MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 35



Mahendra bersyukur Kakek Rangga menyuruh Fely tidak tinggal lagi bersamanya.


Setelah penyelesaian malam tadi, Mahendra sangat berat menutup matanya. Baginya jika saja dia tak bermimpi bersama Atika, mungkin dia tak akan berbuat seperti itu pada Fely.


Tapi Mahendra bersyukur karena Allah masih melindunginya dari fitnah. Malam sudah semakin larut tapi matanya belum bisa terpejam.


Segera Mahendra mengambil air wudhu dan sholat malam, agar hatinya tenang dan memohon perlindungan Allah. Setelah sholat tahajud di lanjutkan dengan membaca Al-qur'an agar hatinya menjadi tenang.


Sambil menunggu sholat shubuh tak lupa Mahendra berzikir. Baginya kejadian malam tadi sungguh sangat memalukan baginya.


Setelah sholat shubuh barulah Mahendra bisa menutup matanya.


Pagi ini kegiatan untuk menyambut keberhasilannya akan di adakan.


Atika sudah bersiap menuju Puskesmas, jam tangan menunjukkan Pukul 8 pagi tapi yang di tunggu belum juga datang. Rasa khawatir di dadanya, Atika takut terjadi sesuatu pada Mahendra.


Atika langsung mengambil handphonenya dan menekan nomor Mahendra. Suara nada dering terdengar tapi tak kunjung di angkat.


Atika semakin khawatir, pikiran buruknya pun semakin berputar-putar di benaknya.


"Ada apa dengan Mahendra, biasanya nggak pernah telat bahkan selalu on time. tapi kenapa sekarang ya?" batin Atika bertanya-tanya.


Atika pun langsung menelpon Fredy dan ternyata Fredy lagi sakit. Mungkin karena Mahendra menghajarnya terlalu keras sehingga dia sampai tak berdaya.


Tak lama hpnya berbunyi nyaring ternyata Mahendra yang menelponnya. Segera Atika mengangkatnya dan langsung bertanya apa jadi berangkat bareng atau tidak.


"Jadi kok" jawab Mahendra.


"Trus kenapa terlambat, saya udah menunggu loh dari tadi pagi"


"Maaf, saya barusan tidur habis shubuhan tadi, jadi masih ngantuk sampe sekarang"


"Kok bisa?" tanya Atika.


"Nanti di Puskes saja saya jelaskan ya, sekarang saya mandi dulu. Maunya sih di mandiin tapi karena belum sah terpaksa di tunda dulu.hehehehe" tawa nyaring Mahendra terdegar jelas.


"Gombal, ah. Ya sudah saya tutup dulu telponnya. Saya tunggu ya jemputannya"


"oke, daaa" ucap Mahendra sambil memutuskan sambungan telponnya.


Atika tersenyum dan merasa lega ternyata Mahendra baik-baik saja. Tak sampai 30 menit ternyata Mahendra sudah berada di depan rumah pak RT.


"Kok cepat amat"


"Saya tak mau bidadariku menunggu lama"


Atika tersipu malu dan segera berbocengan di motor Mahendra. 15 menit kemudian mereka sampai juga di depan Puskesmas.


Mahendra sangat senang melihat pipi Atika yang merona setiap kali di godanya. Untuk itulah Mahendra sering sekali menggoda Atika.


Ternyata Dokter Adam, Dokter Sinta dan Dokter Antony sudah berada di Aula Puskesmas menunggu kedatangan Mahendra dan Atika.


"Maaf, kami datangnya agak telat Dokter" ucap Mahendra setelah bertemu Dokter bertiga.


"Tak masalah, aula juga masih di tata dengan rapi kok" ucap Dokter Sinta.


"Kalo begitu saya ke dalam dulu Dokter, mau lihat persiapannya" ujar Atika.


"Baiklah" jawab mereka serempak.


Atika pun langsung menuju ruang aula dan melihat apa saja yang masih kurang bahkan yang kurang pas dengan seleranya Mahendra.


Akhirnya segala persiapan telah selesai dan para tamu undangan mulai berdatangan.


Tak lupa Kakek Rangga bareng Bi Asih dan Pak Rt bareng istrinya serta Bu Komar dan suaminya.


Semua ingin merasakan ueforia acara Mahendra dan Atika yang telah berhasil walau belum selesai masa KKN tapi sudah menjalankan dengan baik.


Sesi acara demi acara berjalan dengan lancar. Pada saat acara ramah tamah Mahendra ingin mempersembahkan lagu untuk Atika.


"Baiklah, mari kita tampilkan Calon Dokter Muda Mahendra ingin mempersembahkan lagu untuk kita semuanya" ujar MC.


Mahendra pun naik ke atas panggung dan mengambil microphone.


"Trima kasih atas kesempatan yang di berikan kepada saya. Saya bersyukur pada Allah karena di kelilingi orang-orang yang baik melebihi saudara, dan saya bersyukur di dampingi seorang sahabat yang sangat baik. Lagu ini saya persembahkan untuknya"


Musik pun berdenting lagu Zigaz Sahabat jadi cinta.


Bulan terdampar di pelataran


Hati yang temaram


Matamu juga mata-mataku


Ada hasrat yang mungkin terlarang


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Kudapati diri makin tersesat


Saat kita bersama


Desah napas yang tak bisa dusta


Satu kata yang sulit terucap


Hingga batinku tersiksa


Tuhan, tolong aku jelaskanlah


Perasaanku berubah jadi cinta


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba persatukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Tak bisa hatiku menafikan cinta


Karena cinta tersirat bukan tersurat


Meski bibirku terus berkata tidak


Mataku terus pancarkan sinarnya


Apa yang kita kini tengah rasakan


Mengapa tak kita coba persatukan


Mungkin cobaan untuk persahabatan


Atau mungkin sebuah takdir Tuhan


Prok... prok.. prok.... Semua bertepuk tangan.


"Trima kasih untuk semuanya" ucap Mahendra sambil menyerahkan microphone pada MC.


Mc pun meminta Atika untuk mempersembahkan sebuah lagu Mahendra.


"Aku tak pandai bernyanyi" ucap Atika menolak keinginan MC.


"Ayo dong please" hibah Mahendra dengan meminta Atika untuk bernyanyi.


Atika pun terpaksa menerima tawaran MC. Dia pun segera menerima microphone.


"Trima kasih untuk semua, maaf walau suara saya jelek mohon di maklumi ya karena bukan penyanyi juga, hehe" ucap Atika dan mulai mendendangkan lagu.


Musik pun berdenting Lagu Menua Bersamamu terdengar.


Hanya kamu di hatiku yang mampu mengertiku


Menjadikan diriku yang lebih baik


Aku menyayangi kamu


Kamu selalu setia menemani diriku


Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan


Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu


Hah ho


Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan


Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu oh (bersamamu)


Hah


Cinta kita memang tidak semudah yang dibayangkan


Dulu kita saling menyakiti dan hampir menyerah


Tapi kini kita ada tuk saling menyempurnakan


Ku berdoa untuk bisa hidup dan menua bersamamu oh


Hidup dan menua bersamamu


Menua bersamamu semoga saja


Mahendra pun mengambil microphone yang lain, akhirnya mereka berduet.


Semua orang bertepuk tangan melihat keromantisan mereka berdua. Semua orang mendo'akan mereka akan tetap bersatu sampai menjadi halal.


Prok... prok... prok tepuk tangan riuh terdengar setelah mereka berdua berduet. Ada rasa senang tersendiri bagi Mahendra. Seolah-olah lagu itu do'a untuk mereka ke depannya.


"Semoga saja Ya Rabby" batin Atika dan Mahendra.


TBC.....