MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 36



Setelah acara semua selesai, Mahendra menghampiri Atika dan memintanya agar tak kembali dulu. Dia ingin membicarakan soal mengapa sempat terlambat tadi pagi.


Mahendra tak ingin ada yang di sembunyikan, Atika yang melihat Mahendra mendekat pun tersenyum simpul.


"Ada yang ingin aku bicarakan" ucap Mahendra menghampiri.


"Yuck, kita ke kantin saja"


"oke, baiklah" jawab Mahendra.


Dan mereka pun berjalan bersama menuju ke kantin Puskesmas.


Setelah sampai di kantin mereka pun memesan jus jeruk saja karena mereka tadi sudah sempat makan di acara alun-alun Puskesmas.


"Maaf, tadi aku sempat telat jemput karena semalam ada kejadian yang tak mengenakkan hatiku"


"Ada masalah apa sebenarnya"


"Sebenarnya masalahnya sudah selesai di tangani, cuman hatiku masih ada yang mengganjal"


"Ceritakanlah, aku siap mendengarkannya"


Mahendra pun mulai menceritakan tanpa ada yang di potong atau di lebih-lebihkan. mulai dia tak sadar bermimpi sampai Fely memfitnahnya bahkan bagaimana penyelesaiannya pun di ceritakan sedetail mungkin.


Atika mendengarnya dengan setia bahkan tak ada yang di sanggahnya. Atika bersyukur semuanya cepat selesai.


Setelah selesai barulah Atika mulai bertanya.


"Sekarang Fely sudah pulang kampung?"


"Aku sih kurang tau, yang jelas aku tak akan bertemu dengannya lagi"


"Syukurlah kalau begitu"


"Kamu tak marah?"


"Ngapain marah, kalau kamu tak sengaja"


"Beruntung Kakek Rangga cukup bijak, sehingga dia melarang Fely hanya sampai aku selesai di rumahnya saja. Setelah aku selesai KKN, Fely akan kembali kerja pada Kakek Rangga. Kasian juga, hutang orang tuanya cukup banyak kata Bi Asih padaku"


"Artinya Kakek Rangga orang baik, kita juga tinggal sebulan lagi kerja di sini. Setelah itu kita akan jarang bertemu nanti"


"Iya benar. Tapi jika aku akan ke rumahmu, apa boleh?"


"Boleh! orang mau silaturahmi kan tak apa-apa"


"Jangan putus komunikasi ya"


"Iya, aku janji"


"Alhamdulillah"


Setelah mereka menghabiskan minum, mereka segera kembali ke Puskesmas dan ternyata para tamu undangan sudah kembali ke rumahnya masing-masing.


Dokter Antony dan Dokter Sinta pun berpamitan kepada Mahendra dan Atika begitu juga dengan Dokter Adam.


Mahendra dan Atika harus membereskan alun-alun di Puskesmas setelah di pakai acara barusan. Apalagi Atika sebagai ketua panitianya. Setelah bersih dan rapi barulah mereka akan kembali ke rumah masing-masing.


Mahendra membantu Atika, agar semua pekerjaan cepat selesai. Tak terasa sudah sejam lamanya dan bersyukur semua telah selesai di rapikan di bantu suster-suster yang lain.


Mahendra dan Atika pun bersiap kembali ke rumah Pak Rt dan Kakek Rangga, motor Mahendra pun melaju dengan kecepatan rata-rata.


"Syukurlah, semua sesuai yang kita harapkan acaranya" ucap Atika di sela-sela perjalanan.


"Siapa dulu ketuanya. Udah cantik, baik, jago nyanyi, cekatan, semuanya lengkap ada padamu"


"Ah, kamu ini bisa saja. Aku tak sesempurna itu"


"Tapi bagiku kamu sangatlah sempurna"


Atika pun tersipu malu dan menyembunyikan meronanya di balik punggung Mahendra.


Tapi Mahendra sangat tahu jika pipi Atika pasti merona.


Tak terasa mereka sudah sampai di rumahnya pak RT dan Atika pun turun perlahan-lahan dari motornya Mahendra.


"Trima kasih kamu sudah mengantarku lagi. Besok kita ketemu lagi ya" ucap Atika.


"Sama-sama, iya. Besok aku jemput kamu lagi ya"


"Baiklah, on time ya. Besok ada pasien yang sudah janjian dengan Dokter Sinta. Tapi aku harus memeriksanya terlebih dahulu"


"Siap tuan putri" jawab Mahendra sambil membungkukkan badan layaknya pengawal ke pada sang putri.


Atika tersenyum simpul dan malu-malu mendapat perlakuan istimewa dari Mahendra.


"Aku pergi dulu, see you tomorow"


"See you too" ucap Mahendra sambil menyalakan motornya.


"bye"


Atika melambaikan tangannya dan di balas oleh Mahendra.


Mahendra pun segera melajukan motornya menuju ke rumahnya Kakek Rangga.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum'salam" jawab Kakek Rangga dan Bi Asih.


"Kamu udah pulang nak?" tanya Kakek Rangga.


"Iya kek, setelah nganter Atika. Saya langsung pulang kek"


"Udah sholat dzuhur?"


"Belum Kek, Mahen ke dalam dulu sekalian mau sholat dzuhur"


"Iya nak, setelah itu duduk di sini bersama Kakek, ya?"


"Baik, Kek"


Mahendra pun masuk ke dalam rumah dan segera mandi tak lupa sholat dzuhur. Selesai berdo'a Mahendra pun segera menyimpan alat sholatnya dan berjalan menuju ke depan rumah.


"Kakek sudah minum obat?"


"Sudah nak, tadi Bi Asih sudah memberinya setelah dari Puskesmas"


"Nak Mahendra, maafkan sikap Fely semalam ya, Bibi tak menyangka dia akan berbuat sesuatu yang sangat buruk padamu" ucap Bi Asih kepada Mahendra


"Tak apa-apa Bi, mungkin Fely hanya khilaf. Saya pun minta maaf, karena saya Fely tak kerja lagi di sini"


"Itu salahnya, kerja sudah baik-baik malah bikin ulah yang tidak baik"


"Iya Bi, Mahendra pun tak menyangka Fely yang saya sudah anggap adik sendiri bisa senekat itu"


"Dan maafkan Bibi yang sempat ragu akan perlakuanmu"


"Tak masalah Bi, kita lupakan saja"


"Beruntung Kakek Rangga ada nak, dan Bibi yakin keputusan Kakek itu sudah yang terbaik"


"Aku hanya menjalankan apa yang seharusnya terjadi Bi, nak Mahendra. Jika aku juga tak melihat baju sobekmu pasti kami pun akan salah paham"


"Oh, jadi Kakek memperhatikan bajuku?"


"Iya nak, ketahuilah dulu juga Nabi Yusuf di fitnah istrinya sang pembesar mesir bernama Zulaikha dan kejadiannya sama persis dengan yang terjadi kepada kamu"


"Oh, iya Kek. Mahen pernah dengar juga pada saat masih sekolah"


"Nah, makanya Kakek hanya memperhatikan baju sobekmu saja"


Akhirnya semua tertawa renyah di sore itu. Bi Asih pamit ingin menyiapkan makan malam lagi.


Sedangkan Mahendra dan Kakek Rangga masih bercengkrama di depan rumah sambil mengobrol ringan.


Tak lama Kakek meminta Mahendra mengantarnya di dalam kamar. Mahendra pun menurutinya dan segera mengantarkan Kakek Rangga ke dalam kamarnya.


Setelah mengantarkan Kakek di kamarnya, Mahendra pun menuju ke dalam kamarnya. Dia pun segera menelpon Atika.


Tak lama suara Atika pun terdengar.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum'salam"


"Lagi ngapain?"


"Hanya lagi baca novel saja sih"


"Udah sholat dzuhur belum?"


"Alhamdulillah, sudah. Setelah kita sampai tadi, aku langsung sholat dzuhur"


"Alhamdulillah, biasanya buat kue"


"Mungkin minggu depan saja, aku masih capek"


"Mau di pijitin nggak?"


"Nggak! kalau udah sah ya mau-mau saja sih"


"Beneran nih?"


"Benerlah, masak harus boong sih"


"Saya bakal nangih nanti loh"


"Iya, i'm promise"


"Andai kita udah lulus, pasti aku akan datang langsung ke kedua orang tuamu dan langsung meminta menikahimu"


"Aamiin, semoga Allah mengijabah keinginan kita Mahen"


"Aamiin"


Tak terasa Azan Ashar berkumandang. Mereka berdua mengakhiri percakapan mereka dan melaksanakan sholat Ashar dengan khusuk.


TBC ...