MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 41



Setelah 3 hari di rawat di Rumah Sakit, keadaan Mahendra dan Kakek Jony sudah mulai pulih.Dokter sudah memperbolehkan mereka berdua kembali ke rumah. Asal rutin untuk kontrol setiap 2 minggu sekali.


Pak Sapri menyiapkan kepulangan Mahendra dan Kakek Jony ke rumahnya. Kondisi tubuh Mahendra dan Kakek Jony cukup baik, sepertinya tak ada penolakan dari tubuh Kakek Jony dengan ginjal barunya.


"Semuanya sudah di bayar Kek" ucap Pak Sapri. Untuk sementara Mahendra tinggal bersama Kakek ya"


"Baik Kek. Surat yang di kirim ke Ibu saya, juga izinnya saya seminggu kan?!"


"Baiklah, Nak. Itu baju gantimu, semua sudah di siapkan Pak Sapri"


"Trima kasih Kek"


Mahendra segera mengganti pakaiannya di dalam kamar mandi Rumah Sakit. Setelah selesai mereka menuju ke mobil Kakek Jony dan menuju ke mansionnya.


Mansion Kakek Jony begitu megah dan mewah. Mahendra terpana dengan desaignnya dan lebih mengejutkan lagi semuanya menggunakan lift untuk ke lantai atas.


Kamar yang di tempati Mahendra pun begitu megah tapi desaignnya cukup minimalis. Semua pakaiannya Mahendra sudah tergantung di dalam lemari bahkan semuanya nampak lengkap.


"Kamu istrahat di sini, semua keperluanmu sudah ada di lemari. Nanti setelah makan malam sudah siap, nanti ada tombol ini yang akan bersuara. Jika ada keperluan lain tinggal menekan tombol yang ini. Tombol ini terhubung di kamar ART. Sekarang kamu istrahat saja" ucap Pak Sapri menjelaskan segela kebutuhan Mahendra.


"Trima kasih Pak" ucap Mahendra


"Iya sama-sama"


Pak Sapri meninggalkan Mahendra yang sedang memperhatikan ruang kamar tidurnya. Ruangannya saja seperti besarnya rumahnya Mahendra. Ada dispenser dan kulkas juga bahkan ada tempat duduk seperti di ruang tamu.


"Ya Allah, seperti mimpi. Aku berada di rumah yang bagus dan mewah" ucap Mahendra dengan rasa kagum dengan ruang kamar tidurnya.


Mahendra pun segera membaringkan tubuhnya di ranjangnya.


Empuk dan nyaman.


Itulah kesan Mahendra ketika tubuhnya jatuh di ranjang tidurnya.


Karena tubuhnya lelah tidak sampai 5 menit terdengarlah dengkuran halus dari nafas Mahendra.


****


Dikediaman Mahendra.


"Ayah, tak terasa Mahendra sudah pergi selama 4 hari. tinggal 3 hari lagi tugasnya selesai" ujar Ibu Nanda pada Pak Tohar ayahnya Mahendra.


"Iya bu, Ayah juga tak menyangka. Mahendra mendapat tugas dan mendapat uang sebanyak itu"


"Iya Yah, Ibu khawatir dengan keadaan Mahendra. Entah mengapa hati ibu sangat gundah gulana"


"Ayah juga khawatir, tapi kita berdo'a saja. Semoga Mahendra baik-baik saja Bu"


"Iya Ayah"


"Ayah pergi kerja dulu, jangan banyak pikiran. Nanti Ibu malah sakit lagi"


"Baik Yah"


Pak Tohar pun langsung pergi ke pasar untuk bekerja lagi. Sebenarnya Ibu Nanda sudah melarangnya tapi Pak Tohar tak mau, apalagi sampai menggunakan uang Mahendra. Uang Mahendra itu hanya untuk keperluannya saja.


Pak Tohar tak ingin menjadi beban untuk anaknya. Bagi Pak Tohar, kewajibannya untuk menghidupi istrinya. Bukan mengambil uang anaknya, untuk keperluan sehari-hari.


****


Kediaman Atika.


Atika sudah 4 hari ini belum mendapat kabar dari Mahendra. Dia pun berinisiatif sendiri menghubungi Mahendra sendiri. Ternyata handpone Mahendra bisa di hubungi.


dreeett... dreeeet...


Handpone Mahendra berbunyi. Maklum sudah 3 hari ini Handponenya di non aktifkan.


Mahendra melihat handponenya, ternyata ada nama Atika tertera.


Dia pun segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam, kamu kok tiga hari ini tak ada kabar, mana handponenya juga tak aktif.


Emang kamu kemana saja?" ucap Atika ketika Mahendra mengangkat handponenya.


"Jangan marah, aku tidak kemana-mana. Handponeku kemarin rusak, baru kali ini sudah baik-baik saja"


"Alhamdulillah, aku takut terjadi sesuatu denganmu"


"Alhamdulillah, aku baik-baik saja"


"Kamu sudah dapat info di tempat magangmu?"


"Belum, mungkin kemarin sempat di telpon. Tapi berhubung hpku tidak aktif jadi tak sempat di terima infonya"


"Sepertinya belum ada penerimaan. Aku juga belum dapat panggilan"


"Oh, kirain kamu sudah dapat panggilan"


"Belum"


"Yah sudah, kita berdo'a saja semoga kita akan di terima di tempat yang bagus"


"Aamiin"


"Kamu lagi apa?"


"Aku hanya duduk saja"


"Sepertinya bulan depan"


"Jika begitu, berarti kita akan sama-sama di wisida nanti"


"Kamu juga bulan depan ya?"


"Iya"


"Kamu tak kangen denganku?" ucap Mahendra.


"Kalau tak kangen, ngapain sampai menelponmu"


"Beneran?"


"Bener, sahabatku"


"Syukurlah, aku pun sama. kangen"


Atika tersenyum.


"Beneran nggak bohong?"


"Ya tidak dong, nanti malam minggu aku datang ke rumahmu lagi"


"Baiklah, aku tutup dulu ya. mau sholat ashar"


"Iya bye-bye. Assalamu'alaikum "


"Bye. Waalaikum salam"


Mereka pun mengakhiri percakapannya, ada rasa senang di hati mereka. Sungguhlah sahabat menjadi idaman itulah status untuk mereka.


Mahendra turun dari tempat tidurnya dan langsung mengerjakan sholat ashar yang hampir terlewatkan.


Dia segera mengerjakan sholat dan berdo'a akan kesembuhannya. Tak lupa berdo'a untuk hubungannya dengan Atika.


Setelah mengerjakan sholat ashar, Mahendra berkeliling melihat mansion Kakek Jony.


Dia berkeliling di sekitarnya dan rasa kagumnya tak pernah berhenti dengan interior yang ada di setiap sudut ruangan bahkan di luar mansion pun sangat megah dan mewah.


Ada beberapa Art melihat Mahendra dan membungkukkan badannya ke arah Mahendra.


Mahendra nampak heran, mengapa Art Kakek Jony sangat menghargainya padahal dialah hanya tamu di mansion itu bahkan masih anak muda.


Mahendra pun membalas membungkuk badannya di hadapan Art Kakek Jony.


Ternyata di luar ruangan belakang, ada Kakek Jony dan Pak Sapri lagi berbincang-bincang.


Mahendra pun mendekati ke duanya.


"Kakek Joni dan Pak Sapri lagi santai di sini?"


"Iya Nak, Duduklah"


Mahendra segera menduduki kursi yang bersebelahan dengan Pak Sapri.


"Bagaimana, Kamu betah tinggal di sini?" tanya Kakek Jony.


"Alhamdulillah, di betah-betahin Kek!" ucap Mahendra sambil tersenyum.


"Syukurlah, jika kamu berkenan. Ajaklah kedua orang tuamu tinggal di sini. Ini mansion sudah menjadi milikmu"


"Apa!!! apa saya tak salah mendengarnya Kek?" ucap Mahendra kaget dengan apa yang di katakan Kakek Jony.


"Iya, kamu tak salah dengar. Nanti malam kamu akan saya jelaskan lebih rinci" ucap Kakek Jony dan memberi kode pada Pak Sapri untuk menyiapkan segalanya.


"Tapi Kek, saya ikhlas menolong Kakek kok. saya tak ingin imbalan apapun"


"Aku pun sudah ikhlas memberikanmu, aku tak ingin kamu menolaknya, jika kamu ingin menolaknya, maka ginjal ini akan saya kembalikan juga"


"Tapi ini berlebihan Kek"


"Tak ada yang lebih penting dari apa yang kamu Lakukan Nak. Kakek sudah tua, Kakek bisa saja meninggalkan semua ini tanpa kamu minta juga"


"Tapi bagaimana dengan keluarga Kakek yang lain"


"Kakek tak punya siapapun, ada adiknya Kakek, tapi aku tak tau di mana keberadaannya"


"Aku sudah membagi bagiannya, jika dia akan datang menemuiku. Kamu jangan khawatir"


"Ini seperti mimpi untukku Kek"


"Jangan hanya bermimpi, mimpimu telah menjadi kenyataan"


"Trima kasih banyak Kek, aku tak tau harus membalas apa untuk kebaikan Kakek ini"


"Jika kamu ingin membalasnya, caranya hanya dengan menerima apapun yang aku berikan"


"Trima kasih Kek, trima kasih Pak Sapri. kalian orang-orang yang sangat baik"


"Kamu juga orang baik, kamu walaupun baru bertemu denganku. Aku tau kamu orang yang sangat baik. Terimalah apapun yang aku berikan"


"Baiklah Kek, aku akan menerimanya dan akan bertanggung jawab apapun yang aku terima"


"Alhamdulillah" ucap Kakek Jony dan Pak Sapri serempak.


TBC....