
Jam menunjukkan pukul 11 malam, anak-anak muda masih nongkrong di taman kota, salah satu tongkrongan Aditya dan teman-temannya.
Semua menikmati angin malam, begitulah kehidupan Aditya. Kerjaannya hanya berkumpul dan minum-minuman keras dengan teman-temannya.
Asap rokok mengepul dimana-mana, minuman beralkohol pun tercium menyengat di hidung di sekitarnya.
"Aditya, apa rencanamu jika lulus nanti " Angga bertanya pada Aditya.
"Yang jelas aku akan melanjutkan perusahaan Ayahku"
"Trus kamu tak kuliah" tanya Angga lagi.
"Ya_ kuliah sekaligus belajar bisnis bareng Ayahku nanti"
"Baguslah, aku pun sama" lanjut Angga
Aditya terus menenggak minuman laknat Itu sampil mengesap rokoknya.
"Kamu jangan terlalu mabuk, Aditya" ucap Angga mengingatkan.
"Besok kamu harus sekolah Aditya , biar saja yang lain pada mabok" lanjut Angga sahabatnya Aditya.
***
Di kediaman Pak Tohar tampak Tejo dan Mahendra mereka belajar bersama seperti kemarin Malam.
"Besok hari minggu kamu ada kerjaan tidak? " Tanya Tejo
"Seperti biasa, pagi hari aku latihan karate dan sorenya membantu Ayah di pasar" ucap Mahendra
"Kamu ini, apa tak pernah ada rencana liburan "
"Tejo,Aku ini kalo tak kerja maka keluargaku semakin sulit. kalo hanya mau Liburan nanti-nanti ajalah. Jika sudah sukses baru Aku bisa memikirkan liburan"
Pikiran Mahendra melayang membayangkan liburan bersama keluarga. Tapi mengingat ulang kondisi keuangan mereka Mahendra mengubur dalam-dalam niatnya, sampai sukses nanti.
Tejo pun hanya mengangguk selanjutnya Tejo melirik jam dinding di ruang tamu.
Ternyata sudah jam 11 malam, terpaksa Tejo harus pamit kepada Mahendra.
Mahendra pun mengiyakan karena dia tau jarak rumahnya dengan Tejo agak jauh.
"Mahen, kita beli nasi goreng dulu aku lapar banget" ajak Tejo
"Tapi ini sudah malam Jo, " tolak Mahendra.
"Ini kan weekend pasti masih rame jualan di alun-alun taman kota" ucap Tejo menyakinkan.
"Tapi aku tak punya uang" alasan Mahendra. Tapi memang benar adanya.
"Tenang saja aku yang traktir deh"
"Baiklah"
Mereka pun berboncengan di motor menuju alun-alun taman kota.
Sampai di alun-alun banyak sekali orang-orang yang lagi berkumpul atau sedang menikmati jajanan. Mereka pun ke kedai nasi goreng yang di pinggir jalan.
"Nasi gorengnya 2 bang, pedes ya" pesan Mahendra.
"Asiayap, dek" kata abang nasi goreng.
"Nasib kita yang jomblo hanya gini aja ya, jo," Senyum Mahendra melihat banyaknya pasangan yang di alun-alun taman kota.
"Fokus sekolah aja, ngapain mikirin yang begituan," Jawab Tejo
"Bener. Jangankan mikirin pacar, mikirin diri sendiri aja keteteran"
Mereka berdua tertawa sambil menungggu nasi gorengnya di antar abang penjual.
Tak lama abang nasi goreng membawakan dua porsi nasi goreng sesuai pesanan mereka.
"Ini nasi gorengnya dek, minumnya mau apa"
"Air es aja dua bang" Mahendra menimpali.
"Asiyap dek " ucap Mahendra.
Abang nasi goreng membawakan 2 gelas air es, karena jualan di pinggir jalan jadi tak ada karyawan yang melayani kecuali abangnya sendiri.
Mereka pun segera menyantap makanan dengan nikmat tak lupa berdo'a. Suasana alun- alun begitu ramai sampai ada sepasang mata memerhatikan mereka berdua dari kejauhan.
Setelah selesai makan mereka pun membayar 2 nasi goreng seharga 25rb, dan keluar dari Tenda abang nasi goreng.
"Whahaha... bisa makan juga ya di pinggir jalan, apa memang jualan rotimu tak mampu untuk ke restoran, ya. uppsss" ucap Aditya yang datang di sela-sela mereka berdua ingin pergi dari alun-alun untuk balik ke rumah masing-masing.
"Apa urusan kamu sih" jawab Tejo dengan geram.
"Nggak ada urusan sih Tapi Memang Tau diri saja, Tak Pantas Memang Lu' lu' makan di restoran Mewah" Gelak Tawa Aditya terdengar nyaring
"Laki-laki kok Pantasnya memakai Rok, mulutnya pedes" kata Mahendra sambil Sudut bibir Mahendra Terangkat sedikit melirik aditya dengan Ekor Matanya
" Oh, Tukang Roti juga Sudah berani ya Ngatain Gue" Aditya pelahan mendekati Mahendra,Yabg memang dia tunggu Dari Tadi Kalo Mahendra Akan Mengangkat suaranya
"Emang Lu' siapa sampe Gue Takut Bersuara" Mahendra Pun Mendekati Aditya
"Bukkk" Bogem Mentah Mendarat Di Pipi Mahendra
"Bukkk..." Balasan Mahendra Menendang Perut Aditya
Suara Riuh terdengar Menyoraki Aditya Yang Memang Aditya Terkenal Di Daerah Alun-alun karena Sering Nongkrong Di sekitar situ.
Tejo Berusaha Untuk Mengingatkan Mahendra Untul Tidak Melayani Aditya Tapi Mahendra Sudah Tak Mau di Injak-Injak apalagi di Permalukan didepan orang Banyak. Sudah Cukup Dia Di olok-olok di sekolah,untuk sekarang dia Tak Mau Lagi Mau di Rendahkan
Perlawanan demi Perlawanan Aditya Lakukan, Karena Sudah Mabuk Otomatis Mahendra Masih Bisa Menghindari Tendangan dan Pukulan Aditya Tapi lain Hal dengan Mahendra Melumpuhkan Aditya dengan Titik-titik yang membuat Aditya Tak Berdaya.
"Cukup Mahendra,anak Orang Bisa Meninggal " Tak Lama Tejo berhasil Mendekati Mahendra melihat Aditya Yang Sudah Tak Berdaya
"Kenapa Kalian Hanya Liat saja " Tejo melihat sekelilingnya yang terasa Aneh kok tak ada yg melerai mereka
Seolah-olah Mahendra dan aditya 2 Ayam Yang sedang bertengkar.Hanya Ada Sorak-Sorakan
Darah Muncul di sudut bibir dan Pelipisnya Aditya,Bahkan mukanya sudah Tak berbentuk Lagi.
Lebam dan Bengkak Terlihat dimana-mana.
Mahendra Hanya Mendapat Pukulan Di pipinya Saja
"Awas Lu' Masih mengganggu Kami Berdua,Jika lu' masih lakukan , Lebih dari Ini Yg Lu' akan dapatkan" Mahendra memperingati Aditya
Mereka Pun Langsung Menuju Keparkiran Motor Menuju ke rumahnya Masing-Masing.
Teman-teman Aditya pun membantunya
"Bro, Apa Ke rumah Sakit Aja" Tanya Hendra
"Ngak Perlu,Antar Gue Kerumah gue aja " Kata Aditya dengan Tubuh sedikit membungkuk.
Badannya Terasa Remuk Bahkan Matanya Tak Bisa Terbuka dengan Sempurna.
Hendra Pun memapah Aditya Masuk Kemobil Aditya Dan Temannya Hendra membawa Motor Hendra Mengikuti Arah Rumah Aditya
15 menit kemudian
Ting Tong.. Ting Tong.. Ting Tong
Bel Rumah Aditya Terdengar
Bi Aty Datang Membuka Pintu.Bi Ati Kaget dengan keadaan Aditya Diapun Cepat Cepat menyuruh Temannya Aditya Membawa Aditya kedalam Kamarnya
" ndan Hendra, Kok Bisa Begini" Tanya Bi Aty
" Aditya Berkelahi Bi" Hendra pun menceritakan kronoligi Kejadiannya Pada Bi Aty
Tak Lama Ibunya Aditya Datang Ke dalam Kamar.
"Aditya " Kaget Ibu sofia
" Bi Cepat ambil Obat di P3K dan Air Kompresan" Lanjut Bu sofia
"Iya Nyonya" Bi Ati Pun segera Ke dapur mengambil Baskom kompresan dan obat Di P3k
"Aditya, Kenapa Bisa Begini Nak" Ibu Sofia Mendekati Anaknya sambil Menangis
" Siapa Yang Melakukannya Nak,?" lanjut Bu Sofia
"Mama Tenang Saja Aditya Tidak Apa-Apa Besol Juga Sudab baikan " Aditya Berkata dengan Lantang
"Tapi Nak, Apa tidak sebaiknya ke Rumah Sakit ? " Tanya Ibu sofia
Tak Lama Bi Aty datang
Dan Ibu Sofia Mengompres Wajah Anaknya dan Mengoleskan anti Lebam diWajahnya Aditya
" Bu, Kami Pulang Dulu" Pamit Hendra
"Iya Nak Hendra, Terima Kasih " Jawab Ibu Sofia
" Sama-sama bu" Hendra Pun pergi Keluar rumah Aditya dan Mengambil motornya
Diapun berboncengan dengan Temannya
"Ibu.. Aditya Mau Istrahat" Kata Aditya
"Minum Obat Dulu nak, Biar Tubuhmu Agak Enakan"
Bi Aty pun Membawa Air minum
dan Aditya Meminum Obat P*r*c*t*m*l dan *m*x*l*n
Setelah Itu dia Tidur lagi
dan Ibu Sofia menyelimuti Aditya Agar Aditya Bisa beristirahat
Ibu Sofia dan Bi Aty keluar dari kamarnya Aditya.
"Bi, Tolong Awasi Aditya ya, saya pengennya bawa Masalah ini dikantor Polisi tapi Perusahaan saya di L*" Ingat Bu Sofia Hutangnya Harus dilunasi Besok jika tidak semuanya bakal hilang
"Iya Nyonya" Bi Aty hanya Mengiyakan
"Saya ke kamar dulu Bi"
Ibu Sofia Meninggalkan Bi Aty Sendiri.
Bi Ati Pun Segera Melangkahkan kakinya kedalam Kamarnya
****Jangan Lupa Komentar, saran, kritik,vote, Like, dan beri hadiah ya***