
"Alhamdulillah nak, jagalah Sonia dengan baik, Ayah senang kamu sudah sadar" ucap Pak Saputra sambil memeluk anaknya.
Semua nampak gembira dengan keputusan Aditya, dan yang lebih bahagia adalah Mahendra. Mahendra melamar Atika dan Atika sudah menerimanya.
Sonia merintih dan meringis kesakitan tapi sakitnya belum sering-sering.
"Sabarlah, sebentar lagi kita akan sampai" ucap Aditya menenangkan.
Sonia pun hanya menganggukkan kepalanya. Setelah sampai di rumah sakit, Dokter segera menangani Sonia.
Pak Saputra tampak khawatir, dia pun segera menghubungi besannya.
"Assalamu'alaikum" ucap Pak Saputra setelah panggilan tersambung.
"Waalaikum salam, ada apa Pak Saputra"
"Begini Pak Wanda, Sonia nampaknya akan melahirkan. Ini kami sudah di rumah sakit"
"Kalau begitu kami akan ke Indonesia,"
"Terserah Bapak saja, Jika ingin ke Indonesia silahkan. Kami sekarang lagi menjaga Sonia"
"Baiklah, Pak Saputra. Trima kasih infonya"
"Sama-sama Pak Wanda, assalamu'alaikum."
"Waalaikum salam"
Setelah panggilan terputus kedua orang tua Sonia segera memesan pesawat jet, dan segera menuju ke Indonesia.
***
Sementara di rumah sakit, hanya ada Aditya dan kedua orang tuanya. Atika dan yang lainnya telah kembali ke rumah masing-masing.
Sebelum Atika pergi, Aditya sudah meminta maaf kepada kedua orang tuanya Atika, Atika dan Mahendra. Mereka pun sudah memaafkannya.
Di tengah perjalanan.
"Papah, mamah, sebaiknya laporan polisi untuk Aditya di cabut. Aku tak tega jika Sonia akan berjuang sendiri setelah melahirkan,"
Semua nampak heran dengan Atika, apalagi Ibunya.
"Nak, memang mulia hatimu. Tapi setidaknya Aditya mendapat pelajaran dulu, nak"
"Mah, saya tak ingin Sonia dan anaknya menderita karena kesalahan Aditya, mereka berdua yang harus menanggungnya jika Aditya di penjara,"
"Baiklah, terserah padamu nak" ucap ibunya
"Besok, Papah akan ke kantor polisi, papah akan mencabut laporannya"
"Trima kasih pah" ucap Atika sambil memeluk Ayahnya.
"Anak papah sudah besar, apalagi sedikit lagi kamu akan menikah, jangan lupa suruh Mahendra datang bersama kedua orang tuanya"
"Iya pah, tapi Atika maunya setelah wisuda saja"
"Baiklah nak, apa pun keinginan kamu, papah dan mamah hanya bisa mendukung dan menuruti kemauanmu,"
"Trima kasih mah, pah. Atika bersyukur papah dan mamah selalu ada dan selalu mendukungku,"
"Sama-sama nak, kebahagiaanmu itu lebih utama"
Setelah mereka sampai di rumah, Atika langsung masuk ke dalam kamarnya. dan segera menghubungi Mahendra.
Drerrtt... dreett..
Mahendra melihat ada panggilannya Atika, dia pun segera mengangkatnya.
"Assaalamu'alaikum"
"Waalaikum salam, kamu sudah sampai di rumah?," tanya Atika.
"Iya, aku barusan ke rumah kakek Joni dahulu,"
"Oh, papah memintamu untuk datang dengan orang tuamu, tapi aku meminta setelah kita wisuda saja"
"Baiklah, itu terserah padamu. Aku siap kapan pun melamarmu. Kamu istrahat saja dahulu, kasian kamu pasti sangat lelah"
"Iya, kamu juga jangan lupa istrahat. Kalau begitu aku tutup dulu telponnya, assalamu'alaikum"
"Waalaikum salam"
Mereka pun mengakhiri sambungan telepon dan segera mengistirahatkan badannya.
****
Di Rumah Sakit.
"Sabarlah sayang, aku tau kau wanita yang kuat"
Dokter pun memeriksanya, ternyata masih tetap pembukaan 5 belum ada penambahannya.
"Kalau masih sanggup berjalan, jalan dahulu"
"Sudah tak kuat dokter," ucap Sonia.
"Apa sebelumnya sudah di USG?" tanya dokter.
"Sebulan yang lalu dokter"
"Kalau begitu kita periksa USG terlebih dahulu, nanti di bantu suster kita akan ke ruanganku"
"Biar aku yang mendorong kursi rodanya suster" ucap Aditya perhatian dengan Sonia. Dia tak tega melihat Sonia kesakitan.
Mereka pun berjalan menuju ke ruangan Dokter. Setelah sampai di tempatnya, Aditya menggendong Sonia berbaring di ranjang tempat USG.
Setelah itu Dokter mengoleskan gel di perut Sonia dan mulai menempelkan Alatnya. Baru kali ini Aditya melihat calon anaknya yang ada di dalam perut Sonia.
Mata Aditya berkaca-kaca, betapa bahagianya melihat calon buah hatinya. Biasanya setiap Sonia mengajaknya alasannya dia tak ada waktu dan harus menemui klien.
"Anaknya nampak sehat, umurnya juga sudah 34 minggu dan beratnya sudah 2,2 kg. Tapi... " Dokter tidak meneruskan ucapannya.
"Tapi apa dokter?," tanya Aditya.
"Tapi anak anda dalam keadaan sungsang, sebaiknya di suntik dahulu penguatan jantung jika memang sudah siap, alangkah lebih baiknya kita lakukan oprasi ceasar secepatnya"
"Baiklah dokter, apa pun itu, lakukanlah, asal anakku bisa selamat" ucap Aditya dengan antusias. Dia tak ingin sesuatu terjadi dengan calon bayinya.
"Baiklah, kami akan segera menjalankan sesuai prosedurnya"
"Trima kasih dokter, lakukanlah yang terbaik dokter. Berapa pun biayanya saya akan membayarnya asal anakku bisa selamat"
Dokter pun tersenyum, dan berkata
"Pak, kami tak pernah berharap bayaran yang lebih, apa pun itu, kami akan lakukan sebaik mungkin. Tenanglah, berdo'alah anak anda akan selamat"
"Trima kasih dokter, aku percayakan semuanya kepada dokter,"
"Sama-sama pak, suster akan mengantarkan anda di tempat semula dan kami akan segera melaksanakan kewajiban kami"
"Baiklah dokter,"
Mereka pun ke ruangan bersalin kembali dan tak lama dokter menyuntikkan penguatan jantung untuk anaknya Aditya.
Sonia masih tetap merasakan sakit yang luar biasa.
"Awww....sakit, sakit"
"Tahanlah, sebentar lagi kita akan melihat buah hati kita"
"Tapi Aditya, aku tak kuat"
"Kamu wanita yang kuat, ingatlah, anak kita akan segera hadir"
Sonia hanya mengangguk menahan sakit. Ketika Dokter datang. Aditya langsung meminta Dokter untuk segera mengoprasi Sonia, karena Sonia nampaknya tak kuat dengan sakit yang di deritanya.
Dokter pun segera menyiapkan meja oprasi untuk Sonia. sekitar 15 menit, Sonia di bawa ke ruang operasi di temani Aditya.
Step by step telah di lakukan oleh dokter dan akhirnya lahirlah anak laki-laki mirip dengan Aditya.
"owe'... oweekkk... owwwekk," suara bayi terdengar nyaring.
Kedua orang tua Aditya mengucapkan syukur begitu juga dengan Aditya. Aditya langsung mencium kening Sonia.
"Trima kasih, kamu sudah memberiku kado yang terindah dalam hidup ini" ucap Aditya sambil mencium Sonia.
Sonia hanya bisa meneteskan air mata kebahagiaannya. Sonia tak menyangka akan menjadi seorang ibu.
Begitu juga dengan Aditya, kebahagiaannya tak bisa di jabarkan dengan kata-kata. Menjadi seorang ayah di usia yang cukup muda.
Di usia 23 tahun, tanggung jawabnya akan semakin besar. Seketika air matanya menetes, mengingat besok dia harus segera masuk ke dalam penjara.
Setelah bayinya di bersihkan. Dokter membawa anak Aditya ke hadapan Aditya.
"Anak anda laki-laki, sehat dan tak harus masuk di inkubator karena jantungnya sudah cukup sehat, baringkan di dada ibunya, agar dia langsung bisa menyusui kepada Ibunya,"
"Anak yang ganteng, aku akan menamainya Edward Saputra, Edward artinya penjaga yang baik." ucap Aditya sambil menggendong anaknya.
Aditya membaringkan Erward di dada Sonia, dan dia langsung menyusui. Aditya tersenyum melihat tingkah anaknya yang lucu dan menggemaskan.
TBC...