
POV. Mahendra.
Hari ini tepatnya 6 bulan umur anakku.
Melihat tingkah mereka aku menjadi gemes
Aarash begitu aktif, sedangkan Arsyla masih tetap sama si putri tidur.
Aku berniat membuat aqikah untuk ketiga anakku.
Semuanya telah aku sediakan. Aarash dan Aariz masing-masih 2 buah kambing sedangkan untuk Arsyla 1 buah kambing.
Aku sengaja mengajak orang-orang di Panti Asuhan Mufidah dan Ibu-ibu hamil yang dulu aku beri sedekah sehingga aku dan Atika bisa menjadi kedua Orangtua yang lengkap.
"Nak, itu ada kambing yangs sudah datang" ucap Kakek Joni.
"Iya Kek"
Kakek Joni telah sehat sempurna, Aku memberi hadiah Kakek Joni donor ginjal dari seseorang yang telah menjual ginjalnya untuk kebutuhan kuliah anaknya.
Ternyata oprasi Kakek Joni berhasil dengan baik dan Kakek Joni rutin mengkonsumsi obat pemulihan.
Atika telah pulih dan begitu pula dengan Kakek Joni, sehingga besok aku berniat mengadakan Aqikah untuk ketiga anakku.
Aku melangkah ke depan rumah, ku lihat 5 kambing yang sehat dan gemuk telah di gembalakan di samping mansion.
Kulihat Kakek Joni dan Kakek Rangga ada di beranda. Pak Mahmud Art kami yang bagian dapur sedang mengembalakan kambing-kambing untuk aqikah ke tiga anakku.
Aku pun langsung menghampiri keduanya.
"Mahen, bagaimana persiapannya Aqikah anakmu? yang motong pak ustad maulana sudah di undangkah?" tanya Kakek Joni beruntun.
Aku tersenyum, aku bersyukur Kakek Joni sangat antusias dengan acara ke tiga buah hatiku.
"Sudah kek, aku sudah persiapkan seminggu yang lalu, untuk pak ustad yang motong kambing juga, kata beliau dia besok pagi akan datang" ujarku dengan lembut.
"Oh, syukurlah. Dan untuk undangan bagaimana?" tanya Kakek Joni lagi.
"Sudah juga, panti asuhan, ibu-ibu hamil, Aditya sekeluarga, Tejo sekeluarga, dan kedua Mertuaku juga sudah saya beri tahu"
"Alhamdulillah, Kakek kira kamu tak mengajak orang Panti Asuhan"
"Kalau itu harus wajib kek" imbuhku.
"Kambing yang kamu beli juga besar dan sehat"
ucap Kakek Joni
"Iya Kek, kebetulan aku sengaja membeli di peternakan kambing yang cukup terkenal"
"Kamu ini, mempersiapkan aqikah anakmu sendiri. Kakek kok tidak di ajak" ucap Kakek Rangga.
"Aku tau Kakek Rangga sibuk di perusahaan, makanya kebetulan di rumah sakit tidak begitu padat kegiatan aku, makanya aku mengurusnya sendiri kek" jawabku dengan memberi pengertian.
Memang dari dulu biasanya Kakek Rangga dan Kakek Joni yang sering membantuku. Tapi aku sadar, tenaga mereka makin hari semakin kurang fit. Untuk itu aku lebih baik mengurusnya sendiri.
"Kapan kamu resign di rumah sakit dan fokus di bisnis di perusahaan Mahen?" tanya Kakek Rangga.
"Aku masih mengambil kuliah bisnis kek, Nanti setelah aku lulus. Aku janji akan fokus di perusahaan kita" ucapku memberi pengertian kepada Kakek Rangga.
"Kakek sudah capek nak, semoga ke tiga buah hatimu bisa meneruskan perusahaan nantinya"
"Hehehe, itu masih lama kek," ucapku sambil memeluk Kakek Rangga.
Aku tau fisiknya sudah tak seperti dulu, apalagi jika asmanya akan kambung.
"Kakek yang sabar ya?" ucapku menguatkan Kakekk Rangga.
"Baiklah, tapi jika libur kerja atau kuliah, alangkah baiknya kamu sering-sering ke perusahaan"
"Baiklah Kek, aku akan usahakan"
Kami bertiga pun menghampiri kambing yang ada di samping mansion, sambil sesekali memberi makan kambingnya.
Pov. Author.
Keesokan harinya.
Mahendra, Kakek Joni, Kakek Rangga, Pak Tohar, Pak Tri dan Art yang laki-laki sedang membantu Ustad Maulana memotong 5 kambing.
Setelah selesai di potong. Art yang lainnya membersihkan dan memotong daging kambing menjadi bagian-bagian kecil.
Ini pengalaman pertama bagi Mahendra. Mahendra sangat bersyukur semuanya berjalan dengan lancar.
Sore harinya.
Semua tamu undangan telah datang. Aditya dan Sonia pun turut hadir.
Tak lama Tejo dan Ambar pun datang menghampiri.
"Bagaimana, sudah ada tanda-tanda belum nih" ucap Mahendra kepada Tejo.
"Sepertinya belum, kata dokter karena Ambar sempat Kb jadi tingkat kesuburannya sangat minim"
"Jangan patah semangat ya?" ucap Atika yang sedang menggendong Arsyla.
"Iya" ujar Tejo dan Ambar serempak.
Aditya dan Sonia pun menghampiri Mahendra.
"Anakmu sangat tampan dan cantik" ucap Sonia sambil mencium Arsyla di gendongan Atika.
"Trima kasih Sonia, anakmu Edward juga tampan dan Nadia juga cantik kok" ujar Atika.
"Siapa namanya Atika?" tanya Aditya.
"Yang di gendon Ibunya Mahendra yang tua Aarash, yang di gendong Ibuku Aariz dan yang cantik ini Arsyla" jelas Atika kepada Aditya.
"Wah, namanya bagus" imbuh Ambar.
Kami pun bercengkerama sambil menbicarakan tingkah anak-anak yang lucu.
Atika melihat Ambar nampak sedih. Ambar menyesal mengapa dulu berfikir menunda momongan.
Acara pengajian dan potong rambut pun telah di lakukan dengan hikmat.
Semua orang antusias memotong rambut si kembar Aarash, Aariz dan Arsyla.
Anak-anak Atika dan Mahendra tetap tenang dan tidur di dalam gendongan Ibunya Mahendra, Ibunya Atika dan Atika sendiri.
Mahendra dan Atika mengucapkan syukur. semuanya berjalan dengan hikmat dan lancar.
Pak Saputra dan Ibu Sofia tidak hadir karena ada di LA.
Aditya dan Sonia masih tetap tinggal di Indonesia.
Setelah selesai pengajian tak lupa Mahendra dan Atika membagi-bagikan bingkisan kepada anak-anak panti asuhan dan ibu-ibu yang dulu sempat di kasih sedekah oleh Atika dan Mahendra.
Mereka semua mendo'akan ke tiga buah hati Mahendra.
"Selamat ya Mahendra dan Atika, semoga anak-anak kalian menjadi anak soleh dan soleha menjadi kebanggaan kalian sekeluarga" ucap Ibu yang menggunakan baju hijau.
"Aamiin. Trima kasih atas do'anya bu, berkat do'a kalian juga keinginan kami di kabulkan Allah SWT"
Semua satu-satu telah berpamitan kepada Mahendra dan Atika.
"Kami pamit pulang dulu ya Mahen, Do'akan kami juga cepat di beri momongan" ucap Tejo.
"Kami selalu mendo'akan kalian agar di beri momongan dan bahagia selamanya" ujar Mahendra menimpali.
"Jangan patah semangat ya Ambar" ucap Atika mengingatkan.
"Iya, Atika. Kami pulang dulu ya"
"Trima kasih atas hadiahnya."
"Sama-sama"
Tejo dan Ambar bergegas meninggalkan ruangan.
Tak Lama Aditya dan Sonia pun pamit.
"Kami juga pamit ya Mahen, Atika"
"Trima kasih kalian sudah datang dan memberi hadiah untuk ke tiga buah hatiku" ujar Mahendra.
"Iya sama-sama" jawab Sonia.
"Sekali-kali main ke sini Sonia" imbuh Atika.
"Iya, In Syaa Allah jika bosan di rumah, aku akan ke sini"
"Aku tunggu ya"
"Kami pergi dulu ya"
"Iya, Hati-hati di jalan"
Mereka pun langsung pergi meninggalkan mansion.
Rumah yang ramai seketika tinggal keluarga Mahendra dan Atika saja.
Kakek Joni menggendong Aarash, Kakek Joni berharap Aarash bisa menjadi penerus di perusahaannya.
TBC..