MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 72



Rutinitas sedekah yang di lakukan Atika dan Mahendra tak terasa sudah sebulan ini.


Atika pun tiap hari bangun sholat tahajud tanpa putus.


Hari ini mereka akan menghadiri pernikahan Tejo dengan Ambar.


Atika pun sudah berdandan dengan cantiknya sedangkan Mahendra tampak elegan dengan tuxedo yang di pakainya.


"Alhamdulillah ya, By. Akhirnya Tejo dan Ambar bisa berjodoh"


"Iya, Ummy. Semoga mereka selalu bahagia"


"Iya, Sudah siap sayang?"


"Sudah, ayo kita berangkat, apa semua sudah bersiap?"


"Ibu dan Ayah sudah siap, hanya Kakek Joni dan Kakek Rangga sepertinya tidak ikut karena tak enak badan"


"Apa Kakek sudah minum obat?"


"Sudah sayang, Ummy sudah kasih obat untuk penurun panas"


"Syafakallahu, semoga Kakek Joni dan Kakek Rangga cepat sembuh"


"Aamiin"


Mereka pun bergegas ke tempat resepsi pernikahan Tejo dan Ambar.


Kedua orang tua Mahendra dan Mahendra bersama Atika memasuki gedung resepsi yang megah.


Mereka memasuki ruangan, pada saat yang sama terlihat kedua orang tua Atika juga menghadiri undangan dari kedua orang tua Tejo.


"Mamah, papah. Kok nggak kasih tau kalau mau ke sini? kalau tau kami singgah di rumah dan jalan ke sini bersama-sama" ucap Atika.


"Nggak papa nak, kebetulan mamang juga yang bawa mobil kok"


"Ayo kita masuk ke dalam"


Bu Nanda dan Pak Tohar menghampiri kedua orang tua Atika.


Ibu Nanda dan Ibu Tantri saling berpelukan dan saling cipika cipiki, dan Pak Tohar dan Pak Tri saling berjabat tangan.


Mereka bercengkerama bersama, karena semenjak pulang dari umroh mereka tak pernah bertemu lagi.


Mereka pum duduk di antara para tamu yang hadir.


Tak lama terlihat kedua orang tua Aditya dan Aditya membawa anaknya dan Sonia, bahkan terlihat Sonia telah berbadan dua lagi.


Mereka pun berbaur dengan para tamu juga.


Dari kejauhan Ibu Sofia melihat kedua orang tua Atika.


"Yah, bukannya itu mantan besan kita"


"Mana," ucap Pak Saputra.


"Itu, tuh ada Atika dan suaminya juga ada"


"Ayo kita menghampiri mereka"


Mereka pun menghampiri kedua orang tua Atika. dan menyapanya.


"Pak Tri dan Bu Tantri, kalian juga hadir di sini"


"Eh, ada juga nak Atika dan nak.. " Ibu Sofia seperti melupakan nama suaminya Atika.


"Mahendra tante" ucap Atika.


"Hai Sonia, hai Aditya" sapa Atika.


"Oh, iya Mahen" cela Ibu Sofia.


"Hai juga," ucap Sonia sambil tersenyum.


"Iya kami di undang orang tuanya Ambar, kebetulan Ambar anaknya kolega kami" jelas Ibu Tantri.


"Oh," ucap Ibu Sofia sambil memperhatikan Atika yang belum menggendong anak ataupun lagi berbadan dua.


"Kalian kan sudah menikah lama, sepertinya sudah setahun lebih, anak kalian mana?"


"Apa kalian menunda mempunyai anak?" tanya Ibu Sofia tanpa menjaga perasaannya Atika atau pun Mahendra.


"Lihatlah anak mantu saya, tinggal menunggu waktu lagi anak keduanya akan hadir" pamer Ibu Sofia memperlihatkan perut buncit Sonia.


"Alhamdulillah ya Tante, Allah cepat mempercayakan Sonia dengan Malaikat kecil lagi"


"Kami tak menunda kehamilan, hanya saja belum di kasih rezeki dari Allah"


"Saya sama Atika juga kan nikah tanpa adanya pacaran Tante, jadi kami menganggapnya kami masih menikmati hari-hari pacaran kami berdua dahulu" ucap Mahendra sambil memeluk pinggang Atika dengan posesifnya.


"Iya tapi pacaran juga jangan lama-lama.. hahaha, bisa-bisa tua malah tak punya keturunan loh" sinis Aditya kepada Mahendra.


"Kami selaku orang tua Mahendra, jika Atika tidak punya keturunan pun tak masalah. Bisa mengangkat anak dari anak yatim saja juga tidak apa-apa." jawab Pak Tohar.


"Masak kita tak punya keturunan dari darah daging sendiri sih" sinis Ibu Sofia lagi.


"Seperti Mahen dengan Kakek Joni, walau tak ada hubungan darah tapi perlakuannya sama" jawab Telak Ibu Nanda yang geram menjatuhkan kondisi anak mantunya.


"Mau itu keturuan Atika dan Mahen atau tidak kami tetap akan menyayanginya nanti" lanjut Ibu Nanda.


"Bu Tantri, coba saja dulu Atika menikah dengan Aditya. Pasti anaknya sekarang lucu-lucu dan kita tak khawatir lagi dengan penerus perusahaan kita nanti" ucapan Bu Sofia membuat Sonia sedih.


"Semua itu sudah suratan takdir dari Allah Bu, jodoh seseorang siapa yang akan tau"


"Beruntung Atika tidak jadi dengan Aditya" lanjut Ibu Sofia dengan wajah melengkungkan senyumam sinis.


"Saya juga bersyukur tidak berjodoh dengan Aditya kok Tante, saya malah bersyukur punya suami seperti Mahendra, yang sabar dan menerima saya apa adanya. Apalagi dapat mertua seperti Pak Tohar dan Ibu Nanda itu berkah bagi saya." jawab Atika dengan mantap.


"Aku juga begitu Tante, bagiku Atika tetap istri yang sempurna" ucap Mahendra.


Ibu Sofia terdiam.


Atika dan Mahendra tidak ingin kedua orang tuanya di rendahkan karena mereka belum memiliki keturunan.


"Sudah Bu, tak enak di lihat orang banyak. Yang sudah berlalu di lupakan saja. Mahen dan Atika juga sudah bahagia dengan pilihan mereka, saya pun begitu" ucap Sonia menenangkan kedua mertuanya dan suaminya.


"Ya sudah kami duduk di sebelah dulu" jawab sinis Ibu Sofia.


"Silahkan Tante" ucap Mahendra dengan senyuman.


"Aku lebih beruntung tak dapat besan sepertinya pah" bisik Ibu Tantri kepada Pak Tri.


"Iya papah juga sama"


Akhirnya mereka tersenyum bersama.


Jalan hidup seseorang itu tak ada yang tau. semuanya telah tercatat di Lauhulmahfuz.


Jadi apapun yang terjadi syukuri, nikmati dan harus selalu bersabar.


Kedua orang tua Atika mau pun kedua orang tua Mahendra melupakan apa yang terjadi barusan.


Lebih baik mereka memperlihatkan kebahagiaan agar suasana pernikahan penuh dengan kebahagiaan.


Atika begitu sedih dengan apa yang terjadi barusan. Dia begitu sedih dan langsung menetes air matanya.


Mahendra yang melihat Atika menangis langsung merangkulnya dan mengusap air matanya Atika. kepalanya Atika terasa pusing.


"Sudah, tak perlu memikirkan kata-kata mereka. Kita sabar saja, mudah-mudahan kita akan segera di beri keturunan.Ayo kita pulang saja, kamu terlihat sangat pucat sayang"


Untuk menghilangkan kesedihan, Mahendra mengajak Atika bertemu Tejo dan Ambar di pelaminan.


Mereka pun langsung berfoto bersama.


"Selamat ya Tejo, semoga menjadi sakinah mawaddah warahmah sampai maut memisahkan dan cepat di beri momongan"


"Aamiin, ayo cicipi dulu makanan seadanya." ucap Ambar


"Sudah Ambar, kami sudah mencicipinya"


"Kami ingin berpamitan, sepertinya Atika masuk angin, lihatlah wajahnya sangat pucat" pamit Mahendra.


"Trima kasih ya, sudah sudi datang di pesta pernikahan sederhana kami ini. Tak seperti pernikahanmu yang megah"


"Ini juga sudah megah kok, maaf aku tak bisa lama-lama ya Tejo"


"Iya tak apa-apa, bawalah Atika pulang saja, jangan lupa berikan obat dan suruh dia beristirahat"


"Trima kasih ya Tejo" ucap Mahendra.


"Iya sama sob"


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Atika dan Mahendra pulang ke rumah lebih dahulu. Mahendra menyuruh pak Sapri menjemput kedua orang taunya karena mereka akan pulang terlebih dahulu.


Atika terbaring lemah di jok mobil. Dia tampak pucat pasi.


"Kita ke Dokter saja ya?"


"Aby ini lupa ya, kalau Aby juga seorang dokter. Aku tak apa-apa. Mungkin aku terlambat makan, akhirnya asam lambungku naik" tolak Atika.


"Aku hanya ingin langsung pulang ke rumah dan ingin berbaring saja sayang"


"Baiklah sayang"


Mobil mereka pun melaju sempurna menuju ke mansion Mahendra.


TBC...