MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 47



Pagi ini Atika menghubungi Mahendra karena sudah janjian pergi ke butik langganannya Ibunya Atika. Atika pun menghubungi Mahendra.


"Assalamu'alaikum," jawab Mahendra.


"Waalaikum salam, Mahendra, aku ke butik sekarang ya, jangan lupa aku tunggu kamu di butik ya"


"Iya, sebentar lagi aku juga menuju ke butik. Aku membantu orang tuaku dulu sebentar dan langsung menuju ke butik,"


"Baiklah, sampai bertemu di butik ya"


"Iya, cantik. Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam" jawab Atika dengan tersipu malu. Entah mengapa ada rasa bahagia walau hanya kata-kata sederhana dari Mahendra membuat jantungnya berdegup kencang dan pasti pipinya merona.


Satu langkah untuk hubungan mereka sudah di tapaki, bubarnya hubungan Aditya dan Atika membuat Atika sangat bahagia.


"Ya Allah, mantapkan hati hamba dengan pilihan hamba. jika itu yang terbaik lancarkanlah. Tetapi jika itu banyak mudarotnya, maka jauhkanlah." gumam Atika.


Atika pun menyuruh sopirnya mengantarkan di butik langganan ibunya.


"Ayah, Ibu, Atika pergi dulu ya. Assalamu'alaikum"


"Waalaikum salam. Hati-hati di jalan 'nak."


Atika pun menuju ke butik, setelah sampai di butik, Atika segera masuk dan melihat baju yang akan di pakainya.


"Tante Lisa, mana kebaya yang akan di pakai Atika di waktu wisuda. Kata ibu saya sudah selesai, tinggal di pakai saja," ucap Atika setelah menemui pemilik butiknya.


"Oh, ini nak. Masuklah ke dalam kamar ganti, ini bajunya."


"Wah, cantiknya, trima kasih tante. Atika suka," ucap Atika sambil mengambil baju yang akan di pakainya.


Tak lama ada pelanggan yang masuk ke dalam butik dan melihat-lihat rancangannya Tante Lisa.


Dia pun segera masuk ke dalam kamar pas yang di sebelah kamar pas Atika.


Perempuan itu menyusup di balik tirai dan menodongkan sebuah pistol di balik punggung Atika.


"Ikut kami atau kamu akan mati di butik ini"


"Siapa kalian!" bentak Atika.


"Siapa kami itu bukan urusan kamu, jangan banyak tanya dan jangan pernah katakan apa pun jika tidak nyawamu akan melayang di sini"


"Cepat! mana handpone kamu" ucap wanita itu sambil mencari handpone Atika.


"Tinggallah handpone kamu di sini dan bersikaplah biasa saja. kamu ingin selamat kan!," lanjut wanita itu. Atika pun hanya menganggukkan kepalanya.


"Tante, Atika sudah pas kebayanya dan sepertinya Atika pergi dulu," pamit Atika dengan perasaan takut karena ancaman wanita itu.


"Loh, kamu ingin pergi dengan siapa" ucap Tante lisa heran karena tadi Atika datang sendiri, sekarang malah ada yang bersamanya.


"Aku sahabatnya Tante, kami pergi dulu" jawab wanita itu.


Mereka keluar dari butik bersamaan. Dari kejauhan Mahendra melihat Atika dan seseorang di kenalnya akan masuk ke dalam mobil hitam.


"Loh, bukannya itu Fely? Mengapa jalan bersama Atika." gumam Mahendra dari jauh.


Mobil pun melaju ke arah yang Mahendra tak ketahui. Mahendra pun segera mengikuti mobil yang di tumpangi Atika. Dia mengikutinya dari belakang.


"Bos, target sudah aman"


"Bagus, amankan sekarang, jangan sampai lepas,"


"Siap Bos"


"Siapa Bos kalian! lepaskan aku!" teriak Atika.


"Diam!, Kamu itu berisik!


"Aku tak akan diam sampai kalian mengatakan siapa bos kalian!"


"Aku bilang diam! diam! Jika tidak diam kami akan menyumbat mulutmu"


"Bos, sepertinya ada yang mengikuti" ucap sang sopir.


"Siapa?,"


"Lihat di belakang bos, anaknya naik motor"


Wanita itu melihat kebelakang.


"Mahendra, apa dia mengetahui aku yang membawa Atika pergi? Semoga saja tidak" bathin Fely.


"Lajukan mobilmya, jangan sampai ketahuan"


"Siap bos"


Mobil pun melaju di jalanan, tak perduli ada mobil yang di depannya, mobil itu tetap melaju dengan kencang di depannya.


Mahendra yang di belakang pun melakukan hal yang sama.


Kejar-kejaran pun terjadi, ketika di perempatan lampu merah. lampu merah pun menyala di saat mobil yang di tumpangi Atika berjalan. Tapi karena tak ingin berhenti akhirnya mobil tersebut tetap berjalan. sementara Mahendra tak dapat mengejarnya. Karena tak mungkin menyusul mobil itu di saat ada mobil lain lagi berbelok.


"Sial!, semoga aku tak kehilangan jejak mereka" umpat Mahendra sambil memukul setirnya.


"Assalamu'alaikum Kakek, Mahen bisa minta tolong kepada team IT perusahaan kakek"


"Waaikum salam nak, iya bisa nak, emangnya ada apa!" ucap Kakek Jony gusar.


"Sahabatnya Mahendra di culik, dan nanti Mahen kirim nomor handponenya"


"Baiklah Nak, segerakanlah"


Mahendra pun mengetik nomor handpone Atika dan mengirimnya ke nomor Kakek Jony.


Mahendra menyusuri jalan tapi sepertinya tanda-tanda keberadaan Atika menghilang di telan bumi.


Mahendra nampak putus asa, tapi tidak kehilangan asa.


Jika saja dia tetap berjalan walau lampu berwarna merah pasti dia tak akan kehilangan jejak.


15 menit kemudian handponenya bergetar tanda ada yang menghubungi Mahendra. Dan di lihatnya nama Kakek Jony yang menghubunginya.


"Nak, sepertinya handponenya Atika di tinggal di butik."


"Astagfirullah," ucap Mahendra putus asa.


"Nak, apa kamu masih ingat nomor plat mobil yang di tumpangi sahabatmu?,"


"Oh, iya Kek. Mahendra masih mengingatnya"


"L 8149 aj"


"Baiklah nak, nanti Kakek akan kabari lagi"


Mahendra pun menelpon Tejo untuk membantunya, Mahendra menyuruh Tejo ke rumahnya Atika, dan mengatakan bahwa Atika di culik.


****


Di Butik.


"Loh, bukannya ini handponenya Atika ya" ucap Tante Lisa setelah melihat wallpaper layar depannya.


"Kalau begitu, aku hubungi dulu jeng Tantri deh"


drreett... dreeett


"Assalamu'alaikum jeng Tantri,"


"Waalaikum salam, jeng Lisa. ada keperluan apa, apa Atika sudah selesai mencocokkan kebaya yang akan di pakainya wisuda"


"Sudah jeng, barusan Atika dari butik ini, tapi Atika sudah pulang bersama sahabatnya"


"Oh, itu pasti Mahendra. Iya tadi katanya akan pergi bersama Mahendra nanti"


"Loh, sahabatnya wanita jeng. bukan laki-laki"


"Siapa?, apa dia mengatakan namanya?,"


"Tidak jeng, dan tampaknya sudah akrab dengan Atika kok"


"Oh, saya tak begitu tau sahabatnya Atika yang wanita"


"Begini jeng, aku ingin mengatakan sesuatu"


"Ada apa jeng, apa masih kurang biaya kebayanya?"


"Tidak jeng Tantri, Handponenya Atika tertinggal di butik, kebetulan setelah Atika pergi, aku masuk ke kamar ganti dan menemukan handponenya Atika tergeletak di lantai kamar pas"


"Aneh, kok bisa?"


"Aku juga agak aneh jeng, nanti handponenya aku simpan. Jika ingin di ambil silahkan"


"Oh, iya jeng trima kasih, nanti saya ke sana sebentar lagi,"


"Oke jeng, Assalamu'alaikum,"


"Waalaikum salam"


Setelah panggilan Tante Lisa terputus, Ibu Tantri mengajak suaminya untuk pergi ke butik langganannya untuk mengambil handpone Atika.


Ketika membuka pintu rumah ternyata Tejo sudah berdiri di depan rumah dan ingin bertamu di rumahnya Atika.


Pak Tri dan Ibu Tantri merasa aneh siapa yang datang ke rumahnya, soalnya Tejo belum pernah sekalipun ke rumahnya Atika.


"Assalamu'alaikum Tante, Om. Perkenalkan saya temannya Mahendra"


"Waalaikum salam, masuk dulu nak,"


"Tak perlu Tante, Om saya hanya ingin mengatakan kabar yang genting. Tadi Mahendra menelpon saya dan mengatakan jika Atika di culik.


"Apa!! Di Culik?" kaget Ibu dan Ayahnya Atika.


TBC....


"