MAHENDRA

MAHENDRA
Beda Tempat



Hari ini cuaca panas seperti sepanas sepasang kekasih yang dari pagi berdebat terus-menerus.Entah hati Atika yang panas atau hati Aditya yang geram.


"Pokoknya aku tak mau kamu sering mengaturku, harus begini harus begitu. Ingat,kita masih pacaran, belum ada acara tunangan atau janji pernikahan. Belum menikah saja, kamu sudah bersikap posesif padaku apalagi kalau kita sudah menikah" ucap Atika geram dengan tingkahnya Aditya yang melarang jika mendaftar di fakultas kedokteran.


"Aku ingin kamu menjadi pemegang perusahaan ayahmu jadi kamu harus kuliah manajemen bisnis, itu yang tepat buatmu "


"Aku tak suka jurusan itu, aku pengen jadi dokter bisa berbakti untuk negara dan bisa merawat orang tuaku bahkan orang lain tanpa pamrih itu cita-citaku sejak dulu, Aditya" sarkas Atika berkata dengan lantang, sejak tadi entah mengapa Aditya lagi-lagi mengaturnya untuk menentukan masa depannya.


"Aku yang jalani, aku yang belajar. Tak mungkin aku ikut dengan keinginanmu "


"sudah cukup SMA kamu mengaturku ikut kelas IPS padahal nyatanya aku pantas duduk di kelas IPA bareng Mahendra, sekarang aku tak mau lagi kamu mengaturku lagi" batin Atika dalam hati sambil melirik Aditya dengan rasa dongkol.


"Pokoknya antar aku di FKI, kemarin aku sudah mendengarmu untuk tidak kuliah di UI, sekarang aku minta kamu anterin aku. Jika kamu tidak mau, aku akan menyuruh sopirku saja yang mengangarku"


Aditya terdiam dan berpikir, baiklah dia mengalah dulu, yang terpenting Atika tidak kuliah di UI saja, dia sudah senang.


"Kamu mau mengantarku tidak?" ujar Atika sambil berlalu, melihat Aditya tak bergeming dia ingin memanggil sopirnya untuk di antarkan.


"Baiklah "


***


Setiba di FKI Atika langsung keluar dari mobil tanpa berpamitan kepada Aditya. Dia menuju ke tempat pendaftaran. Baginya tak masalah, walau beda tempat kuliah dengan Mahendra,dia mengingat ucapan Mahendra. Jika memang berjodoh, mereka pasti akan di pertemukan bahkan akan di persatukan kembali.


Ting... Hp Atika berbunyi dan sms masuk dari Aditya.


[aku tunggu di Tempat Parkir]


Atika hanya melirik Hpnya dan tak berniat membalasnya, dia masih dongkol dengan kelakuan Aditya.


Entah mengapa semakin hari dia semakin bosan dengan sifat Aditya yang posesif dan suka mengaturnya dan kenapa juga orang tuanya bisa mengijinkan orang seperti Aditya menjadi pasangannya.


Atika hanya menghela nafas panjang merenungi nasib yang harus di jalani. Mengapa di zaman sudah modern seperti ini masih saja ada perjodohan layaknya siti nurbaya.


Atika tak menyadari jika dia sudah tiba di depan tempat mendaftar karena sedari tadi dia hanya melamun memikirkan nasibnya.


"Adek, ini formulirnya. Bisa di isi sekarang atau bisa di serahkan sekalian lengkapi berkasnya "


Atika pun mengambil formulirnya dan mengucapkan terima kasih. Dia pun segera ke tempat parkiran. Atika memilih menyerahkan formulir setelah berkas-berkasnya lengkap.


Atika memasuki mobil Aditya yang terparkir di sudut tempat parkir. Dia suduk di samping Aditya tanpa berkata apa-apa.


"Bagaimana Slsudah selesai?" tanya Aditya.


Atika hanya memperlihatkan sebuah formulir pada Aditya, dia masih malas mengeluarkan suaranya.


"Kita makan dulu ya, setelah itu kita langsung pulang"


"hmmm..."


Aditya melirik Atika, seperti biasanya Atika nampak cuek di depan Aditya tapi Aditya tak memperdulikan sifat Atika. Baginya sudah menjadi tunangan dan menikahi Atika saja Aditya sudah senang.


Tak lama mobil memasuki kawasan cafe elit yang kebetulan berdekatan dengan kampus UI dan Aditya memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang di sediakan.


Atika turun dari mobil dan segera masuk ke dalam cafe. Aditya pun mengikuti langkah Atika. Atika memilih tempat duduk di pojokan seperti biasanya.


"Kamu masih marah?" tanya Aditya setelah mereka duduk.


"Aku marah pun tak ada gunanya"


"Kalau begitu jangan cemberut dong, ntar cantiknya Hilang loh "


"Walau sudah jelek pun, kamu pasti tak mau lepas denganku kan?"


"Emang kamu mau saya lepas, gitu?!"


"kalau iya kenapa, kalo enggak juga kenapa"


"Kalau iya, kamu akan saya minta orang tuaku mempercepat pernikahan kita, kalo enggak ya syukur aja"


"Iyalah, cewek secantik kamu di lepas. Ya rugi dong" ucap Aditya dengan senyuman.


"Kalau aku sudah jelek, gimana?" tanya Atika.


"Yah, nggak papa juga aku tetap suka"


Atika hanya memutar matanya dengan malas. Dia merasa apa yang di ucapkan Aditya tak sesuai isi hatinya.


"Hehehe, padahal jika aku sudah nguasai semua hartamu, jangankan menyukaimu melirikmu saja aku yak suka " batin Aditya dalam hatinya.


Akhirnya pesanan mereka pun datang dan mereka menyantap makanan dalam diam.


Dreeett.. Dreeet...


Bunyi Hp Aditya pertanda ada panggilan yang masuk.


"Dari Ibuku, aku angkat dulu ya, Aditya berjalan menjauhi Atika.


"Sayang, kapan kamu ke LA" ujar seseorang dari jauh.


"Masih belum ada info dari orang tuaku, nanti aku kabarin ya honeyku sayang" jawab Aditya.


"Aku sudah tak sabar menunggu, cepatlah terbang ke LA setelah urusanmu selesai ya" ucapnya manja.


"Tenang saja, setelah selesai berkasku lengkap, aku langsung terbang berangkat ke LA"


"Baiklah sayang, love u"


"Love u too" jawab Aditya sambil mematikan sambungan Hpya.


Ternyata Atika sudah di belakang Aditya dan tak sengaja mendengar kata love u too. Baginya tak aneh jika anak mengucapkan love jadi Atika tak curiga dengan Aditya.


Atika menghampiri Aditya, setelah itu mereka menuju kasir.


"Tika kamu bayar dulu ya, kebetulan ibuku belum mentransfer uang bulananku "


"*I*h, jengkelku. setiap ke cafe aku terus yang bayar. Jadi cowok kok ngak modal banget. nggak Kayak Mahendra " gumam Atika dalam hati.


"Berapa semua di meja no. 12" tanya Atika.


"525rb " kasirnya memperlihatkan billnya ke Atika dan Atika menyerahkan kartu debitnya pada pelayan ituu.


Setelah membayar mereka keluar dari cafe dan langsung menuju rumahnya Atika.


Pada saat keluar dari cafe, tak sengaja mereka melihat Mahendra Dan Tejo baru saja makan di pinggir jalan dan bersiap-siap untuk pergi.


"Hahaha, liatlah beda tempat makan saja, ini sudah membuktikan kalau kamu tak pantas berdampingan dengan kami"


Tejo ingin bersuara Tltapi Mahendra menahannya, dia tak ingin mendapat masalah. Apalagi ini masih di lingkungan kampus.


"Sudah jangan di hiraukan" ucap Mahendra menenangkan Tejo.


Karena tak mendapat tanggapan dari Mahendra, Aditya langsung melajukan mobilnya dengan hati geram.


Di mobil Atika hanya diam saja, dia capek menasehati Aditya. Akhirnya mereka sampai di depan rumahnya Atika.


"Aku tak singgah di rumahmu, salam saja pada mamah dan papahmu"


"Iya, nanti aku sampaikan"


Atika turun dari mobil Aditya dan Aditya langsung pergi menuju sekolah karena dia ingin secepatnya berangkat ke LA menemui pujaan hatinya di sana tanpa sepengetahuan Atika, kalau Aditya sudah menjalani LDR setahun belakangan ini.


Aditya segera memarkirkan mobilnya dan menuju ruang guru tempatnya bersekolah, dia ingin memastikan kapan ijazahnya keluar nanti biar dia bisa menyiapkan tiket keberangkatannya untuk ke LA.


****Jangan lupa komentar, kritik, saran, vote dan beri hadiah untuk author recehan ini ya.. ***