MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 90



"Sayang, malam ini kita quality time ya, sudah lama kita tidak makan di luar bersama"


"Bagaimana kita liburan saja Aby, biar kita hilangkan kejenuhan"


"Baiklah, kalau itu mau Ummy, Aby ikut saja, inginnya ke mana sayang?" tanya Mahendra.


"Waktu dulu pernah ke Mekkah, sekarang inginnya ke Turki, bagaimana By?" Atika bertanya sambil menaik turunkan Alisnya.


"Oke, besok aku akan menyuruh asistenku memesan tiketnya,"


"Trima kasih sayangku" kecupan singkat langsung di labuhkan di bibir Mahendra.


"Ummy mulai nakal ya, siapa tau kita nanti di beri rezeki lagi kan?!" ucap Mahendra sambil mengelus perut Atika yang tertutup bajunya.


"In Syaa Allah By, tapi.. anak-anak udah besar by, dan lagian aku sudah bersyukur mempunyai 3 orang malaikat kok!" ucap Atika hati-hati agar Mahendra tak tersinggung.


"Iya Ummy, aku juga bersyukur kita sudah mempunyai 3 buah hati, tapi jika dalam liburan kita di kasih rezeki lagi kan nggak apa-apa"


"Iya deh Aby, Ummy hanya berharap yang terbaik saja"


"Aamiin"


"Yuck, Sholat shubuh dulu, setelah itu Ummy bantu-bantu Ibu dan Bi Asih" Ajak Mahendra yang di setujui Atika dengan anggukan.


Mereka berdua segera melaksanakan sholat shubuh, setelah itu Atika segera turun ke lantai bawah dan menyiapkan sarapan untuk semua yang di bantu Artnya.


"Romi, besok jangan lupa pesankan aku dan Atika tiket ke Turki" ucap Mahendra setelah panggilannya tersambung.


"Siap Bos"


"Ummy dan Aby mau liburan?"


Suara Aarash terdengar dari belakang membuat Mahendra Kaget.


"Eh, iya Nak,"


"Cie-cie ada yang mau honeymoon kedua nih" goda Arsyla.


"Hus, anak kecil kok udah tau honeymoon, sekolah aja yang bener" timpal Aarash.


"Kakak, aku itu udah gede. kita aja bedanya 3 menit"


"Iya, gede badannya tapi otaknya belum"


"Ish, kakak selalu begitu sama Ay, ya" mulutnya Arsyla pun terlihat mengerucut.


Atika pun menghampiri kearah suami dan anaknya.


"Sudah-sudah, sarapan dulu, nanti kalian ke sekolahnya bisa telat"


"Kalian tidak keberatan kan, kalau Ummy dan Aby berangkat ke Turki?" tanya Mahendra.


"Ya enggak dong Aby, sekali-kali qualiti time sama Ummy, bener kan kak?" tanya Arsyla kepada Aariz.


"Hmm" seperti biasa Aariz paling sedikit bicara.


"Malas banget nanya ke Kak Aariz, kalau bukan jawabnya hm, iya, tidak itu aja. Apa kakak nggak ada teman ngobrol di sekolah"


"Tidak"


"Tuh, kan. Bener, bagaimana mau banyak teman kalau kakak Aariz banyak puasa bicaranya"


"Sudah, jangan ngeledek Kakakmu. Kakakmu sudah dari dulu seperti itu"


"Kira-kira kalau Kak Aariz bisa punya pacar nggak ya, kalau sifatnya seperti itu, aku jamin pacarnya kak Aariz orangnya cerewet" goda Arsyla.


"Sok tahu kamu" ucap Aarash yang menoyor kepala Arsyla.


"Aby, liat kk Aa, nih" rajuk Arsyla.


Mahendra pun hanya tersenyum melihat tingkah ketiga buah hatinya.


Tak lama Oma dan Opanya datang.


"Kalau lagi makan, jangan berbicara. tak baik cucuku" ujar Oma menasehati.


"Maaf Oma" melas Arsyla.


Akhirnya mereka sarapan dalam diam, hanya suara sendok yang berbunyi.


Setelah selesai sarapan anak-anak pamit untuk ke sekolah.


"Ummy, Aby, Arsyla pergi dulu ya"


"Iya nak, belajar yang rajin ya" ucap Atika.


"Iya Ummy"


"Assalamu Alaikum" ucap Aarash, Aariz, dan Arsyla berbarengan sekaligus salim dengan takjim kepada kedua orang tuanya dan kepada kakek dan neneknya.


"Waalaikum salam" ucap Ibu Nanda, Pak Tohar, Atika dan Mahendra berbarengan juga.


"Sayang, aku ke kantor dulu ya, kamu jam berapa ke klinik?" tanya Mahendra.


"Jam 9 nanti, By," jawab Atika


"Ya sudah, kamu perginya hati-hati bawa mobilnya" peringati Mahendra kepada Atika.


"Iya, By. Kamu juga hati-hati ya bawa mobilnya"


"Iya My, assalamu'alaikum" pamit Mahendra kepada Atika dan kedua orang tuanya


"Waalaikum salam"


Atika pun menyalim serta mencium tangannya di balas Mahendra dengan labuhan kecupan di dahi Atika. Lalu Mahendra pun menyalim kedua orang tuanya.


Mahendra pun segera menuju kantor.


Setelah sampai di kantor, dalam kantor, karyawannya memberi hormat dan di balas senyuman oleh Mahendra.


Mahendra sangat baik di perusahaan, tak pernah membeda-bedakan ataupun bersifat kasar.


"Bos, ini saya sudah memesan tiket ke Turki, penerbangan besok jam 9 pagi"


"Syukurlah, terima kasih Romi"


"Sama-sama bos"


"Jadwal hari ini apa saja"


"Kita hanya meeting dengan perusahaan tekstil dan kontraktor yang mau bekerja sama dengan perusahaan kita"


"Baiklah, kamu sudah mempersiapkan segalanya"


"Sudah bos"


"Good, berkasnya langsung bawa ke ruangan saya ya"


"Siap Bos"


Mahendra pun masuk ke ruangannya, sambil menunggu Romi datang. Mahendra teringat sosok Istrinya.


Diapun langsung menelpon Atika.


drrrttt...


"Assalamu'alaikum Aby" jawab Atika dari seberang.


"Waalaikum salam Ummy, Aby hanya mau ngabarin kalau Aby sudah nyampe kantor"


"Alhamdulillah, yang semangat kerjanya ya By"


"Iya sayang, Aby kerja dulu ya?" Pamit Mahendra.


"Iya, By"


"Assalamu'alaikum, muach" Mahendra memberi salam dan kecupan tanda mengakhiri panggilan telephonenya.


"Waalaikum salam, muaach" jawab Atika dengan mesra.


Tut...


Akhirnya Mood Booster Mahendra telah di dapatkannya, dari dulu Atika adalah mood booster untuk menjalani segala pekerjaan.


Tak lama Romi masuk ke dalam ruangan Mahendra.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam, masuklah Romi"


"Ini bos, dokumen yang anda minta"


"Baiklah, aku akan mempelajarinya dulu"


"Ok Bos, kalau begitu saya ke ruang saya dulu"


"Trima kasih Romi"


"Sama-sama bos"


Romi pun bergegas meninggalkan Mahendra ke ruangannya. Romi sangat bersyukur bisa menjadi asistennya Mahendra. Selain Mahendra tak pernah marah-marah kepadanya, Mahendra pun sangat menghargai kirnerjanya dengan mengucapkan terima kasih.


Jarang-jarang ada bos yang mau berterima kasih kepada bawahan seperti yang di lakukan Mahendra.


Bagi Mahendra semua manusia itu sama, hanya posisinya sekarang adalah bos, tapi hakekat manusia di hadapan Allah itu sama bahkan bagi Mahendra dia masih banyak kekurangan sehingga tanpa bantuan orang lain Mahendra tak ada apanya.


Waktu menunjukkan pukul 08:45 wib. Mahendra pun segera keluar ruangannya dan ternyata Romi telah menunggunya.


Setelah itu mereka memasuki ruangan meeting. Mahendra sangatlah disiplin, baginya mending cepat datang dari pada telat 5 menit. 5 menit itu waktu yang sangat berarti.


Lebih baik dia yang menunggu klien atau koleganya, dari pada dia yang harus di tunggu untuk membuka meeting kali ini.


Sambil menunggu klien datang, Mahendra bertanya kepada Romi


"Romi, uncle jo, bagaimana?"


"Sudah berangkat bos, untung paginya cepat bangun jadi tidak terlambat naik pesawat"


"Apa Uncle Jo menanyakan aku? tanya Mahendra lagi.


"Iya bos, tapi saya sudah bilang kalau bos sudah kembali kerumah tak mau membuat khawatir istri bos"


"Baiklah, kamu nyenyak ngak tidur di hotel itu"


"Nyenyak nggak nyenyak bos"


"Kenapa?"


"Habis ngawasin orang mabuk mana enak, takutnya dia terbangun dan hilaf, gimana bos"


"Ya merontaklah, kamu kan nggak minum, pasti tenaganya lebih full"


"Kalau lagi tidur bos, pasti akan kalah"


"Ya jeruk makan jeruk dong" goda Mahendra sambil tertawa.


"Ih, amit-amit bos, saya juga normal"


"Kalau normal, cepetan nikah"


"Belum ada jodohnya bos, jodohnya lagi di pending Allah"


"Kamu nih banyak alasan aja"


Romi hanya nyengir kuda, melihat Mahendra yang tak terima jawaban Romi.


Tak lama orang-orang yang mau meeting dengan Mahendra telah datang dan akhirnya meetingnya pun segera di mulai.


TBC....