MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 45



Hari ini Aditya sudah bersiap untuk berangkat ke Indonesia. Setelah berdebat dengan Ayahnya, Aditya tetap bersikukuh untuk pergi ke Indonesia bersama ibunya.


"Ayo bu, nanti kita terlambat"


"Baiklah Nak"


Mobil yang di tumpangi Aditya dan Ibunya berjalan menuju bandara. Asistennya Andika membawa mobil dengan kecepatan standar. Dia ingin Aditya gagal berangkat ke Indonesia.


Di tengah perjalanan ibunya Aditya berusaha agar anaknya memikirkan rencananya untuk menikahi Atika.


"Aku sudah katakan bu, keputusanku sudah bulat"


"Tapi Nak, istrimu akan melahirkan bulan ini. Kamu tak sayang tak melihat anakmu lahir?"


"Sudah, Ibu tak usah memikirkan itu. Yang terpenting aku harus mengurus Atika terlebih dahulu. Ibu ingin ikut denganku atau tidak?!"


"Baiklah Nak, ibu akan ikut denganmu"


Ibunya tak ingin anaknya sampai pergi darinya bahkan tak pulang ke LA lagi.


Di tengah perjalanan Aditya menghubungi Atika.


Dreett... dreett..


Atika melihat handponenya dan di lihatnya ada panggilan Aditya, timbul rasa malas. sekian lama berpisah baru sekarang Aditya menelponnya.Apalagi kenyataannya Aditya sudah membohonginya.


Atika pun mengangkat telponnya.


"Assalamu'alaikum" ucap Atika setelah panggilannya tersambung.


"Waalaikum salam, bagaimana kabarmu calon istriku"


"Calon istri? Apa aku tak salah mendengarnya?!"


"Kita belum memutuskan hubungan pertunangan kita, ingat! kamu sudah berjanji setelah kamu selesai pendidikan, kamu akan menerima pernikahan kita"


"Aku tak lupa, hanya saja kamu yang lupa denganku. Bertahun-tahun kamu tak pernah menghubungiku, terus kau sekarang mengabarkan aku adalah calon istrimu. Kamu jangan pernah bermimpi" ucap Atika dengan tegas.


"Aku sekarang mau ke Indonesia bersama Ibuku, kita akan mempersiapkan segala kebutuhan perkawinan kita. Kamu tau aku tak suka di tolak"


"Terserah Aditya, dan asal kamu tau. Orang tuaku sudah tahu kalau kau sudah beristri. Kamu itu tak ada rasa syukurmu, dan aku pun sudah tau kau sudah menikah. Dan aku tak ingin menjadi orang ketiga dengan hubunganmu. Dan mengenai perjanjian kita, kamu sendiri yang sudah mengingkarinya. Dan itu sudah berakhir"


Atika pun langsung memutuskan sambungan teleponnya.


"Aaaarrggghhh"


Aditya menjambak rambutnya. dia curiga pasti ayahnya yang sudah memberi tahu keluarga Atika.


"pasti ini pekerjaan ayah?" batin Aditya.


Flasback on.


Malam itu, setelah ibunya Aditya berbicara dengannya dan masuk ke dalam kamar Aditya. Diam-diam ayahnya Aditya menelpon Ayahya Atika.


"Assalamu'alaikum Pak Tri" ujar Pak Saputra Ayahnya Aditya setelah sambungan teleponnya di angkat.


"Waalaikum salam Pak Saputra, bagaimana kabar semua. semoga sehat selalu ya"


"Alhamdulillah, kami semua di sini sehat selalu. maaf aku baru bisa menghubungimu"


"Tidak masalah Pak Sapurta, kita ini sudah bersahabat lama. Jadi aku sudah tau kamu pasti sangat sibuk mengurus perusahaanmu"


"Maaf, Pak Tri. Maafkan kami semua di sini, kami di sini mengurus perusahaan yang hampir bangkrut. Beruntung ada kolega kami yang bersedia membantu dan kolega itu sudah menjadi besan kami juga. Apa pak Tri marah dengan keputusan kami?"


"Aku sudah tau segalanya Pak Saputra, aku tak pernah mempermasalahkan itu. Aku tau jodoh itu hanya Allah yang menentukan. Aku sudah rela, artinya Aditya bukanlah jodoh anak kami"


"Syukurlah Pak Tri, aku senang kamu mengerti dengan keadaan kami. Saat ini istrinya Aditya lagi mengandung dan sebentar lagi akan melahirkan"


"Alhamdulillah, berarti sebentar lagi kamu akan menjadi kakek dong"


"Iya Alhamdulillah"


"Selamat ya, jika aku punya waktu senggang, aku akan jalan-jalan ke tempatmu di LA"


"Pintu rumahku terbuka lebar untuk sahabatku"


"Sahabatku, tapi aku di sini lagi ada masalah" lanjut Pak Saputra.


"Ada masalah apa?"


"Besok Aditya ingin pergi ke Indonesia untuk melamar Atika, aku sudah melarangnya tapi kamu sudah tahu, Anakku itu keras kepala"


"Baiklah, kamu jangan khawatir. Aku akan mengatasinya"


"Waalaikum salam"


Pak Tri pun langsung mengatakan kepada Atika perihal perkawinan Aditya dan mengenai istri Aditya yang sedang hamil.


Atika begitu terkejut tapi dia bersyukur tak jadi menikah dengan Aditya. Ada rasa senang di hatinya artinya dia dan Mahendra bisa bersatu dalam tali pernikahan nantinya.


"Alhamdulillah, trima kasih ya robby" batin Atika bersyukur. Dia dan Aditya tak jadi menikah.


Flasback Off.


"Bu, aku tetap harus ke Indonesia" ucap Aditya.


"Nak, lebih baik kau ikhlaskan Atika. kasian istrimu yang sedang hamil, apalagi mereka sudah mengetahui kau sudah menikah. Ibu mohon, tak usah mengharap Atika, tak mungkin kedua orang tuanya mau kamu menikahi Atika dan menjadikannya istri kedua"


"Bu, kita sudah membicarakannya semalam. Andika berhenti!" ujar Aditya pada asistennya.


"Nak, kamu mau ke mana"


"Bukan urusannya Ibu, Andika! bawa pulang Ibu ke rumah lagi"


"Baik, Bos"


Mobil pun memutar balik ke arah rumahnya Aditya.


"Aditya!, Aditya!, Nak dengarkan Ibu, Aditya!" Ibu Sofia berusaha menghentikan Aditya tapi Aditya tetap berjalan.


Aditya menulikan pendengarannya, keputusannya untuk berangkat ke Indonesia sudah bulat dan dia tetap ingin bertemu Atika walau semua sudah mengetahui keadaan sebenarnya.


"Ya Tuhan, semoga Aditya tidak berbuat sesuatu yang merugikan dirinya" gumam Ibu Sofia.


Mobil yang di tumpangi Aditya menuju ke bandara.


"Kalian persiapkan segalanya, aku dan Atika akan menikah besok. Semua harus sesuai dengan keinginanku, aku tak mau tau, lakukan sesuatu, pokoknya bagaimana caranya Atika harus menikah denganku besok. Kalian mengerti?"


"Siap Bos, perintah akan selalu di laksanakan"


Drrrreeett... drrreeett


Handpone Aditya berbunyi dan menandakan panggilan Sonia istrinya.


"Halo, ada apa"


"Mas, kamu beneran hari ini ke Indonesia?"


"Iya, kamu di rumah mamamu dulu. Aku ada urusan yang penting"


"Mas! Aku lagi hamil besar, kamu kok tega tinggalkan aku begini?"


"Aku tidak meninggalkanmu, aku ada urusan yang penting"


"Apa lebih penting urusanmu dari pada diriku ini, mas? Bagaimana jika aku melahirkan esok hari"


"Ada orang tuamu dan orang tuaku, sudah! jangan banyak bicara lagi"


"Kamu tega mas"


Sonia mematikan sambungan teleponnya. Dia menangis tersedu-sedu. Usia kandungannya sudah 35 minggu artinya Dia sebentar lagi akan melahirkan dan teganya Aditya meninggalkan dia berjuang sendiri.


Di kediaman Aditya.


Setelah Ibunya Aditya sampai di rumahnya, dia segera mencari keberadaan suaminya.


"Ayah, apa yang akan kita lakukan. Aku takut Aditya nekat memaksa Atika. Orang tua Atika dan Atika sudah mengetahui Aditya sudah menikah"


"Maaf bu, aku yang memberi tahu mereka. Aku pikir setelah mereka tau Aditya akan mengurungkan niatnya menikahi Atika"


"Lalu apa yang akan kita lakukan"


"Jalan satu-satunya membawa Sonia ke Indonesia"


"Bagaimana bisa, Sonia perutnya sudah besar. Tak mungkin dia di izinkan untuk naik pesawat"


"Kita akan sewa pesawat pribadi bu, ayah rasa sonia pasti akan mau ikut dengan kita"


"Ayo yah, kita ke rumahnya Sonia sekarang. Aku tak ingin Aditya berbuat nekat"


Mereka pun bergegas ke rumahnya Sonia.


TBC....