
Di tengah perjalanan, Atika merasakan kram di perutnya.
Tapi Atika menganggap, mungkin ini karena kecapean jalan-jalan tadi di taman.
Mereka pun menuju ke mansion Kakek Joni.
"Sayang, mukamu kelihatan pucat. Apa ada yang kamu rasakan"
"Iya By, entah mengapa perutku agak kram"
"Mungkin kamu kecapean tadi habis muter di taman"
"Kita kan tidak lama jalan-jalannya by"
"Ya udah, kamu istrahat saja. Jangan lupa minum vitamin yang dari dokter"
Atika pun memejamkan matanya sambil menunggu kendraan Mahendra sampai di mansion Kakek Joni.
Mahendra mengusap pucuk kepala Atika. Dia berdo'a semoga kandungannya baik-baik saja bahkan melahirkan dengan selamat.
Mahendra pun mengendarai mobilnya dengan hati-hati.
Setelah sampai di mansion. Mahendra menggendong Atika.
Walau berat badan Atika naik 10 kg tak membuat Mahendra kesusahan menggendongnya.
Mahendra yang dulunya jadi kuli panggul pasti bisa mudah menggendong Atika.
Ibu Mahendra yang melihat mereka lalu menghampirinya.
"Nak, baringkan Atika di kamar bawah saja"
"Tidak apa bu, aku naik lift saja. Aku minta tolong tekan liftnya bu"
"Baiklah nak"
Mereka pun memasuki lift menuju ke lantai 3 di kamarnya Mahendra.
Semenjak Atika hamil 6 bulan, lift ini sudah di bangun Kakek Joni.
Kakek Joni ingin kenyamanan Atika. Apalagi pas acara tujuh bulanan Atika, Agar Atika tidak kecapean naik turun tangga lagi.
Dilantai 3 memang khusus tempat Atika dan Mahendra.
Kakek Joni dan Kakek Rangga memilih di bagian lantai 2 sedangkan Ayah dan Ibunya Mahendra dan para Art di bagian lantai bawah.
Ting!
Mahendra dan Ibunya langsung melangkah keluar dari lift.
Mahendra masih menggendong Atika ala bridal style. Atika masih nyaman tertidur di gendongan Mahendra.
Ibunya Mahendra pun membukakan pintu kamar Mahendra.
"Ibu ke bawah dulu ya nak, istrahatlah. Nanti setelah makan malam malam sudah siap, Ibu sms atau beritahu lewat interkom saja"
"Nggak usah bu, nanti kalau Atika bangun kami akan langsung ke bawah saja"
"Baiklah nak, Ibu ke bawah dulu"
"Makasih ya bu"
Mahendra mengantarkan Ibunya sampai ke depan lift dan sampai Ibunya masuk ke dalam lift.
Mahendra pun membaringkan tubuhnya sambil memeluk perut buncit Atika.
Mahendra perlahan-lahan mengelus calon buah hatinya.
"Yang sehat ya nak, Aby sudah tak sabar menunggu kalian lahir ke dunia"
Tak lama Mahendra pun tertidur di samping Atika.
***
Malam harinya Atika terbangun dengan rasa mules di perutnya.
"Aww... sakit" jerit Atika
Mahendra terbangun.
"Ada apa sayang"
"Aby, sepertinya sudah waktunya mau melahirkan"
"Apa?"
Mahendra pun panik dan bingung harus melakukan apa.
"Sayang, Dokter kan sudah bilang jangan panik"
"Tarik nafas dan buang nafas perlahan-lahan" ingatkan Atika ke pada Mahendra.
Ini pengalaman pertama Mahendra, wajar Mahendra masih bingung dengan kondisi sekarang ini.
"Sayang, ambil tas yang ada di walk in closet. Aku sudah menyiapkan segalanya."
"Telpon Art lewat interkom. suruh naik ke atas untuk membawa barang-barang" jelas Atika ke pada Mahendra.
Mahendra yang panik akhirnya menuruti pesan Atika.
Atika hanya menarik nafas perlahan-lahan. Dia berharap bisa melahirkan secara normal.
Tring... tring..
Interkom di ruang Art berbunyi.
Bi ijah langsung mengangkatnya.
"Bi, bibi naik ke atas lantai 3, Atika sepertinya mau melahirkan, tolong bantu saya membawa tasnya"
"Oh, iya tuan muda saya langsung kesana"
"Cepet ya Bi"
"Baik Tuan Muda" ujar bibi sambil meletakkan gagang telpon.
Bi Ijah langsung menuju lift. Orang tua Mahendra yang melihat Bi ijah langsung bertanya.
"Sepertinya Nyonya Muda mau melahirkan bu"
"Ayo cepat bi"
Mereka pun bergegas ke atas lantai 3.
Mahendra pun sudah memberitahukan kondisi Atika kepada kedua orang tua Atika dan Kakek Joni.
Kakek Joni dan Kakek Rangga menunggu kedatangan mereka di lantai bawah.
Tak lama Bi Asih menenteng tas besar di pundaknya, dan terlihat Mahendra sedang menggendong Atika di susul Ibunya Mahendra di belakang.
"Ayo, Pak Sapri sudah menunggu di bawah" ujar Kakek Joni.
"Biar Mahen bawa mobil sendiri kek, Kakek sama Pak Sapri ya"
"Baiklah nak"
Mereka semua pun masuk ke dalam mobil.
Mahendra membawa mobil sendiri di dampingi kedua orang tuanya, sedangkan Kakek Joni dan Kakek Rangga masuk ke dalam mobil yang di bawa Pak Sapri.
Mahendra bergegas melajukan mobilnya ke Klinik Masa Depan punyanya Atika.
Alat-alatnya juga telah lengkap bahkan lebih lengkap dari rumah sakit.
Dokter Sarah sudah menunggu ke datangan mereka.
Sebelum ke klinik Mahendra telah menghubungi Dokter Sarah agar stanby di klinik.
Dokter Sarah yang tinggal di dekat klinik pun telah menyiapkan segala keperluan Atika termasuk Alat Oprasi Ceasar.
15 menit kemudian, mereka telah sampai di klinik Atika.
Mahendra langsung menggendong Atika masuk ke dalam ruangan di dampingi Dokter Sarah, Bidan dan Perawat.
Dokter pun langsung mengecek pembukaan Atika.
"Masih pembukaan 3, kemarin sudah di USG Dokter Anita kan"
"Iya Dokter, katanya 1 sudah posisi di jalan lahir dan yang keduanya masih sungsang"
"Kalau begitu, kita lakukan ceasar saja"
"Baiklah dokter"
Mereka menyiapkan Oprasi untuk Atika. Kebetulan Atika yang belum makan dari siang sampai malam maka oprasinya bisa langsung di lakukan.
"Shhhh... " ringis Atika.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi malaikat kita akan hadir. Kamu pasti kuat"
Atika hanya mengangguk, rona bahagia terpancar dari wajah cantik Atika.
Atika tak sabar ingin melihat 3 buah hatinya yang akan hadir di tengah-tengah mereka.
Mahendra telah memakai baju biru, begitu juga Atika.
Mahendra mendampingi Atika dan tak mau jauh dari Atika.
Tangannya Mahendra pun mengenggam tangan Atika memberi kekuatan untuk istrinya.
"Bismillah sayang"
Kecupan sayang Mahendra berlabuh di dahi Atika.
Tak lama Dokter Anita datang. Dokter Sarah dan Dokter Anita mendampingi Atika melahirkan di dampingi bidan dan perawat yang lain.
"Saya suntik obat biusnya ya Dokter,"
Tak lama Atika tidak merasakan apapun di bagian perut dan pinggangnya, namun bisa melihat apa aktifitas yang di lakukan dokter melalui pantulan kaca yang ada di atas.
Mau berbicarapun seperti tak bisa, Mahendra hanya terus berdo'a dan mengecup wajah Atika.
Oprasi pun mulai di lakukan.
Owekk... owek.. owek..
"Alhamdulillah" ucap Mahendra.
"Anak pertama laki-laki" ucap Dokter Sarah.
Owek... owek...
"Anak keduanya laki-laki juga" sambung Dokter Anita.
Perawat pun mengambil anak-anak Atika dan langsung di bersihkan dan di beri Pelindung tubuhnya.
Detak jantung Mahendra berdetak sangat kuat, menunggu kelahiran anak ketiganya.
Sekitar 10 menit belum juga terdengar suaranya.
Mahendra semakin cemas.
Dokter Sarah dan Dokter Anita berusaha, agar kelahiran anak ketiganya akan lancar. Ada dililitan di tubuhnya.
Tak lama terdengar.
Owek... owek... oweek..
Sangat kencang.
"Selamat ya, akhirnya anak ketiganya perempuan cantik"
"Alhamdulillahirobbil'alamiin" imbuh Mahendra dan langsung sujud syukur.
Mahendra pun menyium seluruh wajah Atika, meluapkan kebahagiannya.
"Silahkan di azani anak-anaknya ya, semuanya sehat kondisinya"
Mahendra melihat ketiga buah hatinya, ini adalah pengalaman yang tak akan pernah di lupakan bahkan akan selalu menjadi kenangan terindahnya.
TBC...