MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 64



Atika menatap tubuhnya di depan cermin, dia tersenyum melihat cetakan merah di antara bukit kembarnya.


Ada rasa sakit sedikit, di sentuhnya tanda itu. Atika membayangkan kejadian barusan yang terjadi antar dia dan Mahendra.


"Hayo, lagi ngelamun apa sayang?Mau di ulang lagi"


Mahendra mengerlingkan seblah matanya, sambil menatap kagum tubuh Atika.


"Aby, tidak ingat pesan bunda"


"Ingat kok, sayang. ayo ngeh cepat bebersih dulu, setelah itu kita makan siang berdua, kebetulan ibu sudah membawakan makanan di kamar."


"Baiklah, by"


Atika segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan sisa-sisa make up yang di pakainya.


Mahendra pun mengatur makanan di meja di depan tempat tidurnya.


Ruang kamar tidur Mahendra memang besar, di depan kasur tempat tidurnya ada satu set meja dan kursi layaknya di ruang tamu.


Mahendra juga sudah mengganti pakaiannya terlebih dahulu.


Atika keluar dari kamar mandi, tubuhnya masih terlilit handuk.


Mahendra ingin sekali mendekatinya tapi di urungkan, dia ingat pesan Ibunya.


Atika cepat-cepat masuk ke dalam ruang ganti baju dengan berlari kecil.


"Tahan Mahen, ntar malam masih ada resepsi" gumam Mahendra di dalam hati sambil di usapkan dadanya.


Gemuruh di dadanya masih saja berdetak dengan cepat.


Atika sudah mengganti pakaiannya dengan gamis yang biasa di pakai di rumah, niatnya ntar malam saja baru pakai lingerie.


Atika duduk di sebelahnya Mahendra. Mahendra segera mengambil makanan yang di bawa Ibunya.


"Aku suapin ya? kita makan sepiring berdua saja"


"Iya, by." jawab Atika sambil tersenyum.


Senyumannya membuat Mahendra ingin menciumnya.


Muacchh.


"Aby, kita makan dulu" ajak Atika sambil bermanja di lengan Mahendra.


"Ummy pasti sudah lapar ya, sini Aby suapin ya" ucap Mahendra sambil menyodorkan sesuap nasi dan lauk di tangannya.


"Baca do'a dulu by," ucap Atika mengingatkan.


Setelah itu Atika membuka mulutnya.


Mahendra berdo'a di dalam hati dulu setelah itu dia membuka mulutnya.


"Aaaaa"


"Sekarang sama Aby ya"


Atika pun mengambil sesuap nasi di tangannya dan menyuapkan kepada Mahendra.


Sweet banget deh suasananya, menambah ke harmonisan awal rumah tangga mereka.


Setelah selesai makan siang mereka segera melaksanakan sholat Zhuhur berdua di lanjutkan sholat sunah setelah akad nikah.


Mulai saat ini mereka akan selalu sholat berjamaah jika ada di rumah.


Jika mereka berjauhan mereka pasti akan saling mengingatkan untuk makan dan sholat tepat waktu.


Setinggi apa pun jabatanmu, sekeren apapun pekerjaanmu, walau sesibuk apapun kamu jangan pernah tinggalkan sholat lima waktu.


Itu sering di ingatkan Ayah dan ibu Mahendra.


Mereka sekarang saling memanggil panggilan sayang.


Atika memanggil Mahendra Aby, dan Mahendra memanggil Atika Ummy.


"Ummy istrahat dahulu ya, biar setelah di rias wajahnya tetap fress,"


"Emang Aby mau kemana?," tanya Atika.


"Aby, mau liat Kakek joni dahulu setelah itu, aby akan istrahat juga. Jam 4 MUAnya akan datang my"


"Oh, baiklah by. Ummy antar dahulu bekas makan kita deh, setelah itu ummy istrahat deh"


"Nggak usah, nanti ada bi ijah yang akan membereskannya"


"Baiklah by"


Atika pun segera membaringkan badanya, bangun shubuh membuatnya sangat mengantuk.


Mahendra segera memanggil Art untuk membersihkan bekas makannya.


Setelah itu Mahendra mencium dahi Atika, dan meninggalkannya untuk melihat Kakek Joni.


"Kakek, bagaimana keadaannya."


"Kakek baik-baik saja nak, kenapa kamu tak istrahat?" tanya Kakek Joni.


"Aku akan istrahat jika sudah melihat kakek"


Kakek tersenyum kepada Mahendra.


"Mahen, jika aku meninggal, jangan lupa kuburkan aku di samping orang tuaku"


"Kakek bicara apa sih, kakek akan sembuh,"


Kakek hanya tersenyum dan memejamkan matanya.


Mahendra pun keluar dari kamar Kakek Joni dengan perasaan kalut, mengingat perkataan Kakek Joni.


Mahendra masuk ke dalamnya, di lihatnya Atika sudah tertidur pulas.


Ujiannya masih belum berakhir, masih harus meniti rumah tangga bersama Atika.


"Ya Allah, jagalag rumah tanggaku dari gangguan syetan Dasim" gumam Mahendra.


Dasim merupakan jenis setan spesialis yang hebat dan cerdik. Mereka berusaha menggunakan berbagai cara untuk mengganggu rumah tangga manusia. Mereka juga tak segan membuat gangguan-gangguan di dalam rumah. Setan jenis ini juga suka ikut dalam berbagai aktivitas penghuni rumah.


Mahendra mencium Atika di dahinya, setelah itu dia berdo'a dan membaringkan tubuhnya di samping Atika lalu memeluknya.


Tak lama terdengar dengkuran halus dari Mahendra, menandakan sang empunya telah terlelap.


***


Setelah beberapa jam, Atika terbangun dari tidurnya.


Tubuhnya terasa berat dengan pelukan dari Mahendra.


Dia pun membalikkan tubuhnya.


Atika tersenyum.


Wajah tenang nan tampan terpahat sempurna di wajah Mahendra. Wajah putih bersih menambah keindahan ciptaan Allah SWT.


Atika memberanikan diri mencium dahi Mahendra.


Seketika Mahendra mengeliat, Atika tersenyum melihat Mahendra yang tetap tertidur nyenyak.


Perlahan-lahan Atika mengangkat tangan Mahendra yang memeluknya agar Mahendra tak kaget dari tidur.


Seketika pelukannya begitu erat.


"Mmmm, Aby pura-pura tidur ya"


Mahendra tetap memejamkan matanya.


Atika ingin beranjak dari tempat tidurnya, tapi tangan Mahendra malah melingkar sempurna di perutnya.


"Aby, bangun. Sebentar lagi MUA akan datang mendandaniku"


Mahendra tetap menutup matanya.


Atika melihat tingkah Mahendra malah mengerjainya.


Di kecupnya bibir Mahendra.


Seketika tangan Mahendra menahan tengkuk Atika.


Mahendra ******* lembut bibir Atika, ******* yang awalnya lembut menjadi ******* yang menuntut lebih.


Mahendra menindih tubuh Atika.


"Sayang, kamu nakal ya"


"Yang nakal siapa hayo, abis Aby di bangunin nggak mau bangun"


"Nah, sekarang bukan hanya Aby saja yang bangun, aby kecilnya juga ikut bangun. Hayo! tanggung jawab gih"


"Aby, tidak ingat pesan bunda?"


"Iya-iya ingat, jangan lupa persiapkan dirimu ntar malam ya"


"Iya sayangku" ucap Atika dengan mencium bibir Mahendra.


Mahendra mencium balik Atika dengan ******* lembut.


Atika mengalungkan tangannya di kepala Mahendra, Mahendra menopang tubuhnya dengan tangannya agar tak menekan tubuh Atika.


Deru nafas mereka semakin cepat, oksigen yang masuk ke paru-paru mereka semakin menipis dengan kegiatan sesapan mereka. Lidah mereka saling mengecap bertukar saliva.


"Hah... hah... hah.."


Mereka berdua tersenyum.


"I love you, Ummy"


"Love you too, Aby"


Setelah itu Mahendra membaringkan tubuhnya di samping Atika, dia tak meneruskan kegiatannya, takut dia akan khilaf dan lupa akan pesan Ibunya.


Atika bangan dari tempat tidurnya.


"Aby, kita sholat ashar dahulu"


"Iya sayang,"


"Aku mandi dulu ya By"


"Nggak mandi berdua saja biar cepat?!"


"Ih, Aby Nakal. ntar bener-bener khilaf deh"


"Nggak papa yang, khan udah halal juga"


"Aby nih, malam aja mandi berduanya"


"Bener ya, janji?" ucap Mahendra dengan semangat.


"Iya janji,"


"Baiklah, Aby mandi di sebelah saja"


"Jangan, kita gantian saja By, tak enak di lihat orang"


"Oke deh sayang"


Atika pun menuju ke kamar mandi untuk mandi membersihkan diri setelah itu dia mengambil air wudhu untuk sholat ashar.


Setelah Atika selesai di susul Mahendra. Setelah itu mereka sholat Ashar berdua, berdo'a di beri kelancaran acara mereka nanti malam.


TBC...