MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 43



Mahendra menuju mal matahati, di tengah perjalanan dia bertemu dengan temannya yang bekerja di toko y.


"Mahendra, apa kabarmu?"


"Hai Steve, alhamdulillah aku baik"


"Kamu mengapa tak bekerja lagi di toko y?" tanya Steve kembali.


"Aku kemarin KKN dan setelah itu aku fokus menyusun skripsi. Sebenarnya Juragan Yamin masih ingin aku bekerja, tapi aku yang masih harus fokus dengan skripsiku"


"Oh, terus sekarang skripsimu udah selesai kan. Apa kamu tak berniat untuk kembali lagi"


"Sebenarnya aku memang ingin bekerja lagi, sambil nunggu panggilan magang. Tapi nanti aku pikirkan lagi"


"Baiklah, aku masuk kerja dulu ya"


"Iya Steve, selamat bekerja"


"Trima kasih Mahen"


"Ya, sama-sama"


Steve masuk ke dalam toko y, ada kerinduan di hati Mahendra. Iya ingin sekali berkumpul bersama teman-temannya. Tapi mengingat dia belum boleh mengangkat barang yang besar-besar. Terpaksa keinginannya harus di abaikan.


Mahendra berjalan menuju ke toko handpone sesuai tujuannya ke mal matahati. Mahendra masuk ke dalam toko celuller dan melihat-lihat.


Pada saat yang sama Tejo juga lagi melihat handpone untuk di belinya. Mahendra senang sekali bisa bertemu dengan Tejo sahabatnya.


Pasalnya selama dari KKN, mereka tidak pernah bertemu dengan Tejo, apalagi setelah KKN mereka sibuk dengan penyusunan skripsi.


"Tejo, apa kabarmu" ucap Mahendra sambil memeluk Tejo.


Para karyawan memperhatikan mereka yang berpelukan.


Tejo pun mengeratkan pelukannya.


"Tejo, lepas dong"


"Kangeen" ucap Tejo dengan suara perempuan.


"Ih, Tejo lepas! kamu ini ada-ada saja" bentak Mahendra.


"Nggak maauuuu"


"Heh, kamu setelah KKN udah jadi kemenyek seperti ini ya. Lepas!!"


Karyawan toko celullar pun tertawa dengan tingkah mereka berdua.


"Iya, iya, aku juga masih normal juga kaleee" ucap Tejo dengan melepas pelukannya.


"Aku kira kamu sudah tak normal, whuahahaha" ujar Mahendra dengan tawa di bibirnya.


"Ih, aku itu hanya kangen padamu. tiga kali puasa tiga kali lebaran kamu tak bertemu denganku"


"Bang Toyib kalee" senyum merekah di wajah Mahendra.


"Aku Bang Tejo bukan Bang Toyib" balas Tejo dengan tawa khasnya.


Begitulah mereka jika bertemu, persahabatan mereka penuh tawa dengan tingkah Tejo.


"Kamu ngapain di sini" tanya Tejo.


"Makan"


"Makan?"


"Iya makan, whuahahahaha" tawa Mahendranpun terdengar kembali.


"Kamu ini aneh, ini toko celullar masih di tanya ngapain di sini"


"Oh, iya lupa. Whuahahahaha" balik tawa Tejo yang terdengar.


"Ayo kita lihat handpone model terbaru" ucap Tejo.


"Hmmm, mentang-mentang udah punya uang banyak. sekarang malah pengen handpone terbaru ya"


"Yah, saat ini bagusnya menikmati hidup Mahen"


"Aku tak perlu yang keluaran terbaru, yang penting bisa video call dan sms itu sudah bagus"


"Iya-iya, sahabatku. Ayuck" ucap Tejo dengan mengajak Mahendra ke depan meja handpone yang di pajang.


"Mbak, tolong perlihatkan model terbaru dan terlama"


Karyawan pun hanya saling memandang, mereka heran dengan mereka berdua.


"Mbak, apa ada yang aneh?" tanya Tejo.


"Ah, tidak mas. Ini model terbaru dan yang terlama merek oddo" ucap karyawan dengan salah tingkah.


"Makanya kamu juga aneh, memelukku dengan sangat lama seperti kita ada kelainan" bisik Mahendra kepada Tejo.


"Kami masih normal mbak, maaf karena kami sahabat lama yang baru ketemu. Jadi keliatan aneh" ucap Tejo menjelaskan.


"Oiya mas" ucap karyawan dengan salah tingkahnya.


Tejo pun mengambil salah satu handpone yang model terbaru yang warna biru sedangkan Mahendra mengambil sepasang handpone yang model lama asal bisa untuk menelpon, video call dan sms.


Mereka berdua pun membayar barang yang mereka beli.


"Oiya, bener banget. Udah lama kita tak pernah nongki"


"Yuck, kita ke sana saja" ucap Tejo.


Mahendra pun berjalan beriringan dan menuju ke cafe x yang pernah Mahendra dan Atika bertemu.


Sejenak terlintas kejadian di mana Mahendra bertemu dengan Atika. Dan tak lama Aditya datang mengacaukan pertemuan mereka.


"Heh, kok malah melamun" ujar Tejo dengan menepuk bahu Mahendra.


"Ah, tidak. Aku hanya mengingat kejadian yang dulu dengan Atika di cafe ini"


"Oh, iya, Atika sekarang di mana dan apa sudah nikah sama Aditya"


"Sembarangan, Atika akan nikah denganku bukan dengan Aditya atau siapapun"


"Hah, benarkah?" tanya Tejo heran.


"Iya, pasti janjiku akan aku tepati"


"Aamiin. Aku senang jika kalian bisa Bersama"


"Lalu kamu, apa sudah punya gebetan nih"


"Masih nyari terus"


"Ah, dari dulu nyari terus, jodohnya masih di simpan sang papa, whuahahahaha" ucap Tejo sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hmm.. kebiasaan" sarkas Mahendra dan dia tersenyum dengan tingkah Tejo.


"Kamu mau pesan apa, aku yang akan mentraktirmu" lanjut Mahendra.


"Iya-iya"


Tejo pun memesan pesanan mereka dan mereka berbincang tentang masa KKN.


30 menit berselang Mahendra pamit pada Tejo, karena dia ingin mempersiapkan untuk pergi ke rumah Atika nanti malam.


Tejo pun mengatakan dia juga harus balik ke rumahnya karena sebentar lagi dia harus bekerja di apotik.


Mahendra dan Tejo berpisah di ujung jalan karena arah mereka berbeda.


Mahendra pun balik ke rumahnya dan memberi kejutan pada kedua orang tua. Tapi sebelumnya dia melaksanankan sholat dzuhur terlebih dahulu.


Setelah itu dia pun membantu ibunya di dapur untuk makan siang nanti. Rencananya akan di berikan pada saat selesai makan siang.


"Ayah belum pulang bu"


"Mungkin sebentar lagi Nak"


Tak lama terdengar salam dari arah luar dan mereka membalas salamnya Ayahnya Mahendra.


"Ayah bebersih dulu ya, setelah itu kita makan siang bersama"


"Iya Yah" jawab Mahendra.


Tak lama mereka makan siang bersama.


Setelah makan siang Mahendra meletakkan dua buah bingkisan di depan Ayah dan Ibunya.


"Nak, apa isi bingkisan ini?" tanya Pak Tohar.


"Ayah dan Ibu buka saja, ini hadiah pertama dari Mahendra"


"Nak, untuk apa handpone ini. Ayah dan Ibu pasti tak tau untuk menggunakannya"


"Lambat laun Ayah dan Ibu pasti bisa belajar sedikit demi sedikit. Mahendra akan mengajari Ayah dan Ibi cara menggunakan handpone" sarkas Mahendra.


"Tapi Nak, untuk apa Ayah dan Ibu menggunakan handpone Ini"


"Mulai sekarang Ibu bisa mengetahui keberadaan Ayah, jika ayah terlambat pulang ke rumah. Mahendra juga tak susah menghubungi Ayah dan Ibu jika Mahendra ke luar kota"


"Maaf Mahendra hanya bisa membeli handpone Ibu dan Ayah yang keluaran lama bukan yang baru"


"Ini saja kami sudah bersyukur Nak"


"Ayah juga sangat berterima kasih padamu"


"Ayah, Mahendra minta ayah jangan bekerja lagi. Sekarang waktunya Ayah pensiun dan menikmati masa tuanya"


Ayahnya pun berfikir dan tak lama dia menganggukan kepalanya.


"Mahendra punya satu kejutan lagi buat Ayah dan Ibu, tapi Mahendra mohon, Ayah dan Ibu tak akan menolaknya"


"Kejutannya apa Nak" tanya Ibu Nanda.


"Jika Mahendra kasih tau sekarang, bukan lagi kejutan namanya dong. Tapi ada Syaratnya, Ayah dan Ibu tak akan menolaknya. Janji dulu pada Mahendra"


"Baiklah, Ibu dan Ayah berjanji tak akan menolaknya"


"Alhamdulillah" gumam Mahendra.


Keinginan Mahendra membawa orang tuanya untuk tinggal di mansion Kakek Jony sebentar lagi akan terwujud. Mahendra bersyukur orang tuanya tak akan menolaknya.


TBC...