dengan teh manis"
ucap Tejo.
"Baiklah, tunggu sebentar" ucap Mahendra.
Mahendra segera memesan pesanan mereka semua.
Setelah itu Mahendra duduk di tempatnya. Tidak lama seseorang menepuk pundaknya Mahendra.
"Hai, bro. Kita baru ketemu lagi"
"Hai juga steve, Alhamdulillah, bagaimana kabar kalian di Toko" tanya Mahendra.
"Kami semua baik, aku dengar di berita kamu sudah jadi CEO ya."
"Syukur, nasibku baik, aku bertemu seorang Kakek dan jabatannya di berikan padaku"
"Waw, kamu langsung kaya mendadak dong"
"Alhamdulillah, aku hanya bernasib baik saja"
"Hmm.. sepertinya aku pernah mengenal teman di sebelahmu" ucap Steve mengingat wajah Atika.
"Oh, iya ini calon istriku, Atika. Yang dulu pernah menyuruhmu memanggilku"
"Oh, iya benar. Aku baru ingat"
"Selamat ya, kalian akan segera menikah juga. Semoga di lancarkan ya"
"Aamiin, nanti aku akan beri kalian semua di toko undangan pernikahanku nanti." ucap Mahendra.
"Mudah-mudahan kami bisa datang, bro"
"Aamiin" ucap mereka semua.
"Eh, yuck gabung disini"
"Ah, nggak usalah, kalian doubel date kan?"
"Nggak apa-apa, kenalkan dulu sahabatku dari semenjak sekolah sampai sekarang, namanya Tejo dan yang di sampingnya Ambar."
"Aku Steve, teman Mahendra di Toko Y"
"Senang bisa kenal dengan kamu, aku Tejo"
"Aku ambar"
"Baiklah semua, aku ke sebelah dahulu. Udah laper sebentar lagi selesai waktu istrahatku"
"Oh, iya, silahkan" ucap Tejo.
Steve pun duduk di sebelah mereka. Dia tak mau bergabung karena dia cukup paham dengan situasi doubel date. Jadi dia membiarkan dua pasangan itu menikmati makanan mereka.
Akhirnya makanan yang mereka pesan telah datang.
Mereka makan dalam diam agar bisa menikmati makan siang mereka.
Setelah mereka selesai makan, mereka segera pamit kepada Steve.
"Steve, pesananmu sudah kami bayar, anggap saja salam perkenalan kami" ucap Tejo.
"Trima kasih bro" ucap Steve.
Mereka pun keluar dari cafe X.
"Bro, kita pisah di sini saja ya, aku harus membeli peralatan di apotikku dulu" ucap Tejo
"Iya, aku juga harus mengantarkan Atika juga" jawab Mahendra.
"Iya, orang tuaku tadi sudah menanyakan aku" ucap Atika.
Mereka pun saling merangkul tanda perpisahan.Mahendra memeluk Tejo, Atika memeluk Ambar.
Mereka berpisah dan menuju di tempat mereka tuju masing-masing.
Mahendra segera mengantarkan Atika di rumahnya. Dan ternyata ada kedua orang tuanya Atika sedang duduk di teras rumahnya.
"Assalamu alaikum, pah, mah" ucap Atika dan Mahendra barengan.
"Waalaikum salam nak, kalian sudah dari butik ya"
"Besok bu," jawab Atika.
"Persiapan kalian sudah berapa persen," Tanya Ibunya Atika
"Sudah 70 persen, mah" jawab Atika.
"Kayaknya tak perlu, mah. Tugas lebih penting dari libur cuti, mungkin izin seminggu saja mah" ucap Mahendra.
"Oh, iya itu terserah kalian saja"
Akhirnya Mahendra pamit untuk kembali lagi ke rumahnya karena untuk memeriksa sikon kakeknya.
Situasi Kakeknya lebih penting dari pada hanya untuk acara tak berguna dan menghambur-hamburkan uangnya.
Mahendra berencana acaranya akan di adakan sederhana saja, dan itu di sepakati Atika.
Alangkah baiknya setelah acara nanti mereka akan mengadakan santunan lagi kepada fakir miskin dan orang-orang yang sudah sepuh atau jompo.
Kegiatan amal seperti itu yang di inginkan Atika dan Mahendra.
Kedua orang tuanya pun tidak keberatan dengan niat anak-anaknya.
Malah keluarga Atika sangat senang mendapat menantu yang suka berbagi seperti Mahendra.
Malam ini Mahendra makan bersama keluarganya, Kakek Rangga dan Kakek Joni.
"Nak, bagaimana persiapan pernikahanmu" tanya Kakek Joni.
"Sudah 80 persen kek" jawab Mahendra.
"Apa semua pihak WO yang mengurus"
"Iya kek, aku dan Atika hanya melihat apa saja yang kura
"Syukurlah, jangan sampai ada yang kurang"
"In Syaa Allah tidak ada kek, kita tinggal persiapankan mental saja"
"Alhamdulillah, Kakek ikut senang"
"Kakek harus cepat sembuh, aku ingin Kakek harus hadir bahkan kalo bisa Kakek menjadi saksi pernikahanku kek"
"Tentu saja nak, Kakek akan semangat untuk sembuh"
"Bagaimana kalau kita buat resepsinya di sini saja nak" usul Pak Tohar ayahnya Mahendra.
"Aku sih setuju saja yah, biar kakek tidak repot dan bisa beristirahat setelah menjadi saksi pernikahanku"
"Itu terserah padamu dan Atika, jika Atika setuju ya silahkan, jika Atika tidak setuju jangan di paksa"
"Nanti aku bicarakan dahulu dengan Atika, jika Atika setuju, aku akan secepatnya memberitahu pihak WO agar dia tidak memesan gedung yang lain"
"Baiklah Nak, Kakek sudah selesai makan, Kakek mau istirahat"
"Aku antar kek, kebetulan aku sudah selesai makan" pinta Mahendra.
"Baiklah"
"Kami permisi dahulu,"
"Iya Nak"
Mahendra segera mengantarkan Kakek Joni ke kamarnya. Dan Tak lupa menyuruh Kakek Joni meminum obatnya.
Mulai sekarang Mahendra harus mengawasi Kakek Joni untuk meminum obatnya.
Jika dia tidak ada, maka tanggung jawabnya di serahkan kepada Kakek Rangga atau Kedua Orang Tuanya.
Mahendra ingin Kakeknya agar cepat sembuh sambil mencari donor ginjal yang baru untuk Kakek Joni.
Setelah melihat Kakek Joni berbaring di tempat tidurnya, Mahendra segera keluar dari kamar.
Pada saat dia melangkah, Mahendra berpapasan dengan Kakek Rangga.
"Nak, bagaimana kondisi Kakakku"
"Alhamdulillah Kek agak mendingan, jika melihat kondisi sekarang sudah lebih baik dari kemarin, apalagi Kakek banyak mengeluarkan suaranya dan tampak tidak sesak seperti kemarin"
"Syukurlah, aku belum siap di tinggalkan Kakakku, apalagi aku barusan bertemu dengannya"
"Berdoa'lah kek, semoga Kakek Joni akan segera di sembuhkan" ucap Mahendra
"Kita akan terus mencari donor ginjal, sayang sekali kemarin Kekek tidak menjaga kondisinya padahal ginjalku itu sudah cocok"
"APA!!" kaget Pak Tohar.
"Kamu yang mendonorkan ginjalmu?"
Mahendra menunduk, dia tak berani menatap mata Ayahnya.
"Katakan nak, apa kamu menjual ginjalmu hanya untuk mendapat harta semua ini"
"Demi Allah Ayah, aku ikhlas membantu Kakek Joni"
"Maaf tanpa sepengetahuan kalian orang tuaku, saat itu nyawa Kakek Joni harus di selamatkan, aku tak memikirkan siapa pun bahkan diriku ini Ayah"
"Jika Kakek Joni memberiku harta bahkan jabatan, itu bukan permintaanku Ayah" ucap Mahendra sambil bersimpul di kaki Ayah dan Ibunya.
"Maafkan anakmu ini, aku mengambil keputusan tanpa sepengetahuan kalian, aku minta maaf"
"Tidak nak, kamu tak bersalah. Jika pada saat itu kondisinya seperti itu, ayah juga pasti akan melakukan seperti apa yang kau lakukan nak"
"Kami malah bangga, Anakku menjadi orang yang dermawan sepertimu"
"Trima kasih Ayah, trima kasih Ibu" ucap Mahendra sambil memeluk kedua orang tuanya.
"Trima kasih cucuku, kamu sudah menolong Kakakku.
Mereka semua akhirnya perpelukan.
TBC...