
17 tahun kemudian.
Tok! tok! tok!
"Aarash, bangun Nak. sudah jam 7 nih. bentar lagi kalian masuk sekolah" teriak Atika dari balik pintu.
"Ummy, aku sudah siap, bangunin saja Aariz pasti dia yang lelet" ujar Aarash sambil berlalu menenteng tas punggung sekolahnya.
"Sarapan dulu nak, setelah itu kalian berangkat sekolah"
"Ya Ummy"
Atika pun menuju ke dalam kamar Aariz.
"Aariz bangun nak, sudah jam 7"
"Masih ngantuk Ummy"
"Kok bisa ngantuk nak, emang semalam tidur jam berapa?" ucap Atika sambil membelai rambut Aariz.
"Semalam belajar bisnis lagi?" tanya Atika kembali.
"Hmmm"
"Kamu masih sekolah, alangkah baiknya kamu fokus sekolahmu nak"
"Tapi Ummy, Aariz udah janji sama Kakek Uyut"
"Tapi jangan di forsir juga nak, jika memang kamu belum siap tak masalah"
"Ayo bangun, nanti kamu terlambat lagi"
Aariz segera beranjak dari tempat tidur, dan Atika pun menuju ke kamar Arsyla.
Sesampai di kamarnya Arsyla pada saat Atika membuka pintu malah di kagetkan Arsyla.
"Hello Ummy, aku sudah siaaaap"
"Astagfirullah, Arsy. Selalu saja bikin kaget"
"Ya udah, ayo kita sarapan. Kakakmu Aarash sudah menunggu di ruang makan"
"Let's go Ummy"
Atika pun tersenyum dengan tingkah anak bungsunya.
Pada saat melewati kamar Aariz, Atika kembali mengingatkan Aariz untuk segera sarapan.
Tiba di ruang makan.
Ternyata sudah ada Mahendra dan kedua orang tuanya.
Kakek Joni dan Kakek Rangga telah meninggal dunia di hari yang sama.
Fashback On.
"Bagaimana keadaan Ginjal Kakek Joni Nak" tanya Pak Tohar kepada Mahendra.
"Sepertinya kita harus ikhlas ayah, ginjalnya hanya bertahan 10 tahun" ucap Mahendra dengan berlinang air mata.
"Astagfirullah, kamu harus kuat nak. Mungkin ini sudah jalan takdir Allah"
"Iya Ayah, semoga Kakek Rangga bisa tabah mendengar kabar ini"
Kakek Rangga sementar juga sakit, asmanya kumat setahun belakangan ini.
Dokter Adam terlihat keluar dari ruangan Kakek Joni.
"Mahen, kamu seorang dokter pasti paham. Tuntunlah jalan Kakek Joni"
"Trima kasih Dokter, Ayah ayo kita semua masuk ke dalam"
Mereka pun segera masuk ke dalam ruang ICU.
ada Aarash, Aariz, dan Arsyla juga yang masih berumur 11 tahun.
"Kakek, kakek harus kuat, pasti kakek bisa melewati semua ini"
"Nak, aku... hanya ingin mewasiatkan... semua perusahaan buat Aarash,Aariz, dan Arsyla... anak-anakmu" ucap Kakek Joni terbata-bata.
"Kakek Uyut pasti sembuh" ucap Aarash yang begiti dekat dengan Kakek Joni.
"Kamuu.. harus janji Aarash"
"Iya kek, Aarsh janji"
"Aariz juga kek, kami akan belajar bisnis dengan giat lagi"
"Arsyla juga kek uyutttt, kakek harus sembuh" teriak arsyla yang tak mau di tinggalkan Kakek Joni.
"Laa.. Illaaha.. Illallah.. Alllaahh" Akhirnya Kakek Joni menghembuskan nafasnya yang terakhir walau belum terlanjutkan kata-katanya.
"Innalillahi wainnailaihi roji'un" Mahendra menitikkan air matanya.
"Kakek Uyuuttttt" ujar Aarash, Aaris, dan Arsyla bersama-sama.
Mereka memang sangat sayang kepada Kakek. Uyutnya jadi tak heran mereka sangat kehilangan sosok Kakek saat ini.
Setelah Kakek Joni meninggal, Mahendra semua mempersiapkan kepulangan Kakek Joni dari Rumah Sakit ke Mansionnya.
Semua berita memuat tentang kematian sosok orang terkaya di kota x, mereka masih belum memberitahukan kepada Kakek Rangga.
Mahendra takut jika terjadi sesuatu kepada Kakek Rangga setelah dia mengetahui jika Kakaknya meninggal dunia.
"Baiklah ayah, kalau begitu aku akan ke rumah sakit dahulu" imbuh Mahendra.
Mahendrs berjalan melewati koridor Rumah Sakit dengan perasaan gundah gulana.
Timbul beberapa pikiran ada di kepalanya.
Tapi hatinya menguatkan segala apa yang menjadi kegelisahannya.
Setelah sampai di depan kamar Kakek Rangga,Mahendra segera masuk ke ruang rawat inap Kakek Rangga.
"Assalamu'alaikum kek"
"Waalaikum salam nak, masuklah"
"Kakek bagaimana kabarnya"
"Ya seperti yang cucuku lihat, aku telah pulih"
"Syukurlah kek"
Mahendra menarik napas panjang dan di lemparkan perlahan-lahan.
Kakek Rangga yang melihat kegelisanan Mahendra langsung bertanya.
"Ada apa nak,"
Mahendra menarik nafas dari hidung dan di hempaskan kembali.
"Kakek yang sabar ya, kakek harus kuat,"
"Ada apa sebenarnya nak"
"Saya akan minta kakek di rawat inap di rumah saja ya, hari ini kita balik ke mansion dahulu"
"Tapi... "
"Kakek jangan banyak pikiran dulu, ayo kek kita balik ke mansion"
"Apa semuanya sudah di urus nak?"
"Sudah Kek, Kakek pakai kursi roda dulu ya, biar saya yang dorong"
"Baiklah"
Mereka pun langsung menuju ke mansion, setelah sebelumnya Ayahnya dan yang lain telah membawa jenazah Kakek Joni.
Sesampai di Mansion.
Kakek Rangga melihat keanehan mengapa banyak yang menggunakan baju hitam-hitam bahkan telah memenuhi halaman mansion.
"Ada apa ini nak?" tanya Kakek Rangga lagi.
"Kita turun dahulu dan masuk ke mansion kek"
Kakek Rangga menuruti apa yang Mahendra katakan. Kakek Rangga pasrah jika memang ada yang menimpa Kakek Joni.
Tapi setelah masuk ke dalam mansion tiba-tiba
jantungnya Kakek Rangga memompa dengan cepat setelah melihat Kakaknya terbujur kaku.
Wajahnya hampir di tutupi kain kafan seluruhnya.
"Ka ka kakk"
"Yang sabar ya kek."
"Ke ke na pa secepatnya kau per gi" ucap Kakek Rangga terbata-bata.
Semuanya menangis melihat kejadian itu.
Kakek Rangga tak kuasa menahan tangis, hingga asmanya pun langsung kambuh dengan seketika.
Mahendra yang tidak siap dengan tabung oksigen begitu panik.
"Kakkakkk aku iiiikuuutt, laa ilaaha iiillaahhh allahh"
Seketika itu Kakek Rangga menghembuskan nafasnya yang terakhir.
"Kakek, kakek bangun kek, Innalillahi wainnailahi roji'un."
Hari ini bukan saja 1 pemakaman yang harus di buat melainkan 2. Mahendra berencana menbuat liang lahat 1 saja untuk kakek-kakeknya.
"Maafkan aku kek, aku belum menjadi cucu yang baik untuk kalian, mulai saat ini aku akan menjalankan bisnis kalian dengan sungguh-sungguh. Aku akan resign di Rumah Sakit Harapan Bangsa dan fokus menjadi pengusaha nanti. aku berjanji kek" ujar Mahendra sambil berderai air matanya.
Hari ini 2 orang yang sangat di sayangi Mahendra telah pergi selama-lamanya.
Terkadang orang saling menyayangi maka akan pergi bersama-sama.
Mahendra menyesal mengapa memberitahukan kepada Kakek Rangga jika Kakek Joni meninggal, tapi semuanya sudah takdir dari yang Maha Kuasa.
Prosesi pemakaman sudah di laksanakan mulai dari memandikan jenazah, mengafani, menyolati sudah di laksanakan dengan hikmad.
Banyak partber bisnis di perusahaannya juga hadir, tak lupa orang tuanya Aditya, aditya dan Sonia, Tejo dan Ambar datang melayat dan menyatakan berbela sungkawa.
Setelah itu pemakaman di lakukan di tempat pemakaman khusus yang telah di beli dengan harga 10jt orang.
Mahendra harus kuat dan ikhlas menerima garis tangan Allah SWT.
flasback Off.
TBC...