MAHENDRA

MAHENDRA
Bab. 59



Akhirnya menunggu cukup lama, Kakek Joni sudah melewati masa kritisnya. Semua orang bersyukur.


Atika juga datang menemani Mahendra. Atika datang untuk memberi semangat kepada Mahendra. Dia membawakan makanan untuk semua orang yang menunggu Kakek Joni.


Dokter sudah memindahkan Kakek Joni di ruang rawat inap. Tinggal menunggu Kakek Joni sadar setelah melakukan cuci darah.


Beruntung stok darah di rumah sakit harapan bangsa cukup untuk Kakek Joni. Semua orang bersyukur Kakek Joni bisa melewati masa kritisnya.


Dokter pun datang memeriksa keadaan Kakek Joni.


"Dokter bagaimana kondisi kakak saya" Tanya Kakek Rangga.


"Kita tunggu 1 jam lagi, jika sudah bisa siuman berarti memang kondisinya baik-baik saja, detak jantungnya juga sudah bagus. artinya Kakek Joni sudah melewati masa kritisnya"


"Alhamdulillah," Ucap mereka semua yang ada di ruangan.


"Jika sudah siuman, bisa panggilkan saya di ruangan saya"


"Baiklah Dokter, trima kasih" ucap Mahendra.


"Sama-sama Dokter Mahendra,"


Mahendra pun mengantarkan Dokter Adam sampai di depan pintu rawat inap.


"Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja. Jaga kondisimu juga. Kamu yang harus banyak istrahat kali ini."


"Trima kasih dokter sudah mau mengingatkan saya"


"Minumlah vitamin, jangan lupa"


"Baik Dokter, trima kasih"


"Sama-sama, jangan lupa panggil saya jika kakekmu sudah siuman"


"Baik Dokter"


30 menit kemudian.


Akhirnya yang di tunggu datang juga, Kakek Joni menggerakkan tangannya dan perlahan-lahan matanya terbuka.


Semua nampak kabur tapi lama-lama yang di lihatnya Mahendra.


"Mahendra"


"Iya kek, Kakek jangan bergerak dahulu"


"Aku panggilkan dokter dulu" ucap Mahendra dan dia setengah berlari ke ruangan dokter Adam.


"Assalamu 'alaikum dokter, Kakek saya sudah siuman"


"Waalaikum salam, ayo kita segera memeriksanya" ucap Dokter Adam setelah mengambil peralatan untuk memeriksa Kakek Joni.


Dokter Adam dan Mahendra bergegas ke ruang rawat inap Kakek Joni.


Dokter memeriksa keadaan Kakek Joni.


Nampaknya semuanya lebih baik, cuci darah kali ini berhasil.


Artinya 6 bulan ke depan Kakek Joni bisa beraktifitas seperti biasa.


Cuci darah di lakukan 6 bulan sekali jika pasien menjaga kondisi tubuhnya.


Semua nampak bahagia melihat Kakek Joni sudah siuman.


Kakek Rangga bersyukur kakaknya masih bisa di selamatkan.


"Kalian semua jangan khawatir, Kakek Joni sudah tampak baik-baik saja" ucap Dokter Adam menyakinkan mereka semua.


"Alhamdulillah,"


"Jaga kondisi lagi ya kek, jangan lupa minum obatnya"


"Aku capek minum obat dokter, aku hanya ingin menunggu waktuku tiba"


"Jangan putus asa kek, kakek masih bisa melihat cucu kakek dariku" ucap Atika menyemangati Kakek Joni.


"Kamu benar nak, mulai sekarang aku akan minum obat sesuai anjuran dokter, dan aku akan menjaga kondisi tubuhku"


"Nah, begitu dong kak, kalau janji kakak begitu saya rasa kakak akan cepat pulih lagi."


Semua tertawa dan bahagia.


***


3 hari sudah Kakek Joni di rawat di rumah sakit.


Kakek Joni sudah nampak sehat dan pulih.Dokter pun sudah membolehkan Kakek Joni kembali ke rumahnya.


Mahendra datang menjemput Kakek Joni. Selama 3 hari, Bi Asih yang merawat Kakek Joni.


Siang hari Kakek Rangga dan Kedua Orang Tua Mahendra yang datang menjaganya, sehingga Bi Asih bisa beristirahat di rumah.


"Assalamu 'alaikum"


"Waalaikum salam," jawab mereka yang ada di ruangan.


"Bagaimana biayanya Kakek Joni apa sudah di bayar?" Tanya Mahendra.


"Sudah nak, ini tinggal membawa Kakekmu saja" ucap Kakek Rangga.


"Alhamdulillah, ayo kek saya yang dorong Kakek"


"Baiklah nak"


Mahendra pun mendorong kursi roda Kakek Joni menuju ke parkiran.


Pak Sapri Sopir Kakek Joni telah membukakan pintu dan Mahendra menggendong Kakek Joni.


Mereka semua pun menuju ke mansion Kakek Joni.


Setelah sampai di mansionnya Kakek Joni, semua Art telah menyiapkan penyambutan untuk Kakek Joni atas suruhannya Mahendra.


Mahendra ingin agar Kakek Joni semangat untuk hidup lagi dan rutin mengkonsumsi obatnya dan semoga cepat pulih kembali.


Kakek Joni nampak bahagia, matanya berkaca-kaca.


Baru kali ini dia di sambut seperti ini.


"Trima kasih untuk semuanya" ucap Kakek Joni.


Setelah penyambutan Kakek Joni, Mahendra mengantarkan Kakek Joni di kamarnya, agar Kakek Joni bisa beristirahat.


"Kek, harus menjaga kondisi tubuhnya ya"


"Iya, nak. Kapan acara pernikahanmu?"


"Sebulan lagi kek," jawab Mahendra.


"Semoga kesehatanku cepat pulih dan bisa menghadiri pernikahanmu"


"Jika Kakek belum pulih, saya dan Atika berencana memundurkannya Kek"


Kakek terperanjat. Kaget dengan keputusan Atika dan Mahendra.


"Jangan nak, Kakek walau di kursi roda khan tidak apa-apa"


"Niat menikah itu niat yang baik, harus secepatnya di laksanakan" ujar Kakek Joni.


"Tapi Kakek harus janji, agar minum obat tepat waktu dan menjaga kesehatan."


"Iya nak, Kakek janji"


Setelah Kakek beristirahat, Atika pamit kepada semua orang.


"Kakek Rangga, saya pamit pulang dulu"


"Nanti di antar Mahendra saja nak, tunggulah sebentar"


Mahendra pun turun bergabung dengan Kakek Rangga, kedua orang tua dan Atika.


"Nak, antarkan nak Atika pulang ke rumahnya"


"Baiklah Kek, saya pergi dulu"


"Hati-hati di jalan nak"


Atika pun salim kepada semua orang.


"Nak, salam kepada kedua orang tuamu," ucap Ibu Nanda ibunya Mahendra.


"Baik, Bu. Nanti Atika sampein"


Mereka pun berjalan ke luar rumah, Mahendra mengambil mobilnya dan Atika masuk ke dalam mobil.


"Kita mampir dulu di taman sari," ucap Mahendra.


"Bolehlah"


Mahendra pun bergegas menuju taman sari yang letaknya tak jauh dari kediaman Atika.


Setelah sampai di taman, Mahendra membukakan pintu untuk Atika.


"Trima kasih, bi"


Mahendra hanya mengangguk dan tersenyum.


"Kita cari teman yang adem saja"


Atika mengikuti langkah Mahendra, dan ternyata ada Tejo dengan seorang wanita.


"Suit, suit, hmmm... diam-diam juga punya pasangan ya"


Tejo tersentak, dia kaget dengan suara yang sudah sangat di kenalnya.


"Mahendra, Atika kalian juga ke sini"


"Kami hanya kebetulan mau mampir saja,"


"Oh, kirain kalian janjian di sini juga"


"Tadi habis menjemput Kakek Joni dari rumah sakit, sekarang mau antar Atika pulang tapi mampir dulu di sini"


"Ambar, kenalkan sahabatku semanjak sekolah, kuliah dan sampai kerja sekarang. Aku bisa seperti ini berkatnya dan yang seblahnya calon istrinya"


"Mahendra, biasa saja. Kamu yang gigih, bukan karena aku kok"


"Atika, sepertinya saya pernah bertemu"


"Iya dokter Atika, saya koas di rumah sakit KIA"


"Oh, iya saya ingat sekarang" ucap Atika


"Jadi kalian sudah pernah bertemu"


"Iya, hanya beberapa kali berpapasan, tapi belum kenalan"


"Syukurlah, kita sekarang bisa double date" ucap Mahendra.


"Walau tak janjian tapi memang kita dari dulu selalu bisa bertemu" ujar Tejo.


"Siapa tau nikahnya bisa waktu yang sama deh" canda Atika


"Kami masih tahap perkenalan" ucap Ambar.


"Tapi kalau sudah ada niat baik, harus di segerakan" ujar Mahendra.


Tejo pun hanya bisa tersenyum.


"Hutangku saja belum lunas, Mahendra" Bisik Tejo kepada Mahendra.


"Kalau kamu nikah, hutangmu lunas"


Ambar dan Atika hanya bisa melongo, melihat Mahendra dan Tejo saling berbisik.


TBC...