MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 58



Setelah menandatangani dokumen, Mahendra menunggu Kakek Rangga terlebih dahulu.


Tak lama Kakek Rangga datang, dan segera menandatangani surat persetujuan semua harta miliknya menjadi milik Mahendra.


"Kek, trima kasih. saya pergi mengantarkan Atika ke rumahnya dulu"


"Iya nak, hati-hati di jalan"


"Baik kek, assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam." jawab Kakek Rangga dan Kakek Joni berengan.


Mahendra pun bergegas turun ke lantai bawah perusahaan.


Kakek sangat bahagia semua pekerjaannya telah selesai.


"Aww...." rintih Kakek Joni.


"Ada apa kak, Kakak sakit?," tanya Kakek Rangga.


"Seperti biasa agak perih,"


"Kamu sudah beberapa hari tidak olahraga? Apa obatnya masih di minum?," Tanya Kakek Rangga lagi.


"Iya, beberapa hari ini obatnya aku lupa minum,"


"Ayo kita ke dokter lagi kak,"


"Sudah tak sakit lagi,"


"Tapi Kak,"


"Kita pulang saja, aku akan minum obatnya di rumah,"


"Baiklah Kak."


"Jangan katakan apa pun kepada Mahendra ya,"


"Iya Kak, aku janji"


"Ayo, kita sama-sama pulang"


"Baiklah kak."


Kakek Joni dan Kakek Rangga turun ke bawah, karyawan menyapa dengan ramah dan di balas dengan ramah oleh keduanya.


Karyawan juga telah mengenal Kakek Rangga adiknya Kakek Joni.


***


Tiba di kediaman Kakek Joni.


Kakek Joni langsung menuju ke kamarnya. Ibu Mahendra yang melihatnya langsung menanyakan perihal kepulangannya Kakek Joni yang tampak tak sehat.


"Kek, mengapa kakek joni? Sepertinya Kakek lagi kurang sehat?," Tanya Ibunya Mahendra.


"Iya bu, kurang istrahat saja" jawab Kakek Rangga.


"Saya buatkan teh herbal dulu kek"


"Iya bu,"


Ibu Nanda segera membuat teh herbal untuk di minum Kakek Joni.


Kakek Joni terbaring lemah di kamarnya.


"Kek, kita ke rumah sakit saja" tawar Ayahnya Mahendra.


Karena melihat kondisi Kakek Joni yang kurang baik-baik saja.


"Aku nggak apa-apa, setelah istrahat pasti akan baik-baik saja" ucap Kakek Joni.


Mereka pun meninggalkan Kakek Joni sendirian di kamarnya, agar Kakek Joni bisa Istrahat.


Satu jam berselang, Mahendra datang di mansion Kakek Joni.


"Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam"


Semua tampak murung, Mahendra bertanya dalam hati ada apa gerangan.


"Ibu, kenapa semua orang tampak murung"


"Nak, priksalah Kakek Joni"


"Ada apa dengan Kakek Joni,"


"Kakek Joni tampak tak baik-baik saja nak"


"Baiklah, Mahendra ke kamar kakek Joni dulu"


Mahendra ke kamar di dampingi Kakek Rangga.


Kakek Rangga tampak khawatir keadaan kakaknya.


Mahendra memeriksa keadaaan Kakek Joni, tampak nadinya melemah dan tensinya agak rendah.


"Kek, kita harus membawa Kakek Joni ke rumah sakit sekarang"


"Baiklah Nak,"


Kakek Rangga meminta sopir Kakek Joni menyiapkan mobil untuk mengantarkan Kakek Joni ke rumah sakit.


Pak Sapri langsung menyiapkan mobil dan Mahendra segera menggendong Kakek Joni ke dalam mobilnya.


Mahendra dan Kakek Rangga mendampingi Kakek Joni di dalam mobil.


"Nak, jangan lupa beri informasi terus tentang kondisi Kakek Joni ya?"


Mereka pun segera membawa Kakek Joni ke rumah sakit harapan bangsa.


Mahendra terus mendampingi Kakek Joni.


"Kakek, apa kakek tidak pernah minum obatnya?"


Kake Joni hanya mengangguk tak berdaya.


Muncul penyesalan Mahendra, harusnya dia mengontrol soal pengobatan Kakek Joni seperti halnya di lakukan kepada Kakek Rangga.


Setelah sampai di rumah sakit.


"Dokter, sepertinya denyutnya melemah" ucap suster yang bertugas.


"Siapkan Alat kejut jantung" ucap dokter yang bertugas hari itu.


Mahendra hanya membantu dokter yang di Instalasi gawat darurat saja, karena bukan tugasnya hari itu.


Kakek Joni tampak lemah seperti tak ada harapan.


Kakek Rangga mondar mandir di depan UGD, Dokter dan Mahendra tak kunjung keluar dari ruangannya, membuat Kakek Rangga khawatir.


Sudah sejam lamanya tapi Dokter yang menangani Kakek Joni dan Mahendra tak kunjung keluar dari ruangan UGD.


Kedua orang tuanya Mahendra pun menyusul ke rumah sakit karena mereka khawatir keadaan Kakek Joni yang tak kunjung di beri kabar.


"Kek, bagaimana keadaan Kakek Joni" Tanya Ayahnya Mahendra.


"Masih belum saya ketahui pak, Dokter belum keluar dari dalam ruangan"


"Semoga Kakek Joni baik-baik saja" ucap Ibunya Mahendra.


"Aamiin" ucap mereka serempak.


Sementara di dalam ruangan.


Mahendra terduduk di kursi setelah Dokter mengetahui kondisi Kakek Joni.


Ternyata Kakek Joni tidak pernah meminum obat yang di berikan Dokter, akhirnya ginjal yang di donorkan menolak apapun yang di konsumsi Kakek Joni.


Ginjalnya yang di donorkan pun tidak berfungsi dengan baik.


Mahendra padahal sudah sering mengingatkan Kakek Joni. Mungkin karena persiapan pernikahannya makanya Mahendra tak lagi memperhatikan kondisi Kakek Joni.


Mahendra menangis seketika, dia menyesal telah melalaikan tugasnya untuk sering memperhatikan Kakek Joni.


Dokter pun keluar dari ruangan, dan meminta Kakek Rangga untuk masuk ke ruangannya.


Dokter ingin menyampaikan kondisi tubuh Kakek Joni.


Setelah di ruangan Dokter.


"Keluarga pasien?"


"Iya Dokter, saya adiknya nama saya Kakek Rangga"


"Saya Dokter Adam yang mengoprasi transplantasi ginjal Kakek Joni"


"Kemarin sempat berhasil tapi 90 hari ini ternyata ada kegagalan. Kegagalan tersebut diakibatkan adanya rejeksi atau penolakan yang terjadi di dalam tubuh terhadap organ baru."


"Sedangkan ginjal yang satunya sudah tak berfungsi dengan baik. Kami Dokter bisa berbuat mencuci darahnya lagi"


"Apa tidak bisa di lakukan donor ginjal lagi Dokter"


"Boleh, asal ginjalnya yang di donor cocok bisa akan di lakukan oprasi ginjal berikutnya"


"Apa saya bisa menjadi pendonornya Dokter?"


"Melihat kondisi tubuh anda, saya rasa tidak mungkinkan"


Kakek Rangga tertunduk lesu.


"Baiklah Dokter, lakukan cuci darah saja dokter"


"Kami akan mempersiapkannya, mohon anda menandatangi semua persyaratan dan lengkapi sekalian biayanya"


"Baik Dokter, lakukan yang terbaik"


"Iya kek, kami akan selalu berusaha yang terbaik"


"Trima kasih dokter"


"Sama-sama kek, itu sudah menjadi tugas kami"


Kakek Rangga keluar dari ruangan Dokter Adam.


Kakek Rangga segera bergegas melengkapi persyaratan yang di katakan Dokter Adam.


Mahendra tengah bersama keluarganya menunggu Kakek Joni siuman.


Kakek Rangga datang menemui mereka dan mengatakan apa yang Dokter Adam katakan.


Kedua orang tua Mahendra cukup heran, dan bertanya-tanya dalam hati perihal donor ginjal.


Ada hubungan apa dengan anaknya selama ini dengan Kakek Joni, tapi mereka tak langsung mengutarakan maksud hati mereka.


Kedua orang tua Mahendra menahannya untuk bertanya. biarlah mereka akan menanyakan kepada Mahendra setelah dari rumah sakit ini.


Segala persiapan prosedur cuci darah telah dokter laksanakan. Semoga Cuci darah kali ini akan berhasil menyelamatkan Kakek Joni.


Semua menunggu di depan ruangan Kakek Joni yang sedang cuci darah.


Mereka semua pun berdo'a untul kesembuhan Kakek Joni. Hanya itu harapan mereka semuanya. Mahendra ingin Kakek Joni harus hadir di pernikahannya nanti. Untuk itu Mahendra berdo'a agar dokter berhasil kali ini.


TBC....


.