
Setelah sampai di masion, Atika di gendong Mahendra. Dia membiarkan Atika tetap tertidur di dalam dekapannya.
Setelah itu perlahan-lahan di gantikan baju Atika yang lebih nyaman agar dia tetap nyenyak tidurnya.
Mahendra pun memeriksa denyut nadi Atika.
Mahendra tampak bingung, denyut nadinya seperti menandakan sesuatu.
"Apa istriku sudah telat?"
Mahendra pun mengecek kalender yang biasanya di beri tanda oleh Atika.
"Bener, Atika sudah telat 2 minggu ini"
"Ya Allah, apa malaikat kecilmu telah hadir di perut istriku" gumam Mahendra sambil menahan tangis haru agar Atika tidak terbangun dan tangannya mengusap perut Atika.
Cup.
Mahendra mencium perut Atika yang masih terlihat rata.
Atika menggeliat, perutnya terasa lapar.
"Aby, Aby bangun"
Mahendra pun bangun dari tidurnya. Di sandarkan punggungnya atas sandaran tempat tidur.
"Ada apa Ummy sayang"
"Ummy laper"
"Ummy pengen makan nasi goreng, tapi..."
"Tapi apa sayang, hmm?" tanya Mahendra.
"Ummy ingin Aby yang buat nasi gorengnya," ucap Atika sambil memelas menampilkan pupil mata yang di buat menggemaskan.
"Jam berapa sekarang?"
Mahendra melihat jam weker di atas nakasnya.
Jam 1 dini hari.
"Apa kita tidak cari saja yang masih jual nasi goreng?"
"Hiks, Aby. Ummy mau Aby yang buatin nasi gorengnya" ucap Atika sambil berderai air matanya dan mengerucutkan bibirnya.
Tampak Mahendra menjadi bingung dengan sikap Atika yang tiba-tiba menjadi sangat sensitiv bahkan cepat berlinang air matanya.
"Baiklah, Aby buatin nasi gorengnya. cup.. cup.. cup"
Mahendra mengecup mata dan bibirnya Atika.
Atika langsung tersenyum sumringah, dia terlihat sangat bahagia.
Mahendra pun mulai meracik bumbu nasi gorengnya.
"Ummy sayang, mau pedes atau sedang"
"Pedes Aby, jangan lupa pakai telur setengah matang, hmmm.. pasti yummy" kata Atika sambil membayangkan telur setengah mateng yang kuningnya masih terlihat orange.
"Aby, pokoknya pedesnya level 10 ya"
"Ummy sayang, nggak baik terlalu pedes"
"Nggak mau, pokoknya Ummy mau yang pedes" rajuk Atika sambil berlalu masuk ke dalam kamar.
Mahendra hanya menarik nafas panjang, sebagai seorang dokter dia paham bagaimana sensitifnya perempuan yang berbadan dua.
"Semoga besok ada berita baik, Ummy harus secepatnya sadar akan kondisinya"
Walau Atika dokter kandungan, dia pasti tak merasakan perubahan atas kondisinya.
Apalagi tak ada mual atau muntah yang di alami Atika.
Mahendra berancana memberitahu Atika sebentar ini.
Setelah beberapa menit, nasi goreng pedes hasil reques Atika telah jadi.
Mahendra sudah beberapa kali memasak nasi goreng.
Jadi baginya kali ini sudah biasa untuknya menyenangkan istrinya saja.
"Tararaaa... pesanan tuan putri sudah datang"
Atika mencebikkan bibirnya.
"Aby, makan sendirian saja. Ummy sudah tak berselera lagi"
"Jangan begitu sayang?" bujuk Mahendra.
Mahendra menatap nasi goreng yang berwarna merah karena keinginan Atika yang ingin makan nasi goreng pedes.
Jangkungnya Mahendra sudah naik turun, bisa celaka jika Atika beneran tak makan nasi gorengnya.
"Ini loh Aby, sudah buat nasi goreng yang special telur setengah mateng" bujuk Mahendra.
"Sudah tak laper Aby, Ummy hanya pengen lihat Aby ngabisin nasi gorengnya saja. plisss" melas Atika matanya mengecil menampakkan kepolosan yang membuat Mahendra gemas.
Mahendra menelan ludahnya menatap nasi goreng yang tersajikan, ada sekitar 50 cabe rawit yang di ulek di masukkan di nasi goreng seperti permintaan Atika.
Baru di tatap saja nasi gorengnya sudah terbayang rasa pedis yang pasti membuat perutnya akan sakit.
"Aby, ayolah. Ummy pengen lihat Aby makan nasi gorengnya"
"Iy.. iya Ummy" ucap Mahendra
Karena tak ingin istrinya sedih terpaksa Mahendra harus memakan nasi goreng yang di buatnya.
Bismillah.
Baru tiga sendok saja, lidah Mahendra terasa perih.
sh... sh.. sh
Mahendra tak sanggup untuk melanjutkan menyendokkan nasi goreng ke mulutnya.
Air mata menetes dan keringat sudah memenuhi dahinya.
Panas perih sudah terasa di lidahnya.
Atika merasa keheranan dengan Mahendra.
"Aby kenapa? Makanannya pedes ya"
Atika pun menyuapkan satu sendok ke mulutnya.
"Hmm.. enak By"
Karena tak ingin Atika yang memakan nasi goreng pedes level 10 Mahendra menarik nasi goreng itu untuk di makannya kembali.
"Sudah, Ummy tidak usah makan ini. Aby sudah meludahinya"
Puh.. puh.. puh..
"Nggak papa Aby, Ummy tetap suka"
Atika pun merebut paksa nasi goreng yang ada di tangan Mahendra.
Dengan lahap Atika menyantap nasi goreng level 10 pedesnya.
Hanya beberapa saat nasi goreng pedes sudah ludes dari piring.
Mahendra terbelalak.
"Alhamdulillah, warek by" ucap Atika sambil menyengir lebar.
Mahendra heran kok Atika tidak merasakan pedes sama sekali.
"Ummy, apa ummy tidak merasa aneh beberapa minggu ini?"
"Aneh, aneh bagaimana?"
"Masak nasi goreng level 10 saja Ummy tak kepedesan"
Atika terdiam sebentar. Dia pun mengingat kapan dia mendapat tamu bulanan.
Atika pun menuju samping lemari dan melihat kalender yang sering di beri tanda jika dia mendapat tami bulanan.
"Ya Alllah.. sudah telat 2 minggu" seketika tetesan air matanya mengalir di pipinya.
"Apa kamu sudah hadir di sini nak?" ucap Atika sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Mahendra memeluk Atika dari belakang.
"Semoga malaikat kecil kita telah hadir di sini ya sayang"
Atika sudah tak bisa berbicara, dia hanya mengangguk bibirnya bergetar menahan tangis.
Keduanya larut dengan tangisan haru.
"Ummy ada tespack, coba saja dulu"
"Besok pagi Aby, In Syaa Allah Ummy akan coba"
"Ayo kita tidur,"
"Ummy sholat tahajud dulu By"
"Kalau begitu kita sholat tahajud bersama-sama"
Tiba-tiba
Pruutt.
"Aby, bau!"
Mahendra hanya menyengir saja.
Mahendra merasakan perutnya sakit, mungkin karena tak biasa memakan makanan pedes.
Terpaksa Atika sholat tahajud sendirian saja, karena Mahendra bolak balik ke kamar mandi.
Mules,perut pedih di rasakan Mahendra.
Setelah selesai sholat tahajud, Atika merasa kasian melihat Mahendra yang bolak balik kamar mandi bahkan terlihat lemas.
Atika pun mengambil obat diare agar Mahendra tidak akan bertambah parah.
Atika juga mengambil botol untuk di isi air hangat untuk mengompres perutnya Mahendra.
Botol yang diisi air hangat di letakkan di atas perut Mahendra yang sakit untuk meredakan rasa sakitnya.
Setelah beberapa menit terlihat Mahendra tertidur dengan nafas yang teratur.
"Maafkan Ummy ya sayang, gara-gara ummy Aby bisa diare seperti ini"
Atika lalu memeluk Mahendra dan berbaring di sampingnya. Rasa ngantuk yang bersarang di matanya tak terbendung lagi.
Atika berharap esok hari pada saat selesai tespack akan ada kabar baik untuk mereka kedua.
Tak lama terdengar dengkuran halus antar keduanya, menandakan sang empunya telah tertidur nyenyak menunggu fajar menyingsing.
TBC....