
Setelah Kedua Orang Tua Mahendra mengetahui ginjalnya telah di donorkan kepada Kakek Joni, mulai malam itu kedua orang tuanya lebih memperhatikan kondisi Mahendra.
"Nak, apa Atika sudah mengetahui jika kamu telah mendonorkan ginjalmu kepada Kakek Joni kah?"
"Sudah Bu, dan Atika tidak mempermasalahkan soal donor itu"
"Syukurlah nak, jika kamu sudah menikah, apa pun yang terjadi padamu, ibu mohon kamu harus terbuka dengan istrimu, agar kamu bisa saling mengerti dan berbahagia selamanya"
"Baik, bu"
"Istrahatlah nak, jaga kondisi dirimu. Hidup dengan satu ginjal resikonya sangat berat"
"Iya bu, sepertinya Ibu lupa kalau anak ibu ini seorang dokter"
"Hmm.. benar juga, terkadang Ibu lupa" ucap Ibu Nanda sambil mengusap pucuk kepala Mahendra.
"Mahendra sayang sama Ibu"
"Ibu juga sayang, tidurlah nak"
Mahendra pun segera masuk ke dalam kamarnya. Dia pun segera mengambil air wudhu dan segera tidur.
"Barang siapa tidur di malam hari dalam keadaan suci (berwudhu) maka Malaikat akan tetap mengikuti, lalu ketika ia bangun niscaya Malaikat itu akan berucap, "Ya Allah ampunilah hamba mu si fulan, karena ia tidur di malam hari dalam keadaan selalu suci", (HR. Ibnu Hibban & Ibu Umar r.a)
Untuk itu Mahendra sering tidur dalam keadaan bersuci.
Keesokan Hari.
Mahendra segera bangun mengerjakan Sholat shubuh bareng keluarganya dan kedua Kakeknya seperti biasa di lakukan setiap hari.
Hari ini dia akan pergi menjemput Atika lagi seperti biasanya.
Drreet..
Mahendra melihat ada panggilan Atika.
"Assalamu Alaikum sayang"
"Waaikum salam Abi"
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Mahendra.
"Kamu sudah siap-siap?"
"Alhamdulillah sudah, ini baru mau ke rumahmu, ada apa?" tanya balik Mahendra.
"Baiklah, aku tunggu di rumah,"
"Ayo katakan, ada apa?"
"Singgah bubur ayam ya, sebelum kamu mau menjemputku"
"Apa kita tidak sarapan di sana sama-sama"
"Oh, iya baiklah. Kalau begitu aku tunggu jemputanmu ya"
"Iya sayangku"
"Assalamu alaikum, By"
"Waalaikum salam sayang"
Sambungan telepon mereka terputus, Mahendra segera pamit kepada Kedua Orang Tuanya, Kakek Joni dan Kakek Rangga.
"Kek, saya pergi dulu ya"
"Kok tidak sarapan dulu bareng kami nak?" Tanya Kakek Joni.
"Maaf kek, aku sudah janjian sabu bareng Atika"
"Sabu?," tanya Kakek Rangga keheranan.
"Kamu jangan mengkonsumsi barang terlarang nak!" Ujar Ayahnya Mahendra.
Mahendra hanya tersenyum, wajar kedua orang tuanya tak tau apa itu sabu istilah orang sekarang.
"Sarapan bubur, ayah. Bukan barang terlarang kok"
"Oh, syukurlah"
"Mahendra jalan dulu kek, assalamu alaikum"
Mahendra pun segera salim kepada semua dan bergegas ke rumahnya Atika.
Setelah sampai di rumahnya Atika, ternyata Atika telah menunggunya di depan teras rumahnya.
Atika menghampiri mobil Mahendra dan segera masuk ke dalam mobil.
"Apa tak ada yang di lupa?"
"Tak ada deh, aku sudah memeriksanya"
"Oke,let's go, meluncur"
Atika tersenyum mendengar kata-kata Mahendra.
"Sabunya mau di mana?" tanya Mahendra.
"Yang dekat lapangan saja"
"Baiklah"
Mobil Mahendra pun melaju ke arah lapangan, dia pun mencari gerobak sabu.
"Yang, di sana saja ya?" tawar Mahendra.
Mahendra memberhentikan mobilnya di samping gerobak sabu.
Mereka pun turun dari mobil dan mencari tempat duduk yang bisa mereka duduki.
Kebetulan masih ada bangku yang kosong sehingga mereka tak antri lagi.
Walaupun Mahendra sudah mendadak kaya, tapi dia tetap mau singgah di tempat seperti itu.
Tak ada yang berubah dengan Mahendra, dia tetap Mahendra yang dulu, walau keadaannya berubah mendadak kaya tapi dia tetap berbesar hati.
"Mang, sabunya 2 ya, minumnya teh anget juga 2"
"Siap pak dokter" ucap Abang penjual bubur.
Mereka berdua berbaur dengan pembeli yang lain, tak ada yang berubah dari Atika dan Mahendra.
"Ini pak dokter dan bu dokter"
"Trima kasih mang" ucap Atika.
Mereka pun sarapan bubur.
"Oh, sayang. Aku lupa kasih tau, semalam aku dan keluarga besar berbincang-bincang tentang pernikahan kita. Nah, kedua orang tuaku mengusulkan bagaimana kalau acaranya di buat di mansion Kakek Joni saja. Setelah Kakek Joni menjadi saksi pernikahan kita, maka kakek bisa beristirahat dan para tamu juga bisa sekaligus menjenguk Kakek Joni. Bagaimana menurutmu sayang"
"Kalau aku, apa menurut Aby itu baik lebih baik kita dengarkan orang tua Aby saja. Jadi aku setuju, agar kita tidak sewa tempat juga dan uangnya bisa untuk sekaligus ngundang anak yatim dan para panti jompo biar kita sekalogus berbagi lagi"
"Alhamdulillah kalau sayang setuju, aku senang jika kamu tidak keberatan"
"Aku tidak akan keberatan, kalau untuk kebaikan kita Aby"
"Aku sangat beruntung punya calon istri sepertimu sayang" ucap Mahendra sambil menggenggam tangannya Atika.
Atika pun tersenyum dan tersipu malu.
Setelah menyelesaikan sarapan, Mahendra pun membayar Abang tukang bubur dengan uang 100rb.
"Kembaliannya di ambil saja mang"
"Tapi ini sisanya cukup banyak"
"Itu rezekinya Amang"
"Trima kasih ya Pak Dokter"
"Iya sama-sama Mang"
Mahendra dan Atika pun bergegas ke rumah sakit Atika terlebih dahulu.
Setelah sampai di depan rumah sakit, Atika pun turun dari mobil.
"Apa nggak ada yang di lupakan?"
"Enggak ada kok"
"Iya, sekarang mungkin nggak ada, besok-besok jangan lupa salim sama calon suami"
"Eh, iya lupa."
Atika tersenyum dan segera masuk ke dalam mobil lagi dan menyalim tangannya Mahendra.
Setelah itu dia turun dari mobil.
"Assalamu alaikum"
"Waalaikum salam sayang, hati-hati bekerja ya?" ucap Mahendra memperingati Atika.
"Iya sama-sama, kamu juga hati-hati dalam bekerja"
Mahendra hanya mengangguk dan melambaikan tangannya.
Atika pun membalas lambaian tangan Mahendra.
Atika masuk ke dalam rumah sakit setelah tak melihat mobil yang di bawa Mahendra melintasi jalan raya.
Di perjalanan menuju ruangannya, Atika berpapasan dengan para suster.
"Assalamu alaikum, Pagi Dokter Atika"
"Waalaikum salam, pagi juga"
"Selamat bertugas Dokter Atika"
"Iya, selamat bertugas juga" balas Atika.
Semua orang sangat senang dengan sikap ramah Dokter Atika.
Atika pun sangat senang bertugas di rumah sakit ini, karena semua orang ramah dengannya.
30 menit berselang Mahendra tiba di rumah sakit tempatnya bekerja.
Mahendra pun sama, semua orang menyapanya dengan ramah dan di balas ramah juga.
Mahendra pun senang bertugas di rumah sakit harapan bangsa ini.
Mahendra berencana untuk mengambil dokter spesialis sambil bertugas di rumah sakit ini.
Tapi itu hanya rencananya saja, karena tugasnya menjadi CEO belum di laksanakan dengan baik, nanti setelah semua bisa di hendlenya dia akan fokus dengan salah satu pekerjaannya.
Bagi Mahendra menjadi dokter adalah impiannya sejak sekolah, dia hanya akan fokus membantu orang lain untuk sembuh.
Dan Pekerjaan CEOnya akan di serahkan kepada Kakek Rangga.
TBC...